Menghindari bahaya teror

Tempo 29 Juni 1974. SUASANA pertandingan antara Jayakarta — Maluku memang agak luar biasa. Menjelang berakhirnya putaran pertama kompetisi Divisi I, acara hari Minggu tanggal 16 yang lalu telah mempertemukan kedua kesebelasan untuk menentukan urutan teratas dari “5 Besar” Persija.

Tapi yang di luar dugaan pecandu sepakbola, adalah peristiwa yang mengiringi pemain Jayakarta turun ke lapangan. “Awas kamu, ya!” ancam seorang pemuja Maluku ke alamat Anjas Asmara. Motor penyerang Jayakarta ini cukup mafhum apa yang bakal terjadi. Ia kontan melapor pada Kordinasi Keamanan Persija Mayor (Pol) Jan Van Mannen. “Bagaimana nih oom”, tanya Anjas sehubungan dengan ancaman oknum yang menyambanginya di kamar pakaian. “Main saja tidak apa-apa”, jamin Kordinator Keamanan itu. Jaminan itu agaknya cuma untuk keselamatan pemain dari ancaman fisik. Karena begitu peluit wasit Syahril Gani menyatakan pertandingan dimulai, semacam teror mental terhadap Jayakarta cepat mempertegang suasana. Sekarang sepatu-bola yang dipakai Anjas menjadi bulan-bulanan, lantaran paku-kasut kakinya terbikin dari bahan metal yang ringan. Padahal untuk pertandingan-pertandingan sebelumnya ia Juga memakai sepatu serupa. “Kenapa hanya sepatu Anjas yang diributkan mereka, sedang kawan-kawannya ada pula yang mengenakan sepatu yang sejenis”, tanya Van Mannen tanpa mengerti apa yang diinginkan oleh si penteror . Tiupan Beracun 2 bintang lapangan Jayakarta yang lain Sutan Harhara dan Andi Lala pun tak luput pula dari ancaman yang sama. Bersama Anjas, mereka menjadi bulan-bulanan ancaman pemuja fanatik team Maluku baik menjelang awal pertandingan maupun waktu mereka istirahat Jedah. “Saya tidak tahu, apa maunya mereka itu”, ujar dr. Suhantoro pengasuh kesebelasan Jayakarta kepada TEMPO. Dan apa yang diinginkan pemuja-pemuja itu pun berbuah ketika kiri luar kesebelasan Maluku Pedro terlibat dalam permainan keras dengan poros halang Isak Liza di daerah penalti Jayakarta. Pedro yang tak dapat menerima perlakuan demikian, bertambah galak sewaktu penggemarnya menghembuskan tiupan beracun. “Balas Pedrooo”, teriak mereka. Untunglah rencana saling bakuhantam itu dapat didamaikan oleh wasit Syahril Gani dengan memberikan hukuman untuk Jayakarta. Meskipun hal itu tidak sepenuhnya meredakan ketegangan karena sampai menit ke-21 babak kedua, Pedro dkk masih ketinggalan 1-0. Bahkan saat Salmon Nasution berhasil menyamakan kedudukan 1 menit kemudian, hasil seri itupun masih diterima dengan rasa ketidakpuasan oleh suporter team Maluku. Tapi begitu pertandingan usai mereka melampiaskan kedongkolan atas anak-anak Jayakarta dalam bentuk teror fisik. Kiper Jayakarta Sudarno yang tak sempat diamankan petugas di kamar pakaian, kebagian bogem mentah dari seorang pemuja kesebelasan lawannya. Pasukan Sabhara Perkelahian fisik yang hampir saja melibatkan banyak orang itu dengan sigap diatasi oleh pasukan Sabhara yang memang telah disiagakan oleh Jan van Mannen lebih besar dari jumlah petugas keamanan pertandingan-pertandingan sebelumnya. Namun demikian mereka sempat juga kebobolan penggemar team yang memakai nama daerah rempah-rempah ini beralih melakukan kekacauan lain dengan melempari kendaraan pemain-pemain Jayakarta dengan batu. Kaca depan dan samping bis “Mercy” itu hancur berderai disambit. Sopir Rahim menderita luka-luka kena pecahan kaca ketika ia berusaha menyelamatkan kendaraan tersebut. “Untuk mobil saja kita meng-alami kerugian seratus ribu. Dan belum terhitung yang lain-lain lagi”, komentar Suhantoro di depan kantor Komsekko 714 Menteng sewaktu ia mengurus persoalan tersebut ke sana. Kenaasan yang dibayar mahal oleh Jayakarta itu, bukan hanya membuat pengasuhnya mengurut dada, juga membuat penonton sedikit prihatin. “Bayangkan kalau pemain-pemain nasional itu sampai rusak lantaran sikap tak dewasa dari para suporter-suporter ini. Kan kita juga yang rugi”, keluh Jan van Mannen menanggapi kejadian tersebut meski itu sudah merupakan resiko main bola. Atau “boleh jadi bila mereka kctemu lagi dengan kesebelasan Maluku dalam putaran berikutnya, mungkin mercka akan memberikan WO saja. Dan yang rugi kan kesebelasan Maluku sendiri”, tambah Koordinator Keamanan ini kemudian. Fihak PS Maluku sendiri pun menyadari kalau dengan berbagai kericuhan yang terjadi belakangan ini mereka bakal menjadi kambing hitam. ‘Ya. kita mau bertindak apa terhadap mereka. Karena mereka-mereka itu toh bukan anggota Maluku”, ucap Sekr PS Maluku Ferry Joris sambil menceritakan bahwa di kalangan sendiri telah berusaha melakukan penerimaan dengan melakukan pendaftaran umum ” dan bagi anggota-anggotanya. Tapi maksud pemain gelandang ini bukannya tak usaha pula untuk meredakan sorak-sorai suporter-nya yang mencoba memancing para pemain untuk berbuat kotor. Pernah dalam suatu pertandingan di mana kesebelasan Maluku turun ke lapangan, Joris menenangkan rekan-rekan sekampungnya yang mengejek pemain lawan dan menyuruh anak-anak PS Maluku untuk bermain kasar. Namun niat baik Joris malah ditanggapi secara tak senonoh oleh mereka. “Kami penonton membayar, mau apa!”, teriak para suporter itu serentak serta mengancam Joris untuk tidak ikut campur urusan mereka . Menertibkan penonton memang bukan tugas yang enteng. Lantas sikap apakah yang bakal diambil oleh van Mannen selaku penanggung jawah keamanan untuk mengatasi keadaan semacam itu? “Itulah yang tengah saya fikirkan bagaimana mencari jalan ke luar yang paling baik”, ujar Mayor Polisi itu sambil memberi ancer-ancer untuk meniru tindakan yang pernah dilakukan Ketua Persija periode tahun 60 an, Abdurrachman. Karena tokoh Persija ini pernah juga dilibatkan dalam permasalahan serupa. Dan ia mengambil tindakan dengan menutup satu stadion Menteng untuk setiap hari pertandingan bagi mereka yang menjadi biang keladi keributan. Usaha yang dilakukan Abdurrahman bersama fihak Kepolisian itu memang berhasil. Adakah usaha pengamanan yang sama akan ditempuh pula oleh pengurus Persija yang sekarang? “Saya berharap begitu”, tambah van Mannen, tapi “semua itu akan lebih banyak tergantung pada kewibawaan pak Kahar”. (maksudnya: Letjen (Pol) Soekahar, Ketua Umum Persija). Mengenai rencana ini, F Joris selaku pengurus PS Maluku menyelarahkan kebijaksanaan sepenuhnya kepada pengurus Persija. “Kalau itu merupakan usaha yang baik, saya pun tidak berke-beratan”, tambah sang sekretaris sambil menuturkan usul yang lain: kalau terpaksa kesebelasan Maluku bersedia main tanpa penonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: