Yang Pertama Dikontrak Putih

Tempo 16 Maret 1974. MESKI kandas di kaki kesebelasan Irak dan Australia dalam ronde penyisihan Kejuaraan Dunia 1974 di Sydney, pertengahan Maret tahun lampau namun seni bola yang disuguhkan pemain-pemain Indonesia telah menjadikan mereka kembang rose di mata publik negeri Kangoroo.

Gambaran tak indah yang ditulis pers selama ini sekarang berbalik menjadi puji. Kini, “mereka adalah jantung hati penonton”, kata Martin Royale, komentator TV Australia terkenal. Tidak heran kalau sejak itu tawaran untuk bermain di berbagai klub sepakbola di Australia mulai mengalir kepada bintang-bintang lapangan PSSI. Incarannya antara lain: Ronny Pasla, Anwar Ujang, Widodo dan Iswadi. Untuk nama-nama ini Rale Rasid, pelatih team nasional tak urung mengumbar sanjung: “Ketrampilan individuil mereka sangat mengesankan”. Ketemu Buku. Kesan serupa ternyata bukan hanya mengendap di otak Rasic, tapi juga di kepala Mike Laing, pelatih Western Suburbs Club, Sydney. Kendati bulan Nopember lalu Laing sudah mengakhiri kontrak dengan WSC, keinginannya untuk memperkuat ujung tombak klub profesional divisi I benua Selatan ini dengan Iswadi tidak pupus dengan sendirinya. Alur pemikirannya yang segaris dengan kemauan penggantinya bak ruas ketemu buku pula dalam kehendak Iswadi. “Saya sudah berketetapan hati untuk ke sana”, ujar pemain sayap kanan PSSI itu kepada TEMPO. Boyong bersama isteri, Iswadi putera keluarga almarhum Idris yang dilahirkan di Kotaraja 18 Maret 1948 memang telah dinantikan penggemar sepakbola di Australia pada awal kompetisi bulan ini Kendati orang tidak meragukan kebolehan Iswadi dalam penyesuaian langgam permainan dengan pemain-pemain Western Suburbs Club, namun bintang kesebelasan Indonesia Muda ini cukup berendah hati mengakui kekurangannya. “Kesukaran pertama yang akan saya hadapi di Australia nanti adalah dalam soal pengukuran pengoperan bola kepada kawan”, katanya membeberkan alasan: jangkauan kaki pemain WSC yang tak sama dengan pemain Indonesia akan memerlukan tempo baginya untuk penyesuaian. Karena, “dengan operan bola yang kurang satu sentimeter saja bisa merugikan suatu peluang pada team”. Air mata. Adakah faktor itu akan menyebabkan si kancil PSSI lantas merasa rendah diri dan tak dapat mengembangkan ketrampilannya yang dikagumi itu? “Semuanya akan tergantung pada pribadi saya. Dan saya bukanlah orang yang bakal minder karena hal demikian”, katanya menanamkan tekad untuk bisa memberikan yang terbaik dari apa yang dipunyainya. Diam-diam bekas pelatih WSC Mike Laing juga menyadari kemungkinan merasuknya kondisi kejiwaan yang dicemaskan itu pada diri Iswadi. Tapi, “intelegensinya yang saya nilai tinggi di antara kawan-kawannya akan menyebabkan Iswadi bisa mengatasi semua itu”, komentar Laing kepada pers dalam lawatannya ke Jakarta bersama kesebelasan WSC, Nopember lalu. Kepada reporter Renville Almatsier, pelatih PSSI Mangindaan juga mengakui hal yang sama: “Iswadi adalah salah satu pemain PSSI yang pakai otak dan punya keinginan untuk maju. Dengan cara itu ia mengungguli lawan yang fisiknya lebih besar”. Terpilih sebagai pemain sepakbola Indonesia pertama yang akan bermain dalam kesebelasan luar negeri, kepindahan Iswadi ke benua yang diketemukan James Cook ini selalu disambut dengan kegembiraan oleh penggemar sepakbola di Indonesia, tak kurang pula rekannya dirundung kesedihan yang dalam. Teman sepermainannya Risdianto kelihatan dengan berat hati melepas Iswadi: “Kami semua akan kehilangan kau, Is. Tapi karena itu untuk kemajuanmu terpaksa kami menerimanya dengan rela hati”. Sementara Drs F.H. Hutasoit pun tampak berlinang air mata dengan kepindahan kapten kesebelasan Persija ini. “Jika kamu tak akan maju di sana, biarlah kita sama-sama berbagi apa adanya di sini”, tutur Hutasoit kepada Iswadi seperti yang diceritakannya kembali kepada TEMPO. Kontrak Biru. Tutur basa-basi yang disampaikan pemain dan tokoh sepakbola itu bukan sekedar keberatan tak berdasar. Karena dengan kepindahan itu PSSI dan Persija akan kehilangan seorang pemain sayap kanan yang dimilikinya. Meski ada 3 calon yang disebut Sinyo Aliandoe, pelatih Persija, yang bakal menggantikan tempat Iswadi tersebut namun untuk menyiapkan mereka (Suhanta, Jeffry dan Jopie Saenunu) dalam waktu dekat memang tampak agak sulit. Apalagi pengalaman yang dipunyai Iswadi belum satupun yang mengimbangi. Tapi, “saya cenderung untuk memilih Suhanta menggantikan tempat saya di sayap kanan”, ujar Iswadi. Alasan Is adalah mengingat Suhanta selain mempunyai kemampuan buat itu, juga mau mempergunakan otaknya. Dan “itu pun akan tergantung kalau ia dibina secara baik”, tambahnya sambil menghembuskan asap Dunhill yang tak kurang menjadi puntung 20 batang dalam sehari. Adakah tergabungnya Iswadi dalam WSC untuk masa kontrak 1 tahun itu akan menjadikan ia seorang pemain pro? “Tidak dengan sendirinya”, bantah Kosasih Purwanegara SH, “hal itu akan dilihat dari bentuk kontrak yang ditanda-tanganinya. Kalau ia memilih kertas kontrak biru maka dengan sendirinya ia menjadi seorang pemain prof, jika ia memilih putih ia akan tetap dalam amatir”. Dan Iswadi pun tanpa ragu-ragu akan menanda-tangani surat perjanjian kertas putih. Sebab “saya masih ingin menyumbangkan tenaga untuk PSSI bila saya kembali nanti. Seandainya PSSI masih membutuhkan saya”. Iswadi yang mendapat 2 tawaran masing-masing dari WSC dan Pan Helenick itu, rupanya sudah berketetapan hati untuk memilih klub yang pertama. “ua takut kalau masuk klub Junani (maksudnya: Pan Helenick) itu nanti gua diingusin sama mereka”, ujarnya dalam dialek Betawi. Kecemasan itu tidak hanya sampai di sana: kalau-kalau ia pun tak bisa menambah ilmu dalam masalah coach yang akan menjadi bekal hari tuanya. “Di Western Suburbs saya melihat kesempatan itu lebih besar adanya”, tambah si kancil. Dikibuli atau bukan, gairah pemain untuk masuk dalam klub yang maju memang sudah hampir menjiwai olahragawan sepakbola Indonesia. Kepindahan Ronny Pasla dari Medan ke klub Maesa merupakan contoh kecil pengejaran masa depan yang lebih baik. Kini tinggal bagaimana klub-klub memanfaatkan kegairahan itu. Adakah mereka akan punya keberanian seperti yang ditunjukkan kesebelasan UMS dengan mengundang Lee Wai Tong sekarang pelatih Asian Football Confederation — di tahun 30-an? Agaknya para pembina sepakbola punya kesulitan untuk menjawabnya mengingat krisis keuangan yang melanda klub-klub dewasa ini. Ataukah dengan itu mereka akan membiarkan pemain-pemain terbaik Indonesia bakal mengikuti jejak Iswadi? “Itulah dilema yang tak akan pernah selesai dalam dunia persepak-bolaan Indonesia”, komentar seorang peninjau olahraga, kecuali “adanya perombakan yang mendasar dalam tubuh PSSI”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: