Hasil Maksimal Tim Ala Kadarnya

Tempo 30 Juni 1973. Gagalnya PSSI merebut piala anniversary Football Tournament’73 di Jakarta karena absennya beberapa pemain. Seusai turnamen diadakan pertemuan pemain & pengurus PSSI. Soh Chin Aun sebagai pemain terbaik.

NASIB PSSI memang sebulat bola, sejauh dikaitkan dengan Jakarta Amlivcrsary FootballTournament 1973. Tidak hadirnya Yuswardi dan Tumsila sakitnya Anwar Ujang dan Andi Lala, tidak dipanggilnya Abdul Kadir, ditambah lagi dengan pencoretan Risdianto dan Widodo dari TC, menyuguhkan rasa pesimisme yang tidak terlalu pagi: PSSI bakal menduduki juru kunci. Terlebih lagi karena lawan yang akan dihadapi bukan kesebelasan-kesebelasan yang enteng. Korea Selatan sedang merintis jalan ke Kejuaraan Dunia 1974 di Muenchen. Burma dan Malaysia ngendon dengan team Olimpiade-nya. Ya, hanya PSSI saja yang tampaknya sedang meramu-ramu antara pemain senior dan junior. Maka, jika ia masih memberi sepercik harapan bagi suporter PSSI yang fanatik, itu tidak lebih dari dalih “bola itu bulat”. Dan bila fakta menunjukkan kebolehan anak-anak Djamiat yang sempat meraih kedudukan sebagai runner-up di bawah Burma, siapa yang tidak mengangkat topi seraya berseru: mereka memang matang dikarbit.

Perumpamaan yang terakhir ini bukan tidak beralasan. Tahun lalu Komtek Syarnubi Said menunjuk Drg Endang Witarsa untuk merebut “Piala Ulang Tahun Kota Jakarta” dalam turnamen yang diikuti oleh 9 negara Asia (termasuk Australia Barat). Dengan mutu turnamen yang cukup menjemukan, Kesebelasan PSSI waktu itu berhasil menunaikan tugasnya: menjadi juara untuk memulihkan kepercayaan masyarakat setelah mengalami kegagalan dalam turnamen Pra Kejuaraan Dunia di Rangoon. Masih segar dalam ingatan, tidak kurang dari tujuh pemain yang tak muncul lagi dalam turnamen tahun ini.

Usaha Endang mengejutkan. Koleksi pemain tua dipamerkan. Lengkapnya: Ronny Pasla, Sunarto, Yuswardi, Anwar Ujang, Muljadi, Suaib, Basri, Iswadi, Risdianto, Jacob Sihasale dan Abdul Kadir. Dan selanjutnya dengan inti pemain lewat baya itu, berangkatlah PSSI ke babak kwalifikasi Pra Kejuaraan Dunia di Australia. Harap dicatat, peristiwa ini terjadi setelah Koordinator Komtek PSSI, Syarnubi menglrn(lurkan diri dan diganti oleh Suparjo Poncowinoto.

Tangan Besi. Gagalnya PSSI di turnamen Pra Kejuaraan Dunia ternyata telah siap dihadapi oleh Ketua I PSSI/Ketua Komtek yang baru. Dengan bekal semangat dan disiplin kemiliteran, Suparjo melanjutkan pembinaan team PSSI dengan “tangan besi”. Konsepnya tentang pola kebijaksanaan kesebelasan Nasional yang pernah diperbincangkan di Bina Grala bukan tidak menggoncangkan. Meski di sana-sini masih agak kontroversil, ia bertekad pada prinsip: Disiplin dan kewibawaan perlu ditegak kan. Dan dicoretlah Widodo dan Risdianto yang minggat dari TC mengikuti tour kesebelasan kantornya, Warna Agung. Ditambah lagi absennya beberapa pemain teras lainnya, nampaknya jalan untuk menyusun suatu kesebelasan “yang boleh juga”, tidak lain dari perpaduan antara mayoritas yang muda dan minoritas yang tua.

Derap langkah Suparjo diikub dengan keprihatinan oleh Anhar selaku Ketua Proyek Team Anniversary. Sementara Coach Djamiat menjinjing beban bersama-sama Suwardi Arland Bakir dan Marjoso –yang terakhir bekas back dan poros-halang PSSI. Hasil kerja mereka tidak hampa: paling tidak para pengasuh itu berhasil menumbuhkan semangat bertanding yang menyala-nyala. Akan mutu permainan Kesebelasan itu sendiri, orang dipersilahkan mengkaji secara teliti poros halang Subodro dan back Makmun lebih dari Sofjan Hadi, Sutan Harhara – tiga pemain seangkatan tapi karena pengalaman, posisi dan peranannya tidak segawat kedua pemain yang disebut pertama.

Soh Chin Aun. Secara keseluruhan ramuan antara yang tua dan muda itu telah menunjukkan proses peningkatan di luar dugaan selama turnamen berlangsung. Suhodro cepat menyesuaikan diri setelah ia menunjukkan permainan kurang meyakinkan di hari pertama waktu lawan Korea. Diimbangi oleh Suaib dan Sutan serta kesigapan Ronny Pasla, Subodro kwa teknis dan taktis tidak secermerlang penampilan pertama Widodo di Kesel elasan PSSI A. Sementara back Makmun belum semantap dan setabah Yuswardi dalam menghadang lawan maupun membantu serangan dari sisih kanan. Di depan: absennya Kadir dan Risdianto bukan tidak terasa. Iswadi, Romly Patti dan Anjas tidak bisa berbuat lain dari pada berusaha mengimbangi Budi Santoso dan Jacob untuk suatu pola penyerangan yang lebih produktif. Dan yang paling menonjol di dalam mengembangkan tempo permainan yang tinggi — kecuali Iswadi, Anjas dan Ronny Patti pada umumnya anak-anak Djamiat belum memiliki ketrampilan seperti yang diperlihatkan oleh kebanyakan pemain Malaysia. Suatu ironi yang lazim bahwa kesebelasan yang paling bagus teknik dan kerjasamanya justru menduduki tempat juru kunci. Pemilihan pemain terbaik pada diri poros halang Malaysia, Soh Chin Aun, oleh wartawan olahraga/Siwo PWI agaknya untuk mcrangsang Djamiat untuk lebih tekun menitik-beratkan latihan dasar-dasar sepakbola kepada para pemain muda – di samping memompanya dengan semangat menyala-nyala. Tekad dan ihtiar pimpinan PSSI untuk menembus kemelut pembinaan team nasional yang kuat, pada ujian pertama tercatat lulus dan memuaskan yang lebih penting lagi: prestasi runner up dari team ala kadarnya itu berhasil memperpanjang harapan penggemarnya.

Syahdan, peristiwa turnamen Anni ke-IV ini sempat mencatat peristiwa bersejarah. Seusainya pertandingan, di Wisma Angkasa Kebayoran Baru berkumpul belasan bekas pemain PSSI dari zaman 50-an sampai 60-an. Pemrakarsanya Ketua Komtek Suparjo dengan bangga menyematkan “satyalencana” PSSI ke dada mereka. Ia ingin menumbuhkan kepercayaan di kalangan pemain bahwa sehabis tenaga mereka dikuras, paling tidak perhatian PSSI masih tercurah pada usia tua mereka. Maulwi Saelan, Arief Kusnadi (Kiat Sik), L.H. Tanoto, Fatah Hidayat Chris Ong, Omo, Wowo, Ade, Ishak Udin, Rukma dan lain-lain sekali lagi menjadi bahan perbincangan pemain-pemain PSSI yang hadir pada jamuan Senin malam itu. Dan yang lebih mengharukan lagi adalah kehadiran bekas Komtek PSSI: Hutasoit dan Syarnubi Said di tengah keluarga besar PSSI. Hanya Endang Witarsa tidak tampak. Berkumpulnya mereka dalam suasana kekeluargaan itu bukan saja mengungkitkan idealisme masa lalu, lebih-lebih menghadapkan mereka kepada realisme masa kini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: