Tunggu Dua Tahun Lagi

Tempo 23 Maret 1974. FIFTY-FIFTY, ramal Kamaruddin Panggabean kepada TEMPO. Ucapan ini disampaikannya 15 menit menjelang team Regional I turun ke lapangan menghadapi kesebelasan Regional III.

Tapi kans 50 pertama dari final malam itu bukanlah untuk anak asuhan Panggabean. Karena begitu 5 menit selelah wasit Kosasih Kartadiredja dari Sukabumi meniup peluit pembukaan, gelandang kiri Erwin Sumampouw berhasil mengirimkan suatu umpan panjang yang manis kepada Abdul Kadir yang berada dalam posisi bebas di area penalti lawan. Dengan tembakan kaki kanan yang menyilang rendah, bola yang lepas dari ujung sepatu Kadir itu bersarang di jaring gawang kesebelasan Regional I tanpa tersentuh tangan oleh kiper Pariman. Tapi awal kerjasama yang rapi dari regu Regional III ini sayang tak berlangsung lama. Begitu hujan turun membasuh lapangan, semangat mereka pun ikut melembek bak tanah merah kesiram lumpur. Motor penyerang Waskito yang biasanya lincah li dalam hujan dan semula diharapkan akan berbuat banyak untuk teamnya, ternyata harus mengalah pula pada kondisi kesehatannya yang belum memungkinkan buat bermain lama. Digantikan oleh Budi Santoso, kebolehan “tenaga baru” ini juga belum memberi arti maksimal dalam menghidupkan kembali serangan kesebelasan Regional III. Maskot. Melihat serangan lawan mulai melemah, peluang tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh trio penyerang Regional I Sarman Panggabean, Tumsila dan Zulkarnaen dengan terobosan-terobosan kilat ke jantung pertahanan lawan. Jerih payah mereka pun berbuah pada menit ke-25 ketika kiri luar Parlin Siagian lepas dari penjagaan Rusdy Bahalwan dan memberikan voorzet kepada Zulkarnaen yang berdiri di rusuk kanan Subodro. Bola umpan itu dikontrol sebentar oleh Zul, untuk kemudian dengan tembakan rendah yang keras kiper Suharsoyo memungutnya dari dalam jaring 8 menit kemudian, Parmin yang menggiring bola dari rusuk kanan kembali menyodorkan umpan pada penyerang tengah Tumsila. Si Hitam maskot Regional I ini menyelesaikan tugasnya dengan baik, sehingga untuk kedua kalinya sebelum turun minum Suharsoyo tak berdaya menyelamatkan gawangnya. “Tipis sudah harapan kesebelasan Regional III untuk menang”, komentar pengagum-pengagum Jacob Sihasale dkk. Dan harapan itu makin menciut lagi, ketika pada menit ke-12 selepas jedah tembakan Zulkarnaen yang membentur mistar dengan cepat disambar oleh Nobon. Meskipun dapat ditip oleh Suharsoyo, namun bola yang muntah dari tangkapan kiper itu tidak disia-siakan Parlin Siagian yang memang sudah menunggu di sana. Dengan sontekan yang tak begitu keras si kulit bundar menggulir lagi ke dalam jala Regional III. Kedudukan 3-1 untuk kesebelasan Regional I tersebut tak berubah sampai menit ke40 sewaktu Sarman Panggabean melakukan pelanggaran atas Jacob Sihasale di daerah pertahanan sendiri. Kenakalan Sarman tersebut terpaksa ditebus oleh team Regional I dengan hukuman: tendangan penalti. Dan Kadir yang bertindak sebagai algojo kesebelasan Regional III dengan mudah memperdayakan Pariman. Tapi waktu yang tersisa 4 menit kemudian ternyata tidak menolong banyak bagi trio Jacob-Kadir-Junaidi untk menambah gol. Sehingga kedudukan 3-2 itu tak berubah lagi sampai peluit panjang berbunyi. “Memang sudah nasib”, ujar anak-anak Regional III tersebut seusai pembagian medali 100 pemain. Menjadi takdir atau bukan, invitasi antar regional yang semula diharapkan PSSI akan melahirkan bakat-bakat baru kiranya di luar dugaan pula. “Tak ada bibit-bibit baru yang menonjol saya lihat”, kata Kamaruddin Panggabean menginventarisasi pemain-pemain kelima regional. Namun,”pertandingan ini sendiri bukannya tak bermanfaat”, tambahnya sambil menguraikan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Gambaran kemanfaatan yang terlintas di kepala Panggabean: mulai dari penambahan pengalaman bertanding bagi pemain daerah sampai kepada ide pengiriman team ke turnamen-turnamen tak resmi seperti King’s Cup, Merdeka Games, President Cup yang nantinya cukup diwakili oleh kesebelasan-kesebelasan regional saja. “Dengan cara ini kita akan mempunyai 100 pemain yang sama mutunya. Tapi bila team nasional mewakili yang akan bertambah pengalamannya cuma 18 pemain saja”, ujar team manager kesebelasan Regional I itu mereka-reka 5 kali kesempatan untuk 5 team regional dan membandingkannya dengan 5 kali peluang buat I regu nasional. Meski Panggabean tak melihat pendatang-pendatang baru lantaran tenaa inti kelima team regional adalah bekas pemain nasional PSSI, namun ia tak menutup mata pada kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh kesebelasan Regional V dengan motor pemain Persipura. “Pemakaian teknik mulai tampak pada mereka, tapi pengertian bermain masih kurang”, ujar Kamaruddin mengemukakan 2 hal kelemahan anakanak Irian Jaya yang meliputi: sistim pertahanan mereka yang selalu terbuka dan cara mereka men-tackle bola yang menurut istilah tokoh sepakbola Medan ini tackle mati. Tapi, “tunggulah 2 tahun lagi, mereka menjadi kesebelasan vang terbaik”.
23 Maret 1974

Fanatisme Baru

“INI PSSI kok ada-ada saja, pertandingan lah pakai regu”, komentar seorang pembeli karcis yang antri di depan loket Stadion Utama menafsir istilah regional dengan jalan fikiran sendiri. Dan memang tak banyak orang yang mengerti akan ungkapan baru itu karena selama ini PSSI membagi diri dalam wilayah-wilayah. “Itu hanya sebagai pengecualian saja”, kata Jumarsono, Sekjen PSSI menguraikan pengembangan wilayah Indonesia Timur yang menjadi Regional IV dan Regional V, mengingat “sifat pertandingannya merupakan invitasi. Lain halnya dengan kompetisi maka kedua regional tersebut akan digabung ke dalam wilayah kembali”. Teoritis struktur pelebaran daerah PSSI memang tak berubah banyak dengan pembagian yang lama. Cuma geografisnya untuk istilah yang ditelorkan Kongres ke-24 di Jakarta 3 tahun lampau itu kelihatan sedikit dipersempit. Bila Regional I untuk daerah seluruh Suma-tera, Regional II terdiri dari Jawa Barat, Jakarta dan Kalimantan Barat Regional 111 meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan sekitarnya dan sisa Kalimantan, Regional IV untuk daerah Sulawesi dan Maluku, dan Regional V khusus Irian Jaya. “Jika pemain-pemain inti regional sekarang ini hanya kelihatan dari beberapa daerah tertentu saja, hal itu dikarenakan dalam seleksi yang lalu mereka-mereka itulah yang menonjol”, ujar Kamaruddin Panggabean, meski “untuk keperluan itu saya telah memanggil 3 pemain terbaik dari tiap daerah”. Agak berbeda dengan keempat team regional lainnya, maka kesebelasan Regional 11 tupun ke lapangan tanpa pemain-pemain teras Persija. “Ah, itu kan karena mereka lagi tour saja”, kilah Panggabean. Kendati dugaan Ketua KONI Sumatera Utara ini ada benarnya tapi Iswadi melihatnya dari sudut yang lain. “Kalau nlau tahu, cara yang ditempuh Regional II inilah yang terbaik untuk talent scouting”, kata Iswadi menjelang keberangkatannya ke Australia. sebab “jika pemain-pemain senior lagi yang masuk kapan kesempatan untuk mereka bisa maju”. Tapi tidak semua orang berpendapat begitu, apalagi penonton yang sudah kelanjur jatuh hati pada permainan bintang-bintang lapangan tertentu seperti Ronny Pasla, Andjas Asmara, Sutan Harhara dan Ronny Pattinasarani. Ketidak-hadiran itu lantas dikaitkan pengunjung dengan mutu pertandingan antara regional yang tak memadai. “Tanpa Ronny Patti memang agak sulit buat kami”, kata Suaib Rizal, kapten kesebelasan Regional IV, karena “tak ada orang yang akan mengatur serangan”. Faktor kekalahan team dengan inti pemain-pemain PSM tak kurang dihubungkan pula oleh Suaib dengan unsur fanatisme bond “Saya rasa, kami akan lebih bersemangat dalam permainan jika bertanding di bawah panji PSM”, tambahnya. Namun Kamaruddin Panggabean kendati membawa team minus Ronny Pasla mengakui juga pentingnya fanatisme bendera dalam suatu turnamen. Ia tidak sepenuhnya mendukung pendapat Suaib Rizal. “Dua tahun lagi faktor fanatisme ttu akan tumbuh dan saat itulah nama regional akan bersemi di hati penonton”, katanya. Adakah invitasi antar regional yang kali ini masih jauh dari tujuan komersialisasi akan dilanjutkan PSSI? “Semua itu tergantung pada keputusan Kongres tahun depan”, kata Jumarsono.

23 Maret 1974

Kalah Dengan Optimisme

BERAPA lama bola mampir di kaki seorang pemain sepanjang pertandingan yang lamanya sembilan puluh menit? “Paling lama cuma tiga setengah menit”, kata pelatih Choo Seng Que, “selebihnya, bola berada di lapangan permainan”. Artinya, bola bergulir kian ke mari di lapangan adalah atas kehendak orang yang memainkannya. “Bukan pemain yang harus menjadi hamba bola”, kata Choo. Nampaknya apa yang selama ini dikenal pemain-pemain Irian Jaya adalah kebalikannya. “Dulu kami mengutamakan boyontet, dan kelemahan kami ialah kebiasaan setelah memberi umpan terus diam”, kata Timo Kapisa, kapten kesebelasan mencoba menilai regunya sendiri. “Akibatnya baru setengah main kita sudah habis”. Kritiklah. Merubah kebiasaan lama inilah tugas yang dipikul oleh Choo Seng Que, warga-negara Singapura berumur 60 tahun yang dikontrak langsung oleh gubernur Acub Zainal (TEMPO, 26 Januari). Tempo cuma hari sejak ia tiba di Jayapura, memang belum cukup guna merubah kebiasaan lama yang rupanya sudah melekat itu. Karenanya, cukup beralasan bila penggemar sepak bola merasa sedikit kecewa akan penampilan kesebelasan Regional V (Irian Jaya) dalam Kejuaraan Antar Regional PSSI yang baru selesai minggu lalu. Mereka kalah 1-3 dari kesebelasan Regional II yang berintikan pemain-pemain Persib. Kalah 1-5 dari Regional I yang terdiri dari pemain-pemain Medan dan Langkat. Sempat menang 4-2 dari kesebelasan Regional IV sebelum kemudian dikalahkan Yacob Sihasale dkk dari Regional III dengan 4-2 pula. Mengapa Timo Kapisa cuma mampu membuat satu gol? Begitu tanya penonton di Senayan mengingat kembali reputasi pemain yang termasuk pencetak goal dengan 6 goal yang kemudian mengangkat regunya ke tempat kelima dalam Kejuaraan PSSI tahun lalu. Serta merta kritikpun berdatangan ke alamat pelatihnya. “Kritiklah, saya tak akan membela”, kata Choo yang tak suka bicara itu kepada TEMPO. Namun sekalipun mereka kalah, di mata awam yang awas pasti melihat ada sesuatu yang baru dalam regu ini. Kerja sama mereka lebih hidup, dan yang terutama: ada polanya! Itu sebabnya seusai pertandingan di hari pertama Choo dihampiri oleh Toni Pogacnick. “Jangan hiraukan kritik. Saya tahu anda pasti akan sukses”, ujar Toni seraya menepuk bahu rekannya. Tentu saja selain Toni, Choo sendiri yakin dan optimis bahwa ia akan sukses. “Ini baru hari Bagaimana nanti kalau sudah bulan”, katanya. Di kalangan pemain pun optimisme itu tampak dan terasakan. “Memang masih terasa sedikit kaku”, kata Tinus Haipon. “Tapi rasanya sekarang lebih cocok. Kita bisa bekerja sama”, lanjut Martin Burwos pemain belakang asal Manokwari. Mereka menerapkan betul pesan pelatihnya bahwa bolalah yang harus mencari kita dan bukan sebalik nya. “Sekarang begitu terima bola, beri pass, lalu cari tempat kosong”, seperti kata Timo Kapisa. Di Jayapura, selama hari Choo Seng Que telah mulai membina kesebelasan anak-anak Irian ini dengan disiplin keras. Bangun pagi jam lima, sejam kemudian ia sudah menunggu anak-anak di lapangan. Dan latihan segera dimulai. Selama 8 jam sehari diseling waktu makan dan istirahat, ia berturut-turut melatih fisik dan teknik dengan metodanya sendiri “Orang bilang saya pernah membikin sejarah” katanya mengingat masa 24 tahun yang lampau. Ketika itu ia membina PSSI dan melahirkan Jamiat, Chris Ong, Ramang, Tan Liong Houw dan banyak lagi. “Mereka itu sudah punya bakat saya cuma tukang gosoknya saja”, katanya merendahkan diri. Apakah ia akan membuat sejarah untuk kedua kalinya? Ini yang akan dibuktikannya. Yang terang pemain berbbakat banyak di Irian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: