Yang selection dan yang senior

Tempo 16 Februari 1974. PADA menit ke-12 terjadi perebutan bola di muka gawang PSSI Selection antara Risnandar, Kapten PSSI dan Luis Antonio, kiri-luar Juventus Brasil.

Keadaan berbanding 80: 20 untuk poros-halang PSSI itu. Dan benar juga, Risnandar berhsil menguasai bola, paling tidak untuk satu-dua detik. Sebab selagi ia berusaha menutup terobosan Antonio dengan punggungnya dan menentukan pilihan: buang bola ke pinggir atau mengembalikan ke penjaga gawang, Ris nampak ragu. Sementara itu Rake pun terpaku. Pada detik ini Antonio dengan naluri seorang pencuri, melejit masuk dan mengambil alih kulit bundar. Kini kontrol sepenuhnya, ia sebaliknya menutup Ris dengan punggung. Reaksi Rake bergerak ke depan memperkecil sudut gawang. Tapi berbareng dengan gerakan ini Antonio tidak gugup, malahan seolah “minta permisi dulu”, ia menyodok bola lewat selangkangan kiper Selection ini. Adegan di sekitar daerah penalti yang berakhir 1-0 untuk Juventus, tak syak lagi merupakan awal dari suatu kekalahan. Terputusnya komunikasi, salah pengertian dan kurang kompaknya kerjasama PSSI Selection, tidak heran menghantarkan PSSI pada kekalahan 0-3 dari satu kesebelasan yang kwalitas teknik individuil, kerjasama team dan sportifitas terutama tidak kalah dari kesebelasan-kesebelasan Amerika Latin yang pernah bertanding di Stadion Utama senayan. Turun mesin. Kelebihan klub tamu itu yang bertanding melawan PSSI Selection tanggal 6 Pebruari yang lalu, tak perlu diragukan. Tapi agaknya yang perlu diperdebatkan di sini tidak lain dari merek dan kwalitas Selection itu sendiri. Hanya sebulan yang lalu, PSSI pernah mengawali kegiatan internasionalnya dengan menurunkan PSSI Selection. Dan tanpa pemain-pemain Persija yang melawat ke Australia, penonton bukan saja dapat memaklumi, malahan dibekali harapan akan perbaikan di masa yang akan datang. Tapi rupanya bukan perbaikan yang tampak melainkan pembongkaran dan penggantian material yang menonjol. Sisa Selection Januari lalu hanya tinggal Waskito seorang (TEMPO, 26 Januari 1974). Nobon dan sebagian besar pemain lainnya langsung naik ke Senior. Soal main bongkar-pasang dalam menyusun kesebelasan PSSI, menurut penje-lasan fihak Komtek PSSI, selama menyangkut masalah nama, bukan soal prinsip. Komtek benar. Suwardi Arland buktinya ikut naik ke team Senior, sementara Mangindaan yang sebelumnya diberitakan akan memegang team junior, mendadak menjadi pengasuh team Selection. Untuk memafhumi kebijaksanaan Komtek di dalam usahanya membentuk team nasional dengan kwalitas cadangan yang memadai, cara “main turun mesin” ini nampaknya menuntut toleransi para suporternya. Meskipun bagi penggemar bola PSSI diharapkan dapat menampakkan diri dalam bentuk team nasional yang benar-benar utuh. Dan sampai kapan PSSI berhenti dengan eksperimen besar-besaran ini, barangkali hanya terjawab bila daftar pemain jenis unggul telah siap untuk disampaikan pada Tony Pogaknik — Coach yang direncanakan PSSI untuk menangani team nasional. Tapi andaikata Tony (yang karena usaha dan usianya) mungkin saja tidak kunjung datang dari Bali apakah bongkar-pasang akan berlangsung terus? Reporter Renville Almatsier misalnya mencatat bahwa, sehari menjelang pertandingan lawan Juventus di Senayan, masih belum dapat diterka bagaimana bentuk susunan PSSI Selection. Pada hal untuk memenuhi jadwal kegiatan internasional PSSI di daam dan di luar negeri, paling tidak satu pembalasan utama sudah harus dalam keadaan stand-by. Numpang tanya. Untuk menyetel kesebelasan pun nampaknya bukan tidak memusingkan kepala, selama kebijaksa naan ini dibiarkan berlarut. Misalnya Mangindaan, jelas kurang beruntung mendapat sisa dari Suwardi Arland. Penempatan Waskito dan Kapisa sebagai dua mata tombak yang sewaktu-waktu diharapkan dapat menembus pertahanan Juventus, lebih sering melayang seperti anak panah tanpa arah. Sementara di belakang, Fred Imbiri di samping Risnandar menuntut pergaulan lebih intim di antara pemain ini. Lain pula nasib Suwardi materi pemain yang sebagian besar dimiliki dari team Selection bulan Januari, makin memperlihatkan kematangan dengan merek “Senior”. Dalam pertandingan tanggal 8 Pebruari, beberapa pemain seperti Ronny, Risdianto, Iswadi dan Kapten Anwar Ujang, yang telah berkenalan lama dengan permainan gaya Amerika Latin nampaknya tidak gagal menjalankan instruksi Suwardi. Bermain cepat dan tidak mau didikte gaya permainan lawan. Lobang-lobang yang biasa terjadi pada lini belakang pemain Juventus — karena mereka ikut terbawa dalam arus menyerang — diancam dengan terobosan-terobosan tajam. Penampilan Nobon di sisi Ronny nampaknya masih belum memheri bentuk kerjasama yang diinginkan. Sementara Subodro makin berpengalaman bermain bersama Anwar. Satu-satunya gol yang tercetak di babak pertama bukan tidak berharga dianalisa. Vootset Antonio, kiriluar yang pada waktu itu dipasang di sayap kanan, memberikan bola tanggung melengkung kepada Wanderlei. Bola tepat melintas pada jarak tembak algojo Juventus itu, yang berada di antara Anwar dan Sutan Harhara sedikit di luar daerah gawang. Jalan bola itu memang mengecohkan Ronny Pasla dan Anwar, sementara Sutan kelihatan mati langkah untuk melapis. Tapi numpang tanya: apakah di antara ketiga pemain belakang PSSI itu tidak sempat saling memberi isyarat dalam situasi itu? Paling tidak mereka dapat berkomu-nikasi dengan mulut untuk berusaha menghalau bahaya. Setinggi perut. Tapi gol balasan oleh Kadir — yang malam itu bermain kurang efektif — adalah berkat jasa Iswadi. Pemain ini nampaknya mulai menemukan bentuknya kembali setelah akhir-akhir ini di bawah mutu. Dari sisi kanan ia menggiring bola dan memotong ke dalam dengan akselerasi yang mengagetkan back kanan lawan. Ketika bola melintas beberapa senti ke dalam daerah penalti, posisi Iswadi dan Deodoro menjadi 50:50 untuk menguasai bola. Pada detik inilah Iswadi lebih pengalaman, ia mengayunkan kaki kanannya untuk menyontek bola yang sedang melambung setinggi perut. Keruan saja Deodoro yang sedang melaju ke depan terhentak kaget. Jelek nasibnya reaksinya pertama tidak bisa lain, kecuali melindungi perutnya dengan tangan kanan supaya tidak terkena tendangan Iswadi. Iswadi menjerit. Dan Wasit Sudarso meniup peluit untuk hukuman penalti. Kecerdikan Iswadi di daerah penalti mengingatkan orang pada pertandingan komposisi Persija di Stadion Menteng, waktu lawan Angka tempo hari misalnya. Dengan tipu muslihat lihay ia bisa mengelabui wasit seolah ia di makan lawan. Dan hadiah penalti semacam itu kini terulang lagi ketika lawan Juventus. Apa pun protes Juventus, nampaknya memang tidak akan merubah putusan Sudarso yang sore itu tidak sedikit membantu PSSI. Sehingga beberapa penonton terpaksa mengulangi komentar “brengsek” terhadap anak-buah Besus Ketua Komisi Wasit PSSI. Rambut gondrong Jika Suwardi berhasil dalam menahan Juventus (1-1), maka dalam hal penggantian pemain ia mendapat sorotan. Anhar, misalnya bertanya atas dasar pertimbangan apa Risdianto digantikan Jacob Sihasale. Kecuali memberi jatah Risdianto sulit dipertanggungjawabkan. Tapi yang paling mengundang pertanyaan adalah mengapa Suwardi tidak cepat-cepat mengganti Junaedi Abdillah dengan Anjasmara. Mungkin saja pertanyaan ini baru timbul setelah Anjas diturunkan dan berhasil memperkembangkan pola penyerangan PSSI Senior yang lebih sering mengancam gawang lawan. Tapi kenyatan Anjas dalam kebanyakan hal lebih baik dari Junaedi dewasa ini tak bisa dipungkiri. Adakah Suwardi memang sentimen terhadap rambut gondrong? Bagaimanapun juga Anjas adalah bekas asuhan Suwardi di Jayakarta dan seyogyanya ia lebih mengenal Anjas lebih dari pemain lainnya. Dengan usainya pertandinan Selection dan Senior di bulan Pebruari ini nampaknya daftar pemain menurut mutu kelasnya makin kentara. Meskipun untuk menjangkau masa depan yang lebih konkrit banyak tergantung pada usaha pembinaan selanjutnya. Se

perti kata Jamiat Dalhar pada TEMPO: “Anda lihat bagaimana mereka sekarang bermain, tapi setelah mereka dipulangkan ke daerah dan dipanggil lagi ke TC, semuanya hilang lagi. Mereka lupa dan kita harus mengulng lagi”. Ya, kapan program Komtek seperti yang pernah dikemukakan Ketuanya Suparyo, akan dilaksanakan secar konsisten dan konsekwen? Sedang kabar tentang Tony sendiri untuk sementara telah terlupakan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: