Argentina, Sang Juara Dunia 1978

Tempo 1 Juli 1978. Argentina berhasil sebagai juara dunia setelah mengalahkan kesebelasan Belanda di Stadion River Plate, Buenos Aires. pencetak gol terbanyak, Mario Kempes, bintang kesebelasan Argentina. (or)
SUASANA di Argentina, dulu apalagi kini, masih tetap riuh dan panas. Tapi sewaktu Mario Kempes dan Ricardo Bertoni berhasil menjaringkan 2 gol kemenangan ke gawang kiper Jan Jongbloed dalam final Piala Dunia di stadion River Plate, Buenos Aires sore Minggu, 25 Juni lalu dan sekaligus mengantar tim Argentina ke tangga juara, negeri itu tiba-tiba berubah menjadi sorga. Anggur dan Champagne mengguyur tenggorokan warga Argentina sepanjang malam di mana-mana. Gol kemenangan yang menyisihkan kesebelasan Belanda itu terjadi dalam perpanjangan waktu. Setelah 2 x 45 menit pertama kedua tim finalis itu berbagi angka seri 1-1.

Di balik suasana pesta kemenangan tim Argentina tersebut, wajah sedih juga muncul di muka warga negeri yang sama. Di antaranya pada nyonya Bonaparte Bruhstein, anggota kelompok pembela hak-hak asasi manusia yang dikenal dengan julukan ‘wanita-wanita gila dari Plaa de Mayo’. Ia dan kelompoknya menguatirkan kesuksesan itu akan membuat orang lupa pada penderitaan yang dialami oleh sebagian warga Argentina lain. Mereka adalah ibu-ibu yang kehilangan suami atau puteranya. Sejak Letjen Jorge Rafael Videla mengambil alih tampuk pemerintahan dari tangan Presiden Isabella Peron, dua tahun silam tak kurang dari 7.000 pria ditangkap oleh orang-orang bersenjata. Tanpa sebab yang jelas (lihat: Luar Negeri).

Kelabakan

Lain pula ceritanya dengan seorang ibu yang lain. Kegilaannya pada sepakbola dituangkannya dalam bentuk pemberian nama pada 3 putera kembar yang dilahirkannya, pekan lalu. Ia memberi nama bayinya dengan nama depan yang sama dengan bintang kesebelasan Argentina, Mario Kempes. Ketiga bayi itu dibaptisnya dengan nama Mario Alberto, Mario Rolando dan Mario Daniel.

Kempes yang meniti karir dari sepakbola jalanan, dilahirkan di desa Bell Ville, Cordoba tanggal 15 Juli 1954. Pada usia 19 tahun, ketika itu ia bermain untuk klub Rosario Central, Argentina, sudah terpilih untuk memperkuat tim nasional yang diturunkan dalam turnamen Piala Dunia 1974 di Muenchen, Jerman Barat. Tahun 1976, ia dibeli oleh klub Valencia, Spanyol dengan nilai transfer 600.000 dollar AS.

Ketika Cesar Luis Menotti, (lihat box), diberi kepercayaan oleh pemerintah Argentina untuk mempersiapkan tim Piala Dunia 1978, ia cukup kelabakan untuk menghimpun pemain. Bayangkan, 9 pemain tangguh Argentina tersebar di berbagai klub di Eropa, termasuk Mario Kempes. Sarnpai awal 1978 usahanya untuk mendatangkan 9 pemain top masih tidak membawa hasil. Klub yang mentransfer mereka tak mau melepaskan pemain tersebut begitu saja.

Untung bagi Menotti, tawar-menawarnya dengan klub yang menghimpun pemain Argentina itu berhasil juga. Meski tak semuanya. Pertengahan April lampau, ia telah mendapat kepastian dari klub Valencia bahwa Kempes bisa diboyong pulang guna memperkuat tim Argentina. Tapi sebagai kompensasi dari pemberian izin Kempes itu, Argentina terpaksa mengeluarkan uang sebesar 250.000 dolar AS untuk klub Valencia. “Apa boleh buat. Kami membutuhkannya,” kata Menotti.

Pilihan Menotti pada Kempes memang tak salah lagi. Sekalipun dalam putaran pertama, ia sama sekali tak mencetak gol satu pun, Kempes menebusnya dalam pertandingan lanjutan. Dari 8 gol yang dicetak tim Argentina pada putaran kedua yang mengantar mereka ke final, 5 berasal dari kaki Kempes. Tak heran bila ia dikawal ketat oleh pemain belakang Belanda dalam penampilan di final, Minggu kemarin. Bahkan berkali-kali digaet dengan kasar. Kendati demikian, ia tetap tak tertahankan. Buktinya, 2 dari 3 gol yang bersarang di jala Jongbloed lahir dari tendangannya. Ia sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak. Rob Resenbrink dari Belanda cuma mencetak 5.

Darah Amerika Latin

Yang menarik dari Kempes agaknya bukan cuma ketrampilan semata. Si Gondrong ini tampil dengan sikap sportif. Ketika ia berkali-kali terjatuh dijepit lawan, ia masih sempat melempar senyum. Seakan-akan darah Amerika Latin yang panas tak mengalir di tubuhnya. Nomor punggung 10 — sama dengan angka pilihan Pele.

Temperamen Kempes itu tak kurang merupakan saham yang besar bagi tim Argentina dalam memenangkan Piala Dunia FIFA untuk pertama kalinya, sejak mereka berpartisipasi pada turnamen pertama di Uruguay, tahun 1930. Kalau saja, Kempes mudah terpancing oleh permainan keras dan kasar dari Belanda, bukan tak mungkin hal itu bisa menjadi bumerang bagi mereka.

Akan tim Belanda, yang berhasil menempatkan diri di final berturut-turut (tahun 1974 dan 1978) ternyata kehilangan peluang untuk kedua kalinya. Tanpa Johan Cruyff, penampilan mereka tampak tak stabil. Melawan Austria, misalnya, mereka bermain baik sekali. Angka kemenangan yang mereka cetak pun menyolok: 5-1. Tapi menghadapi Argentina, pola total football mereka hampir tak jalan sama sekali. Rob Resenbrink yang diiming-iming sebagai pengganti Cruyff ternyata tak mampu mengambil alih peran itu. Dalam penampilan kemarin hampir di semua lini, mereka kedodoran.

Cita-cita Argentina untuk meraih lambang supremasi sepakbola dunia berhasil, sudah. Tapi bukan berarti kecemasan tak ditinggalkan dari kerja besar mereka sebagai tuan rumah. Biaya penyelenggaraan yang memakan 800 juta dollar AS itu diperkirakan akan kelihatan pengaruhnya dalam bulan-bulan mendatang. Efeknya, sudah barang tentu terhadap perekonomian dalam negeri. Belum lagi kekuatiran terhadap teror gerilyawan Monterneros yang menahan diri selama turnamen. Dan ini tak kurang menariknya untuk disimak, sebagaimana turnamen Piala Dunia.

Cesar Menotti Berbicara

Cesar Luis Menotti, 38, tokoh yang berhasil membina tim nasional Argentina. Pemain Argentina banyak yang berstatus pemain bayaran klub-klub Eropa. Kebebasan dalam memperjual belikan pemain akan dibatasi. (or)
CESAR Luis Menotti baru berusia 38 tahun. Ia memulai kariernya sebagai Pelatih Nasional Tim Argentina pada Oktober 1974. Sampai tahun 1977, selama 3 tahun, tim asuhannya telah memainkan 32 pertandingan internasional dengan mencatat 18 kali kemenangan, 7 kali seri dan 7 kali kalah. Dengan perbandingan gol 64-33.

Meskipun prestasi pelatih muda itu terhitung memuaskan, tapi ia toh mendapat kritik pedas dari 25 juta pecandu bola Argentina. Mereka menganggap bahwa tim Nasional adalah sebuah klub yang tak boleh kalah.

Tak heran, menjelang final turnamen Piala Dunia di Argentina, Menotti dan Menteri Ekonomi Jorge Martinez de Hoz, merupakan dua tokoh yang paling banyak dikecam dan diwawancarai pers. Ini menunjukkan bahwa krisis sepakbola tak kurang menarik perhatian rakyat daripada krisis ekonomi.

Tapi pelatih yang berwajah keras dan berambut gondrong itu tak terpengaruh oleh serangan pers. Ia bertekad meneruskan rencananya, selama Persatuan Sepakbola Argentina mendukungnya. Rencana itu tak lain membatasi kebebasan klub dalam memperjual-belikan pemain ke luar negeri. Ingatlah nama-nama pemain seperti Kempes, Piazza, Heredia, Bianchi, Scotta, Bargas, Felman, Brindisi dan Houseman, semuanya pernah berstatus pemain bayaran klub-klub di Eropa. Kemudian program kompetisi klub di dalam negeri disesuaikan dengan program pembinaan Tim Nasional, sehingga para pemain nasional terpaksa mengurangi kegiatannya untuk klub.

Pengagum Belanda

Untuk melaksanakan kebijaksanaan tersebut, Menotti bukan tidak dapat tantangan dari para pimpinan klub yang merasa dirugikan karena mereka tidak dapat memanfaatkan pemainnya. Tapi masalah tersebut dapat dibereskan dengan bantuan Pemerintah Militer Argentina. Pada tanggal 15 Januari 1978, ia berhasil memisahkan para pemain pilihannya untuk dipersiapkan secara intensip dalam menghadapi final Piala Dunia. Tapi dari daftar pemain yang dikehendaki Menotti, tak semua pemain jempolan yang berada di luar negeri dapat direkruit.

Tim Argentina yang baru saja memenangkan Kejuaraan Dunia 1978 itu merupakan saringan dari 80 pemain muda ditambah dengan satu-satunya pemain eks Piala Dunia 1974, Rene Houseman. Termasuk hasil pemanduan Menotti adalah penjaga-gawang Fillol pemain belakang Galvan dan Passarella pemain tengah Villa dan penyerang Leopoldo Luque.

Menotti yang berwatak keras itu sering dituduh justru lemah dalam pengeterapan disiplin. Ia membantah. “Kalau disiplin itu dimaksudkan sebagai bekerja dan berlatih keras, saya kira tak seorang pun menyanggah bahwa tim nasional kami-lah yang bekerja dan berlatih paling keras.” Ia balik menuduh bahwa jika mereka melihat sesuatu yang tidak beres, terus saja berpaling pada soal disiplin.

Strategi dan taktiknya memenangkan Piala Dunia tidak luar biasa. Sejak permulaan ia telah memasang mata pada Tim Belanda. Dan ia tergolong penganut “sepakbola terbuka”. “Kami dapat menang dengan permainan yang menyerang,” katanya. Itulah sebabnya Johan Cruyff tak lepas dari pembicaraannya, sejak ia menangani tim Nasional, ia segera dikenal sebagai pemuja sepakbola gaya Belanda. “Saya tidak memperoleh pemain yang bermental dan berfisik seperti pemain Belanda,” keluhnya. Maksud Menotti untuk mengeterapkan Total Football dibutuhkan material yang berbeda dari yang dia miliki sekarang. “Saya membutuhkan seorang pemain bola yang sekaligus juga seorang atlit. Tapi bukan seorang atlit yang menjadi pemain sepakbola.”

Perbedaan fundamentil antara pemain sepakbola Eropa dan Argentina. kata Menotti, terletak pada reaksinya. “Bila seorang pemain Argentina kalah dalam perebutan bola, dia memerlukan satu menit untuk sadar bahwa pertandingan itu masih berlangsung,” katanya. “Pemain Argentina mungkin saja bermain cepat, tapi kadang-kadang tidak dapat berpikir cukup cepat.”

Minggu malam tanggal 26 dinihari sampai jam 4 pagi, dalam pertandingan penentuan juara yang diperpanjang, asuhan Menotti akhirnya menunduhkan Belanda lengan 3-1 (1-1). Pemain-pemain muda Argentina ternyata bisa bergerak dan berpikir sama cepatnya.

Sang juara

Sepak bola adalah permainan kompetitif & berakhir dengan pihak yang menang & kalah. pertandingan berakibat memisahkan tapi tak sama dengan meniadakan. sang juara berarti berani melakukan rekonsiliasi utk menang.
MARIO Kempes membawa bola begitu cepat. Pada suatu detik, ia dijegal musuh dari belakang. Ia jatuh. Tapi segaris senyum masih ada di wajahnya. Bahunya terangkat dan tangannya memberi isyarat yang bisa ditafsirkan sebagai “apa boleh buat”.

Dibandingkan dengan para pemain lain yang marah bila kena, atau terjungkal mengaduh-aduh bila tersangkut, Mario Kempes dari Bell Ville ini dengan jelas meletakkan dirinya dalam satu kategori lain. Dialah sang superstar. Ia pasti tahu ratusan juta mata menyaksikan dan menilainya di hari Minggu 25 Juni 1978 itu. Ia tahu lapangan hijau Riodel Plata, Buenos Aires, tempat perebutan Piala Dunia yang seru, keras dan tegang itu, adalah pentasnya yang paling anggun.

Dan seorang superstar harus memberikan suatu pertunjukan dengan langkah masuk dan langkah eksit yang prima. Kalau perlu agung. Dia toh tahu dia bukan pemain yang bakal tak tercatat dalam sejarah. Dalam usianya yang 24 tahun, dialah justu si pembuat tugu sejarah: kesebelasan Argentina mendekati posisi juara dunia buat pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Tidak mudah untuk jatuh tapi tersenyum. Tidak mudah dalam menit-menit seperti itu menggebrak, menyerang, mengelak dari sergapan, seraya tetap tenang. Hampir tak ada jagoan yang tak gugup. Kiper Jan Jongbloed yang tampak paling kalem di samping Kempes dalam pergulatan itu mungkin kelak bisa bercerita lain. Menjelang menghadapi kesebelasan yang bukan favorit seperti Iran saja, dua pekan sebelumnya, ia tak ayal tegang. Dalam catatan hariannya yang dimuat Vrij Nederland 10 Juni 1978 ia mengaku: “Ketika nama saya paling pertama dibacakan, terasa perut saya mulai agak mulas.”

Ya, hampir tak ada jagoan yang tak gugup, tapi seorang yang waras akan tahu bagaimana untuk berhati ringan.

Pada saat showdown yang menentukan, barangkali pada mulanya adalah urat syaraf. Pada saat puncak dari berpuluh-puluh pertandingan selama empat tahun, pada moment tertinggi itu, yang begitu penting barangkali sikap. Kita ingat cerita Sepp Maier. Ketika kiper Jerman dari Bayern Munich itu suatu saat dilempari botol bir, ia cuma berkata: “Sayang kosong. Saya bisa menggunakan satu yang berisi penuh sekarang.” Orang Bavaria ini masih tetap mempertahankan rasa humornya. Dia juga seorang yang waras.

Sebenarnya, semua itu terbawa jauh sejak awal. Yakni pada saat seseorang menilai dirinya sendiri dalam berhadapan dengan lawan. Seorang yang melihat dirinya sebagai maling, atau sebagai pelaku dalam permainan antar maling, akan cenderung berhati pencuri. Seorang yang melihat dirinya kerdil, bukan bintang yang besar dan bersih, akan cenderung bersikap kerdil.

Dalam hubungan itu agaknya masih tetap benar bahwa pada akhirnya gol memang harus masuk ke jaring lawan, musuh harus dikalahkan, tapi tidak ada dilema antara menang atau main bersih. Menang dan bersih adalah dua hal yang tak boleh dipertentangkan.

Sebab permainan kompetitif bukanlah suatu ritual. Syahdan, menurut seorang ahli anthropologi, adalah sebuah suku di Irian, orang-orang Gahuku-Gama. Mereka ini, yang telah belajar permainan sepakbola akan beberapa hari melakukan “pertandingan” — berkali-kali bila perlu — agar kedua belah pihak mendapatkan angka yang sama. Dalam kata-kata Claude Levi-Strauss, “ini berarti memperlakukan pertandingan sebagai sebuah ritual.”

Sebuah ritual mengandung “permainan-permainan” yang terdiri dari usaha agar semua peserta lolos ke pihak yang menang. Sebaliknya, untuk mengutip lagi penulis La Pensee sauvage atau The Savage Mind itu, permainan yang kompetitif berakhir dengan tegaknya perbedaan antara yang kalah dan yang menang. Pertandingan, dengan kata lain, berakibat memisahkan.

Tapi “memisahkan” tidak sama dengan meniadakan. Dalam pertandingan perebutan Piala Dunia itu ada sebuah piala dunia — justru lambang dari persatuan kembali, melalui persaingan yang tak putus-putusnya.

Maka sang pemenang baru menjadi juara pada saat ia menghargai dirinya sendiri seperti Mario Kempes menghargai dirinya sendiri. Yakni, ketika dalam ikhtiar untuk menang, ia menunjukkan dlri berani untuk rekonsiliasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: