Piala Marah Halim 1973, Turnamennya Mahal, Mutu Tidak

TEMPO, 5 Mei 1973. Pada turnamen piala marah halim terjadi banyak kericuhan. atas perintah ketua oc tiket pertandingan yang sebelumnya tak laku, dijual lagi untuk biaya regu sum-ut di pon viii. final psms-persija tak bermutu.
Turnamen Marah Halim yang baru lalu ternyata berekor heboh yang cukup menggemparkan masyarakat sepakbola. Koresponden TEMPO di Medan, Zakaria Passe, yang mengover dari dekat, melengkapi komentar TEMPO, 5 Mei 1973. Berikut ini laporannya:

MENGAPA penonton di Stadion Teladan Medan pada final PSMS Persija bisa muntah melebihi kapasitas stadion? Pertanyaan ini membikin Ketua OC, Kamaruddin Panggabean tercenung dan bingung. “Bagian keamanan tidak beres”, katanya pada TEMPO, sembari melihat pada mobil kebakaran yang sedang menyemprot air ditepi sintel-ban Stadion Teladan yang begitu berjubel oleh pencandu bola yang fanatik itu. Lalu ia juga menunjukkan tangannya kearah pintu selatan stadion yang jebol didobrak penonton.

Benarkah semua ucapan itu? “Panitia telah menjual karcis kepada penonton secara berlebihan”, kata AKBP Pardjan, ketua bagian keamanan dalam OC “Marah Halim Cup”. Soal muntahnya penonton itu mencapai kurang lebih 75.000 orang – sedangkan Stadion Teladan mampu menampung cuma sekitar 25.000 – menjadi berekor di dalam koran-koran Medan. Panggabean ternyata mengulangi kata-katanya yang diucapkan pada TEMPO pada tanggal 24 April itu beberapa hari setelah usainya turnamen yang sampai menelan biaya sekitar Rp 47 juta. Tapi besoknya, pada tanggal 28 April, ucapan Panggabcan tersebut dibantah oleh Dantabes Polri Medan AKBP Drs Slamet SP. “Seharusnya Ketua OC Marah Halim Cup itu tak perlu lagi mencari kambing hitamnya. Turnamen sudah sukses, meskipun ada suka dukanya. Kalau penonton terlalu banyak kenapa panitia menjual tiket melebihi kapasitas Stadion Teladan?”, tanya Slamet. Dan sambil memperlihatkan beberapa tiket daluwarsa ketika pertandingan terdahulu yang tertangkap basah oleh Pardjan, ia juga telah memperingatkan Ketua Seksi Penjualan Tiket, A. Faisal, agar tiket pada pertandingan sebelumnya yang tidak terjual jangan dijual. “Tapi nyatanya dijual juga, kan terlalu”, kata Parajan tersungut-sungut. Sementara itu Faisal sendiri mengatakan bahwa ia berani menjual tiket-tiket “basi” tersebut karena “ada perintah dari Ketua OC sendiri, pak Kamaruddin”.

Nah! Sekarang persoalannya kenapa pencandu bola Medan bisa macam air bah masuk ke Teladan, sudah jelas. Jadi bukan cuma karena banyak yang masuk akibat adanya “tangkap kepala” seperti yang dituduhkan Panggabean berdasarkan wawancaranya dengan beberapa wartawan Medan.

Untung. Turnamen “Marah Halim Cup” yang mahal itu memang untung sampai Rp 11 juta. Kalau pada turnamen yang lampau panitia rugi sampai Rp 2 juta lebih malah tahun ini dari judi Hwa Hwe Toto Koni yang dibuka selama turnamen, Panggabean mendapat Rp 60 juta. Ditambah hasil dari pemasangan reklame perusahaan minuman keras Vigour Rp 1 juta dan perusahaan rokok “Soor” Rp 2 juta. Menurut Kamaruddin, uang itu semua untuk membiayai regu Sumatera Utara dalam PON VIII di Jakarta nanti. Tapi bagaimana keuntungan dari penjualan karcis selama turnamen itu? Masih Wallahualam. Sebab, meskipun piala itu bernama “Marah Halim Cup” ternyata yang menanggung pembiayaan sebelumnya dikuras dari kas Pemda Sumatera Utara. Seperti kata Panggabean pada 1 April dalam konperensi pers di rumahnya di jalan Bantam sebelum turnamen berlangsung: “Pemda Sumatera Utara sudah ikut di dalam OC Marah Halim Cup”. Begitulah ia menjawab pertanyaan TEMPO. Sebagai Ketua KONI Sumatera Utara ia menambahkan: “Saya sudah dapat izin dari Menteri Sosial, KONI Pusat dan Gubsu untuk membuka Toto Koni selama turnamen. Cuma dari polisi yang belum ada” Lalu Panggabeanpun minta kompromi pada wartawan yang hadir pada hari itu. Bahwa “kalau toto nanti dibuka janganlah diserang di dalam koran saudara-saudara. Nanti hasilnya juga saya berikan untuk PWI dan Siwo”. Dan “kalau ada rakyat yang tidak bisa menguasai dirinya bermain judi itu terselah pada merka, tapi saya bisa. Cuma kalau ada toto gclap, kan lebih baik dimainkan terang-terang saja”. Kata-kata Panggabean ini ternyata memang tidak keluar di koran, entah mengapa. Sementara, Ketua PWI Cabang Medan, Anwar Effendy yang duduk di samping Panggabean hari itu, hanya tersenyum-senyum saja.

Mutu. Sekarang Panggabean tak perlu susah lagi cari biaya apa yang disebut untuk PON itu. Hasil jerihnya memang banyak untung. Tapi tentang jalannya turnanln, tunggu dulu.

Turnamen Marah Halim Cup ke-2 ini sebagai disebutkan bersifat “internasional”, justru telah berlangsung secara kampungan. Turnamen yang berlangsung sejak tanggal 10 April dan berakhir pada 24 April barusan, mutunya sulit dinilai dan dipilih sebagai pelajaran, menambah pengalaman dan bisa mempertinggi ketrampilan persepakbolaan kita. Kalau tahun ini hadir kesebelasan BurlIla, Thailand, Hong Kong, Malaysia dan Singapura bukan sebagai jaminam Ketidakhadiran Persema Malang digantikan dengan Aceh. Kesebelasan ini yang diasuh oleh Ramli Yatim dan Rasyid (keduanya bekas pemain PSSI tahun limapuluhan) hadir dalam gelang bak anak tupai yang kehilangan omak. Meskipun semangat mereka bertarung cukup hebat dan bersemangat — meski pun terus-terusan kebobolan gawang-toh permainan anak-anak Aceh ternyata punya pola. Tapi bond Aceh yang tampil pertama kali ini sekedar untuk cari pengalaman bertanding “internasional”, bolehlah. Sedangkan bagi kesebelasan Persebaya dan PSM Ujung Pandang, tampaknya sudah semakin merosot mutu mereka. Pada Surabaya yang lemah menonjol benar pada barisan pertahanan dan kiper Didi, sedangkan PSM pada barisan penyerang. Tapi bagi Persib Bandung jika dibandingkan tahun lalu, tahun ini agak berubah dan lebih meyakinkan. Tapi team yang berhasil masuk ke final ini telah membuat para penonton Medan jadi penasaran ketika menghadapi Persija. Karena keduanya maju digelanggang bak main sabum Dan menhadapi Birma, anak-anak Bandung ini seperti kehabisan nafas, sampai kejebolan 4–1.

Akan hal kesebelasan dari luar negeri, selain Birma dan Thailand, dua lainnya tak dapat diandalkan. Malaysia sendiri agaknya ikut turnamen itu seperti jangan tidak karena bulan, dan hanya diwakili oleh team dari Kelantan. Secara keseluruhan team yang ikut “Marah Halim ‘up” yang menarik adalah Birma, bulian hanya tehnik, individu, stamina dan team-work. Barisan penyerangnya umumnya adalah goal getter, dan pemain nasional Aye Maung (yang belakangan dipilih pula oleh Siwo Medan/Jakarta sebagai pemain terbaik selama turnamen) merangkap kapten kesebelasan dan penghubung selalu memberikan operan bola yang menghidupkan fungsi kiri luar dan kanan luar. Sedangkan kombinasi para pemain Birma ituselalu dalam operan keras dalam bentuk long passing dan short passing. Kadang-kadang, mereka juga bermain keras (fors).

Insiden. Waktu turnamen simpati penonton Medan memang berhasil direbut Birma dan banyak ramalan sebelumnya bahwa kesebelasan ini bakal jadi juara. Dan orang tidak menaruh harapan kalau PSMS bisa menjuarai turnamen itu apa lagi nanti bakal berjumpa pula dengan musuh lamanya, Persija. Tapi insiden telah ditimbulkan oleh seorang pemain Birma, kanan dalam Maung Ye Njunt. Ketika menghadapi PSMS ia telah memukul wasit Ong Eng Yong (wasit FIFA dari Singapura). Karena membatalkan gol yang dibuatnya pada menit ke-18 dalam satu scrimage di depan gawang Ronny Pasla. Alasannya: off side. Permainan yang fors dan kasar itu menghasilkan gol kaca mata (0–0). Ternyata insiden ini telah membangkitkan marah penonton. Ketika pemainpemain Birma itu keluar lapangan penonton spontan melempar mereka dengan botol-botol mimlman dari arah tribune Vips. Amukan penonton sudah demikian meriahnya, maka para petugas terpaksa mencabut pistol dan karaben sembari melepaskan tembakan ke udara. Mendengar bunyi letuan itu karuan saja para penonton jadi panik dan masingmasing ingin cari tempat perlindungan. Sedangkan pemain Birma terpaksa dengan dikawal masuk keruangan pakaian.

PSMS-Persija. Tapi insiden berikutnya juga terjadi pada pertandingan final antara PSMS-Persija yang dipimpin oleh wasit yang sama pada malam terakhir. Meskipun ia dianggap seorang wasit yang sama pada malam terakhir. Meskipun ia dianggap seorang wasit yang tegas dan akurat tetapi pada pertandingan itu seperti telah kehilangan wibawa.

Setelah pertandingan Birma-Persih berakhir 4–1, final PSMS-Persija jadi tertunda hampir 30 menit. Arus penonton tak terbendung lagi oleh petugas keamanan, sehingga mereka mendekati garis pinggir lapangan hijau. Seorang petugas secara spontan mengatakan pada TEMPO: “Cilaka. Kalau pertandingan ini jadi juga dan Persija menang, alamatnya pemain-pemain Persija itu “disate” massa penonton”. Ia sendiri kelihatan pucat. Tapi kenapa ucapan ini harus terlontar begitu, apakah benar orang Medan sudah menaruh dendam pada Persija? Sulit dibuktikan. Tapi kenapa panitia tidak mengambil pengalaman dengan insiden yang pernah terjadi sebelumnya ketika pertandingan PSMS-Birma untuk mengatasi soal penonton itu? Di sinilah soalnya.

Barulah setelah bala bantuan “pagar betis” 4 kompi Brimob datang dan mengurung penonton di sintelban dengan senjata terhunus pertandinganpun dilangsungkan. Cuma baru enam menit pertandingan berlangsung terjadilah insiden di depan gawang Yudo hingga Tumsila dari PSMS Medan cedera dan terpaksa diangkut keluar sebentar. Dalam satu perebutan bola di depan gawang Persija itu Tumsila mau menyundul ke gawang Yudo, tetapi bola itu berhasil disergap Yudo dengan melompat lebih tinggi. Yudo tidak salah. Tumsila terjatuh dan “prit” dari wasit Ong. Menurut wasit, Yudo menunjang Tumsila dan ia menghukum Persija dengan tendangan tidak langsung bagi PSMS ke gawang Yudo. Sebagian ada yang menyatakan Oyong Lisalah yang menjegal Tumsila sehingga ia terjerembab tak sadarkan diri. Wasit mulai ragu-ragu. Mana yang benar sudah semakin tidak jelas karena para petugas keamanan spontan masuk ke tempat kejadian itu dan Yudopun bersama teman-temannya mengajukan protes. Wasit. dikepung dan Risdianto sempat pula menunjang wasit Ong tepat di paha kanannya sehingga berselemak tanah di kaos kakinya. Persoalan tendangan tak langsung itu belum selesai, Ong telah membikin persoalan baru. Sehabisnya ditendang Risdianto, Ong mencabut kartu merah dan meminta Risdianto keluar dari lapangan. Akibatnya tambah njelimet dan semua pemain Persija mogok main. Ketika wasit minta bantuan Parlggabean untuk membujuk Persija meneruskan permainannya Ketua OC “Marah Halim Cup” itu bilang: “Mana mungkin saya bisa berbuat begitu. Itu adalah keputusan wasit dan pemain harus tunduk pada keputusan wasit. Dan kalau ada pemain yang menunjang wasit, ya dia harus menghukum tindakan itu”. Yudo yang menjadi kapten yang tadinya keras memprotes lalu berunding dengan team managernya. Kemudian ia menjumpai wasit. Lalu balik lagi pada teman-temannya sambil berteriak kuat-kuat: “Kalau kita tidak mau main maka dinyatakan W.O. Terserah, pilih mana deh! ”

Sambutan dari teman-teman Yudo sebagian ada yang mau meneruskan permainan, sebagian lagi ngambek. Sedangkan Iswadi dan back Rahman Halim kontan membuka sepatunya di pinggir lapangan. Agaknya para official dan team manager Persija tidak berhasil dan kehilangan wibawa membujuk pemainpemainnya untuk meneruskan pertandingan, meskipun tak lama kemudian berlangsung juga. “Main saja. Kalah tidak apa”, kata Sinyo Aliandu. Tapi tanpa Iswadi dan Rahman Halim. Mereka digantikan oleh Pepen Effendy serta Jamaluddin. Persija bermain dengan 10 pemain dan lebih banyak bertaham Tigapuluh menit kemudian Tumsila terpaksa dikeluarkan wasit Ong karena menyabet Oyong Lisa. Jadilah 10 lawan 10 pemain. Tendangan tidak langsung hasil insiden tadi ternyata tidak membawa tuah bagi PSMS. Hingga istirahat stand masih tetap 0–0.

Lima menit setelah babak kedua dimulai Sarman Panggabean yarlg mendapat umpan dari Zulkarnaen berhasil memvolley bola dengan belakang kepalanya. Yudo yang salah perhitungan dan maju ke depan ternyata mati langkah untuk bergerak lagi sehingga sundulan itu menjebolkan gawangnya, secara syah dan manis. Masuknya bola ini memang tidak diduga dan memukau sekali karena sundulan Sarman itu tidak kuat dan mereng kekiri Yudo. Inilah gol kemenangan bagi PSMS yang kembali bisa mempertahankan piala Marah Halim itu sekali lagi.

Seandainya. Banyak ramalan bahwa dalam final PSMS-Persija itu, jika anakanak Sinyo Aliandu bermain dalam form-nya bukan tidak mungkin akan merebut kemenangan juara. Persija sudah mulai menggoncangkan lawannya pada awal pertandingan ketika Iswadi memberi umpan yang sangat bagus dari rusuk kiri gawang Rony untuk Sumirta tapi gagal. Dalam kesempatan lain, ketika terjadi perebutan bola di depan gawang PSMS, bola mental mengenai tangan Yuswardi, tapi wasit membiarkan atau tidak melihatnya? Maka, di sinilah mula Iswadi dan teman-temannya mulai menaruh tidak senang pada wasit.

Dilihat dari kencangnya permainan dan tehnik dan “cantik” Persija memang lebih unggul. Tapi sayang, seandainya anak-anak Jakarta ini belajar dari pengalaman tahun lampau dalam menghadapi PSMS –apa lagi faktor penonton waktu turnamen barusan masih belum berfihak — kans ini tidak dimanfaatkan. Tapi justru sehaliknya Persija sendiri memaneillg main keras dan kasar dan inilah yang ditunggu-tunggu PSMS – sehingga secara moril telah merugikan Persija sendiri.

Pertandingan PSMS-Persija tahun ini di Medan justru dapat dinilai sebuah pertandingan bola yang paling brutal dan jelek yang belum pernah terjadi selama ini di Medan. Meskipun PSMS juara juga, dari permainan kedua kesebelasan ini tak bisa diambil manfaat suatu pertandingan sepak bola yang benar-benar sportif. Komentar wasit Ong: “Selama sepuluh tahun saya memimpin pertandingan, saya tidak pernah melihat caranya bermain seperti yang diperlihatkan Persija dan PSMS”. Ong Eng Yong benar!

Kini ada persoalan. Dalam menyelenggarakan turnamen besar begini, apa tidak lebih baik PSSI turut campur, apa lagi kalau nama bangsa dan “internasional” juga turut dibawa-bawa? Faktor lain juga: Apakah Stadion Teladan tidak bisa diperbaiki dan dikelilingi parit yang dalam dan pagar kira-kira 7 meter dari garis lapangan sehingga amukan penonton tidak sampai kepinggir lapangan? Justru hal-hal itulah yang tidak diperhatikan selama ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: