Koes no koes

Tempo 01 Juni 1974. TAHUN 1968 adalah awal selisih antara Koesnomo Koeswoyo (Nomo) dengan abangnya Koestono Koeswoyo (Tony). Nomo telah minta Tony agar tidak hanya mengandalkan hidup dari musik.

“Main musik ya main musik, tapi jangan main musik tok. Cari usaha bisnis lain. Akhirnya hidup ini tidak dapat ditunjang oleh musik saja”, usul Nomo (TEMO 29 April 1972). Tony tidak sependapat. Sehingga pada formasi yang baru dengan nama Koes Plus setahun kemudin, Murry menggantikan Nomo di belakang drum. Dan anak kedua dari Koeswoyo itu kemudian lebih suka dagang — jual beli mobil-tanpa kehilang-an maksud untuk suatu saat bergerak lagi di bidang musik. “Saya tidak patah arang dengan musik”, katanya dua tahun yang lalu kepada TEMPO. “Saya masih merindukan kembalinya Koes Bersaudara. Walaupun tidak terlalu pasti saya yakin Koes Bersaudara akan kembali”. Tapi tentu saja Koes Bersaudara yang dirindukannya kembali adalah Koes Bersaudara yang tidak hanya bergerak di bidang musik, tapi Koes Bersaudara Corporation yang bergerak di bidang musik dan bisnis. Keinginan Nomo dua tahun yang lalu sampai kini belum bisa menjadi kenyataan. Bukan Koes Bersaudara yang kemudian muncul. Tapi bahkan Nomo yang rupanya termasuk yang punya PT Yukawi Corporation — itu pabrik kaset dengan label Indo Music — malah membentuk sehuah grup baru yang bernama No Koes. Agaknya usaha merangkul saudara-saudaranya di bidang musik maupun bisnis belum terkabul. Seperti agak tersinggung, Nomo tentang pendirian grupnya yang terdiri dari lima orang — tanpa Nomo sendiri –mengatakan: “Pokoknya saya ingin membuktikan kepada Tony, sayapun mampu bikin grup”, katanya kepada TEMPO lewat dua pekan yang lalu. Sebab, katanya lagi, “Tony menyepelekan saya. Saya sudah tidak dipakai lagi sama Tony”. Memang, betapapun juga Tony barangkali kurang suka kehadiran Nomo. Tapi di hadapan banyak wartawan pada konperensi pers 4 Mei yang lalu, optimisme Nomo masih juga belum hilang. Katanya: “Saya yakin mereka akan kembali kepada saya entah dalam bentuk musik atau perusahaan”. Patokan Rekaman pertama No Koes sudah keluar dengan judul Sok Tahu –dengan lima anggotanya yang menurut Nomo masih akan dirahasiakan dengan tujuan komersil. “Nanti kan pembeli jadi kepengen tahu, dan terpaksa membeli dulu”, kata Nomo. Yang jelas menurut pengakuannya, tidak seorangpun mereka yang dari Koes Plus. Tapi sebagai orang dagang, Nomo tentu saja tidak melupakan unsur-unsur bisnis. Dalam kertas siaran yang dibagi-bagikan ada tertulis: “No Koes adalah adonan musik dengan gaya Koes Bersaudara dulu kala. Tidak persis sama sekali memang namun tidak menyimpang terlalu jauh. Terutama warna musik yang alamiah dan karakter musik yang sederhana tetap dipertahankannya. Dengan pembaharuan nilai seni tentu saja”. Nomo juga mengakui: “Saya sendirian dari Koes Bersaudara. Tentu sedikit-sedikit ada warna Koesnya. Dan itu akan saya jadikan patokan”. Tentu saja Nomo akan mengatakan begitu, sebab bagai-manapun Koes Bersaudara memang masih punya cap dagang yang laku. Akan halnya selera yang sekarang? “Saya sendiri belum tahu ciri-cirinya, karena itu dalam volume I terdiri dari beberapa beat”. Mengakui mencipta lima buah lagu untuk rekaman pertama. Nomo katanya akan menyanyi juga pada rekaman berikutnya. Rangkul Tapi alasan Nomo kenapa sekarang terjun di bidang musik antara lain karena: “sekarang penghargaan untuk musik sudah lumayan”, katanya sambil menggosokkan tangannya tanda mendatangkan duit. Fungsinya sendiri dalam grup itu — di samping menyanyi tentunya ant i– “saya cuma menjuruskan musiknya saja”. Barangkali mirip-mirip manager. Tentang niatnya untuk menyanyi, “saya tak mau kalah dengan Jon”, katanya. Sebab menurut dia di antara saudara-saudaranya, Nomo merupakan orang pertama yang menyanyi ketika grup mereka masih bernama The Brothers. Karena itu pada rekaman kedua dia akan menyanyikan dua lagu ciptaan Ayahnya, Koeswoyo. Itu bukan tanpa sebab. “Koes Plus berhasil karena lagu-lagu ayah”, kata Nomo, sambil menyebut contoh lagu Keroncong Pertemuan, Mari-mari dan Layang-Layang. Namun yang jelas No Koes menurut Nomo selalu akan membuat lagu yang dikehendaki masyarakat. “Saya hanya ingin ikut kehendak masyarakat”. Tapi tentang Koes Plus menurut Nomo, tidak lagi seperti ketika zamannya Koes Bersaudara. Dia mengatakan lain. “Dari lirik dan beatnya saja sudah macam-macam”, katanya. Namun pada akhirnya Nomo mengatakan “untuk bersaing saya tak punya saingan”. Tapi kalau suatu saat bertemu dengan Koes Plus di panggung, “saya akan rangkul mereka sebagai saudara”.
01 Juni 1974

Mengembalikan kesederhanaan

NO Koes adalah adonan musik dengan gaya Koes Bersaudara dulu kala. Tidak persis sama sekali memang, namun juga tidak menyimpang terlampau jauh. Terutama warna musik yang alamiah dengan karakter musik yang sederhana tetap dipertahankan”, ujar propaganda PT Yukawi Corporation yang mengeluarkan album Nomo yang pertama, bernama SOK TAHU. Dengan sampul palang merah pada latar hitam, tulisan No Koes dan Sok Tahu jadi begitu menonjol. Sedang tanda-tanya yang kemudian muncul lantaran kepingin tahu siapa orang-orang di belakangnya, memang memancing orang untuk mendengarkan isinya. Tidak semua lagu, yang berjumlah sebelas, dapat diperhitungkan sebagai lagu-lagu yang memberikan harapan baik — walaupun sangat terasa keinginan untuk mengembalikan suasana lagu-lagu Koes Bersaudara dalam paduan suara dan kesederhanaan lirik-liriknya. Saat Ku Pulang Sendiri, Perantauan, Mimpi Indah, Mandolin dan Tetesan Air Mata barangkali dapat disebut lagulagu yang lumayan untuk ukuran pop. Mimpi Indah dan Saat Ku Pulang Sendiri misalnya dapat diduga akan mengantarkan grup baru ini ke pusat perhatian para remaja. Iramanya mengalir sedang, enteng dan tetap berusaha untuk manis — sambil di sana-sini terasa juga kebobolan pengaruh Koes Plus terutama dalam kegenitan teknik vokal-nya. Keroncong Perantauan, sebuah lagu yang digulung dengan suarl organ dengan kendangan gitar, yang memberikan suasana keroncong, seharusnya menjadi nomor yang baik kalau saja tidak kepanjangan. Suasana yang sama terdapat pula dalam lagu terakhir: Tetesan Air Mata. Grup ini memang sedang menduga-duga keinginan pendengarnya sambil mencoba menemukan satu karakter yang bisa membedakannya dari Koes Plus dan Favourite. Pemukul Drum-nya — siapa tahu mungkin Nomo sendiri — jelas memberikan andil yang sangat berarti. Tentunya boleh dipertimbangkan penonjolan-penonjolannya dalam pelemparan lagu-lagu yang akan datang. Sementara itu kecengengannya dalam melukiskan kesedihan belum separah Favourite — sedang unsur main-main yang kemudian jatuh pada aleman, yang sering terjadi kini pada lagu-lagu Koes Plus, syukur belum kelihatan. Semua lagu masih dilemparkan dalam suasana serius — ya seriusnya musik pop manis — dengan potensi suara yang sedang dan teknik permainan yang kompak. Barangkali grup ini akan mengurangi kecerobohan grup-grup pop yang terdahulu — yang menjadi tukang comot sana-sini lantas lupa daratan sesudah berhasil menjual musiknya kalau saja tetap dapat memilih sejumlah lagu yang seharusnya memiliki surprise-surprise yang lain. Itu berarti bukan hanya mengulang-ulang, asal lancar, asal manis, asal laku dan asal-asal lainnya. Nomo Koeswoyo sudah berdiri di pasaran musik pop sekarang, entah apa yang hendak dibuatnya nanti. Putu Wijaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: