Bagaimana Belajar Bersatu Sambil… (kongres KNPI pertama)

Tempo 02 November 1974. KONGRES I Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dibuka pekan ini. Perhatian cukup besar di kalangan generasi muda. Spanduk terpasang di seantero pelosok Ibukota.
Jumlah peserta jauh lebih banyak dari pada yang pernah dihimpun oleh organisasi pemuda & mahasiswa lain. Sementara itu tanggapan berhamburan dari generasi muda di Jawa dan di luar Jawa. Ada yang terang-terangan mendukung lahirnya KNPI, misalnya Gerakan Pemuda Ansor. Tapi pernah ada pula corat-coret di kampus Bulaksumur (Gajah Mada) yang menentang berdirinya wadah pemuda yang didukung pemerintah & Golkar itu. Sebelumnya Badan Kerjasama Mahasiswa IKIP mengeluarkan pernyataan menanggapi maklumat Menteri P & K Syarif Thayeb di Malang (TEMPO 3 Agustus). Pendapat boleh beragam. Tapi pernyataan pemuda & mahasiswa itu umumnya minta agar organisasi pemuda & mahasiswa yang sudah ada sekarang tetap dijamin hak hidupnya. Tidak terkecuali GP Ansor. Kecemasan ini sesungguhnya bukan barang baru. Suhu politik di bidang kepemudaan memang agak melonjak gara-gara maklumat Syarif Thayeb, bahwa KNPI akan jadi “wadah satu-satunya bagi pemuda Indonesia”. Dan kalangan generasi muda — khususnya yang berada di luar pagar kampus — toh masih repot ketika dengan nada yang sedikit lebih lunak Jenderal Panggabean dalam Rapim ABRI baru-baru ini menganjurkan, agar “generasi muda seyogyanya tidak berjuang melalui kotak-kotak ideologis”. Memisahkan Massa Pada mulanya ialah ketika unsur-unsur pemuda Golkar mengundang tokoh-tokoh pemuda & mahasiswa di luar Golkar untuk memperluas keanggotaan & cakupan PNPKB lihat Dari WAY Sampai KNPl). Ketika itu, Pemerintah dan Golkar tengah giat memisankan massa rakyat dan pemuda dari partai-partai. Partai-partai, diringkas di bawah 2 bendera, PPP dan PDI, Buruh, tani & nelayan masing-masing sudah dilebur ke dalam HKTI dan HNSI. Menyadari itu para pengurus pusat organisasi-organisasi pemuda & mahasiswa yang didekati PNPKB dalam rapat-rapat pembentukan KNPI di Jakarta bersikap hati-hati. Malah ada yang pagi-pagi menanyakan apa konsep & prgram wadall pemuda itu nantinya, seperti yang dilakukan oleh Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL). “Ketika itu mereka hanya menjawab: itu nanti akan difikirkan dalam Kongres!”, cerita pimpinan SOMAL pada TEMPO. Agaknya tak terlalu yakin pada jawaban itu, SOMAL pun menarik diri dari pembicaraan selanjutnya. Yang tetap tinggal dalam rapat-rapat pembentukan KNPI sampai tercetusnya Deklarasi Pemuda Indonesia 23 Juli tahun lalu hanyalah 5 ormas, yang terkenal palilg getol menanggapi tiap gerak-gerik KNPI: PKRI, HMI, GMKI, GMNI dan PMII. Namun merekapun tidak luput dari rasa takut akan terjadinya fusi organisasi pemuda & mahasiswa di luar kampus. Itu berarti hanyutnya massa mereka ke wadah baru itu nanti: Mungkin itulah sebabnya deklarasi yang menjadi pedoman dasar KNPI itu penuh bertaburan dengan rumusan yang mungkin dimaksudkan untuk meredakan rasa cemas para pimpinan pemuda & mahasiswa itu. Pasal 4 misalnya, menjamin bahwa eksistensi KNPI “tidak mengurangi peranan organisasi-organisasi pemuda & mahasiswa”. Sementara itu pasal 6 menjelaskan betapa soal “fusi” diserahkan pada proses masing-masing organisasi. Adapun soal keanggotaan KNPI menurut pasal 5 meliputi “eksponen-eksponen pimpinan pemuda & mahasiswa yang mewakili organisasi-organisasi yang ada dan hidup dalam masyarakat”. Sedang organisasi-organisasi itu sendiri — menurut pasal yang sama — bukan anggota KNPI. Di balik rumusan yang serba luwes itu, masalahnya yang sebenarnya ialah kepercayaan. Bisakah dijamin pasal-pasal itu akan dipatuhi? Pasal 9 misalnya memberikan jaminan bahwa “KNPI hanya dibentuk di pusat Rl sedangkan di daerah-daerah tidak dibentuk”. Tapi timbulnya KNPI di pelbagai daerah menjelang Kongres “secara spontan” merisaukan ormas-ormas pemuda. Katolik Namun dengan segera mereka pun menyesuaikan diri. Meskipun nada pernyataannya cukup kritis terhadap KNPI. PP-PMKRI di bawah pimpinan Chris�20Siner Key Timu mendorong anggota-anggotanya agar “secara pribadi” mengambil bagian aktif da~am KNPI. Tapi tanpa anjuran itu pun anggotanya — khususnya dari cabang Jakarta sudah sebagian memasuki KNPI DKI ~serta Panitia Pelaksana Kongres KNPI. Toh tersedotnya massa PMKRI Pemuda Katolik dan mahasiswa Unika Atma Jaya ke KNPI segera mengundang arus kecaman dari dalam, yang mengingatkan kembali ketentuan AD/ ART PMKRI yang melarang keanggotaan rangkap dalam organisasi lain. Juga disebut-sebut “tradisi” PMKRI yang melarang fungsionarisnya duduk dalam pengurus lembaga-lembaga politik. Walhasil, dalam Musyawarah Ketua-Ketua Cabang PMKRI se-Indonesia yang diadakan bertepatan dengan Hari Lebaran, PP PMKRI kembali menegaskan larangan jabatan rangkap itu. Sedang soal keanggotaan rangkap — yang pernah menyebabkan pemberhentian anggota-anggota PMKRI yang merangkap di Imada — dalam kasus KNPI ini tidak jadi diterapkan. Menurut Ketua Presidium PP-PMKRI, “orang PMKRI yang berkecimpung di KNPI itu — seperti halnya dalam lembaga-lembaga lain diharapkan menyuarakan aspirasi PMKRl di sana”. Maka, “bukannya tidak mungkin, jika yang disuarakan dalam Kongres KNPI bertentangan dengan aspirasi PMKRI, para, komunikator itu akan keluar”. Dengan catatan tentunya: apabila kesetiaan mereka pada PMKRI lebih tebal dari pada KNPI. Bukan Chris seorang diri yang berpendapat demikian. Boleh dikata, setelah unsur-unsur Golkar, Pemda dan Kodam, para “warga” ke-5 ormas itulah yang paling banyak menduduki kursi-kursi kepengurusan KNPI pra-Kongres. Tapi tampaknya pengurus pusat mereka ingin menarik semua “komunikator” mereka dari KNPI, apabila KNPI dianggap “keluar dari ril kewajaran” yang dapat diterima 5 ormas itu. Namun KNPI bukannya tidak menyadari kemungkinan itu. Pagi-pagi mereka sudah memilih tokoh ormas yang tidak perlu duduk dalam pengurus ormasnya. Artinya, mereka tak dapat dipanggil kembali oleh induk mereka. Tapi diperhitungkan mereka sementara itu masih mampu merekam aspirasi kelompok masing-masing untuk dibawa ke dalam forum-forumn KNPI. Sebaliknya mereka diharapkan masih punya “resonansi” — istilah David Napitupulu dan Zamroni — di lingkungan asal mereka. Tentu saja para “komunikator” itu kelak bisa saja terbentur antara 2 kepentingan: KNPI. di satu fihak, dan ormas masing-masing di lain fihak. Namun dalam hal begini KNPI tidak sulit untuk menang: dalam keadaan politik sekaran, dialah yang pegang dana & restu dari Pemerintah. Meskipun F. As. Alwie, Ketua II DPPGMNI misalnya, bertekad untuk memilih GMNI apabila, Kongres KNPI memutuskan hal-hal yang bertentangan dengan Anggaran Dasar GMN I. Walhasil, timbullah sikap ganda ke 5 ormas tadi. Di satu pihak tidak enak melihat kebijaksanaan pemerintah yang nampaknya cenderung melimpahkan seluruh bantuannya pada KNPI, di fihak lain terpaksa ingin ikut menanam pengaruh dalam KNPI. Sikap ganda seperti ini, sempat juga menjadi bahan sorotan yang hangat dalam diskusi di PMKRI Jatinegara, 5 hari sebelum ke-5 ormas tadi mengeluarkan pernyataan. Ketika itu sudah dicoba ditelaah latar-belakang timbulnya pemikiran ke arah “wadah tunggal pemuda” yang menganggap “generasi muda terganggu oleh pertentangan ideologis”. Rupanya biarpun Pancasila sudah dijadikan dasar semua ormas, “kemurnian” mereka masih diragukan. Konflik-konflik yang ada di masyarakat dianggap sumbernya tetap soal “ideologi”. Sudah tentu konflik memang ada (masyarakat dan negeri mana sih yang bebas konflik?). Tapi — seperti dikemukakan seorang pembicara dalam diskusi PMKRI itu-kalau konflik-konflik itu hendak dielakkan dengan menggiring semua unsur pemuka masyarakat ke dalam wadah-wadah tunggal, itu tak memecahkan persoalan. Sebab, menurut pembicara tadi, ketegangan pokok masyarakat Indonesia adalah gejala perbedaan sosial antara masyarakat kota & desa, kaya & mis
kin, elite berpendidikan Barat & massa yang butahuruf Latin. Makanya dari pada repot�20menggiring pemuda ke dalam satu wadah, yang dapat berakibat makin tercerabutnya tokoh generasi muda dari lingkungan asal mereka, lebih baik langsung memerangi akar-akar perbedaan sosial itu sendiri. Dan memang seperti selama ini, bahwa perdebatan antara KNPI dan non-KNPI lebih banyak berkisar soal pengakuan terhadap kebhinekaan masyarakat kita. Bagaimana caranya menghadapinya? Sebagai satu kecelakaan, ataukah sebagai suatu berkat? HMI, PMKRI, GMKI, GMNI dan PMII yang mengeluarkan Pokok-Pokok Pikirannya sesudah berbuka-puasa di kantor HMI 9 oktober yang lalu menunjukkan sikap mereka. Bertolak dari landasan hukum�20UUD 1945 yang secara eksplisit men~akui keanekaragaman dalam berserikat. berpendapat & beribadat, 5 ormas itu menegaskan bahwa ke-bhineka-an generasi muda “bukan merupakan alasan untuk tidak menjalin kerja-sama & persatuan dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa”. Pernyataan itu memang hati-hati dan agak samar-samar. Menyadari hal itu rupanya, ketua umum PB-IMI Ridwan Saidi pada TEMPO menjelaskan, melalui Pokok-Pokok Pikiran itu “kami ingin menyatakan bahwa hidup berkotak-kotak bukanlah kejahatan, bahkan sesuai dengan pola, kebudayaan serta keadaan masyarakat Indonesia”. Mengapa perlu dijelaskan? Karena menurut Ridwan, “selama ini kampanye anti pengkotak-kotakan pemuda & mahasiswa begitu dahsyat dilancarkan, hingga timbul semacam anggapan bahwa tinggal dalam kotak-kotak itu sudah seperti suatu kejahatan”. Timbulnya KNPI sendiri dalam kacamata HMI hanyalah pertanda munculnya satu organisasi ekstra-universiter baru. Karena itu Ridwan menolak sebutan “Kongres Pemuda”. Sebab bagi HMI. “Kongres KNPI itu tidak berbeda dengan kongres organisasi-organisasi lain seperti PMII atau GMNI”. Dan, tambahnya, “tidak ada salahnya terhadap organisasi yang berkongres untuk mengatur masalah internnya itu kami ucapkan Selamat Berkongres”. Politis Agak senada adalah ucapan pimpinan SOMAL. “Kalau mereka mau juga menganggap dirinya mengadakan Kongres Pemuda, silakan saja”, komentar salah seorang dari mereka. “Asal saja mereka tidak mengakui mewakili para mahasiswa yang masih menempuh pendidikan di dalam kampus”. Mengapa? “Karena ada perbedaan antara pemuda dengan mahasiswa yang masih kuliah. Mahasiswa adalah juga pemuda, tapi pemuda belum tentu mahasiswa”. Bagi pimpinan SOMAL “pengelompokan dalam KNPI lebih bersifat politis, sedang mahasiswa yang bergabung dalam SOMAL lebih banyak bergerak dalam bidang sosial-ekonomi”. Karena itu, sambil menghimbau KNPI agar tetap mengakui keragaman dalam masyarakat dan perbedaan pendapat yang selalu ada, “kompetisi sebaiknya melalui program untuk kesejahteraan”. Sedang DPP CMNI yang disuarakan oleh Ketua II GMNI, tanpa edeng aling-aling menolak penamaan Kongres KNPI sebagai ongres Pemuda, “karena Deklarasi pembentukan KNPI jelas-jelas menyebutkan keanggotaan perorangan saja”. Menurut FAS Alwie, “kalau toh dipaksakan menggunakan nama Kongres Pemuda, itu hanya akan menyinggung perasaan pemuda yang tidak ikut di dalam KNPI”. Apa ada? Rupanya ada. PII (Pelajar Islam Indonesia), terang-terangan melarang segenap pengurus dan aktifisnya duduk dalam KNPI. Tapi organisasi pelajar itu memang tidak diikutsertakan dalam pembentukan KNPI, yang menurut dugaan ketua umum PB-PII, Yusuf Rahimi karena “anggapan orang PII itu masih anak-anak”. “Boleh-boleh saja orang beranggapan demikian, tapi jangan lupa yang tahu tentang dirinya hanya PII sendiri”, ujar Yusuf seolah-olah membantah anggapan itu. Malah menurut PB-PII yang baru saja menyelenggarakan Rapat Kerja seminggu sebelum Lebaran, kegagalan KNPI mengakui kebhinekaan di kalangan pemuda perlu ditebus dengan pembentukan suatu “forum komunikasi pelajar yang demokratis, punya landasan moral & konstitusi, guna menyalurkan aspirasi pelajar yang orisinil”. Onderbouw NU Tapi para pemuda-pemuda di Tanah Abang III tetap dengan tekad mereka. Menurut David Napitupulu ketua umum KNPI pra-Kongres, “berdirinya KNPI justru bertitik-tolak dari kesadaran adanya perbedaan aspirasi di kalangan generasi muda”. Tentang perbedaan itu sendiri, menurut David “adalah karena pengaruh langsung maupun tidak langsung dari pola pemikiran sempit serta warna-warna yang dicerminkan dalam sistim politik kita yang semula banyak partainya”. “PMII misalnya”, kata David sambil melirik pada Zamroni, “tidak dapat mengingkari bahwa dia tadinya onderhouw NU”. Karena itu menurut dia wajarlah bila pemuda tergugah “untuk juga merubah prinsip yangmendasari sistim kepartaian selama ini” Dia mengelak untuk menjawab apakah itu juga berarti sebaiknya organisasi-organisasi pemuda & mahasiswa juga mengadakan fusi sesuai dengan 3 bendera yang ada. Hanya saja dia menyangsikan keampuhan ikatan ideologi di kalangan organisasi-organisasi pemuda/mahasiswa. Contohnya: pertentangan antara RRT dan Soviet yang sama-sama komunis. David (ketua umum Mahasiswa Pancasila) tidak menjelaskan bagaimana keampuhan ikatan ideologi Pancasila. Kalau Pancasila ampuh, keanekaragaman sebetulnya tak usah ditakuti. Mungkin karena itu Zamroni, yang dalam wawancara dengan TEMPO berkedudukan sebagai ‘juru-bicara’ KNPI, berkata: “Kebhinekaan memang merupakan manifestasi Pancasila”, Zamroni yang memegang jabatan rangkap di GP Ansor dan KNPI ‘Pusat’ menambahkan: “Tapi itu tidak berarti, bahwa kita justru harus memelihara ketebalan dinding-dinding ideologi yang justru mempertebal heterogenitas yang ada”. Di tengah-tengah kemajemukan yang ada, “Kita harus mencapai suatu kesatuan malah itulah titik-beratnya”. Menurut Zamroni, “inilah yang membedakan KNPI dengan Front Pemuda. Kalau dulu Front Pemuda hanya merupakan pengaman politis, kini KNPI berusaha mengembangkan kemampuannya dengan melihat masalah pemuda secara nasional”, Apapun arti katakata Zamroni itu, nampaknya KNPI memang bukan dengan sendirinya monster yang harus menelan (atau menyembunyikan) pluralitas masyarakat. Kastaf Pangkopkamtib Laksamana Sudomo dalam pertemuan dengan 5 organisasi mahasiswa ekstra Kamis minggu lalu dikabarkan menjamin terusnya organisasi-organisasi yang ada. Jaminan semacam itu penting kiranya. Sebab betapapun kurang enaknya menghadapi ormas-ormas yang ada, mereka secara langsung atau tak langsung cerminan kenyataan sosial kita dan punya kaitan dengan kenyataan itu. Memang ada asumsi yang mengatakan bahwa kegiatan politik di Indonesia hanyalah “keinginan segolongan kecil masyarakat yang berada di kota”. Pandangan ini banyak dianut di kalangan intelektuil Golkar. Obat Frustrasi Tapi Dr Mely G. Tan, sosiolog dari Leknas misalnya, meragukan asumsi itu. “Bagaimana mungkin timbul gema di antara rakyat, kalau tak ada keresahan sosial di lapisan bawah?” Dia sendiri lebih cenderung agar penguasa tetap memelihara kemajemukan sosial yang ada. Bukan saja karena itu merupakan realitas sosial, tapi “karena itu justru dapat memperkaya kepentingan bersama”. Dia mengakui, bahwa kemajemukan itu memang bisa menimbulkan hal-hal yang negatif. Tapi bisa positif. Bagaimana caranya bisa positif? “Kalau yang dikembangkan dari masing-masing kelompok sosial adalah segi-segi yang komplementer, yang bisa saling mengisi”, demikian menurut Kepala Bagian Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Leknas/LlPI itu. Sebaliknya kemajemukan itu bisa berakibat negatif, bila yang dikembangkan hanya pola persaingan pengaruh semata-mata. Ekses-ekses yang pernah timbul karena kebhinekaan dalam masyarakat kita, bagi dia “bukan alasan untuk meniadakan kebhinekaan itu an sich” Mengapa? “Karena kita semua tahu, bahwa aspek kompetisi yang bisa berakibat negatif itu hanya dapat diredakan, apabila keadilan dalam alokasi & distribusi sum
ber-sumber yang langka dapat ditingkatkan”. Dah sumber-sumber langka itu, tidak perlu berwujud kekayaan materiil saja. Tapi juga sumber-sumber non-materiil seperti kesempatan pendidikan, kesempatan mendapat lowongan pekerjaan, kedudukan, perwakilan di parlemen, dan harapan akan masa depan yang lebih baik yang merupakan obat frustrasi yang paling jempolan. Teori-teori boleh jalan terus. Di mata banyak generasi muda, yang penting adalah tetap terbukanya kesempatan berpartisipasi, serta hak untuk menyatakan pendapat. Bagi BKS DM/SM se-Jakarta, peranan KNPI di luar kampus tidak banyak artinya selama 72 proyek pengabdian masyarakat yang sesuai dengan Tri Dharma mereka tidak mendapat halangan terang-terangan. Peringatan Sumpah Pemuda pun bagi mereka bukan monopoli KNPI. Itu sebabnya dengan disponsori oleh 8 Dewan Mahasiswa swasta di Jakarta, renungan suci memperingati Sumpah Pemuda tetap diselenggarakan di kampus Atma Jaya dekat Jembatan Semanggi 27 Oktober yang lalu. Sebelumnya, persis bertepatan dengan ulang tahun I Petisi 24 Oktober DMUI, bebepa Senat Mahasiswa di kampus UI Rawamangun menyelenggarakan diskusi panel tentang KNPI & masalah-masalah kepemudaan lainnya. Seolah-olah berlomba-lomba, pelbagai kelompok generasi muda di Jakarta ini — dengan kebebasan berkumpul & mengekspresikan pendapat yang terbatas — berebutan ingin menunjukkan fakta hidupnya. Itu tak berarti mereka tak perlu mengirim ucapan selamat kepada KNPI: Semoga Sehat Walafiat.
02 November 1974

Dari Way Sampai KNPI

ORANG belum sefakat apakah KNPI berhak mewakili keseluruhan pemuda Indonesia, tapi toh sudah ada satu kartu di tangan. Di dunia internasional, KNPI-lah yang de facto mewakili pemuda Indonesia dalam World Assembly of Youth (WAY) yang bermarkas besar di Brussels, Belgia. Di samping itu ada pasal 8 “Deklarasi Pemuda Indonesia”, yang melandasi kelahiran organisasi pemuda itu 23 Juli tahun lalu. Pasal itu menegaskan, bahwa “Komite Nasional Pemuda bertindak mewakili Indonesia dalam forum-forum pemuda internasional, antara lain World Assembly of Youth, Asian Youth Council dan akan mengadakan forum Pemuda ASEAN”. Begitulah Abdul Gafur dan KMI terpilih sebagai wakil presiden WAY. Usaha-usahanya juga dapat dukungan Adam Malik, dalam menjajagi pembentukan forum “Pemuda ASEAN”. Sementara itu, dalam usianya yang baru 15 bulan KNPI juga telah mengerjakan berbagai proyek KB yang dulunya ditangani oleh Komite Nasional WAY di Indonesia — yang dibekukan oleh Menteri Amirmachmud, awal 1972 (TEMPO 12 Pebruari 1972). Malah untuk program kerja 1974/1975, Gafur telah merajukan rencana anggaran $ 15 ribu ke Brussels. Sedang untuk “kapal remaja” ASEAN yang disponsori Jepang, penumpang-penumpangnya dari Indonesia ditentukan oleh KNPI. WAY Dibubarkan Apakah haknya untuk mewakili seluruh kepentingan pemuda Indonesia di gelanggang internasional juga diakui oleh ormas-ormas pemuda & mahasiswa sendiri? Secara de facto, mungkin. Tapi “sebagai konsekwensi logis dari pada tidak diakuinya KNPI sebagai wadah pemuda yang satu-satunya”, seperti dikemukakan oleh Chris Siner Key Timu dari PMKRI “di luar negeripun mereka tak dapat dianggap wakil sah pemuda Indonesia”. Bagi ormasnya, pasal 8 Deklarasi KNPI itu hanya merupakan suatu fail accompli. Anggapan tersebut ditolak aleh David Napitupulu ketua umum KNPI (sebelum Kongres). Karena baginya, embrio KNPI adalah “Panitia Nasional Pemuda untuk Program Keluarga Berencana”. Guna mencapai komunikasi yang lebih luas di antara sesama pemimpin pemuda, keanggotaan Panitia itu diperluas. Proses itu makan waktu lebih dari setahun, sampai lahirnya Deklarasi. Bahwa KNPI lahir dari embrio PNP KB, itu memang fakta sejarah. Tapi bagaimana proses pembentukan PNPKB itu sendiri? Di situ pada mulanya tidah hadir seorangpun dari pada aktivis pemuda Golkar yang kini banyak di KNPI. Juga tanpa tokoh GMNI seperti yang kini duduk dalam staf ketua KNPI. Sebab pada mulanya PNPKB hanya suatu jalan keluar dari kemacetan yang ditimbulkan oleh pembekuan kegiatan WAY di Indonesia. Kegiatan WAY yang seiring dengan policy badan-badan PBB itu sudah sejak masa Orde Lama ditangani oleh 17 ormas pemuda & mahasiswa yang menggabung diri dalam satu konfederasi yang disebut Majelis Pemuda Indonesia (MPI). Di situ tidak termasuk ormas-ormas yang berafiliasi dengan PKI dan PNI, karena dianggap ideologinya tidak sesuai dengan asas-asas WAY. Ketika Presiden Soekarno mengumumkan RI keluar dari PBB. WAY Indonesia dibubarkan. Setelah Orde Baru, konfederasi itu dihidupkan kembali. Tapi Gerakan Pemuda Marhaenis dan GMNI tetap tidak diikutsertakan. Sedang kordinasi pemuda Golkar waktu itu belum terbentuk resmi. WAY Indonesia akhirnya mengalami nasib sama seperti di masa Orde Lama: dibekukan untuk kedua kalinya. Pembekuan ini kemudian melahirkan suatu Komisi Tiga yang dianggotai oleh Wanton Gultom (PMKRI), Ridwan Saidi (HMI), dan Husein Umar (PII). Tapi diam-diam Syarifuddin Harahap yang mewakili PB Pemuda Muslimin membentuk Komite Pemuda Indonesia untuk Kerjasama Internasional (PKIUKI) dan mengadakan kontak dengan Bmssels untuk mensponsori Seminar KB se Asia & Pasifik di Bali. Kesimpang-siuran antara 2 fihak yang mengaku mengatasnamakan kepentingan WAY di Indonesia itu medio Maret 1972 dipisahkan dengan pembentukan Panitia Nasional Pemuda untuk Seminar KB (PNPKB) dengan tugas khusus menyelenggarakan Seminar di Bali, dan diketuai oleh Wanton Gultom. Seminar tentang “Komunikasi dan Keluarga Berencana” yang berlangsung antara tanggal 25 Maret s/d April 1972 dan dihadiri oleh tokoh-tokoh WAY Asia & Pasifik itu tidak luput dari berbagai keruwetan. Dana dari Brussels yang disalurkan lewat rekening WAY Indonesia bersangkut-sangkut selama beberapa waktu di cabang FNCB Jakarta — kabarnya karena campur-tangan dari luar. Karena kesulitan itu, Syarifuddin Harahap minta bantuan ke Tanah Abang III. Pendekatan itu membuka kesempatan bagi masuknya pemuda-pemuda Golkar dalam kepanitiaan pula. Sehingga hanya 3 hari sebe- lum Seminar di Bali dibuka, terjadi perombakan susunan panitia dan kedudukan Gultom sebagai ketua digeser oleh Gafur. Seperti dituturkan oleh bekas ketua Biro Luar Negeri PP-PMKR waktu itu pada TEMPO: “Hukum karma rupanya menimpa diri saya. Setelah secara tidak langsung kami mengkup kedudukan Lukman Harun dalam WAY Indonesia, kini saya dikup oleh Golkar”. Meskipun begitu, sebagai wakil resmi PP-PMKRI dia masih tetap aktit dalam kegiatan-kegiatan PNPKB sampai terbentuknya KNPI. Apa sebabnya, tidak dikemukakannya secara eksplisit. Hanya saja, di PMKRI dia termasuk kelompok yang sangat menentang duduknya anggota Presidium PP-PMKRI dalam pengurus KNPI, karena bertentangan dengan seluruh tradisi PMKRI sebagai kekuatan moral yang harus betul-betul independen. Lebih Baik Meskipun tertib keuangan KNPI dalam menjalankan proyek-proyek WAY menurut David lebih baik dari pada MPI, Gultom menyayangkan bahwa partisipasi ormas-ormas dalam pelaksanaan program-program itu kini macet”. Padahal menurut dia, sistim yang dijalankan dalam WAY Indonesia tempo hari “lebih demokratis dari pada KNPI”. Gultom ragu-ragu, apakah program-program KNPI nantinya bisa jalan. Mengapa? Ada 2 alasan Pertama, KNPI tidak punya “akar” di daerah, sehingga sukarelawan untuk melaksanakan program kurang. Ini hanya bisa diatasi dengan biaya yang lebih besar untuk menggaji tenaga bayaran. Kedua, “para pemuda Pusat sulit diharapkan kesediaannya untuk turba karena mereka sudah sibuk sebagai anggota Parlemen, usahawan, dan sebagainya”. Jadi boleh dikata, program-program pembangunan di bidang pemuda — seperti halnya di masa WAY Indonesia-akan lebih banyak dipompakan dari atas, di mana pemuda di daerah sekedar sebagai pelaksana. Sementara itu, kegiatan di bawah nampaknya makin kurang ruang pula. Laporan PII dari Bali menyatakan bahwa penguasa setempat di sana mewajibkan semua kegiatan pemuda harus melalui KNPI. Di Jakarta sendiri sebagai tempat kedudukan pengurus pusat berbagai ormas, BKMI Jaya ketika minta sumbangan DKI diharuskan mendapat rekomendasi KNPI lebih dulu. Gejala semacam ini cukup menimbulkan keresahan di antara ormas-ormas yang ada, seperti tercetus dalam pernyataan 5 organisasi mahasiswa (HMI, PMII, PMKRI, GMKI & GMNI) 9 Oktober yang silam. Bagaikan memohon belas-kasihan, ke-5 ormas mahasiswa meminta “perhatian & bantuan sepenuhnya” dari pemerintah bagi “semua usaha & kegiatan yang bertujuan untuk membina generasi muda”.

  • 09 November 1974

    Dengan Ketukan 3 Palu

    SUASANA cerah tergambar jelas di wajah para peserta kongres KNPI. Bahkan dalam upacara pembukaan masing-masing berusaha hendak menunjukkan kekhususan melalui warna-warni pakaian daerah. Mudah dibayangkan hiruk-pikuknya Istana Merdeka menampung sekitar 1.500 peserta pada saat pembukaan itu. Tapi lebih dari itu kegembiraan para utusan tampaknya justeru karena sebagian besar di antara mereka adalah untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Istana Presiden. Dari fihak Iain hampir dapat disebutkan bahwa kira-kira 50% di antara mereka baru untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Ibukota Republik ini. Bukan itu saja, sejumlah itu pula yang pertama kali merasai enaknya naik kapal terbang. Jadi tidak heran misalnya kalau salah seorang peserta dari Wonogiri terpaksa harus berjuang mempertahankan isi perutnya untuk tidak ditumpahkan di dalam pesawat. Tapi perjuangan akhirnya terpaksa dimenangkan oleh sang isi perut dan muntahlah ia begitu pesawat sampai di Kemayoran. Lalu utusan yang dari Aceh misalnya terpaksa harus terkurung di toilet pesawat karena setelah masuk tidak tahu bagaimana harus keluar kembali. Alat Rias Utusan-utusan yang datang terlihat cukup cerah mungkin karena di samping ditampung di tempat yang konon akan jadi perkampungan antarbangsa dengan menu makan seharga Rp 3.000 per hari tiap mulut, kabarnya masih mendapat bekal uang saku — dari masing-masing pemerintah daerah, jumlah sangu ini macam-macam, tergantung dari masing-masing daerahnya. Yang termiskin mendapat Rp 10.000 seperti dari Yogyakarta. Lalu dari daerah Aceh ada yang sampai Rp 50.000. Yang lebih beruntung tentu utusan dari KNPI Sumatera Utara karena selain uang saku masih juga dapat pesangon alat-alat rias plus pakaian dalam wanita (Kompas 28 Oktober), meskipun dimaksud bukan untuk utusan wanita saja. Tapi tentang sangu sindiran ini, Bomer Pasaribu (Ketua KNPI Sumut) menyebutkan: “Bukan alat-alat rias lengkap dan pakaian dalam wanita, tapi hanya cermin muka saja”. Walaupun begitu: “Saya menilai positif bekal yang diberikan oleh dewan-dewan mahasiswa di Sumatera Utara itu”, tambah Bomer pula. Hanya ia heran mengapa isi paket dari mahasiswa itu bisa tersiar kepada koran-koran padahal: “paket kami buka dalam ruang tertutup dan hanya dihadiri oleh pengurus-pengurus KNPI Sumut saja, dan tenggang waktu dengan terbitnya koran cukup sempit”. Ia menyebutkan pula tentang komentar pojok koran-koran Medan. “Misalnya Mimbar Umum menyebutkan: agar Bomer bisa lebih ganteng lagi. Atau dari Sinar Harapan edisi Sumatera Utara: sebagai promosi alat-alat rias bagi kaum pria. Mercu Suar menyebutkan: apakah Kongres itu bak hiasan saja? Bomer masih menyebutkan, harian Waspada menurunkan pojok yang isinya mengharapkan agar KNPI selalu bercermin diri. Jalan-Jalan Saja Komposisi peserta kongres ENPI yang datang dari seluruh Indonesia ini tampaknya hampir seragam seluruhnya. Untuk daerah tingkat I dari peserta yang 5 orang itu terdiri atas 3 unsur Golkar dan 2 non-Golkar, meskipun dari 3 peserta tingkat II, dua orang di antaranya dari Golkar. Sementara itu bagi mereka yang berstatus peninjau, tidak semua di izinkan masuk ke sidang-sidang walaupun sudah payah-payah dibiayai ke Jakarta. “Saya dikirim kemari. disuruh makan-makan dan jalan-jalan saja” ujar salah seorang dari peninjau yang tidak boleh masuk sidang itu. Enak juga”. Sidang-sidang, baik di gedung Granada maupun Convention Hall berlangsung dalam suasana cukup tenang. Tapi dinginnya AC-central di kedua gedung itu rupanya membawa suasana ngantuk lebih-lebih karena ada larangan merokok bagi mereka yang berada dalam ruang bak lemari es itu. Para pesertapun duduk santai, hampir dengan gaya seenaknya dan dengkurpun mulai terdengar dari berbagai jurusan. Bahkan waktu Mendagri Amirmachmud memberikan kata pengarahan pada hari kedua, penyakit tidur ini menyerang hampir setengah jumlah peserta yang hadir. Dan sore harinya ketika Adam Malik berpidato suasana ngantuk juga sukar dibendung oleh yang hadir. Hingga dalam awal pidatonya Adam Malik menyebutkan: “Suasana gedung yang begini indah dan dingin ini mungkin saja akan membuat saudara-saudara mengantuk”. Tertabrak kaca pintu hampir sering terjadi. “Kecelakaan” kecil ini selalu saja menjadi bahan ger-ger-an di antara peserta kongres. “Maklum orang udik”, gurau seorang peserta. “Yang lebih kasihan lagi”, kata peserta itu pula tentang seorang peserta dari Kalimantan yang sudah berumur, “waktu istirahat para peserta boleh keluar dari ruangan sidang untuk ambil minumn, peserta itu berjuang untuk merebut sebotol minuman di antara peserta lain yang lagi berdesak-desakan. Setelah berhasil ia berjalan dan tiba-tiba menabrak dinding kaca, tak urung botol minumannya pecah”. Dan orang itupun tampak melongo. Namun disela serba-serbi Kongres yang bisa membuat orang tertawa, sidang-sidang berlangsung cukup lancar, tanpa gebrak meja atau debat yang berkepanjangan. Semua materi sudah digodok matang sebelumnya”, kata seorang utusan. “Tinggal ketok palu saja”. Namun ditanya siapa yang bakal muncul sebagai Ketua Umum hasil ketukan palu 3 buah itu, sang urusan cuma bisa geleng-geleng kepala. “Itu sulit ditebak karena tergantung hasil godokan fihak atasan”, katanya (lihat box). Dia tidak menjelaskan siapa yang, dimaksud dengan atasan itu. Tapi sementara Kongres berlangsung, para ketua DPI Golkar se-Indonesia kabarnya hadir di Jakarta. Menurut seorang anggota Kongres, “maksudnya agar bisa mendampingi para utusan dari daerah”.

09 November 1974

David, Cosmas, Zamroni, …

PALU pimpinan yang dipegang delegasi DKI-Jaya tiba-tiba menggedor meja sidang sampai 3 x. Dan di malam Minggu, 2 Nopember sekitar jam 21.30, diputuskan susunan formatur seperti berikut: Haji Dimurtaala dari Aceh, Otis Danomira dari Irian Jaya, Djaja MA Kartakusumah dari DKI Jaya, Cosmas Batubara mewakili KNPI Pusat dan Syarifuddin Harahap sebagai unsur Dewan Pertimbangan KNPI Pusat. Susunan formatur tersebut — minus nama-namanya — adalah sesuai dengan yang diberitakan oleh sebuah koran sore Sabtu siang lalu. Bagi yang sudah mafhum, tentu tidak menjadi kaget. Tapi bagi banyak anggota delegasi KNPI yang datang dari daerah-daerah tingkat II, hal itu agk luar biasa. “Kami ini kok tidak tahu”, kata seorang peserta daerah. Dan di tengah gerutu sementara peserta, malam itu 9 dari 11 pembicara melemparkan usul agar formatur terdiri dari daerah-daerah dan unsur-unsur tersebut di atas. Muka Lama Suasana sidang pleno pada Sabtu malam dan Minggu pagi tampak mulai kurang serius. Teriakan-teriakan “setuju, setuju” terhadap siapa saja yang tampil di podium makin riuh saja, hingga Zamroni yang memimpin sidang pleno merasa perlu memperingati para hadirin sedikit keras. Ketukan palu Zamroni di malam panjang itu agak menolong, memang. Tapi reporter TEMPO Mansur Amin yang merekam suasana sidang di gedung Granada melaporkan bahwa suara-suara yang terdengar “mengejek” itu disebabkan karena sementara anggota merasa tidak puas. Mereka beranggapan bahwa susunan formatur tidak dipilih langsung oleh seluruh peserta kongres, tapi sudah dilobi rapi sebelumnya sesuai dengan yang sudah terbit di koran. “Sesuai dengan tata-tertib, maka tiap daerah tingkat I dan II mendapat hak satu suara”, kata sementara peserta. “Dan KNPI Pusat secara kolektif pun punya hak satu suara”. Meskipun begitu, sidang di malam Minggu itu toh berjalan lancar, kendati tidak seru. Esoknya — setelah diundur hampir dua jam — kongres akhirnya membacakan susunan pengurus yang baru plus 18 orang dewan pembina pusat. Di Minggu siang itu, nama David Napitupulu, 39 tahun kembali muncul sebagai Ketua Umum KNPI Pusat, kali ini pilihan Kongres. Adapun susunan pengurus pusat lainnya kebanyakan juga terdiri dari muka-muka lama. Seperti barisan para ketua yang terdiri dari Cosmas Batubara, Zamroni, Suryadi,Abdul Gafur, Akbar Tanjung, S. Oetomo, Abduh Paddare di samping Suhardi, Binsar Sianipar, Budi Harjono dan Ridwan Saidi. Sedang Hatta Mustafa menggantikan kedudukan Awan Karmawan Burhan sebagai Sekjen yang dibantu sejumlah 8 sekretaris. Susunan peng-urus tersebut masih disertai dengan seorang bendahara dan wakilnya, dan masih ditambah lagi dengan 13 ketua departemen dan 13 ketua-ketua biro pula. Bagaimana sambutan organisasi pemuda dan mahasiswa lainnya terhadap putusan Kongres KNPI yang pertama kalinya itu? Sampai berita ini diturunkan, belum lagi diperoleh keterangan. Tapi menarik ketika pada Sabtu siang yang lalu itu, 5 organisasi mahasiswa terlibat dalam suatu pembicaraan dengan pimpinan DPR. Mereka terdiri dari para wakil GMNI, HMI, PMII, PMKRI dan GMKI. Menurut Saleh Alwani, Sekjen HMI yang hadir di DPR, maksud kunjungan kelima ormas mahasiswa itu mendadak berubah menjadi suatu arena perdebatan. “Soalnya pak Sumiskum yang menerima kami memulai bicara sinis”, kata Alwaini. “Kedatangan kami dianggap sebagai balasan karena pimpinan DPR telah menerima delegasi kongres KNPI beberapa hari sebelumnya”. Maka jika Alwaini merasa “sangat tersinggung”, maka F. AS. Alwi yang mewakili GMNI berkata, “kami sedikit emosionil dalam menjawab tuduhan itu, lebih-lebih Chris Siller dari PMKRI”. Menurut Alwaini, permohonan untuk audiensi dengan pimpinan DPI sudah jauh sebelumnya ada kongres KNPI. “Itu bisa dilihat dalam arsip DPR”, katanya. “Tapi mengapa baru sekarang kami bisa diterima?” Adapun maksud audiensi itu, memlru mereka, adalah untuk menyampaikan pokok-pokok fikiran terhadap pembinaan organisasi pemuda dan sekaligus minta agar DPR lebih bisa berfungsi sebagai aparat demokrasi. Tapi pembicaraan lalu menjadi makin berlarut ketika wakil ketua DPR, Sumiskum berkata: “Lho, saudara-saudara kan masih ada sampai sekarang, dan tidak usah khawatir saudara-saudara tidak akan ada lagi. Maka kontan saja F. AS. Alwi menjawab,”tentang adanya suatu organisasi harus dilihat dari “adanya” organisasi itu sendiri. Dan bukan karena mengada-ada. Tapi siapa bisa menjamin bahwa besok kami masih ada, seperti juga siapa bisa menjamin bahwa bapak besok masih ada”.

// <![CDATA[// <![CDATA[
//

Advertisements

2 thoughts on “Bagaimana Belajar Bersatu Sambil… (kongres KNPI pertama)

  1. PMB May 9, 2010 at 2:04 pm Reply

    tulisan yg bagus !!

  2. PMB November 18, 2010 at 5:46 am Reply

    bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: