Datang untuk pamit

Tempo 28 Juni 1975. NAFAS baru memeng tertiup seketika dalam tubuh kesebelasan PSSI dengan kehadiran Ronny Pattinasarany dan Risdianto. Melangkah ke semi-final setelah membendung ketrampilan team Muangthai dan Malaysia: 5-0 (1–0) dan 3-1 (1-1).
Tapi kebolehan yang diperlihatkan PSSI dalam babak penyisihan itu, menjadi hampir tak ada artinya di kaki pemain-pemain Burma. Jalan bagi kesebelasan Indoneia untuk meraih Piala Aniversary dalam turnamen JAFT VI ini, ditutup rapat oleh Maung Maung Tin dkk dengan kemenangan tanpa balas: 2–0 (1-0). “Di atas kertas, kita seharusnya menang 5–0 (maksudnya: Burma tentu bukan kalah WO)”, komentar Ketua Umum PSSI, Bardosono, tapi “rupanya nasib menentukan lain”. Faktor nasib yang dilontarkan Bardosono itu, agaknya tidak sepenuhnya menentukm kegagalan team Indonesia. Mengingat kerja sama pemain-pemain PSSI dalam menghadapi Burma, tidak serapi waktu mereka melayani Muangthai maupun Malaysia. Cederanya back kiri, Iim Ibrahim ketika bermain dengan Malaysia, menyebabkan timbulnya ketimpangan di lini belakang. Meski posisi yang ditinggalkan Iim dapat ditutup oleh Sutan Harhara, tapi Yuswardi yang menggantikan Sutan sebagai tembok pertahanan di rusuk kanan, tampak mengalami kesulitan dalam menjinakkan kiri luar Burma, Maung Khin Maung Tint. Kerepotan lain juga tampak pada poros halang, Oyong Liza. Ia sering tampak ketinggalan dalam beradu lari dengan penyerang-penyerang Burma. Hingga tidak jarang menyulitkan Ronny Pasla dalam menyelamatkan gawang. Di lapangan tengah, Ronny Patti yang dibebani tugas sebagai penghubung, petang itu kelihatan kurang bgitu terkendali dalam menggembalakan sisa-sisa tenaganya. Niatnya untuk membangun serangan dari lapangan bawah di samping membantu pertahanan oyong Liza memang terpuji. Cuma nafasnya yang tidak menguntungkan untuk menyelesaikan tugas rangkap itu. Andaikata ia melakukan taktik seperti apa yang diperbuatnya dalam merobek-robek pertahanan Muangthai di mana ia bergerak seperlunya dengan kemampuan yang ada – mungkin keadaannya akan jadi lain. Tapi “kekeliruan” yang dilakukan Ronny Patti, bukannya tak berdasar, gelandang kiri, Nobon yang dalam 2 kali pertandingan pertama menunjukkan permainan yang apik, sewaktu menghadapi Burma ia tampak kurang memenuhi harapan dalam meringankan tugas penghubung Ronny Patti maupun Anjas Asmara. Juga dalam menolong Oyong Liza, ia pun tak berbuat banyak. Di lini depan, penampilan yang agak menonjol adalah dalam diri pemain sayap, Waskito. Tapi lantaran ia ketiadaan teman pada sisi yang lain, tidak jarang Waskito bergeser dari sayap kanan ke kiri. Dengan tugas rangkap itu memang sulit untuk mengharapkan Waskito memperlihatkan ketrampilannya. “Tanpa Andi Lala, yang cedera sewaktu pertandingan Ajax-Persija di sayap kiri, barisan penyerang Indonesia memang agak kurang berbahaya”, ujar pelatih PSSI, Wiel Coerver. Di samping “kesialan” yang merundung kesebelasan Indonesia itu, nasib malang yang tak terelakkan menimpa pula pada dua “muka lama” PSSI. Yuswardi dinilai bermain kurang cermat. Sementara Ronny Patti disebut kurang cocok untuk bermain 2 x 45 menit dengan dalih faktor nafas. “Ia terlalu banyak merokok”, alasan Bardosono. Tapi dalih Ketua Umum PSSI itu tidak sepenuhnya mengena jantung persoalan. Bila faktor kegagalan Indonesia dikaitkan pada kesalahan dua pemain itu saja. Karena ketidak-utuhan team tidak semata terletak pada pihaak mereka berdua. Bersarangnya bola di jaring Ronny Pasla pada menit ke-29 babak ke-2 dari kaki kanan dalam Burma, Maung Mya Kyaing tak lain akibat ketidak-rapian Sutan dan Suaeb Rizal menutupi posisi yang mereka tempati. Pada saat mana Oyong Liza juga tidak pada area kawasannya. Tapi, baik Ronny Patti maupun Yuswardi tak hendak membela diri dengan kelemahan kawannya sendiri. “Pokoknya saya sudah mengajukan permohonan pada pak Tjipto (maksudnya: Sutjipto Danukusumo, Ketua I PSSI) dan Coerver untuk mengundurkan diri”, kata Ronny Patti, karena “saya sudah merasa tak sanggup lagi untuk bermain buat PSSI”. Menyedot rokok kreteknya dalam-dalam, Ronny Patti melanjutkan pembelaannya. “Kalau soal rokok yang menjadi permasalahan, kebiasaan ini sudah sejak SD saya lakukan Dan di PSSI, toh bukan saya sendiri yang merokok”. Tanpa mau memperpanjang soal, Yuswardi dengan cepat menyela: “Memang sudah nasib kita begitu, mau apa lagi”. Meskipun Sutjipto Danukusumo dan Coerver menyayangkan keputusan yang diambil Ronny Patti, nampaknya pemain PSM Ujung Pandang ini tak mungkin lagi merubah tekad yang telah disampaikannya. “Keputusan itu telah saya fikirkan masak-masak”, kata Ronny Patti. Ungkapan penyayangan pengunduran Ronny Patti juga ke luar dari mulut dokter Suhantoro. “Merokok itu memang kurang baik bagi elastisitas paru-paru pemain. Tapi kurang menonjolnya permainan Ronny dalam turnamen ini tidak semata-mata karena alasan itu”, kata Suhantoro sambil mengemukakan dalih: lamanya Ronny tak berlatih bersama juga menjadi penyebab kelemahannya. “Kalau saja ia diberikan kesempatan berlatih di bawah Coerver dalam setengah tahun, kemampuannya akan hebat. Karena ia adalah pemain yang memakai otak”. Lepas dari penilaian pribadi Ronny Patti, dokter Suhantoro menambahkan bahwa kondisi fsik yang tak rancak itu juga melanda hampir pada seluruh pemain. Berkaca dari kenyataan itu, gagalnya kesebelasan PSSI agaknya tidak terletak pada kelemahan. Ronny Patti dan Yuswardi semata. Lamanya mereka tidak berlatih bersama, sudah tentu merupakan hambatan untuk membangun kekompakan sebuah team. Tapi kaitan-kaitan permasalahan demikian, jarang yang menjadi topik pembicaraan di kalangan pimpinan PSSI. Sebab, masih ada hal yang bisa dijadikan kambing hitam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: