Perombakan, coach asing & sang nasib (Merdeka Games 74)

Tempo 17 Agustus 1974. TEAM PSSI ke Merdeka Games 1974 pulang dengan bendera setengah tiang. Kali ini tersisihkan oleh Muangthai 1-2. Reputasi PSSI dalam turnamen yang merayakan Hari Kemerdekaan Malaysia itu cukup baik.
Permulaan tahun 1960-an pernah menjadi juara. Terakhir muncul sebagai juara pada tahun 1969. Selama lima tahun belakangan ini Indonesia tidak pernah dikalahkan Muangthai di gelanggang Merdeka Games. Tahun 1969 PSSI mengalahkan Muangthai 4-0. Tahun 1970, meski merosot ke tempat nomor 6, toh masih sanggup mencetak kemenangan 6-3. Tahun 1971 Indonesia hampir menjadi juara. Bermain seri dengan Burma 2-2 di babak kwalifikasi, akhirnya dikalahkan 0-1 di final. Tahun itu PSSI tidak ketemu Muangthai. Tapi pada tahun yang sama PSSI berhasil mengalahkan Muangthai 1-0 di Kejuaraan A ia dan bermain seri 0-0 di Kejuaraan Anniversary Cup. Kekalahan PSSI dari Muangthai yang pertama terjadi pada tahun itu juga di turnamen King’s Cup, Bangkok 0-1. Tahun 1972 PSSI anjlog ke nomor 9 dari 12 peserta, namun masih mampu menjinakkan Muangthai 3-2. Tahun 1973 tidak ikut serta karena kesibukan PON VIII di Jakarta. Awal Agustus ini lakon PSSI di Merdeka Games nampaknya mencapai titik terendah. Team manager Suparyo, Ketua II merangkap Ketua Komisi Teknik PSSI bersama kedua coach Djamiat Dalhar dan Aang Witarsa menyaksikan dengan mata kepala sendiri kekalahan anak-anak asuhan di Stadion Ipoh. Mereka senada memulangkan sebab-sebab kekalahan pada faktor keberuntungan. Tentu saja disambut ejekan. “Lain kali tanya dukun dulu sebelum berangkat”, kata seorang staf sekretariat yang berkantor di Senayan. Sementara seorang rekannya yang lain terus terang mengakui bahwa “pimpinan PSSI sekarang telah menemui jalan buntu”. Itu dari dalam. Dari luar suara masyarakat ikut berbicara lewat kotak surat Kompas dan Merdeka. Tapi untuk menembus jalan buntu tidak berarti otomatis membubarkan team yang sekarang ada. Mempersilahkan atau memaksa pengurus dan Ketua Komtek bersama coach yang bertanggungjawab mengundurkan diri nampaknya juga bukan jalan keluar. Yang pertama menyangkut modal PSSI di lapangan hijau. Yang kedua kebentur dengan “muka badak” — meminjam istilah “orang dalam” PSSI sendiri beberapa pengurus dan coach yang ingin bercokol terus. Tapi jangan lupa juga: Mereka “bertanggungjawab pada Kongres” (awal tahun depan), bukan pada pendapat umum. Selama ini struktur dan organisasi PSSI memang memberi perlindungan begitu. Alhasil yang tidak pandai berkedok (bertanggungjawab pada Kongres), justru terkena getahnya. Ikut atau dipersilahkan mundur. Lingkaran Setan Jadi PSSI mau diapakan lagi? Terserah pada nasib — kata yang apathis. Dan kini nasib atau faktor keberuntungan itu langsung di telapak tangan Ketua Komisi Teknik, Suparyo, bersama beberapa anggota coach PSSI. Dua tahun terakhir ini Suparyo bukan tidak berikhtiar. Ia memasang kuping dan menjaring pendapat umum. Ia merencanakan memanfaatkan Tony Pogaknik. Ia mengadakan diskusi untuk menyusun pola kebijaksanaan team nasional di Bina Graha. Tapi apa yang terjadi? Konsepnya kenyataan hanya bernilai seberkas arsip di laci. Jadi apa boleh buat, kalau sang nasib menghendaki begitu. Dan apa boleh buat kalau sang nasib sewaktu-waktu menampilkan kesebelasan PSSI bermain baik waktu lawan Juventus dan Uruguay, tapi di lain waktu lebih kerap mendatangkan sial seperti dalam pertandingan lawan Burma (di Anniversary Cup 1974) dan Muangthai (di Merdeka Games 1974). Juga minta dimaklumi, kalau beberapa bulan yang lalu PSSI dilatih Suwardi Arland, lalu beralih ke tangan Djamiat dan terakhir dipingpong ke Aang Witarsa. Sebentar lagi barangkali giliran Endang Witarsa dan Mangindaan. Lingkaran setan ini sudah barang tentu menggelitik emosi massa penggemar sepakbola di sini. Batu ujiannya sederhana: asal menang. Puji dan caci yang mengiringi pasangsurut gelombang prestasi PSSI memang wajar dalam olahraga. Tapi paling tidak orang ingin melihat prestasi PSSI itu dicapai lewat suatu konsep pembinaan yang konsisten. Bukan saja aman bahkan didukung pelaksanaannya dari dalam. Kondisi primer ini saja nampaknya belum terpenuhi. Jeritan menuntut “perombakan total”, “datangkan coach asing” dan “perbaikan nasib pemain”, cuma sekedar mengobati gejala yang sifatnya temporer. Sehingga bukan jaminan sewaktu-waktu. Sang nasib tidak akan mengganas lagi. Misalnya untuk menyusun team junior ke Kejuaraan Junior Asia di Bangkok beberapa bulan lalu tertumbuk pada persoalan kekurangan pemain. Sementara itu wadah untuk berkembangnya pemain-pemain di bawah usia 19 tahun paling-paling hanya tersedia turnamen Piala Suratin dua tahun sekali. Dibandingkan dengan kegiatan PSSI senior di Kejuaraan Nasional, turnamen Piala Suharto, Anniversary Cup, Marah Halim Cup, turnamen Antara-wilayah dan beberapa lagi di luar negeri, cukup memberi garansi merah pada neraca pemain muda. Tak heran kalau Ronny Patti absen dan beberapa pemain cedera di Merdeka Games, prestasi PSSI digandeng sang nasib lagi. Begitupun nafsu untuk menggalakkan kompetisi antar-klub — yang sama-sama diakui sebagai basis paling bawah — nampaknya kandas oleh sistim dan struktur bond yang pertama ditanamkan nenek-moyang Yohan Cruyff di zaman kolonial. Sindikat Dalam periode kepengurusan PSSI pimpinan Kosasih Purwanegara 1971-1975, nampaknya bidang pembinaan team di bawah Suparyo bersama Dewan Coach di bawah Djamiat, relatif tidak lebih baik dari masa komisi teknik di masa Frans Hutasoit dan Syarnubi Said. Malahan terasa lebih buruk. Hutasoit hanya seumur jagung. Sayang ia tidak memiliki “muka badak” untuk bertahan lebih dari 7 bulan (Januari-Juli 1971). Muncullah Syarnuhi selaku kordinator Komtek. Terjadilah kejutan yang menjurus pada akselerasi pembaruan. Langkah-langkah sektoral yang ditempuh di bidang pembinaan team dan pengelolaan di bidang keuangan hampir saja memancing pembaruan secara integral dalam tubuh PSSI. Sayang temperamennya tidak mendukung tekadnya, seperti pula beberapa pimpinan pusat dan tokoh daerah PSSI belum siap dengan perubahan yang bakal terjadi. Namun di balik kekalahan dan kemenangan kesebelasan merah-putih, hal yang esensiil terjadi: ada iklim segar. Lain halnya dengan Suparyo. Hambatan justru dialami pada awal rencana sektoral, sebelum ia sempat menyentuh perbaikan secara integral. Dunia sepakbola kita membutuhkan tokoh-tokoh yang dapat mengerem keradikalan supaya tidak menjurus ke sifat-sifat yang ekstrim. Bukankah ekstrimitas tidak pernah diberi hak hidup di bumi yang subur ini? Syarnubi radikal, tapi tak jarang mengesankan sifat ekstrim. Slparyo konsepsionil, tapi selalu minggir dari benturan-benturan konvensionil. Hutasoit kapan saja, di mana saja dan terhadap siapa saja selalu memperlihatkan seorang “bapak bola” yang fanatik. Untuk menyusun hari depan PSSI saya yakin kombinasi ketiga orang ini masih dibutuhkan — terutama dalam program jangka pendek. Sementara tokoh PSSI lainnya seperti Kosasih, Panggabean, Faisal Thung, Ibrahim dan Djoko yang semuanya mempunyai pengaruh besar di komda-komda dan memegang kunci Kongres, tidak bisa lain ikut berpartisipasi dalam menyiapkan pembinaan jangka panjang. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang menjadi sendi-sendi organisasi PSSI sekarang direlakan pembaruannya. Organisasi yang baik adalah organisasi yang jalan dan menuju ke sasaran — bukan terserah pada nasib yang tak ketahuan juntrungannya. Boleh saja orang mengejek saya bercita-cita terlalu muluk. Lupa akan kenyataan adanya “permainan” di pucuk pimpinan PSSI. Atau memejamkan mata terhadap “sindikat ini dan sindikat” itu yang selalu menghantui setiap pucuk pimpinan mengambil keputusan. Tapi terus terang, berbincang-bincang mengenai hal seperti ini tak kurang pentingnya dari mempersoalkan perlawatan PSSI ke Eropa atau kekalahan dari Muangthai. Atau mempersoalkan coach asing untuk menghibur diri. Apalagi menjelang Kongres PSSI awal tahun depan, di mana kita mengharapkan

terjadinya perubahan-perubahan yang fondamentil yang dapat merubah nasib PSSI. Lukman Setiawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: