Lelucon Skor 13-12 (Piala Marah Halim 74)

Tempo 27 April 1974. ADU jotos di lapangan hijau sebagai konsekwensi permainan yang keras memang tak mungkin terelakkan. Apalagi kalau kedua kesebelasan sudah merupakan musuh berbuyutan. Turnamen Piala Marah Halim kali ini pun tak terlepas dari keadaan semacam itu.

Diawali dengan saling baku hantamya pemain Korea Selatan dengan anak-anak bola Vietnam Selatan di babak pendahuluan, kericuhan berikutnya dibungai oleh Tumsila (PSMS) dan Jacob Sihasale plus Didiek dari Persebaya. “PSMS sudah menang dua mainnya kok begitu”, protes Jacob Sihasale kepada Ketua OC Kamaruddin Panggabean sambil menjelaskan bahwa meningkatnya suhu permainan adalah akibat ulah Tumsila ketika ia ingin menyelesaikan tendangan penjuru rekannya yang menyusur di depan gawang Didiek. Sementara menurut pandangan mata koresponden TEMPO Zakaria M. Passe, adu tinju itu justru dimulai oleh Didiek yang luput menangkap bola. Tapi tak meIiwatkan tangannya untuk mampir di tubuh maskot PSMS Tumsila. Oknum Polisi. Melihat kawannya diperlakukan begitu oleh pemain tuan rumah, Jacob Sihasale pun tak dapat menahan diri. Lalu ia menerkam Tumsila. Namun masih sial. Karena keadaan menjadi berbalik ketika seorang oknum Polisi sempat menerjang Jacob dengan sepatunya. Kalau ia tak cepat-cepat lari ke tengah lapangan pukulan popor senapan tak ayal bakal singgah pula di kepalanya. Dalam suasana pertandingan yang hangat itulah Persebaya sempat memperkecil kekalahan 3 menit menjelang pertandingan berakhir. Sehingga dengan kedudukan 2-1, arek-arek Suroboyo ini menjadi runner-up Pool D, dan berhak maju ke babak selanjutnya. “Alhamdulillah. soal ini tidak berkepanjangan”. tulis Zakaria M. Passe. Tapi rasa syukur itu ternyata tidak dengan sendirinya meredakan anak-anak Medan. Karena pada pertandingan antara PSMS melawan kesebelasan Vietst bunga api kericuhan nyaris pula menyala di tangan hakim garis Polinaidu yang juga dari Medan. Kejadian ini gara-gara Poli kelihatan ragu-ragu untuk menganulir gol yang dibikin pemain PSMS dalam posisi of side. Tentu saja kapten Nguyen Van Mon mengajukan keberatan kepada wasit Takayama dari Jepang atas perlakuan demikian. Namun ketika sang wasit berkonsultasi dengan Polinaidu, hakim garis ini tanpa fikir panjang lagi malah membenarkan gol tersebut: ia menunjuk titik titik di tengah lapangan dengan benderanya. “Kalau begini caranya, tahun depan kami fikir dulu untuk ikut lagi”, keluh team manager-Vietsel kepada TEMPO selepas pertandingan. Tutup buku. Mendengar keluhan tamu yanlg diundang itu, Kamaruddin Panggabean merasa tersinggung juga oleh perbuatan Polinaidu. “Ini sungguh keterlaluan”, ujar Ketua OC itu. “saya sudah minta sebagai tuan rumah kita harus berlaku jujur tanpa melihat siapa yang sediang betanding. Tapi ini apa “Saya sungguh malu, saya malu”, keluh- nya berulang-ulang. Lantas apa tindakan Panggabean terhadap hakim garis yang membuat kesalahan itu? “Saya sudah tutup buku untuk Polinaidu. Ia sudah saya coret menjadi wasit karena susah untuk mempertanggung-jawabkan bila ia diberi kesempatan lagi”, kata Panggabean kepada Zakaria M. Passe, koresponden TEMPO di Medan. Merasa tidak diberi ampun oleh Ketua Komda PSSI Sumatera Utara itu Polinaidu dengan pasrah menyerahkan nasib kepada Yang Maha Esa. “Saya menerima hukuman itu”, ujarnya dengan air mata berlinang. “Entah bagaimana waktu itu saya bisa khilaf”, tambah orang Tamil itu dengan suara yang lemah, karena “saya bersalah, saya menyerahkan diri pada Tuhan dan bersembahyang. Agar Tuhan menenangkan hati saya”. Amien. Lelucon. Cerita turnamen yang agak lain, meski tidak membuahkan arena tinju adalah pertandingan antara kesebelasan PSM, Ujung Pandang dengan team Muangthai dalam memperebutkan tempat kc-3 dan ke-4. Setelah bermain seri (1-1), kedua kesebelasan menyatakan keberatan untuk penambahan waktu 2 x 15 menit buat penentuan urutan. Karena mereka sudah sama-sama capek dan lesu. Ketika kedua team manager masing-masing kesebelasan bersepakat untuk saling undi saja, tapi Kamaruddin Panggabean tak bisa menerima. Sebab memahami peraturan turnamen yang sudah disetujui dalam tehnical meeting sebelumnya. “Kelebihan gol yang akan menentukan siapa yang jadi pemenang kata Panggabean menyetop usul yang dimajukan. Karena sama-sama ngotot tak mau bermain lagi, pertandingan terpaksa ditunda hampir setengah jam sampai kemudian Panggabean turun dengan ancaman. “Bila kalian tidak mau main saya akan tuntut ganti kerugian lima ratus poundsterling”, ujarnya kepada team manager Muangthai Kolonel (U) P. Sidhi Sook Bhung Boon Nayudhya. Dan “tiket kalian saya claim tuding Panggabean untuk Ilyas Hadade, pimpinan rombongan PSM. Rupanya gertak Medan Ketua OC ini cukup menciutkan nyali kedua team manager: Sehingga mereka lantas membujuk pula pemain untuk sekedar memenuhi persyaratan panitia. Dan para pemain pun mengalah. Tapi di lapangan anak-anak Muangthai dan Ronny Pattinasarani dkk sudah saling sepakat untuk membuat lelucon. Ketika wasit meniup peluitnya kembali, Anwar Ramang pun mengatur sembah kepada kapten kesebelasan Muangthai Precha Kittbon. Dan putera negeri Sirikit ini pun membalasnya dengan sikap yang anggun. Baru kemudian pertandingan dimulai dengan saling berguling, mengkili-kili bola dan menjatuhkan diri berpura-pura sakit meski itu tak tersentuh oleh lawan. Setelah capek baru si kulit bundar digulirkan ke arah gawang dengan tembakan yang lemah. Begitu sampai di kaki kesebelasan lain, para pemainnya juga berbuat serupa. Sehingga penambahan tempo itu pun tak merubah kedudukan. Bangsaku, Bangsamu. Sesudah kenyang menikmati lelucon yang menggemaskan hati itu, Panggabean pun mendamprat kedua team manager. “Selama tak ada perbedaan gol pertandingan harus dilangsungkan terus, biar semalam suntuk”, bentak Kamaruddin Panggabean. Dan untuk Ilyas ia pun menambahkan makian tambahan: “Kalian saya undang kemari. Tapi kalian datang untuk menghina saya dan Gubernur Marah Halim. Sungguh sayang, kalian bangsaku sendiri mau diajak oleh bangsa lain untuk menghina bangsamu sendiri”. Dan Ilyas hanya mampu berdiam diri mendengar ucapan itu, karena ia tidak tahu mau bilang apa? Barulah ketika Panggabean mengulangi ancamannya kepada kedua team manager, pertandingan diselesaikan dengan tendangan penalti. Tapi masih dangan suasana olok-olok. Karena beberapa tendangan yang dilakukan oleh masing-masing kesebelasan, angka yang diperoleh tetap seri. Meski kemudian kemenangan diraih oleh anak-anak PSM dengan angka tipis: 13-12. “Selama hidup saya, baru pertama kali saya melihat kelakuan seperti ini”, kata hakim garis Ho Van An dari Vietsel. Sementara wasit Korea Han Kwee Suck tak berkomentar sama sekali. “Saya tidak akan mengundang kedua kesebelasan tersebut tahun depan”, kata Panggabean kepada wartawan, “tulis di surat kabar besar-besar, Muangthai dan PSM menghina Marah Halim”, tambahnya selepas pertandingan yang berakhir menjelang jam 24.00 tengah malam itu. Untuk final antara PSMS dan kesebelasan Jepang, Panggabean yang diliputi rasa kesal terpaksa menerima pil pahit lagi. Anak asuhannya tak berjaya mempertahankan Piala Marah Halim, meski dengan perpanjangan waktu 2 x 15 menit pula. Juswardi dkk kalah lihay dalam tendangan penalti dengan putera negeri aji no moto. PSMS ditundukkan dengan angka tipis 3-2. “Pak Gubernur memang lebih senange pada piala itu dibawa ke Jepang”, komentar M Syarifuddin, Humas OC seusai pertandingan. “Dengan diboyongnya Piala Marah Halim ke negeri itu paling tidak Sumatera Utara sudah dikenal di sana”, kata anggota panitia yang lain. Dan apa kata orang Medan ? “Macam promosi pariwisata saja, mamak”. Apa iya?
13 April 1974

Tinggal Mencari Mutu

DARI Medan sementara ini tidak banyak yang dapat dikabarkan nmengenai nasib turnamen Marah Halim Cup ke-3 yang dimulai 18 Maret dan berakhir pada 5 April ini. Dugaan cara membukanya seperti pada tahun lalu yang bertele-tele, rupanya diulang lagi. Bukan hanya bagi penonton Medan, tapi bagi tamu-tamu asing yang ingin menyaksikan pertandingan bola dipaksa harus bersebal hati melihat lebih dahulu pertunjukan yang non-bola.

Bukan saja pidato yang nyaris seketiak ular dan diterjemahkan dalam dua bahasa, Inggeris dan Perancis, malahan upacara selamat datang bagi kesebelasan-kesebelasan telah dielukan dengan tari-menari gaya Melayu. Balai-balai yang meniru adat-adat turut diboyong ke tengah lapangan. Kemudian ada silat. Ada acara melepas merpati dan balon. Tapi persembahan Sekapur Sirih turut pula di gendong ke muka para pembesar. Agak terhibur penonton. Karena para penarinya kebetulan dipilih yang aduhai pula. Tapi orang bolehlah membayangkan bahwa kehidupan raja-raja sudah menjelma di Stadion Teladan. Dan waktu disita untuk yang begitu-begitu lebih dari 1 jam. Untungnya gubernur Marah Halim sendiri berfikir singkat. Turnamen itu walau tak dimulai dengan sepak bola pertama dari kakinya, tapi pidato pembukaannya yang langsung ber-Inggeris-Inggeris itu hanya terdiri dari beberapa kalimat singkat. Hurra, orang menyambutnya gembira. Dan kompetisi dimulailah. Yang turun ke Iapangan pertama kali adalah PSMS lawan Persib Bandung. Babak kedua menyusul Irian Jaya versus Thailand. Persija. Yang tidak turut Turnamen Marah Halim Cup tahun ini selain Birma juga Persija. Orang Medan membayangkan ketidak hadiran Persija tahun ini ke Teladan karena soal ricuh tahun lalu ketika berhadapan dengan PSMS di final. Begitu juga dengan Burma, yang sempat membuat heboh. Seorang pemainnya telah memukul wasit Ong Eng Yong dari Singapura. Tapi semua dugaan itu keliru. Persija kebetulan selama setahun ini telah membuat jadwal pertandingannya di beberapa tempat, termasuk di luar negeri. Ketika acara regional baru-baru ini berlangsung, mereka juga tidak turut. Birma sendiri, yang kebetulan pemainnya banyak dari pegawai negeri, merasa tidak cukup waktu untuk bermain bola di Medan. Itulah keterangan yang diterima Koresponden TEMPO, Zakaria M . Passe dari O.C. Marah Halim Cup. Menjelang babak semi final pada 28 Maret kemarin, tak banyak lagi yang dapat diceritakam Dalaln babak perempat final ada 12 kesebelasan yang ikut bertarung. Enam kesebelasan dalam negeri, yaitu PSMS, Aceh, Bandung, Surabaya, PSM Ujung Pandang dan Irian Jaya. Dan enam kesebelasan luar negeri, masing-masing, Jepang, Vietnam, Korea, Khemer (keempat kesebelasan ini tahun lalu tidak ikut), Singapura, dan Thailand. Malaysia yang ikut tahun lalu, tahun ini absen. Tak diketahui apa sebabnya. Insiden. Selama turnamen babak pendahuluan itu rupanya perkara insiden tak terelak juga. Pada penentuan siapa yang harus masuk ke Semifinal untuk merebut runner-up antara dengan Thailand. pada 25 Maret kemarin, sehabis Thailand memberi gol balasan dan stand menjadi 1-1 pada babak kedua seorang pemain Korea telah menerjang kiri dalam Thailand, Surim. Kemudian baku hantam seru terjadi dan alat-alat negara terpaksa masuk ke lapangan. Sekitar 10 menit pertandingan terhenti dan Surim sendiri tidak dapat�20meneruskan permainannya karena kena terkam tinju pemain Korea. Sebelum itu seorang pemain Korea juga babak belur dihantam anak-anak Thailand dan terpaksa diangkut dengan tandu keluar lapangan dan tidak bisa bermain lagi. Tapi turnamen tahun ini agak melegakan hati juga. Bukan karena keamanan dapat ditertibkan tapi ada kesebelasan-kesebelasan luar negeri yang diundang itu mutu permainannya agak baik jika dibandingkan dengan tahun lalu. Misalnya Vietnam (team nasional) dan Thailand. Dibandingkan dengan kesebelasan Jepang, agaknya Korea lebih baik dan seorang pemain nasionalnya (kanan dalam Lee Chonh Han, juga pemain pre-Olympic Korea) turut memperkuat kesebelasannya. Ujung Pandang sendiri kelihatannya makin menurun permainan mereka. Aceh walau tergelincir pada babak pendahuluan tahun ini termasuk boleh diandalkan jika dibandingkan dengan tahun kemarin. Tentang kesebelasan Irian Jaya, maklum saja. Anak-anak Acub Zainal itu toh baru memulai. Tapi banyak orang meramalkan, bahwa tiga atau empat tahun kemudian mereka tidak mungkin terlepas dari perhatian sebagai kesebelasan yang menentukan. Begitulah harapan banyak orang yang tertumpu pada pemain-pemain alam dari daerah Obaharok ini. Akan hal Persebaya, ketika di Medan kelihatan agaknya lebih bersih dan tangguh jika dibandingkan dengan tahun lalu. Ketika menghadapi Korea yang draw kaca mata (0-0), ternyata Jacob Sihasale dan kawan-kawannya berhasil mencuri siasat Korea. Mereka tidak bermain panjang, walaupun kedua kesebelasan ini bermain cukup manis dan sama-sama gesit. Over. Yang agak kesal bagi orang Msendiri adalah tingkah polah kesebelasan PSMS. Walaupun bisa juara pool A, ketika menghadapi Vietnam (2-2) seharusnya PSMS bisa membendung serangan Vietnam. Pada babak pertama Medan sudah unggul 2-0. Tapi pada babak kedua PSMS kehahisan nafas dan permainannya jauh di bawah mutu. Tapi itulah satu penyakit dari anak-anak Medan ini. Bila sudah menang di atas kertas, ternyata mereka lebih banyak main-main dan penyakit “tinggi sebenangnya” kambuh pula. Suka anggap enteng pada lawan. Overacting ini ditambah pula dari tingkah sang kiper Pariman. Ia selalu tidak berada pada posisi. Walaupun ada serangan lawan, tapi Pariman terlalu percaya bahwa pertahanan PSMS cukup kuat dan merasa tidak perlu berjaga-jaga. Bukti agak menyolok yaitu ketika menghadapi Singapura, ( 1-6 untuk PSMS). Seharusnya gol balasan satu-satunya hingga pertandingan berakhir tidak akan terjadi. Tapi ia begitu lengah pada posisi dan gol itu masuk ke gawangnya hanya karena tendangan efek semata. Bola berhasil diraihya. Tapi entah mengapa lepas kembali dan muntah ke belakang kepalanya. Dalam soal mental memang agak menyolok perbedaannya jika orang harus keburu nafsu membandingkannya dengan Rony Pasla. Apa lagi kalau disinggung pada soal pengalaman. Mengenai soal mutu ini kelihatannya Kamaruddin Panggabean, Ketua O.C. Marah Halim Cup, dengan turnamen itu memang sedang mencari mutu. Sehingga uang dari kocek gubernur Marah Halim tidak pula sia-sia dihamburkan untuk bola. Sepuluh. “Tahun depan saya akan mengundang sekitar sepuluh kesebelasan saja”, katanya pada TEMPO. “Tahun ini saya harapkan sebenarnya Korea bisa masuk final. Tapi keburu kalah dan Thailand”, sambungnya lagi. Selama melihat turnamen itu dalam otak Panggabean telah terencana untuk mengundang sekitar 6 kesebelasan luar negeri dan 4 kesebelasan dalam negeri. “Irian Jaya tidak saya unang Iagi tahun depan. Pak Acub juga bilang bahwa mereka terlalu capek bermain. Tapi bagi saya yang penting, bukan jumlah kesebelasan yang harus bermain di dalam perebutan Marah Halim Cup ini. Tapi kesebelasan yang berkwalitas”, katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: