Menjelang yang ke-27 (Timtim)

Tempo 14 September 1974. MULA-MULA tidak banyak orang tertarik pada koloni Portugis yang bertetangga dengan propinsi NTT. Kecuali orang-orang di pulau Timor, mungkin.
Namun dengan kunjungan 2 tokoh politik propinsi ‘seberang-lautan’ Portugis itu ke Jakarta, suasananya lantas berubah. Kunjungan Ramos Horta ke mari bulan Juni yang lalu mulai menyadarkan orang, bahwa bola mulai menggelinding di sana setelah tersentak oleh revolusi di Lisabon 25 April yang silam (TEMOO, 15 Juni). Tokoh politik dan kolumnis masalah-masalah internasional di Jakarta mulai memberikan tanggapannya mengenai masa depan koloni Portugis yang akan menghadapi referendum bulan Maret 1975. Namun sorotan itu baru menjelang klimaksnya dengan kedatangan ketua partai politik ke-3 di Timor Portugis, Arnoldo Deo Reiz Aranyo (61 tahun). Di depan redaktur-redaktur pers ibukota serta pengurus PWI Pusat, ketua umum APDT (Associaciao Popular Democration Timorense) itu jelas-jelas menyatakan keinginan partainya agar koloni Portugis itu “bergabung dengan lndonesia sebagai propinsi ke-27”. Mendahului tanggapan Menlu Adam Malik, dari kantornya di Senayan wakil ketua DPR-RI, Jaelani Naro dengan gembira mendukung pernyataan politik ketua APDT itu. “Saya adalah orang pertama yang mengajukan appeal pada Lisabon agar Timor Portugis mendapat, perhatian yang sama seperti jajahan-jajahan Portugis di Afrika”. Namun dalam meneliti kemubgkinan-kemungkinan bagi masa depan wilayah itu. Naro tidak sependapat bahwa daerah berpenduduk sekitar 60o ribu jiwa bisa menghadapi kemungkinan yang sama seperti Mozambique dan lain-lainnya. Yakni merdeka. “Untuk merdeka, ada bahayanya”, ujar tokoh Partai Persatuan itu. “Sebab daerah itu sangat miskin sumber alam”. Akibatnya, “bukan tak mungkin negeri tersebut hanya menjadi permainan negara besar, yang dapat menjadi ancaman bagi kita”. Karena itu jalan-keluar yang paling tepat bagi Timor Portugis menurut Naro,”ialah bergabung dengan Indonesia. Toh warna kulit mereka sama, dan punya sejarah yang sama di zaman Majapahit. Yang pasti, tidak seorang dari bangsa Indonesia akan menolak penggabungan itu!” Begit pendapat Naro. Beban Apakah penggabungan ‘propinsi ke7’ itu tidak akan menambah beban Indonesia, mengingat tetangganya — Nusa Tengroara Timur — juga tergolong daerah minus? “Itu ada benarnya”, kata Naro. Tapi yang lebih penting bagi dia adalah banyak subversi yang dapat mengancam kekuatan Hankamnas Indonesia. Makanya orang legislatif yang dapat bicara lebih blak-blakan dibandingkan dengan Menlu Adam” itu menyarankan agar pemerintah RI mendekati Lisabon secara baik-baik untuk menggolkan penggabungan tersebut, Bak gayung bersambut kata berjawab, seruan Naro itu hanya seminggu kemu- dian mendapat tanggapan dari Menteri Sekretaris Negara, Sudharmono. Melaporkan lingkup pembicaraan Soeharto-Whitlam pada pers di Gedung Agung, Yogyakarta, Sudharmono mengungkapkan bahwa soal Timor Portugis masuk dalam agenda pembicaraan kedua kepala negara itu. “Kemungkinan bagi Timor Portugis untuk bergabung dengan lndonesia tidak tertutup”, sahut Menteri Negara Sekneg atas pertanyaan pers. Syaratnya: asal sesuai dengan konstitusi RI yakni prinsip negara kesatuan. Jadi bilamana penggabungan itu ingin mewujudkan Timor Portugis sebagai propinsi RI tersendiri, kehendak itu tidak jauh dari prinsip yang termaktub dalam UUD 1945 RI itu. “Kita memamg menyongsong perjuangan kemerdekaan siapa pun dan di manapun. Apalagi daerah tetangga”, kata Sudharmono, yang tidak lupa menambahkan bahwa “kita tidak punya ambisi teritorial apapun”. Namun soal tanggapan Australia sendiri terhadap gagasan partai Arnold ang didukung oleh Naro dan Sudharmono, sebagaimana dikemukakan oleh PM Gough Whitlam, tidak dijelaskan Sudharmono. Terlepas dari pembicaraan-pembicaraan tingkat tinggi itu, hari masih terlalu pagi untuk meramalkan besarnya dukungan terhadap program partai APDT yang bakal tercermin dalam hasil pemilu 1975. Tiga partai yang bakal berlomba masing-masing punya faktor-faktor plus & minusnya sendiri (TEMPO, 15 Julli, Laporan Utama) Partai Uni Demokrat yang memperjuangkan persatuan dengan Portugal, didukung oleh unsur-unsur pemerintah yang asing maupun yang asli. dan diduga akan melancarkan kampanyenya dengan menggunakan uang wibawa pemerintah kolonial. Termasuk wibawa kepala-kepala suku dan raja-raja yang mendukung Portugis Partai kedua, Sosial Demokrat Timor, mencita-citakan kemerdekaan melalui periode transisi untuk mendidik aparat pemerintahan pribumi melalui usaha-usaha pendidikan yang disokong oleh Portugal dan negeri-negeri tetangga Timor, Indonesia & Australia. Itu sebabnya salah satu pelopor & sekretaris luar-negeri partai Sosial-Demokrat, Ramos Horta telah bermuhibah ke Jakarta dan Canberra sementara seorang, sesepuh partai itu berusaha merangkul mahasiswa-mahasiswa Timor yang belajar di Portugal. Dukungan bagi partai ini, datang dari berbagai lapisan masyarakat. Baik yang asli, Indo (mestico) maupun orang-orang buangn dari Portugal. Dan itulah kedua saingan berat yang dihadapi APDT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: