Ke Korea Tanpa Wibawa ?

Tempo 1 september 1973. 18 pemain PSSI disiapkan ke turnamen president’s cup di Seoul. Pemain diambil dari Jakarta, Medan, Surabaya, Ujung Pandang. Dianggap para pemain asal jalan, bahkan memenuhi selera tim manajer.

Ke-18 pemain yang dipanggil measuki TC PSSI ke Turnamen President’s Cup di Seoul (tanggal 22 September sampai I Oktober), bukanlah hasil main comot dari ke-16 peserta PON VIII. Jauh hari sebelum pertandingan PON berlangsung, tokoh-tokoh sepakbola seperti Kadir Yusuf, Saelan, L.H. Tanoto, Chris Ong dan Arlis diikut-sertakan bersama anggota Komtek PSSI untuk mengintai dan menilai pemain-pemain yang patut diberi kesempatan untuk membela nama Indonesia di gelanggang internasional. Dan ke-18 pemain tersebut, boleh dipastikan adalah hasil seleksi Komtek pimpinan Suparjo dari kumpulan pemain-pemain menonjol yang dijaring para mata-mata PSSI itu.

Asal jalan. Dimulai dengan Ronny Pasla dan Judo Hadianto untuk penjaga gawang, kemudian Makmun, Sutan Harhara, Widodo, Oyong Liza, Subodro dan Anwar Ujang di lini belakang, gambaran keseimbangan barisan pertahanan agaknya cukup terpelihara. Dengan catatan kehadiran Anwar Ujang yang konon sakit-sakitan, agaknya perlu mendapat perhatian khusus dari dokter team. Sementara tersebutnya Sarman Panggabean, Djunaedy Abdillah bersama-sama dengan Ronny Patti, Iswadi dan Anjasmara di lini tengah, mudah ditafsirkan sebagai ujian terakhir bagi kedua pemain veteran itu. Sedang di barisan penyerang, munculnya Ngurah Gde Rai, Wibisono, Budi Santoso, Jacob Sihasale dan Andi Lala, tidak terlampau sulit untuk meramalkan siapa saja yang akan menjadi ban-serep. Satu hal yang pasti bahwa ke-18 pemain dari unsurunsur “4 besar” PSSI –Jakarta 8 pemain, Medan 4 pemain, Surabaya 5 pemain dan Ujung Pandang I pemain — tidak terlalu menyulitkan Coach Suwardi Arland untuk menyusun kesebelasan asaljalan. Seluruh pemain pernah memakai kaos PSSI bahkan beberapa diantaranya ditunjuk hanya untuk memenuhi selera Djoko Sutopo, ketua Persebaya yang akarl bertindak sebagai Team Manager.

Menang doang. Adapun situasi PSSI sesudah terjadi pemogokan kesebelasan Sumut nampaknya kurang menguntungkan kewibawaan pimpinan PSSI yang baru saja pulih dari peristiwa Risdianto Widodo dari Warna Agung. Sepintas lalu pemanggilan pemain-pemain dari Sumut itu, berhasil membekukan persoalan tersebut, bahkan menempatkan persoalan pada proporsinya. Namun sepanjang PSSI atau KONI sendiri belum mengambil tindakan terhadap biangkeladi pemogokan tersebut, bukan mustahil kasus tersebut akan mewarnai pola pembinaan selanjutnya. Orang boleh saja berhati-lapang melupakan peristiwa tersebut, meski pikiran jernih selalu dihantui oleh tindakan disipliner PSSI terhadap Risdianto-Widodo. Terlebih lagi jika kasus kedua pemain Warna Agung itu ditimang-timang dengan kelakuan sementara pimpinan Kesebelasan PON VIII Sumut – yang kata orarg, bak “tukang bertaruh diStadion enteng yang maunya cuma menang doang”. Konon dalam minggu ini pimpinan KONI Pusat akan bersidang, menentukan sikap dan mengambil tindakan terhadap peristiwa yang mencemarkan PON VIII, Apapun putusannya, kebutuhan untuk menumbuhkan iklim segarke dalam tubuh team yang sedang dipersiapkan bukanlah hal yang terlalu berlebihan. Sebab bukan omong kosong babwa sorotan dari luar dewasa ini justru yang bisa menggoncangkan usaha PSSI membanun team yang tangguh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: