Empat Tahun Kesebelasan Jayakarta

Tempo 12 Januari 1974. Dalam usia 4 tahun Jayakarta mencoba meningkatkan kegiatannya dengan pertandingan international, ke Malaysia, melawan kesebelasan Wacker (Jer-Bar). Jayakarta masuk ke Divisi I Persija. (or)

MENGINJAK usia 4 tahun, “kami coba meningkatkan kegiatan kami dalam pertandingan internasional”, kata Frans Hutasoit, Ketua PS Jayakarta yang untuk tahun 1973 sekaligus merebut gelar “Penunjang Olahraga” (dari SIWO/PWI Jaya) dan “Pembina Olahraga” (dari SIWO/PWI Pusat). Dan pertandingan internasional “kecil-kecilan” buat Jayakarta memang terjadi di Stadion Utama Senayan pekan lalu dengan kesaksian sekitar 15.000 penonton. Rupanya berbeda dengan PS Pardedetex dulu, team sepakbola yang disonsori Yayasan Jaya Raya ini memilih jalan dari anak-tangga paling bawah. Tahun lalu, diam-diam Jayakarta melawat ke Malaysia dan melakukan serangkaian pertandingan dengan team setempat untuk mengukur diri. Puas atau tidak hasilnya, nampaknya pimpinan Jayakarta bertekad meningkatkan kegiatannya dalam pertandingan internasional di kandang sendiri tahun ini juga. Apalagi kebetulan sekali Kesebelasan Wacker — kesebelasan amatir Jerman Barat — mengadakan perlawatan ke Asia dengan sponsor Pemerintah mereka. Begitu jadinya: debut Jayakarta dalam pertandingan internasional melawan Wacker dengan hormat mempersilahkan para penggemar sepak bola untuk menilainya.

Main kayu. Kini setelah Jayakarta melampaui fase pertama dan lulus masuk ke Divisi I Persija, orang bukannya ingin menilai klub yang terbanyak memberi suplai pemain bagi Persija dari ukuran nasional melainkan juga dari segi potensi inter-nasionalnya — dan terutama mutu komersilnya. Dari sudut pandangan ini orang tak usah ragu menyimpulkan bahwa Jayakarta masih harus menempuh perjalanan jauh untuk bisa mencapai taraf kesebelasan Pardedetex (yang pada waktu itu mayoritas terdiri dari pemain nasional). Kekalahan 1-2 lawan Wacker ikut pula menelanjangi ke-amatir-an para pemain Jayakarta: polos, sopan dan ragu-ragu untuk bermain keras dan licik. Mungkin saja itu semua adalah hasil pembinaan di asrama yang serba disiplin dan jauh dari sifat-sifat keberandalan sebagaimana lazimnya pada anak-bola. Ini pun bukan berarti mercka adalah penakut. Pernah terjadi dalam kompetisi Persija tahun lalu mereka tak sungkan melibatkan diri dalam perkelahian total (lawan UMS). Tapi yang dimaksud di sini tentunya bukanlah sebuah nasehat supaya Jayakarta memilih jalan singkat: menangkan pertandingan dengan “main kayu”. Agaknya peranan pemain Iswadi pada Indonesia Muda, Salmon Nasution pada Maluku, Risdianto pada UMS, Oyong Liza pada Jakarta Putera dan sebagainya, perlu juga dipelajari Jayakarta. Dewasa ini nama Anjasmara Sutan Harihara, Sofyan Hadi, Andi Lala dan Sumirta tidak kurang komersilnya dari pemain nasional mana pun. Tapi memasuki “tahun macan 1974” ini jelas mereka bukan tidak mungkin diperlakukan lawan sebagai “macan kertas” belaka. Jayakarta di medan pertandingan mutlak membutuhkan seorang kapten yang tenang dan matang dalam setiap situasi krisis, tapi tanpa mengurangi fanatisme dan tak segan-segan bertindak keras, licik malahan kotor dalam batasbatas yang dibolehkan. Dalam sejarah sepakbola mentalitas salon — teknik tinggi dan kerjasama mulus, misalnya bukan tidak sering “sekali digebrah main kasar, terus bubar”. Jayakarta benar-benar minus seorang (saja) tokoh pemain yang kwa bakat sepakbolanya inhaerent pula dengan 1 kelicikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: