Gantung Sepatu Dulu Deh !

Tempo 05 Oktober 1974. PSSl memancing heboh lagi. Anjas dan kawan-kawan “menghilang” tanpa berita. Begitu sebuah judul berita olahraga Kompas (tanggal 23 September 1974).
Isi berita selanjutnya mengatakan bahwa rombongan PSSI tur Eropa itu seharusnya tiba kembali pada tanggal 19 September. Namun sejak tanggal 18 September Sekretariat PSSI kehilangan kontak dengan mereka. Juga disebutkan, sejak Suparyo kembali ke Tanah Air, tinggal Sekjen PSSI Joemarsono dan Pelatih Aang Witarsa yang mendampingi 10 pemain yang sedang melakukan tur tersebut. Lalu sedikit ulasan: tidak diketahui persis apa sebabnya. Mungkin para pemain “takut kehilangan muka” (akibat kekalahan menyolok), sehingga mereka pulang sendiri-sendiri. Ekor berita disertai kutipan kelakar di kalangan pengurus PSSI: mereka “sedang minta suaka di negara lain”. Tentu saja ramai orang mempergunjingkan, meski pada hari tersiarnya berita itu juga (23 September) rombongan PSSI muncul di Halim Perdanakusumah — lengkap dengan wartawan Kompas, Sumohadi Marsis, yang menyertai perlawatan. Untuk menimpakan semua kesalahan pada si pembuat berita, Valens juga tidak seluruhnya benar. Sebab (konon kabarnya) rekan wartawan Kompas ini mencari berita itu langsung dari sumber yang paling berwenang. Ia menilpon Kosasih — yang ternyata kehilangan kontak dengan anak-buahnya. Dan orang pun maklum akan sifat Ketua Umum PSSI ini: di kala mendongkol dia suka membanyol. Tur Komitmen Tapi banyolan itu tidak berhenti di situ. Ia menggiring penggemarnya dari pergunjingan kepada permasalahan PSSI yang lebih hakiki. Teringatlah orang pada pertemuan pers Suparyo, Ketua II/Ketua Komtek PSSI menjelang keberangkatan PSSI pada tanggal 27 Agustus yang lalu. Di depan para wartawan olahraga Ibukota, ia membeberkan panjang-lebar tentang macetnya rencana kerja Komtek yang telah disusunnya. Namun mengenai tur Eropa itu, diakui sebagai “tradisi” baru team PSSI yang akan dilakukan setiap tahun. Meskipun ditambahkan, untuk menangguhkan perlawatan itu mustahil, lantaran pengurus PSSI telah membikin komitmen pertandingan dengan kompanyonnya. di Eropa sejak bulan Pebruari lalu. Suparyo pamit dengan restu pengertian: membatalkan tur lebih memalukan dari sekedar kehilangan muka karena kekalahan. “Tur Komitmen” diawali dengan mendaratnya rombongan PSSI di Ibukota Denmark, Copenhagen pada tanggal 28 Agustus. Dan negeri Denmark ‘mengingatkan peristiwa 4 tahun yang lalu ketika pengurus PSSI periode 19711974 mengawali masa jabatannya dengan melakukan pertandingan lawan kesebelasan “Frem” dari Denmark. Dalam pertandingan internasional yang pertama itu — dan disaksikan oleh Presiden Suharto — PSSI menang 3-l. Tapi di akhir masa-jabatan kepengurusan Kosasih dkk (secara kebetulan) agaknya Denmark tidak selunak 4 tahun yang lalu. Setelah menderita kalah 2-9 lawan klub “Oesters” di Voxjo, Swedia (1 September), team kembali ke Copenhagen dan hancurlah PSSI oleh Kesebelasan Nasional Denmark 0-9 (3 September). Pertandingan berikut di Kristiansand lawan kesebelasan Norwegia “Under 23”, lagi-lagi PSSI kalah 0-1 (5 September). Kalah Segala-galanya Sampai di sini, sementara jejak mereka tak ada berita, Suparyo yang karena habis waktu cutinya pularg ke Jakarta. Tapi diluar dugaan, berita permintaan pengunduran diri Suparyo sebagai Ketua Komtek lebih dulu tiba dari orangnya. Mustahil nampaknya, tapi diakui kebenarannya oleh yang bersangkutan. “Sesungguhnya niat itu sudah ada menjelang PSSI meninggalkan Jakarta menuju Eropa”, kata Suparyo pada TEMPO. Tapi mengapa baru di Kristiansand niat itu dinyatakan dan dikaitkan dengan hasil pertandingan di situ? Kalau PSSI kalah lawan “Under 23”, ia akan mengundurkan diri. PSSI memang kalah (tipis). Dan Suparyo pun memenuhi niatnya. “Pengunduran diri ini saya anggap sebagai test-case bagi diri saya sendiri dan juga sebagai pimpinan” katanya. “Itu telah saya perhitungkan, Kalau saya kemukakan di sini, saya dianggap telah kena pengaruh orang lain. Yang lebih prinsipiil, saya menggugah daerah daerah untuk berfikir. Berfikirlah bagaimana mungkin dalam suatu periode kepengurusan tiga Komtek mengundurkan diri”. Suporter PSSI tidak hanya berfikir, malah, berspekulasi. Tentu ada hal-hal yang tidak beres di balik kckalahan menyolok. Terhadap kecurigaan ini Suparyo tidak menyangkal, meski untuk menuding kesalahan pada fihak pemain juga tidak dibenarkan. “Mereka bermain baik, tapi kalau kalah segala-galanya, mau apa?”. Ia kemudian memperinci keunggulan lawan: fisik, teknik, kecepatan dan sambil menunjuk keningnya, “kalah otak”, katanya. Akan halnya ketidak serasian dalam kebijaksanaan ia akan membeberkan di dalam forumnya: kongres. Karena itu ia mengingatkan bahwa permintaan pengunduran dirinya hanya selaku Ketua Komtek, yang agaknya langsung menyangku pembinaan teknis dan barangkali juga kekalahan yang memalukan itu. Mencari Uang-saku Sejak Suparyo pulang ke Tanah Air, team langsung berada di bawah pimpinan Joemarsono, Sekjen PSSI, bersama Coach Aang Witarsa. Perjalanan menuju Praha, Ibukota Cekoslovakia. Di sana berlangsung pertandingan PSSI lawan Spartak Praha dan PSSI kalah lagi2-4 (10 September). Kekalahan ini tidak seberapa. 12 tahun yang lalu (1962), PSSI “A” dan PSSI “B” pernah bertanding dengan kesebelasan yang sama di Stadian Ikada Jakarta yang masing-masing berakhir 0-2 dan 4-1 (untuk kemenangan PSSI “B”). Sehari kemudian di Bruno PSSI berhadapan dengan kesebelasan “Under 23” Ceko dan kalah 0-4 (11 September). Dengan modal 5 kali main 5 kali kalah, lawatan singgah di Offenbach, Jerman Barat, di mana PSSI ditundukkan “Offenbach Kickers” 1-5 (16 September). Menurut keterangan sementara pemain, mereka berhasil mengimbangi “O.K.” dengan permainan yang bermutu. “O.K.” sendiri terkenal kuat, karena beberapa waktu yang lalu berhasil mengalahkan “Bayern Muenhen” 6-0. Setelah pertandingan ini jadwal perjalanan agak terganggu. Seyogyanya seusai lawan “O.K.” team meninggalkan Jerman Barat pulang ke lndonesia. Tapi ternyata PSSI kehabisan uang, sehingga untuk mencari uangsaku, terpaksa mereka ngendon ke Mulhose, Peruiis, di mana kesebelasan PSSI bertanding melawan “FC Sochaux” dan kalah 1-3 (17 September). Kembali ke Denmark pada tanggal 18 September, PSSI masih melakukan satu pertandingan ekstra lawan “FC Aalborg” dan kalah lagi 1-4 (19 September). Dapat dimaklumi mengapa PSSI baru tiba kembali pada tanggal 23 September — via Singapura. Dari 8 kali pertandingan PSSI menderita kebobolan 39 gol berbanding memasukkan 7 gol balasan, tanpa menikmati seri apalagi menang. Pendeknya babak-belur. Tapi sebelum berita perlawatan PSSI ke Eropa itu lengkap sampai ke Tanah Air, permohonan pengunduran diri Ketua Komtek Suparyo menimbulkan guncangan baru. Ketua Umum Kosasih Purwanegara SH sempat menanggapi pengunduran Suparyo sebagai hal yang sangat disayangkan. Dewasa ini, kata Kosasih, PSSI jangan panik, sebab yang dibutuhkan sekarang adalah orang yang mau menghadapi masalah ini dengan kepala dingin. Lalu ia mengadakan pendekatan dengan Suparyo yang dinilai Kosasih: “Tokoh muda yang bersedia bekerja keras, sistimatis dan berkepala dingin”. “Kepala dingin Suparyo pun ikut “beku” dan masalah pengunduran diri itu — lewat sebuah pernyataan pers — disepakati bersama untuk di “peti-es”kan. Dianggap tidak ada saja. Buat pengurus PSSI sekarang kehadiran Ketua Komtek Suparyo dalam kongres yang tinggal 4 bulan lagi, amat penting. Sebab siapa lagi yang dapat sasaran tanggungjawab terhadap kemunduran kesebelasan PSSI, melempemnya pembinaan sepakbola remaja dan lain sebagainya. Meskipun secara organisatoris, Ketua II/Ketua Komtek tidak langsung bertanggungjawab pada Kongres. Pengunduran diri Suparyo pada saat saat pengurus lama menutup buku pada saat-saat masyarakat menilai plus minus neraca mereka 4 tahun ini, memang dirasakan kepalang tanggung. Sehingga lebih tepat ditafsirkan sebagai protes terha

dap kemandegan pengurus lama yang sudah mapan. Juga protes terhadap dirinya sendiri otomatis, seperti katanya serba-salah: “Ide dan konsep saya tidak pernah didebat. Diterima tidak, ditolak pun tidak”. Tapi bagaimana pun sikap mundur-maju ini telah menimbulkan keraguan pada para pendukungnya. Dan Suparyo dituntut untuk menegakkan ketegasan sikap dalam Kongres yang akan datang. Pemain Muda di Cikampek Perasaan kasihan yang sama nampaknya patut pula dilimpahkan kepada para pemain yang selama 4 tahun ini jatuh-bangun di lapangan hijau. Hal ini pun disadari Pak Kos. “Akhirnya toh prestasi mereka di medan pertandingan merupakan titik kulminasi pembinaan”, katanya. Setiba team PSSI di Tanah Air, semacam perasaan “takut” memakai kostum nasional agaknya meliputi diri mereka. “Kuping saya menjadi merah mendengar komentar Sutjipto. Pemain tua jangan diharapkan. Pada hal kami yang tua yang dapat bertahan selama tur Eropa ini”, kata Yuswardi Sementara Anwar Ujang sambil angkat-tangan berkata “Sudahlah, saya akan bagi-bagikan semua perlengkapan saya kepada pemain-pemain muda di Cikampek”. Kapten Kesebelasan Nasional ini membuat ikrar pada diri sendiri: “kalau coachnya yang itu-itu juga tiada jalan lain kecuali mundur”. “Kemampuannya”, tambah Anwar sambil mengacungkan jari kelingking, “cuma segini. Lebih baik saya melatih diri sendiri”. Judo Hadianto, kiper dan pemain PSSI tertua (32 tahun), moderat komentarnya. “Pengalaman tur Eropa memperingatkan kita pemain tua untuk berlatih lebih keras. Bukan karena kami ingin bertahan terus, soalnya yang muda ternyata belum dapat mengimbangi. Mereka harus dilatih lebih intensif”. Konon prestasi pemain-pemain muda seperti Anjas Asmara, Nobon, Sofian Hadi, dan Andi Lala menjadi mentah lagi. Sementara Harry Muryanto yang menggeser posisi back Rusdi Bahkan, ternyata masih “anak kemarin”. Kasak-Kusuk Sukar memang menarik manfaat tur ini dari sudut mencari pengalaman. “Dulu ketika pertama kali PSS mengadakan tur ke Soviet Uni dan Eropa Timur 18 tahun yang lalu, Tony melakukan persiapan matang”, kata Saelan bekas Kapten dan kiper nasional yang kini aktif di Yayasan Sepakbola. “Jelas pula targetnya: mencari pengalaman ke Olimpiade Melbourne”. (Tur itu berlangsung dari tanggal 19 Agustus sampai dengan 26 September 1956. Dari 11 kali pertandingan PSSI menderita kalah 10 kali, menang sekali dengan perbandingan gol 16-38. Kekalahan menyolok terjadi pada pertandingan ke-11. Dan terakhir melawan Kesebelasan Cekoslovakia 1-5. Kemenangan satu-satunya melawan Kesebelasan “Banteng Merah” 2-0. Kekalahan antara lain melawan Kesebelasan Yugoslavia 2 dan Kesebelasan Jerman Timur 1-3). Memperbandingkan “Tur Komitmen” dengan Tur PSSI ke Eropa pada aman Saelan rasanya terlalu kejam, meski tidak terhindarkan. Untuk mengulasnya sebagai tur “selamat tinggal” buat pemain-pemain tua yang berjasa juga terlalu pagi. “Selamat bekerja lagi” lebih tepat untuk mereka. Sementara buat pengurus lama, tur ke Eropa itu semacam “tur perpisahan”. Sebab lawatan itu dengan sendirinya menyingkap “titik kulminasi” kegagalan pengurus lama. Meski ada suara santer beberapa di antara mereka sedang memperbarui tekad: kasak-kusuk mencari backing agar bisa terpilih kembali. 4 tahun ini, sejak Indonesia gagal di Asian Games VI Bangkok (1970) sampai absennya kesebelasan nasional di Asian Games VII Teheran, sepakbola dunia mengalami banyak kemajuan. Di samping radio, TVRI menghidangkan dua kali kejuaraan dunia. Belum lagi acara “star-soccer” yang secara rutine dinikmati penggemar sepakbola. Semua ini menunjukkan betapa unsur-unsur business dan nasionalisme dalam persepakbolaan lelah berkembang mencapai tingkat yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Johan Cruyff, Gerd Mueller, Franz Beckenbaucr, Sepp Maier Revelino dan masih banyak pemain sekaliher yang menjadi pujaan dan idaman masyarakat sepakbola di sini. Dalam periode kepengurusan PSSl 1971-1972 ini, penonton Senayan diperkenalkan juga dengan Bele, Tostao, Uwe Seeler dan Eusebio. Dunia sepakbola makin kecil dan konsekwensinya “merampas hak pemain PSSI untuk kalah”, seperti komentar seorang pengamat awam. Yang tinggal hanya kewajiban untuk menang dan bermain dengan mutu yang diharapkan. Opini ini tentu saja kejam, meski dibentuk oleh keadaan. Lebih-lebih belakangan ini, pemain nasional Iswadi hijrah ke Australia, diikuti oleh Surya Lesmana, Jeffrey, Gunawan dan terakhir Risdianto ke Hongkong. Belum pernah di dalam sejarah sepakbola nasional, terjadi eksodus pemain-pemain ke luar negeri. Bukan Soal Uang Keadaan objektif ini memang menurtut “kepala dingin”, minta waktu dan tentu saja rencana-kerja. Tapi di mana letak kemacetan pengurus lama sehingga mereka tidak mampu mengatasi keburukan yang berlarut itu? Tentu saja soal organisasi dan pembinaan team. Tapi di dalam memberikan tekanan pada dua faktor ini, Kosasih berbeda pandangan dengan M.F. Siregar, Sekjen KONl. Kalau Siregar melihat dari sudut “konsolidasi organisasi” sebagai pangkal tolak perbaikan, Kosasih menilai “pembinaan team nasional” adalah masalah yang utama. “Pembentukan team nasional haruslah merupakan puncak pembinaan dari bawah”, katanya pada TEMPO. “Ini yang belum ada. Jadi seolah-olah pembentukan team nasional ini merupakan masalah tersendiri dan tidak merupakan kulminasi dari pembinaan dari bawah”. Itu Normal Soal pembinaan dari bawah ini sampai kepada pembinaan team nasional di puncak, dinilai Kosasih, merupakan kegagalan pengurus yang sebentar lagi mengakhiri tugasnya. Sekarang ini PSSI bukan tidak mempunyai Dewan Coach (di bawah Komtek) yang merencanakan pola pembinaan, tapi diakui “berhubung rupa-rupa soal, semua belum sampai terlaksana”. Karena soal uang barangkali? “Bukan itu masalahnya. Kita punya uang kok”, kata Kosasih. “Coba saudara tanyakan, 70% dari anggaran kita tujukan untuk pembinaan. Masalahnya bukan uang, tapi tenaga”, ulangnya tanpa memberikan jumlah angka yang lebih konkrit. Juga mengenai sistim manager merangkap coach, Kosasih “belum melihat tokoh yang punya wibawa demikian rupa yang juga punya grip diantara kita”. Itu sebabnya “manager” sekarang dipegang oleh satu badan. Malahan di zaman jaya PSSI di kala “Hongkong Tour 1953 dan Olimpiade Melbourne 1956 PSSI memakai komisi teknik seperti sekarang ini”. Perlu juga dicatat: di zaman Tony, Kosasih sebagai wakil ketua pada waktu itu duduk sebagai wakil Tony untuk menggolkan rencana komtek untuk disahkan oleh pengurus. Di dalam periode Maladi, ia menjadi wakil ketua merangkap wakil pengurus di dalam komisi teknik. Baru dalam Kongrcs Ciputat (yang memilih pengurus sekarang), dibentuk satu badan yang dikenal sebagai versi Komisi Teknik sekarang. “Problimnya bagi saya”, kata Kosasih, ‘kenapa sejak Maret ( 1974) sampai Mei, team kita yang baik kok bulan Juni jadi melorot?” Yang salah memang bisa semua fihak, sehingga alasan pun berupa-rupa. Tapi Kosasih menganjurkan “jangan panik. Mundur dari segi teknik itu masalahnya sekarang. Dulu orang juga begitu. Cuma kini dipertajam orang dalam menghadapi masa kerja pengurus yang hampir habis. Banyak yang interest” katanya bersemangat. “Bagi saya itu normal”. Yang Abnormal Yang abnormal barangkali adalah ide “kompetisi antar-klub”. “Maladi usul robah jadi kompetisi klub. Saelan juga. Tapi waktu mereka jadi ketua umum, mencobapun mereka tak pernah”, katanya. Kesulitan teknis kemudian dibeberkan: kejuaraan PSSI dan Piala Suratin memakan waktu 2 tahun. Lalu ada PON, POM, Asian Games, Olimpiade dan turnamen-turnamen di dalam dan di luar negeri. “Nah, kalau ditambah satu lagi, kompetisi klub, bagaimana?” tanya Kosasih. Juga soal penghasilan kompetisi klub dikatakan belum dapat menjamin kelangsungannya. Kalau begitu memang serba-susah, meski k

eadaan ini harus diterima sebagai normal”. Pengaruh dari luar yang ingin mendongkrak PSSl ke tingkat juara”, nampaknya akan dihambat oieh ketidaksiapan dirinya sendiri. Apa yang telah dilakukan oleh pengurus lama untuk mendobrak kemcetan, hanya berujud konsep yang muluk. Suparyo yang pernah melansir konsepnya secara terbuka akhirnya melihat hambatan pelaksanaanya justru terletak pada struktur dan managemen organisasi. Ia menjabarkan sebaiknya 3 eselon kepengurusan: pimpinan, staf dan pelaksana diperinci tugas dan wewenangnya. “Para ketua dengan pembidangan masing-masing langsung dipilih dan bertanggungjawab pada Kongres. Bukan seperti sekarang sekretaris jenderal dan bendahara yang berada di eselon staf ikut-ikutan dipilih dan bertanggung-jawab pada kongres”, kata Suparyo. Ini penting untuk mencegah dualisme seperti yang sering terjadi sekarang: “Masing-masing jalan sendiri-sendiri”. Nampaknya urgensi perubahan anggaran dasar pun tak terelakkan. Adakah pengalaman selama 4 tahun ini akan membawa pembaruan personalia pada pucuk pimpinan PSSI? “Saya tidak melihat kader baru”, kata Kosasih. Tapi ia melihat “adanya beberapa front yang terpecah-pecah. Pada hal semua kekuatan perlu dihimpun untuk memperbaiki keadaan”. Konon keinginan pengurus lama juga membuat front untuk bertahan terus. Sementara yang ingin merebut kursi pimpinan tidak pula kendor. Ini lumrah. Tapi adakah suatu orientasi baru kepada program yang bisa mengangkat sepakbola nasional dari kemelut dewasa ini? Kampanye perlu diarahkan kepada hal-hal yang lebih positif, tidak semata-mata kepada person yang mempunyai bacang (politik atau uang) melulu. Habis, mau apa lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: