Kwartet Indonesia

Tempo 30 November 1974. DI sebuah kamar tidur Surya Lesmana, Kisdianto, Gunawan dan Jeffrey menjamu saya makan siang. Kamarnya sempit.
Lebih kurang 2� x 2� meter. Hari Sabtu 2 Nopember itu mereka bebas dari latihan sore. Gunawan sibuk melayani hidangan, Jeffrey menawarkan minuman. Sebuah meja lipat dibuka. Kamar yang telah diisi dua ranjang-susun makin sempit. “Asem deh kalau dibandingkan dengan Jakarta”, kata Surya seraya mengingatkan asrama UMS di Jalan Kebun Jeruk dan Warna Agung di Jalan Jakarta. Tapi rasa sempit dan pengab tidak mengurangi suasana intim dan mesra. Asal saja kita mau memalingkan pandangan ke arah dinding yang masih tersisa. Di situ di samping ada AC, ditempeli beberapa gambar kulit majalah pop. Christine Hakim, Debby Cynthia Dewi dan Lina Sagita, masing-masing dengan pose merangsang ikut menghuni bersama mereka. Siapa untuk siapa? Mudah diterka. Tiga bujangan terdiri dari Surya, 27 tahun. Risdianto, 24 tahun dan Jeffrey, 18 tahun. Sedang Gunawan, 25 tahun, telah menikah dan keluarganya ditinggalkan di Jakarta. Ditambah dengan suara tape recorder yang mengalunkan lagu-lagu kesayangan mereka, suasana di rumah paling tidak memaksa mereka merasa kerasan. Asal Ada Duit Untuk mencapai Wongneichong Road nomor 95 tidak terlalu sulit. Di sini sebagian besar pemain Mackinnon Mackenzie tinggal. Mereka menempati flat A di lantai II dari gedung bertingkat 8 yang tepat berhadap-hadapan dengan gelanggang pacuan-kuda Happy Valley. Karena tetangganya juga berupa gedung bertingkat yang hampir seragam tingginya, baiklah dicatat bahwa Race Course Ma Sio — wisma pacuan kuda — tepat berada di ujung Broadwood Road. Pintu gerbang menuju ke apartemen mereka berjeruji besi. Kedua daun pintunya dililit rantai besi — pas-pasan selonggar badan manusia bisa keluar-masuk. Seorang centeng India bersorban menyambut pengunjung dan membuka pintu selebar lilitan rantai. Seolah membuka kandang burung — takut kalau-kalau yang di dalam akan menerobos keluar. “Mana ada pintu di Hongkong yang tak tertutup rapat”, ujar Gunawan menjelaskan, “setiap hari ada berita perampokan sih”. Enaknya sebelum menemui mereka di daerah Happy Valley — kompleks orang-orang kaya — angkat telepon dulu. Nomor nya 793717 (dari Kowloon putar kepala 5 dulu). Di koloni Inggeris ini masalah tempat tinggal buat orang yang tanggung-tanggung agaknya beban yang dipikul sampai ke lubang kubur. “Tapi dalam soal makanan tidak kalah dari Jakarta”, kata Risdianto mengalihkan pembicaraan karena dia tidak tahan lapar. Di meja sudah tersedia: sardencis, telur dadar dan abon, yang dipersiapkan mereka sendiri. Gado-gado, rawon dan kari-ayam dipesan dari sebuah restoran Indonesia di Hongkong dibawa Gunawan kemudian. “Apa sih yang tak ada di Hongkong”, kata Surya, “asal ada duit”. Kesulitan Bahasa Sementara kami makan siang, kesibukan lain terjadi di ruang tamu sebelah. Ruangnya 3 x 3 meter. Ada TV dan sice “milik” bersama. Sebuah lemari besar bersandar pada dinding. Kotak lacinya banyak. Di sini para pemain MM yang seasrama menyimpan sepatu dan perlengkapan lainnya. Dau di ruang ini pula dua pemilik Malaysia, Wong Men Liong, bujangan 22 tahun dan Chow Tuck Chuan, 24 tahun da isterinya, bersantap siang pula. Ikut pula bersantap siang beberapa pemain MM yang tinggal di sana. Pada waktu makan ini seolah MM terpecah menjadi dua team. Meskipun jatah makanan 16 dollar (x 80 rupiah) seorang setiap hari ditanggung fihak MM. Begitu pula sewa kamar dibayar perkumpulan. Ditarik dari suasana di meja makan pergaulan mereka sehari-hari tidak banyak berbeda. Baik di dalam maupun di luar lapangan. Soalnya kesulitan bahasa. Tapi kedua pemain Malaysia dan beberapa pemain Hongkong asal Hoakiau nampaknya cocok juga dengan keempat pemain Indonesia. “Sebenarnya bukan soal bahasa kanton”, kata Hu Kue Ken, anak kelahiran Bandung dan kini menetap di Hongkong sejak keluar dari daratan Cina. “Mereka tidak senang kok dengan pemain dari luar. Takut disaingi”. Hubungan kwartet Indonesia dengan Big BCJSS Franky Chow, team manager Mackinnon, dilakukan lewat Kwok Tak Sin. Tak Sin sendiri bekas kiper Tunas Jaya dan Persija di tahun 60-an. Seperti puluhan ribu pengungsi dari RRT, ia kini menetap di Hongkong. Dia pula menjadi perantara MM mendatangkan Surya, Gunawan, Jeffrey di bulan Agustus. Kemudian Risdianto bulan berikutnya. Mau Bilang Apa Peranan Tak Sin amat besar. Bukan saja sebagai penghubung, tapi juga asistennya Coach Yu Cheuk Yin — itu kiri dalam Nan Hua yang tak asing lagi bagi penggemar bola di aman Ikada. Di samping itu ia kiper inti MM. Dapat dibayangkan bila hambatan psikologis yang dialami Djamiat — ketika ia menjadi asistennya Tony Poganik melatih pemain angkatan Tanoto misalnya — terulang lagi pada team MM. “Segala-galanya ditentukan dia”, kata Risdianto curiga. “Nasib kita sih di tangan Tak Sin”, kata Gunawan yang pada bulan Oktober lalu sempat menengok istrinya di Jakarta atas ….. “campur tangan Tak Sin juga”. Tapi campur tangan Tak Sin di lapangan nampaknya tidak mempan menggescr Cheuk Yin yang digambarkan sementara pemain MM “pandai sebagai pemain, belum tentu pandai dalam melatih”. Apalagi diakui Tak Sin, cara melatih Chcuk Yin cuma memberi petunjuk tendang-menendang dan sambil merokok pula “Tapi kalau Boss mau pakai kita mau bilang apa?” tanya dia. Begitu pun dalam susunan kesebelasan, rupanya favoritisme berlaku juga. Veteran Kung Wah Kit, 39 tahun, bekas pemain naional Hongkong kini masih dipakai sebagai kapten dan pofos-halang MM. “Di sinilah letak kelemahan kita”, kata Surya. Mana Boleh Tahan South China Morning Post pernah mengulas bahwa dalam musim kompetisi ini nampaknya MM belum berhasil membuat kombinasi dari kelompok pemain Indonesia, Malaysia dan Hongkong. Dalam 4 pertandingan MM kalah 3 kali seri sekali. Surya sendiri dalam pertandingan pertama sudah cedera lututnya. Sampai sekarang ia tidak pernah dipasang lagi, meskipun gajinya dibayar terus. “Soalnya masih perlu waktu”, kata Tak Sin. “Pemain-pemain Indonesia dan Malaysia masih belum matang untuk menyesuaikan diri dengan permainan di sini”. Chow Tuck Chuan bekas pemain nasional Malaysia asal Perak mengatakan bahwa “gaya Hongkong pendek-pendek, berbeda dengan Indonesia dan Malaysia yang suka beemain Long Passing. Rekannya, Wong Men Liong, juga bekas pemain nasional asal Perak tertawa sinis ketika ia ditanya kondisinya. “Home-sick lah”, katanya, “hari-hari ini macam, mana boleh tahan”. Ia mengecam Cheuk Yin dan menuduhnya “tidak senang orang asing main di sini”. Frank Chow, 43 tahun, bekas pilot Amerika dalam Perang Korea dan dulu terkenal sebagai petinju, kini sebagai pengusaha perkapalan memegang posisi penting di Makinnon Mackenzie. Satu-atu sisa kegemarannya, sepakbola, disalurkan dengan membentuk tea MM. Pada suatu jamuan malam di Restoran Indonesia di Hongkong, ia terus-terus memuji permainan anak-anak Indonesia . Mereka sangat menyenangkan”, kata ChoW pada TEMPO, “dan kami sangat memperhatikan kepentingan mereka”. Tapi sadar bahwa untuk membina team yang terdiri dari pelbagai pemain dengan latar-belakang sendiri-sendiri, “kami membutuhkan waktu”. Ia ingin Surya sembuh sepenuhnya sebelum — diturunkan dalam kompetisi. “Lutut itu bagian paling vital dalam sepakbola katanya. “Saya berulang kali menyatakan soal kalah atau menang itu biasa. Toh saya tidak menuntut harus menang”, tambah Chow. Meskipun demikian dia memberi juga perangsang 100 dollar untuk setiap kemenangan dan 50 dollar jika seri kepada setiap pemain ia berpendapat semangat persatuan dan kesatuan mendasari kerjasama dan kekompakan team. “Karenanya saya tahu, semuanya memerlukan waktu. Memberi komentar terhadap pelatih Cheuk Yin dan beberapa pemain tua yang masih dipakai MM, Chow berkata: “Sepakbola memang bisnis. Tapi saya tidak dapat menyampingkan segi kemanusiaannya”. Chow mempun

yai keyakinan Mackinnon lambat-laun akan bertambah kuat. Lebih-lebih jika pemain-pemain lndonesia dan Malaysia sudah dapat menyesuaikan diri. Dan lebih-lebih, tambahnya: “Jika Kadir dan Andilala dapat bergabung dalam waktu dekat ini”. Pusat Pemain Prof Nasib pemain lndonesia yang memperkuat MM di Hongkong nampaknya tidak sebaik nasib Lee Wai Tong, L.K. Tai dan S.K. Kong 40 tahun yang lalu. Ketika di zaman Belanda pemain Hongkong itu menggabungkan diri dengan klub UMS di Jakarta, kesebelasan biru-putih ini berhasil menjuarai kompetisi VBO. Nama mereka kini masih dikenang oeh penggemar sepakbola di sini. Lain halnya dengan Surya dan kawan-kawan, kini tidak kurang dari 45 pemain asing ikut mengadu untung di 13 klub divisi I di Hongkong. Sejak awal tahun ini Hongkong meresmikan sepakbola prof, nampaknya pemain-pemain bayaran dari Inggeris, Skotlandia Brasil, Argentina, Afrika Selatan, Malaysia dan Laos ramai-ramai mencari rezeki di koloni Ingeris ini. Meskipun mereka bukan terdiri dari pemain inti dari negara-negara mereka, kehadiran mereka paling tidak menambah dinamika kehidupan sepakbla di Hongkong (dan Kowloon). Meskipun permainan mereka belum mencapai standar profesional kelas dunia, toh kegiatan kompetisi di sana cukup laku ditonton orang. Pendapatan mereka berbeda-beda. Ke-empat pemain Indonesia menerima lebih kurang 2000 dollar (HK) sebulan, sementara kiper Chow Chee Hiong dari Malaysia konon dibayar 7000 dollar oleh klub Tung Sing. Pertengahan bulan ini penyerang-tengah Skot kenamaan Jim Forrest, ditransfer klub Rangers (HK) dari klub The Blues, Afrika Selatan. Uang transrer meliputi 4500 dollar (HK) — suatu jumlah yang meski kecil, tapi baru pertama kali terjadi dalam soal transaksi pemain. Di Hongkong, pusat perdagangan, secara pasti sedang membentuk pusat pemain prof di Asia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: