Memburu pemerkosa sum kuning

Tempo 1 Desember 1973. Henry, mahasiswa, 20, dan slamet, penjual sate, 24 th masing-masing dijatuhi hukuman 4,5 th karena terbukti bersalah sebagai pemerkosa sum kuning. atas putusan itu timbul berbagai pertanyaan.
TANGGAL 18 September 1970 malam, di asrama mahasiswa Angkatan Darat Ngadiwinatan rencana penculikan dan pemerkosaan dirapatkan. Di situ hadir: Henry Berty Pangemanan, Slamet, Eko Bambang Soeseno, Thomas Mudjihardjono, Bambang Supribadi, Budi Subarman, Hubertus Supangkat, Pristono, Prijo Petruk, Aan, Asmi, dan Sigit Prasetjo. Acara sidang: menculik perempuan dan kemudian memperkosa. Ini disusul dengan pertemuan kedua. Semua hadir, kecuali Sigit Prasetyo. Selesai pertemuan operasi dimulai. Rombongan pertama berkendaraan station wagon Inemuat: Henry, Slamet, Eka, Tomy Bambang dan Budi. Rombongan kedua menggunakanJeep, anggota: Aan, Supangkat, Prijo Petruk, Pristono dan Asmi. Dalam perjalanan Station Wagon di muka. Jeep di belakang. Setibanya di Patuk, Henry dan Slamet menculik Sumarijem, langsung memasukkannya ke dalam mobil. Terus dibius. Atas petunjuk Slamet rombongan menuju arah Prambanan. Ke rumah ‘gituan’, milik Karyo Teklek di desa Ngangkruk, kelurahan Somopuro, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Begitu tiba Henry dan Slamet memapah perenipuan itu masuk kamar. Lalu mereka bergantian menggagahi perempuan yang telah dibius itu. Kesebelasan pemerkosa ini berlangsung sampai jam 2.00 pagi, di mulai jam 19.00. Kompoi kembali ke Yogya. Perempuan yang telah berhasil diperkosa tadi diturunkan di Gamping. Masih belum sadar. Eko yang nyetir mobil berangkat ke Banyuwangi mengantar Tomy, Bambang dan Budi. Begitu tiba di Ketapang-Banyuwangi terus kembali. Inilah konstruksi pemerkosaan yang disiapkan oleh seorang wanita alumnus Fakultas Psikologi, kini Mayor Polisi Dra. Rukmini Sudjono.

Verbalisanten. Tidak tanggung-tanggung 47 saksi didengar keterangannya di muka sidang. Sum saksi utama. Agaknya terjadi perubahan pada diri Sum akibat hubungannya yang erat dengan Rukmini. Pada pengadilan yang lalu ia diperkosa oleh 4 orang di dalam mobil. Kini dengan lancar ia menjawab, diperkosa di rumah Karyo Teklek. Yang satu seperti Cina, dan yang satu seperti Arab. Ia masih ingat warna mobil yang ditumpanginya, warnanya biru, bahkan jumlah pintu mobil. Tentu ini mengherankan. Banyak hal yang tak terjawab, waktu pengadilan pertama, kini dengan hafal ia menjawab route perjalanan yang dilalui ketika ia diculik. Padahal pengadilan mcmbenarkan Sum dibius, tak sadar diri ketika di mobil.

Lain dengan Karyo Teklek yang telah jompo, 72 tahun. Ia mengenal benar para pemerkosa. Ada 11 orang, yang katanya bergantian masuk kamar. Apa benar ia masih ingat peristiwa 2 tahun kepungkur itu? Tapi ia sama sekali tidak ingat dengan Suwindo — team pembela — yang datang ke rumahnya 6 bulan lewat. Saksi lainnya, Sigit Prasetyo. Ia dengan lancar tahu segala isi rapat dan rencana penculikan, karena ia mengikuti rapat tersebut pada awal perancanaan. Ia memang Prasetyo yang tak setia, karena rencana bersama ia bongkar pada polisi dan tak ikut dalam operasi yang dirancangkan bersama. Akan kesaksian ini, tak sepenuhnya bisa diterima, karena ia disangkal oleh saksi lain: Seperti Peltu Zachri Effendi, sebagai pemimpin mahasiswa Angkatan Darat, Bambang Setyono, ketua Senat mahasiswa AD, serta salah seorang tetangga Ny. Alfiah.

Saksi lain yang menarik dalam pengadilan ini adalah saksi yang memberatkan terdakwa. Ini adalah saksi verbalisanten, bukan saksi dalam arti sebenarnya, yakni: Mayor Polri Dra. Rukmini Sudjuno, utradara dalam penyidikan terdakwa Kolonel Polri Drs. Suhardi SH Overste Sukadiman, Widarto Setijowardono.

Tuduhan jaksa tersebut masing-masing diatur dalam pasal 285 yo 55 KUHP, “bahwa dengan kekerasan dan ancaman kekerasan telah memaksa seorang wanita untuk bersetubuh di luar perkawinan”. Tuduhan primer. Kemudian tuduhan subsidier: “menggunakan obat bius”, ps. 286 YO 55 KUHP ”lnembawa perei seorang wanita” ps. 332, ke 2 YO 5 KUHP “Membantu membawa Sum pergi”, ps. 328 yo 56 LUHP. Lebih subsidier lagi: “Membantu yang lain bersetubuh dengan Sum” ps. 286 yo 56 KUHP.

Rukmini mendikte. Tuduhan semula ditujukan kepada 11 orang pelaku pemerkosa, seperti ditulis pada surat tuduhan: “Bahwa mereka Henry, Slamet dan seterusnya …..baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri dengan sepakat terlebih dahulu …. ” Tiba-tiba Jaksa di pertengahan sidang meminta pada hakim untuk membebaskan 4 orang tertuduh yang sedang dihadapkan di muka sidang, yakni Thomas Mudjihardjono, lambang Supribadi, Budi Suharman dan Hubertus Supangkat. Bagi terdakwa yang lain, juga hagi masyarakat yang mengikuti sidang ini, dianggap pertanda bahwa semua akan dibebaskan. Artinya versi polisi atau tepatnya versi Rukmini Sudjuno ini akan buyar lagi. Dan hakim meloloskan permintaan jaksa untuk itu, mereka dikenakan tahan luar sampai ada putusan hakim. Dan yang masih dituntut adalah Henry dan Slamet, masing-masing 3 tahun dan Eko 2 tahun.

Atas tuduhan jaksa ini, Team pembela — seperti pada Sum Kuning terdahulu Soetiono Darsosentono SH, Suwindo SH dan Sudjami SH menyangkal keras apa yang dituduhkan jaksa. Sebab apa yang ditudullkan terbantah di pengadilan “Terdakwa tidak pernah melakukan kekerasan ataupun ancaman kekerasan”, “bahwa alat bius tak pernah dibuktikan dalam sidang” “Mobil Opel Caravan No. B 4885-A tak pernah digunakan untuk menculik Sum, sebab pada kejadian itu mobil dalam keadaan rusak berat dan berada di Semarang. Mobil tersebut 3 minggu sebelum pemerkosaan itu sudah ditarik ke Semarang karena rusak berat” “Terdakwa tak pernah tahu di mana itu asrama Ngadiwinatan” “Tak pernah tahu rumah Karyo Teklek” “Bahkan di antara mereka banyak yang tak saling mengenal”.

Terdakwa sendiri, semuanya mcnyangkal apa yang diucapkannya di hadapan polisi. Isi proses verbal tak benar, karena mereka menandatangani di bawah ancaman akan dipukuli, distroom dan disiksa. Mereka dalam keadaan overnacht, ujar pembela. Terdakwa Tomy pernah dipukul dan disiksa, serta disuruh taiso sampai pingsan, karena ia tak mau mengikuti kehendak penyidik Rukmini. Seperti juga yang menimpa Budi Subarman, yang menerima beberapa bugem mentah dan matang ketika diperiksa polisi di Bantul. Semua terdakwa mengatakan bahwa apa yang diberinya pda polisi, semuanya didikte oleh Rukmini. Lain lagi dengan Slamet. Ia sebelum ditangkap dijanjikan pekerjaan oleh Rukmini, bahkan telah diberi celana dan uang Rp. 1.000 sehari. Persis seperti Slamet, Supribadi juga dijanjikan pekerjaan, apabila ia mau mengikuti maunya si pepenyidik. Setelah berjalan selama 5 bulan dengan memakan 39 kali sidang jatuhlah palu hakim atas diri Henry dan Slamet, dengan masing-masing 4« tahun penjara potong tahanan. Karena terbukti bersalah. Sedang lainnya dibebaikan, karena tak terbukti. Sementara status bagi mereka yang dinyatakan ‘tak tertangkap’ tidak diberi penjelasan, apakah bebas atau tetap buronan yang tak diburu. Putusan hakim setebal 87 halaman dan dibacakan selama 3« jam ini, ketika palu dihujamkan, hadirin sekitar 300 orang yang menjejali ruangan sempit itu dibuat terpaku. Banyak pendapat bahwa putusan itu adalah akhir dari penderitaan para tertuduh itu. Bahkan keluarga Henry telah datang dari Menado untuk menyongsong hari pembebasan anaknya.

Mungkinkah. Akan putusan hakim hli, agaknya pertanyaan baru tak dapat disumbat. Jika tak terbukti komplotan itu yang merencanakan dan kemudian memperkosa Sum – karena ternyata hanya 2 yang terbukti menurut hakim — maka komplotan mana pula yang merencanakan dan memperkosa itu? Mungkinkah Henry hanya berkomplot dengan Slamet? Padahal sidang mengakui atau tidak menyangkal bahwa Henry baru kenal Slamet di tahanan polisi. Ataukah mereka sendiri-sendiri memperkosa Sum. Dan kendaraan apa yang mereka gunakan untuk memperkosa? Siapa yang nyetir? Kalau yang jadi andalan dari pembuktian ini adalah kesaksian Karyo Teklek, bagaimana dengan keterangannya bahwa banyak yang memperkosa, ada 11 orang. Dan bagaimana dengan keterangan Sum sendiri bahwa ia diperkora oleh 4 orang di dalam mobil yang terus meluncur? Apa yang paling mendekati putusan hakim ini hanyalah keterangan Sum, yang satu scperti Cina dan yang satu seperti Arab. Benar Henry Berty P.lngemanan tinggi, gondrong dan kaya Cina — seperti kebanyakan pemuda Menado. Dan ia masih mahasiswa, berumur 20 tahun. Dan Slamet, 24 tahun, sehari-hari berjualan sate. Hanya berpendidikan sampai klas 3 SD, berasal dari Maura. Dan yang terpenting ia berbeda klas (sosial) jauh dengan Henry, biarpun ia kini satu kamar sebagai terhukum sambil menunggu naik banding.

23 thoughts on “Memburu pemerkosa sum kuning

  1. bayu February 19, 2010 at 12:16 am Reply

    nice. sy nyari berita ttg sum kuning ini di gugel dan terdampar ke mari

  2. dealer pulsa January 27, 2011 at 2:12 am Reply

    pelaku sebenarnya siapa yaaaa

  3. budi January 27, 2011 at 2:54 am Reply

    bagaimana akhir kisah kasus ini?

  4. ninawinona January 30, 2011 at 10:33 am Reply

    Dimana sekarang Sum Kuning berada?

    • nanang November 15, 2012 at 4:30 am Reply

      Mungkin sudah pensiun ya! dia bekerja sebagai perawat di Rumah sakit DKT Semarang. dan menikah dengan salah satu pasiennya. Ayo !! kita bongkar kembali kasusu sum kuning

  5. Tommy April 13, 2012 at 12:17 pm Reply

    ya Tuhan.. saya ingin ketemu sama ibu Sum saat ini, apakabar ya beliau? Sudah seharusnya tindakan kriminal seperti ini dihukum mati

  6. mas peter May 28, 2012 at 2:34 pm Reply

    Saya jadi ingat, peristiwa Sum Kuning terjadi di masa kecil saya. saya baru kelas 1 SD. saya membacanya di majalah Semangat terbitan Yogyakarta di masa kecil saya itu.

  7. Laura Bria October 24, 2012 at 12:23 pm Reply

    semoga 11 orang itu membusuk dineraka, dan didunia selalu terbayang2 perbuatannya sehingga setiap hari selalu tersiksa dihantui rasa bersalah yang sangat menyakitkan dan tidak bisa tidur nyenyak. semoga wajah sum kuning dan seluruh anggota tubuhnya yang disakiti oleh 11 orang ini terbayang2 selalu dan jijik semati2nya pada diri mereka sendiri.

  8. nanang November 15, 2012 at 4:28 am Reply

    Pelakunya salah satunya adalah kerabat keraton ( Paku alaman ) kebetulan adalah teman kuliah ibuku di Teknik sipil UGM, dan salah satu pelaku lagi adalah anak pahlawan revousi ( brigjen katamso ). Aku kita buka kembali kasus ini. Pelaku pelakunya sekarang masih hidup nyaman di jogja.

  9. alfian December 4, 2012 at 7:03 am Reply

    Mari saudara2 yang bersimpati atas tragedi ini,dari manapun dan agama apapun anda ,untuk selalu berupaya membela ibu Sum.Membela orang yang teraniaya lewat cara /media apapun.Tak ada waktu terlambat untuk membela kaum teraniaya yang semua agama menghukumi “wajib dibela” atau kemalangan akan selalu menimpa anda yang mendiamkan kasus ini.Bukan tidak mungkin malapetaka gempa Jogja sebagai pertanda dan peringatan atas kediaman kita,terimakasih.

  10. ahmad jarwadi December 30, 2012 at 8:52 am Reply

    kalo ada yg merekayasa kasus itu, sekarang mungkin sudah sangat renta, ya sudahlah.. maafkanlah, biarkan saja dia menghadapi pengadilan yang sebenarnya atas tindakannya di akhirat nanti

    • pinpin April 29, 2013 at 2:03 pm Reply

      enak aja lu bilang maafkan. yg bisa ngemaafin cuma sum sendiri, kalau dia mau.

  11. buyung January 25, 2013 at 8:29 am Reply

    sunnguh penegak hukum yang akan sangat merugi di akhirat nanti……andai dosa hakim pemvonis SUM KUNING itu dibebankan kegunung maka gunung pun tak sanggup memikul dosa hakim tsb…na udhubillah mindalik…..

  12. buyung January 25, 2013 at 8:37 am Reply

    ko ada/tega yah penegak hukum yang seperti itu yang ga punya hati nurani sama sekali.apalagi dia perempuan. seharusnya lebih halus perasaanya……andai dia/yang memvonis SUM KUNING masih ada/hidup saat ini gmn yah keadaanya? q cuma penasaran aza dengan orang yang tanganya penuh dengan darah dan derita orang lain

  13. teguh wibowo March 26, 2013 at 8:20 am Reply

    begitu hebatnya pemerkosa sum kuning,polisi hoegeng yg trkenal bersìh,berani,jujur,tak mampu melawan kekuatan besar di balik kasus itu.
    Hnya pengadilan Tuhan yg mampu menghukum mereka semua.

  14. Forum Jual Beli March 28, 2013 at 7:04 pm Reply

    ijin copy dan share bos

  15. haen April 30, 2013 at 6:11 am Reply

    “semoga dosa mereka ta’terampuni”

  16. peace May 1, 2013 at 5:35 am Reply

    saya tidak tahu persis kasus sum kuning, tapi saya sangat peduli dengan kasus tersebut. dan sekarang saya tidak tahu keberadaan ibu sum kuning. sungguh malang nasib ibu sum.

  17. agung May 21, 2013 at 3:28 pm Reply

    Demi Allah…terkutuklah kalian para pemerkosa sum kuning, dan polisi yang telah menutupi suatu kebenaran dengan suatu kebohongan….semoga sekaratul maut kalian penuh siksa sampai hari perhitungan hisab…
    AMIN

  18. Onan sitahuru February 4, 2015 at 7:09 am Reply

    Aku saat itu masih kecil berada di Sumatera Utara. Aku baca di Koran. sekarang gue dah ngerti masalah sebenarnya. Dan menurut tulisan diatas pelakunya masih ada di Jogja.
    Gua mau bilang sama pelakunya :
    Kalo kamu ngaku dulu pasti kamu ga akan dikejar dosamu sampai hari ini. Aku jamin hidupmu ga pernah waras setelah pemerkosaan itu. Karena kelakuanmu bukan kelakuan manusia saat itu. sekarang rasakan Penjara sepanjang masa oleh nuranimu sendiri sampai nanti kamu masuk liang kubur . Tuhan sebenarnya mendesign manusia itu dengan segala nurani yang bisa menuntun dia ke kehidupan yang baik. Atau menghukumnya bilamana dia melampaui ukuran kemanusiaan.

    • Onan sitahuru February 4, 2015 at 7:13 am Reply

      Bu sum , ada dimana sekarang ? Tuhan memberkati ibu sekeluarga. Salam dari kami di Jakarta.

  19. tri edi April 16, 2015 at 7:22 am Reply

    Saya sangat sedih membayangkan penderitaan ibu sum kuning semoga laknat Allah menimpa para pelakunya di dunia dan akhirat

  20. Mas May 23, 2016 at 4:01 pm Reply

    Kalau tdk salah, Rukmini itu pangkat terakhirnya Brigjend Polisi. Saya mengenalnya sebagai Istri Ir. Soedjono, Guru Besar Faperta UGM, seorang perempuan santun dan berkarier cemerlang. Astaghfirullahaladzim… ternyata dia pelindung kawanan serigala yg sudah memangsa kaumnya sendiri.
    Andai benar itu engkau, Allah Maha Mengetahui, kau tdk akan bisa bersembunyi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: