Duel dalam BPI

Tempo 8 september 1973. Kesaksian eks waperdam i subandrio dalam perkara pengadilan militer yang mengadili eks wakil kepala badan pusat intelijen. brigjen pol sugeng sutarto. pengakuan saksi dan tertuduh saling berlawanan.

Saudara Oditur dan saudara Pembela, kalau kami nanti melakukan pemeriksaan setengah berteriak, itu bukan berarti marah, tetapi sekedar oleh karena tertuduh agak kurang pendengarannya. Ini adalah karena permintaan tertuduh.

— Hakim Ketua Ali Said SH, Mahmillub 1966.

TUJUH tahun kemudian Tertuduh yang kini menunggu hasil permohonan grasinya itu, kini masih kurang pendengaran juga. “Kami harapkan per tanyaan-pertanyaan agak keras, karena saya sudah agak tuli”, diulang Haji dr Subandrio, selaku saksi dalam pemeriksaan terhadap diri bekas Brigjen Pol Raden Sugeng lias Sutarto dua pekan berselang (TEMPO, 25 Agustus). Lantas setelah disumpah secara Islam bekas Waperdam I (dan lain-lain “bekas” selama rezim 100 menteri yang lalu) itu mulai angkat bicara.

Boleh menawar. Dikatakan bahwa perkenalannya dengan Sutarto tidak meninggalkan kesan yang dalam — selain hanya ketemu sepintas dalam kesempatan-kesempatan bersama Presiden Sukarno. Ketika jabatan Wakil Kepala Badan Pusat Intelijen lowong, Presiden mencalonkan Sutarto untuk mengisinya. Saksi menolak, karena belum kenal siapa itu Sutarto. “Hanya Presiden bilang, orangnya loyal terhadap beliau dan revolusioner”. Namun Bandrio tetap menolak, karena ia sendiri punya calon dari para senior BPI, misalnya Kolonel Magenda dan Kolonel Polisi Syamsuddin. Tapi Subandrio pun pada akhirnya memang tak bisa berkutik. “Presiden tetap menyatakan bahwa ini adalah keputusan beliau”, dijelaskan Bandrio. Nah, itulah pangkal mula Sutarto masuk ke BPI menurut versi dr Subandrio.

Kemudian dia cerita tentang jabatan apa sebetulnya yang bakal diberikan kepada perwira tinggi polisi yang kini diadili di bawah pimpinan Letkol Laut Djajoes Soekoto SH – seorang hakim anggota waktu memeriksa Subandrio sebelumnya. Untungnya, di sini Subandrio boleh menawar: jika Presiden menginginkan kursi Wakil Kepala buat Sutarto, maka Subandrio berhasil menawarkan Kepala Staf — yang artinya membuka formasi baru. Juga tentang tugas Sutarto, tawaran Subandrio diterima: hanya mengurus soal-soal administrasi keuangan dan personil tok. Artinya, “tidak dalam tugas-tugas operasionil intelijen”, seperti yang dituturkan Subandrio sendiri. Saksi yang malam itu tampak lebih segar dibanding usia yang sudah 59 tahun, sempat menceritakan bahwa waktu itu Presiden sambil mentertawakannlya berkata. “Apakah engkau merasa lebih pandai dari dia?” Namun toh Presiden menerima juga. “Agar tidak cekcok di belakang hari, saya minta agar Presiden menjelaskan kepada Sutarto apa yang menjadi tugas dan kedudukannya”, saksi menjelaskan pula.

Mahmillub 1973. Tak luput diceritakan bahwa sebelum – pengangkatan ini, pernah saksi dihubungi Presiden supaya tertuduh bisa ditempatkan di pos luar negeri sebagai dutabesar. Saksi menolak sebab “masih banyak staf-staf Deplu yang belum diangkat, sementara yang bukan karir diplomat banyak yang sudah diangkat”. Dalam serangkaian tanya jawab berikutnya, Bandrio akhirnya berterus terang mengapa ia selalu bersikap hati-hati terhadap Kastafnya ini. Sekali katanya ia pernah ketemu Jenderal Yani, dan diingatkan oleh yang terakhir ini “Hati-hati terhadap Sutarto, orangnya tidak baik”. Diuraikannya pula bahwa pembentukan formasi Kastaf buat Sutarto tak lain merupakan tindakan darurat untuk menghadapi dilema yang ada di fikiran saksi: “Kalau Sutarto wakil saya, saya khawatir kalau saya pergi ke luar negeri, ia akan otomatis mewakili saya jadi Kepala, sedangkan saya belum mengenal dia. Biasanya yang mewakili saya, kalau tidak almarhum Juanda, ya Leimena. Jadi, apakah saksi dengan demikian ingin membatasi gerak gerik tertuduh? “Ya”, jawab Subandrio tegas. “Saya tahu beliau kurang enak, saya bisa mengerti. Sehingga pernah juga ia saya ajak rapat-rapat untuk menilai laporan intelijen. Kadang-kadang ia juga menyampaikan secara sepintas info-info mengenai CIA. Sampai di penjara, saya masih yakin bahwa Sutarto tidak melakukan operasi intelijen. Ada seorang perwira di penjara, Letnan Kolonel, yang pernah menjadi anak buah Sutarto. Tapi saya tetap belum yakin karena tak ada biaya untuk dia buat melakukan operasi inteljen. Baru setelah saya diperiksa dalam perkara ini saya tahu ia telah melakukan operasi intelijen”, begitu kesaksian Subandrio dalam sidang Mahmillub 1973 ini – sementara isterinya dr Hurustiati Subandrio juga tampak asyik mendengarkan.

Tentang Dewan Jenderal, saksi pernah juga mendapat info dari tertuduh. “Tetapi saya bilang DD (Dj) itu tidak ada, jangan terjebak oleh desas desus” sambung bekas Menlu itu pula. Lalu apakah ada dilaporkan perihal meningkatnya kegiatan PKI? “Tidak pernah, yang sering info CIA”. Dan tentang ini, dijelaskan saksi: “Semua info selalu dibicarakan dalam rapat panitia operasi yang dipimpin Kartono Kadri. Mengenai info CIA selalu saya suruh cek lagi. Pernah juga kepada saya diusulkan suatu rencana di bidang ekonomi. Saya tolak, karena itu bukan bidangnya sebagai Kastaf”. Lantas, apakah laporan dari bawahan langsung dismpaikan kepada Kepala atau Kastaf? Langsung kepada Kepala”. Sedangkan tertuduh dalam pada itu tidak pernah melaporkan kegiatan PKI di Jawa Tengah. “Saya tahu setelah G30S dari Kartono Kadri”. Subandrio membenarkan bahwa Sutarto pernah mengusulkan agar BPI mengadakan machtsvonning”. Saya menolak dan merasa tersinggung, karena kita hanya mengabdi kepada negara berdasarkan kemampuan teknis, tidak dengan machtsvorming” Lalu apa motif usul tersebut? “Saya tidak tahu, tetapi bisa mengira-ngira. Saya selalu ada reserve terhadap tertuduh”, kata Subandrio lagi.

Acc saja. Menurut saksi suasana waktu itu lagi “mode anti nekolim”. Namun menurutnyayang “ditinjau dari laporaniaporan mengenai CIA, tertuduh tidak condong pro AS. Buktinya sewaktu pembebasan tawanan AS: Saya bicara dengan Jaksa Agung Sutardhio bahwa kalau tak ada alasan-alasan yuridis, sebaiknya para tawanan itu dibebaskan saja agar hubungan Rl dan AS tidak meruncing. Maka ketika akan ada pembebasan saya dipanggil Presiden untuk dimintai pertanggunganjawab sekitar pembebasan itu. Saya jawab, ini untuk kepentingan politik, sebab menghadapi satu negara Malaysia, lebih gampang daripada menambah dengan negara-negara besar lainnya”. Tapi apa boleh buat, Subandrio katanya hanya bisa tinggal menyesal karena dia oleh Sutarto dikonfrontir dengan Presiden dan Kepala Negara setuju usul Sutarto untuk terus melakukan penahanan.

Pada kelanjutan cerita di depan siang yang mendapat pengawalan ketat ini Subandrio menunjukkan bahwa dia selalu membikin jarak dengan orang yang sejak semula tak disukainya itu. egitu dikatakannya bahwa sekalipun Sutarto tidak pernah diajak dalam perjalanan ke daerah-daerah, tapi Sutarto dengan alasan sebagai perwira security selalu menyodorkan diri untuk ikut, sehingga “saya acc saja”. Menjawab Majelis, Subandrio membantah adanya rencana untuk mengadakan briefing di kota-kota yang dituju. Lantas apa tidak mungkin tertuduh Sutarto sendiri yang mengadakan briefing misalnya dengan Mayor CPM Heru Sukarto di Tanjungkarang? “Saya tidak tahu”, jawab Subandrio, “yang bepergian saya, bukan Sutarto dan perjalanan bukan untuk soal-soal BPI tapi soal pembangunan proyek-proyek”.

Bisa meletus. Subandrio juga membenarkan ada menerima laporan per telepon dari Sutarto yang menyatakan kegawatan dalarn ALRI. “Anak-anak katanya”, lanjut Subandrio, “minta diterima oleh Presiden, kalau tidak, bisa meletus. Leimena ditunjuk oleh Presiden, tapi ia tak sanggup, karena anaknya sendiri terlibat- jadi takut tidak objektif. Lalu saya yang ditunjuk. Ternyata tuntutan mereka keras dengan tuduhan umum tanpa fakta-fakta bahwa: Martadinata tidak revolusioner. Tapi saya pertahankan dia, karena tidak revolusioner itu hanya slogan, tanpa fakta-fakta”.

Nah, kemudian dibicarakan pengetahuan saksi sekitar dokumen Gilchrist yang terkenal itu. Subandrio mengatakan menerima dokumen itu dari sekretarisnya, Subadi. Dan dia segera menyuruh si Sekretaris ini untuk terus mencek ke BPI. Ini menarik Majelis, sehingga ditanyakan siapa orangnya di BPI itu — tapi Subandrio hanya menjawab: “BPI sudah tahu siapa yang harus menceknya”. Subandrio seperti katanya kemudian tidak tahu menahu kalau dokumen itu diperbanyak menjadi enam buah fotokopi dan disebar luaskan kepada beberapa orang sebab dia waktu itu sedang ke Jepang. “Kembalinya baru saya tahu hasil checking dokumen. Dalam dokumen itu ada jawaban pertanyaan saya bahwa dokumen itu otentik”.

Tahu pong. Sudah tentu Subandrio pun membantah mengetahui briefingbriefing mengenai DJ dan sakitnya BK oleh Sutarto di beberapa daerah di Sumatera. Bahkan pengumuman mengenai Dewan Revolusi pun baru diketahuinya lewat siaran radio. Tertuduh katanya tidak pernah mengirimkan laporan pada saksi tentang pengiriman orangorang BPI ke Kalimantan. Tentang DJ? “Lapor tidak”, jawab saksi Subandrio, “tetapi menanyakan apakah saya sudah dengar atau tidak, memang pernah. Saya sudah dengar dari Jenderal aryono, agar saya jangan kaget kalau dengar issue itu. Dj memang ada, tetapi untuk mengurusi kenaikan pangkat saja”. Sekali iagi ditegaskan eks Kepala BPI itu: “BPI tidak menganggap ada DJ, jangan terjebak kepada desas-desus”.

Setelah Subandrio berpanjang lebar, datang giliran tertuduh Sutarto — yang tegas-tegas membantah keterangan saksi. “Banyak yang tidak cocok”, ujarnya. Misalnya saja, “tidak ada diktum yang menyatakan saya hanya bekerja dalam bidang administrasi dan keuangan saja. Saya tidak dibatasi untuk melakukan operasi intelijen”. Lebih jauh dikatakan bahwa apa yang dilakukannya selalu dipertanggungjawabkan kepada Subandrio. “Tugas saya adalah menyempurnakan BPI, saya harus berusaha memenuhi keinginan Presiden: ngemong keadaan”. Dan kata Sutarto tak betul saksi bersikap hati-hati (reserve) terhadapnya. “Sering main tennis bareng, makan tahu pong dan ada titik pertemuan yang tidak dapat saya kemukakan di sini”, kata Sutarto selanjutnya – tentu hadirin tertawa karena agaknya faham akan apa titik pertemuan itu. Menjawab laporannya kepada atasannya itu,,”kepada saya pak Ban bilang: “Hati-hati To”. Ia menilai “BPI itu komunisto phobi, untuk tidak dikatakan ariti komunis”. Juga menurutnya nekolim bukan slogan, sehingga menghadapinya adalah “tugas yang mati-matian”. Dari itu, lanjut Sutarto: “Saya merasa lebih pejuang daripada sebagai polisi atau BPI”.

Tipulogi. Juga tidak betul ada usul machtsvorming darinya. “Yang benar adalah sebagai bawahan yang taat pada atasan saya akan memperkuat kedudukan beliau”, ujar Sutarto “yaitu dengan satu biro yang menghubungkan beliau langsung dengan gubernur-gubernur. Ia setuju, tapi tidak ada pelaksanaannya. Sekarang saya tahu kenapa. Karena saya tidak dipercayainya”. Bahkan Sutarto mengemukakan fakta telanjang bahwa Subandrio menginginkan BPI seperti CIA atau FBI. Menurut tertuduh hal itu tidak mungkin karena yang menangani soal-soal begitu bukan seorang Menteri. Pokoknya yang dilakukan Sutarto dalam masa epilog G 30 S adalah melaksanakan perintah Subandrio “untuk terus mengikuti jejak dan menyelidiki PKI”, seperti kata Sutarto pula. “Tetapi setelah itu saya sendiri yang diciduk duluan”, keluhnya.

Kembali ke soal Gilchrist. “Apakah saksi tahu penggunaan surat kaleng dalam perang rahasia yang disebut ilmu tipologi?” tanya Sutarto. Bandrio, atas izin hakim menjawab: “Saya tidak pernah melakukan, mungkin tipulogi itu hanya ada dalam film Bond dan di tv Mission Impossible” Dan ini menarik timbulnya pertanyaan dari penasehat hukum Sutarto: apakah saksi pernah belajar intelijen? Bekas diplomat yang kabarnya pernah mendapat latihan intelijen di Inggeris ini menjawab: “Tidak pernah, tapi intelijen saya seumur hidup”. Hadirin tak lain dari tertawa saja.

3 thoughts on “Duel dalam BPI

  1. Dewi Wilutomo Sutarto June 2, 2011 at 11:21 pm Reply

    Brigjen Pol Sutarto adalah ayah saya. Ketika bapak disidang pada tahun 1973, umur saya masih 8 tahun. Ibu almarhum sempat mengatakan kepada kami bahwa majalah Tempo memuat beberapa laporan jalannya persidangan terakhir Mahmilub ini. Apakah redaksi Indonesia File masih memiliki artikel lain yang berhubungan dengan kasus bapak saya? Terima kasih sebelumnya, cerita ini sudah lama saya cari.

    • indrajabrix June 3, 2011 at 4:38 pm Reply

      Terima kasih ceritanya Mbak Dewi, saya coba kumpulkan digital kliping dari arsip digital nya Majalah Tempo. Kebetulan Saya pe hobby sejarah, nanti kalau ada artikel lain berkaitan dengan ayahanda Dewi akan saya upload atau kirim email…thanks

      • Dewi Wilutomo Sutarto June 4, 2011 at 9:09 am

        ok, terima kasih banyak Mas Indrajabrix…..saya tunggu info selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: