AKHIRNYA Favorit Jerman Barat merebut mahkota Kejuaraan Dunia (Piala Dunia 1974)

Tempo 13 Juli 1974. Mengulangi peristiwa 20 tahun lalu di Kejuaraan Dunia 1954 Swiss — kalah sekali lawan Hongaria di pool, tapi berhasil membuat revans di final kesebelasan asuhan Helmut Schoen yang ditundukkan oleh tetangganya Jerman Timur, sekali lagi menunjukkan kemampuannya untuk mengalahkan team Belanda yang tak terkalahkan selama menjelang puncak turnamen. Dengan demikian dari 7 pertandingan Jerman Barat mencatat 5 kali menang I seri dan I kalah dengan perbandingan gol 13-4, mengungguli juara ke-2 Belanda yang mencatat 5 menang 1 seri dan 1 kalah dengan perbandingan gol 15-3. Kenyataan ini menumbangkan hipotesa: permainan agresif menyerang, terbuka dan tertutup ibarat kerjanya katup yang hanya mengincar jumlah gol seperti yang dipraktekkan pola “total football”-nya Johan Cruyff dkk bukanlah jaminan mutlak untuk memenangkan suatu turnamen besar.
Sudah Sinting
Di luar mazhab sepakbola itu agaknya pelbagai faktor ikut menegangkan syaraf. Rangkaian prestasi Belanda menjelang final praktis menempatkan sang Jalda hitam ini calon juara yang tinggal menerima penobatan resmi dalam pertandingan 7 Juli itu. “Saya tahu Belanda kini diramalkan akan menjadi juara”, komentar Helmut Schoen menanggapi suara pers, “tapi saya merasa gembira-sebagai underdogs kami tidak akan kehilangan apa-apa”. Optimisme Belanda memang berlebihan. Hari Gesa, pembantu TEMPO di 140512170249-1974-world-cup-final-horizontal-galleryMuenchen melaporkan, sekitar 40 sampai 50 ribu suporter Belanda “menyerbu” Republik Federasi Jerman hanya dengan bekal keyakinan Belanda akan menjadi juara — tanpa memiliki karcis final tersebut. Mereka berharap pasar gelap dengan harga catut akan bermunculan menjelang pertandingan besar itu. Di dalam ejek-mengejek di antara kedua fihak suporter mengenai siapa yang bakal juara, orang Jerman hanya menganggap “orang Belanda itu sudah sinting”. Alhasil mereka hanya dapat jatah 5 ribu karcis. Barang siapa yang menyaksikan Belanda menundukkan juara-bertahan Brasil 2-0, makin tebal keyakinannya Belanda akan mengacak-acak pertahanan Jerman.
Gaya sepakbola total yang menitik-beratkan pada permainan cepat, tukar posisi dan didukung dengan ketahanan fisik dan keterampilan di segala lini, memhuat teori-teori di luar itu seolah menjadi usang. Ditambah pula dengan taktik main keras, Belanda berhasil memancing Brasil bunuh-diri dengan temperamennya yang panas. Tapi dalam pertandingan final, ternyata wasit Jack Taylor dari inggeris bukan Kurt Tschenscher dari Jerman Barat. Dan Jerman Barat tidak akan mengulang kesalahan Brasil. Beckenbauer picWGerdsetelah ketinggalan di menit-menit pertama — akibat penalti –tetap bermain dengan kepala dingin. Rekannya Berti Vogts, Schwarzenbeck dan Breitner dengan penuh disiplin mengelak dari godaan Cruyff dan Neeskens. Mereka mempersilahkan pemain Belanda bersimpang siur asal tidak terbawa arus permainan mereka. Sementara di barisan depan Uli Hoenes dan Crabowski memasang mata terhadap pertahanan Belanda yang kepalang dipasang mulai dari lapangan tengah. Dalam menghadapi suatu situasi pertandingan (match situ(l tion), harus diakui keterampilan, kegesitan dan kerjasama Belanda tidak berhasil menggoyahkan pertahanan wilayah (zone defence) yang dikembangkan kapten Beckenbauer. Malahan usaha Cruyff yang berikhtiar menarik beberapa pemain Jerman untuk membayang-bayangnya jauh ke daerah Belanda, justru menyebabkan barisan depan Belanda kehilangan kemudi. Satu satu gol kemenangan Jerman lewat kaki kanan Cerd Mueller (2–1) membuktikan betapa gugupnya si Pirang Rijsenbergen, sehingga ia membikin kesalahan teknis yang paling elementer. Bola-silang dari sudut kanan luput dikuasai dan langsung disergap oleh Mueller yang kemudian membuat gerak tipu sambil melepaskan tembakan ke sudut kanan penjaga gawang Jongbloed.
Konsep “total football” Belanda yang menuntut tempo permainan tinggi dan keterampilan merata di segala lini, nampak mencapai puncaknya tatkala mereka berhadapan dengan Brasil. Dengan sisa kescgaran yang dipertaruhkan mereka dalam final, tuan rumah Jerman Barat secara meyakinkan berhasil menertibkannya. Kejuaraan Dunia tahun 1974 tidak menyimpang dari aksioma klasik: pada standar permainan setingkat, bundarnya bola ditentukan oleh kondisi dan nasib pemain yang turun bertanding pada saat itu. Dengan kepala dingin dan di kandang sendiri, Jerman Barat sudah sepantasnya meraih gelar juara kali ini.

Sampah & Copet

13 Julli 1974, Waldstadion Frankfurt, jam 16.00 waktu setempat. Hari tidak begitu cerah. Hujan rintik-rintik. Di lapangan terdapat 16 buah benda besar berbentuk setengah bulatan bola. Dari dalamnya muncul rombongan kesenian yang mewakilkan ke-16 kesebelasan finalis Kejuaraan Dunia 1974. Di antaranya terlihat Australia menampilkan rombonan hippies Uruguay dengan penari tango, Brasil menyajikan karnaval kecil-kecilan gaya Rio dan Italia — sungguh di luar dugaan — merampas nostalgia 60.000 penonton lewat 12 penari benderanya. Aneka warna bender-bendera besar dan cukup berat dikibar-kibarkan, Tari bendera khas Florenz itu mengajak orang kembali ke radisi Italia abad 14. Mereka membua gerak saling tukar bendera dalam bentuk yang serasi dan indah. Kemudian terciptalah konfigurasi yang merangsang setiap penonton yang berselera seni.

Roket SAM-7

Tapi sambutan penonton tak begitu hangat. Kesenian rakyat dari 16 negara peserta cepat terlupakan ketika dua raja bola, Uwe Seeler dan Pele, bersama-sama memasuki lapangan sambil memamerkan Piala FIFA dan Piala Jules Rimet (yang menjadi milik abadi Brasil). Presiden Gustav Heinemann tiba di stadion menjelang jam 16.00. Di tribune kehormatan duduk Willy Brandt, bekas perdana menteri yang menjadi Ketua Partai SPD. Di sampingnya nampak Hans Dietrich Genscher, menteri luar negeri dalam kabinet Schmidt. Di barisan kursi VIP itu kelihatan juga Pele dan beberapa pemuka sepakbola FIFA seperti Sir Stanley Rous dan Joao Havelange — Ketua Federasi Sepakbola Brasil yang kini memegang kemudi FIFA. Lebih kurang 2.400 murid-murid sekolah memasuki lapangan dan membuat formasi simbol turnamen Kejuaraan Dunia 1974. Tepuk-sorak seantero stadion bergema. Panitia penyelenggara agaknya memimpikan terulangnya sukses pembukaan Olimpiade 1972, meski tidak seluruhnya berhasil. Penjagaan luar biasa kuatnya.

19741Peristiwa Conolystrasse di Olympia stadion Muenchen 1972 — di mana atlit-atlit Israel menemui hari naasnya — nampaknya masih menghantui para petugas Rombongan team Chili mendapat kawalan paling keras. Konon “golongan progresif” mahasiswa Jerman mengancam untuk berdemonstrasi yang tentunya ditujukan ke pemerintah di Santiago. Di sekitar kampus team Chili disiagakan lebih-kurang 200 polisi yang seragam dan yang preman lengkap dengan pasukan anjing pencari bahan peledak. Jauh sebelum turnamen dimulai, polisi pernah menerima ancaman liwat surat yang dialamatkan di Norddeuts chen Rmdfunk dan Der Spiegel: Bebaskan tapol — para anarkis grup Baacler-Meinhof — atau roket SAM-7 akan meledakkan Stadion Folkspark”!

Keruan saja satuan-satuan roket dan Starligl1ter RFJ memasang kuda-kuda. Ancaman penculikan, pembunuhan dan teror terhadap para pemain turut pula mewarnai suasana hal pembukaan Kejuaraan Dunia ke-X. Tibalah klimaks yang ditunggu-tunggu: Juara-bertahan Brasil berhadapan dengan Yugoslavia. Skor 0-0 menunjukkan berimbangnya kekuatan kedua kesebelasan. Brasil banyak menyerang di babak pertama, sebalikya Yugo di babak kedua. Coach Brasil Zagalo menyalahkan hujan. Licinnya lapangan, katanya, penghalang pemain Brasil mengembangkan permainannya. 10 Ton Sampah Hari berikutnya dalam pertandingan RFJ lawan Chili. 83.168 penonton di stadion Olimpiade Berlin (Barat) disuguhi “hiburan” ekstra. Permainan defensif Chili melambankan tempo permainan Jerbar. Suporter Beckenbauer dan kawan-kawan menjadi kecewa oleh permainan kesebelasan favoritnya. Tapi suasana menjadi meriah oleh kawan simpatisan Allende. Mereka berteriak-teriak dan bernyanyi, berusaha membelokkan perhatian penonton ke tempat duduk mereka. Paul Breitner dari Bayern Muenchen mencetak satu-satunya gol kemenangan buat Jerbar.

Tanggal 14 Juni itu pendatang baru Australia diuji RDJ di stadion Hamburg. Berbeda dengan dugaan semula, Jertim justeru bermain gugup. Bermain tanpa irama dan konsep. Satu-satunya senjata yang ditrapkan Jertim adalah bermain keras dan kotor. Sehingga 17.000 penonton berbalik memberi dukungannya kepada Australia. Skor 2-0 untuk kemenangan Jertim tidak menolong mengurangi rasa kecewa para suporter RDJ. Apalagi jika diingat bahwa wasit Zuoussou Ndiaya dari Senegal tidak kurang mengancam pemain Jertim dengan 3 kali “kartu kuning”. Meskipun demikian Rale Resic, Coach Australia mengatakan: “ika perwasitan serupa ini, kami tidak mempunyai peluang untuk maju ke babak berikutnya”. Tidak seluruhnya benar. Dengan perwasitan baik, mutu Australia ternyata belum dapat membendung Jerbar (0-3).

Hampir serupa Australia, 25.000 penonton berfihak pada Zaire ketika juara Afrika ini bertemu dengan Skotlandia (0-2). Wakil dari Britania Raya ini nampaknya puas dengan 2 gol kenangan, lalu mereka berlenggang-lenggok, sehingga dicemoohkan publik. Anak-anak asuhan Willy Ormond ini agaknya lupa bahwa “perbedaan gol” akan menentukan nasibnya kemudian. Namun demikian pertandingan di stadion Dortnulld ini mencatat rekor 10 ton sampah dan memaksa jawatan kebersihan setempat bekerja lembur. Copet-copet Brasil Bagi penggemar sensasi, sumbernya ada pada Haiti. Pendatang baru ini memperawani gawang Dino Zoff — itu kiper dunia yang selama 1.143 menit di bawah mistar tidak pernah kebobolan. Meskipun akhirnya Haiti tunduk pada Italia (1-3) dalam pemunculan pertama di Muenchen (15 Januari), nama pemain terbaik Haiti, Sanon, akan terkenang selalu. la membuka skor 1-0 pada menit ke-46 atau pada menit pertama babak kedua dan sekaligus menurunkan Zoff dari tahta Raja Gawang. Sebaliknya kiper Haiti Henry Franzillon berhasil merebut hati penonton. Ia secara meyakinkan membatasi kekalahan kesebelasannya dari tembakan bertubi-tubi penyerang Italia. Dengan prestasi ini keruan saja “Baby Doc”, si Setan Bola Haiti alias Presiden Duvalier menjadi repot. Konon setiap harinya ia mengkontak teamnya lewat telepon dari ibukota Port-au-Prince ke Muenchen.

Menurut perkiraan Jawatan Pos Jerman biaya pembicaraan dari Haiti ke Muenchen semenitnya 21,40 DM. Percakapannya dari pulau Karibia ke kampus Haiti di Crulidald itu biasanya berlangsung selama tigaperempat jam. Jadi seharinya tidak kurang dari 1000 DM dihabiskan”Baby Doc” untuk memompa semangat kesebelasan Haiti. Tapi yang tak kurang sensasionilnya dalam babak kwalifikasi adalah peristiwa penggunaan obat doping oleh back Haiti Ernst Jean Joseph. D0kter team Pairick Hugueux menyatakan ketidaktahuannya. Demikian pula Coach Antoine Tassy. Sedang Joseph mengakui bahwa ia mempunyai bakat bengek dan oleh dokternya di Port-au Prince ia diberi phenyilmetnzin — jenis obat yang kebetulan masuk daftar larangan oleh panitia penyelenggara. Dalam pertandingan lawan Polandia kiper Francitlon meski bermain bagaikan macan tutul, harus menelan kekalahan 0-7.

Kehadiran Haiti dalam Kejuaraan Dunia di Jerbar hanya disambut sebagai reklame turisme bagi negaranya. Harap Pasang Mata Brasil, juara-bertahan membuat skor kacamata lagi ketika lawan Skotlandia�20pada pertandingan kedua di Frankfurt (18 Juni). Ketrampilan perorangan tetap menjadi patent Brasil, tapi datar kerjasama beregu mereka acuh tak acuh. Skotlandia mengimbangi dengan pernainan amat keras dan kasar. Disaksikan oleh tamu VIP P.M. Harold Wilson, wasit Belanda Arie van Gemert nampaknya berpura-pura tidak melihat sepak terjang pemain Skot yang kasar. 2 kartu kuning dikeluarkan dari sakunya. Padahal beberapa pemain dari kedua belah fihak patut diusir — di antaranya Rivelino yang menggantikan posisi Pele. Si “Mutiara Hitam” Pele sendiri mengkomentari “adanya kecenderungan ke arah permainan yang sangat defensif”. Dari beberapa pertandingan babak pertama, Pele, arsitek juara dunia 1958 1962 dan 1970 menambahkan: “Dari segi teknik sejauh yang saya lihat, kali ini adalah kejuaraan dunia yang paling buruk”.

Kemunduran ke-4 kesebelasan dari Amerika Selatan — Brasil, Argentina, Uruguay dan Chili — barangkali yang mengejutkan Pele untuk mengatakan bahwa “sepakbola Eropa telah mencapai standar teknik yang tinggi”. Tapi bagaimanapun, Brasil telah meninggalkan kenangan abadi buat tuan rumah. Pada tanggal 14 Juni ketika Presiden DFB (Deutschen Fussball Bundes atau PSSI-nya Jerbar) tiba di bandar udara Berlin, ia dikeroyok oleh para pemburu tanda-tangan. Selesai melayani mereka Hermann Gosmann pun mencari tasnya yang diletakkan di sisinya. Ternyata hilang. Ikut amblas antara lain karcis masuk, uang kontan 8.200-DM dan beberapa helai surat penting. Beberapa minggu sebelum turnamen berlangsung, polisi Brasil bukan tidak memberi peringatan para rekannya di Jerbar. Di antara ribuan suporter Brasil, diingatkan turut hadir sebagai penonton di Jerbar sebanyak kira-kira 200 pencopet Brasil”. Harap pasang mata, begitu isyarat yang dikirim polisi Brasil kepada kepolisiaul Jerman Barat. Adakah ini kias buat favorit juara kesebelasan Jerbar’ ataukah hanya pertanda peluang juara sang favorit bakal kecolongan?

Sumber : Arsip Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: