Bacaan Indo Buat Kanak-Kanak

Tempo 18 Agutus 1973. PT Gramedia menerbitkan majalah “bobo”. Sebagian besar isinya disadur dari “bobo” terbitan Belanda. Hak cipta oberon bv Belanda telah dibeli. Tapi majalah ini kurang mencerminkan suasana Indonesia.

TAK ada keseimbangan antara jumlah majalah hiburan orang dewasa dan buat anak-anak. Karenanya PT Gramedia yang juga merasakan ketimpangan bacaan itu, bulan April yang liwat menerbitkan majalah Bobo, khusus untuk kanak-kanak. Tengah bulanan yang nomor pertamanya dicetak 40.000 eksemplar itu, oplahnya naik setiap kali penerbitan. Nomor 8 yang beredar 28 Juli kemarin sudah menanjak menjadi 57.000 lembar. Peredarannya pun tentu saja menjadi lancar karena sepenuhnya dipercayakan kepada agen-agen harian Kompas.

Isi majalah ini tidak seluruhnya bikinan tangan-tangan pelukis atau penulis cerita kanak-kanak yang berdiam dalam negeri. Menurut pengakuan pemimpin umumnya J. Adisubrata, bahkan sebagian besar “disalin atau disalur dari majalah bobo terbitan Negeri Belanda”. Khusus rubrik Bobo Kelinei, ilustrasinya-diambil dari majalah Belanda itu “yang hak ciptanya sudah kami beli”. Sedang untuk Kisah si Paman Kikuk dilakukan penyaduran, sementara ilustrasinya lebih disesuaikan dengan keadaan Indonesia, “supaya jangan terasa asing bagi pembaca yang masih kanak-kanak”. Dan demikian pula teks ceritanya. Adapun Ceria Dari Negeri Dongeng “ilustrasinya sebagian besar hasil kerja pelukis kita sendiri. Sedang ceritanya — maklumlah cerita kanak-kanak tidak disadur. Sebab pada umumnya bersitat universil”.

Asing. Adi tak dapat menjelaskan siapa pencipta majalah dan tokoh Bobo di Negeri Belanda itu. “Umur majalah itu sudah cukup tua. Saya tak tahu siapa pencipta tokoh Bobo. Sebab majalah itu hasil ciptaan beberapa orang stal redaksi majalah tersebut”. Pimpinan Umum Bobo yang juga staf Kompas itu pernah mengasuh rubrik Anda & Anak Anda untuk harian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa membuat cerita kanak-kanak dan menerbitkannya merupakan suatu pekerjaan yang sukar sekali. Terutama untuk menaksir cerita yang bagaimana yang harus kita susun. Dan disajikan untuk anak-anak usia berapa’?” Karena itu Bobo kini sedang merencanakan semacam survey pembaca. Terutama karena sampai hari ini belum ada surat masuk yang memberikan reaksi terhadap isi majalah itu. Adisubrata menaksir, kemungkinan besar pembaca majalahnya bergerak antara anak yang duduk di kelas dua sampai enam SD.

Secara tidak tegas ia menyatakan bahwa tokoh bobo maupun setting dalam Kisah si Paman Kikuk sebagai sesuatu yang asing di mata kanak-kanak Indonesia. “Anak saya misalnya, tidak merasa asing dengan celana maupun baju yang terlukis dalam cerita itu”, katanya. Tapi lanjutnya pula: “Pelan-pelan, kita memang mengarah untuk menerbitkan cerita-cerita asli para pengarang Indonesia, supaya Idntasi kanak-kanak ada kaitannya dengan keadaan sekeliling. Tapi dalam waktu dekat rencana itu belum bisa kita laksanakan mel1gingat tenaga kita yang kurang. Cuma empat orang tenaga majalah ini, termasuk saya sendiri”.

Menurut Adi, untuk menerbitkan sebuah majalah kanak-kanak yang asli, memerlukan perlengkapan dan tenaga yang cukup. Karena kekurangan tenaga itulah, rupanya Granledia memilih jalan terdekat: membeli hak cipta dari Obero? BV Negeri Belanda. Pada salah satu halaman dalamnya dengan patuh tercantum keterangam World Copyright Oberon BV. Selanjutnya Adi pun mengeluh: “Hiburan buat kanak-kanak sesungguhnya belumlah memadai. Terutama dalam hal bacaan. Hiburan berupa taman-taman memang sudah cukup, sekali pun sayangnya cuma terasa di Jakarta saja. Perbandingan antara ibukota dengan daerah — dari peredaran majalah ini – menunjukkan bahwa minat orang-orang tua di daerah cukup besar”. Membandingkan Bobo dengan Si Kuncung dan Kawanku, J. Adisubrata mengatakan “sudah tentu berbeda”. Sebab tekanan kita tidak pada cerita tetapi pada gambar. Dengan rubrik Bermain Dengan Huruf kita bermaksud memancing daya kreatif kanak-kanak. Jadi kami tidak hanya menghidangkan cerita-cerita saja”.

Gambar atau cerita — mana yang lebih penting — tampaknya itu pun tergantung dari kebijaksanaan pengasuh masing-masing majalah. Kawanku atau Si Kuncung misalnya, kecuali menyajikan gambar juga banyak menghidangkan cerita. Tapi bahwa bobo sedikit banyak kurang mencerminkan suasana dan iklim Indonesia — di mana para pembaca hidup. Dan akhirnya, baik harganya yang Rp 35 maupun suasana isinya, tak ayal lagi hanyalah bisa dinikmati oleh kanak-kanak dari keluarga berada, paling tidak keluarga menengah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: