Diperbatasan Yang Tenang: Berapa …

Tempo 20 September 1975 . SEBELUM KRI Monginsidi menjemput konsul Tomodok dari Dili akhir Agustus yang lalu kapal perusak milik ALRI itu mendarat di pelabuhan Atapupu – 14 Km dari perbatasan NTT Timor Dili.
Ketika menurunkan seregu penyelidik para-amfibi dengan perahu karet tiba-tiba dari arah daratan terdengar ledakan keras. Ledakan apa itu? Mortir? Atau meriam? Apakah pasukan UDT sudah sampai ke situ? Atau Fretilin? Belum ada yang tahu. Namun dengan kesiap-siagaan penuh regu KIPAM TNl/ AL itu mendarat. Begitu sampai di darat mereka disambut oleh seorang perwira TNI/AD. “Bagaimana keadaan?” tanya komandan regu penyelidik terheran-heran “Beres saja pak!” sahut Kapten Mahyudin. Lalu ledakan tadi? “Oh itu anak buah saya meledakkan gunung dengan dinamit untuk membuat jalan raya” lanjut perwira Zeni itu. Masih kurang yakin atas keadaan setempat, sebelum menurunkan Komandan KRI Monginsidi Letkol TNI/AL Subiyakto komandan regu penyelidik itu mencoba memperoleh keterangan dari penduduk. Ternyata keadaan memang aman. Penduduk tetap hidup menurut rutine sehari-hari. Diselingi musik mengunyah sirih dan di sana-sini mabuk tuak aren. Dengan ditonton anggota zeni tak berenjata regu Kipam itu menyimpan senjatanya kembali dan melakukan pendaratan dengaul disambut Bupati Belu Markus Diduk Menjelang akhir bulan itu, pos penjagaan perbatasan wilayah Indonesia dengan Timor Dili di kampung Mota-ain (314 Km dari Kupang) menutup pintu gerbang perbatasan petugasnya hanya terdiri dari 2 anggota polisi. 2 hansip dan seorang petugas imigrasi. Mereka tidak terlalu repot menutup pintu yang satu itu. Sebab caranya mudah: tinggal melintangkan 3 batang bambu panjang saja di muka posnya. “Soalnya banyak mobil dari sebelah yang terus masuk tanpa melapor” begitu seorang petuga berusaha menjelaskan. Dan memang. waktu itu sudah makin banyak pengungsi Timor Dili masuk ke sana. Yang toh kebanyakan tidak naik mobil dan hanya menunggang kakinya sendiri. Pengungsi berjalan kaki itu tidak harus masuk melalui bambu melintang itu. Tempat-tempat lain cukup terbuka. Lewat perkampungan. melalui bukit karang atau bahkan dapat juga menyusuri pantai di belakang pos penjagaan dari kampung Batugade di Timor Dili. Suasana pos penjagaan nyaman. Tak terganggu oleh suasana pergolakan di ibukota Timor Portugis Dili. Ketika Komandan Pengendalian Resort NTT. Kol (Pol) Leatinea tanggal 28 Agustus mengunjungi daerah perbatasan iu petugas pos menyambutnya dengan suguhan kelapa muda. Acara makan siang Kepala Desa Atapupu menyambutnya dengan sate kambing. Kesan nyaman dan tenang ini tertangkap juga oleh sekelompok pengungsi kulit putih. Antonio Gomas Casievero, pengusaha kebun kopi yang terletak 60 Km dari Dili menyatakan keheranannya untuk keadaan yang tenang di perbatasan itu. Dengan bahasa Indonesia yang patah-patah ia berkata: “enak suasana di sini”. Dia masuk ke Indonesia dengan 3 orang temannya dan seorang anak laki-lakinya dengan mengendarai mobil berbendera UDT. Untuk apa? Katanya: “saya mencari kemungkinan untuk mengungsikan keluarga saya yang lain”. Terus Membubung Berapa banyak pengungsi yang sudah berada di wilayah Indonesia? Sulit menghitung dengan angka berapa deras baru pengungsi dari Timor Dili yang masuk ke wilayah Indonesia. Yang tertampung secara resmi di saat kunjungan kerja Daltares NTT itu menurut Bupati Diduk “kira-kira 500 orang” Tapi banyak juga yang tidak tercatat masuknya karena ada yang masuk secara diam-diam menghindari pos penjagaan atau melalui bukit-bukit langsung ke rumah penduduk. Mereka tinggal di sama datang sebagai kenalan atau sanak keluarga penduduk warganegara Indonesia. Seperti dikatakan Gubernur NTT Eliah Tari “pengungsi itu ada yang masuk secara sopan minta permisi tapi ada pula yang menyelundup secara diam-diam”. Dua-duanya tidak ditolak berdasarkan pertimbangan peri kemansiaan”. Hubungan lintas-batas itu sebenarnya sudah terjalin sebelum ada ricuh di Timor Dili. Di Mota-ain 200 meter dari jembatan perbatasan di wilayah Indonesia ada pasar bersama yang dibuka setiap hari Jumat 2 minggu sekali. Dan pada setiap hari Kamis tidak jau1 dari perbatasan rakyat “sebelah” juga membuka pasar bersama. Yang lain orang sebelah menjual minyak Wangi buatan Portugis merek Marlene dan minuman keras Portugis sedang orang sini menjual kapur-sirih. Namun kalau suasana di sebelah berkembang seperti sekarang ini” tutur El Tari Iebih lanjut, ribuan calon pengungsi yang sudah siap di sepanjang perbatasan tak akan terbendung lagi dan akan terus mengaIir ke wilayah kita”. Apa yang dikatakan sang Gubernur itu kemudian ada benarnya. Angka jumlah pengungsi setiap kali membubung paling sedikit di Jakarta. Ketika Amir Machmud melaporkannya pada Presiden. dikutipnya angka jenderal Widodo yang menyebut 1200 orang dan masih bisa meningkat sampai 3000. Sedang Menlu ad interm Mochtar Kusumaatmadja menyebut angka 15 ribu. Yang tidak lama kemudian menjadi 40 ribu menurut catatan Sinar Harapan dan 50 ribu menurut editorial Suara Karya. Mana yang betul mungkin hanya Tuhan yang mafhum. Sinterklas Yang jelas anak buah Gubernur El Tari dan Bupati Diduk yang paling repot. Sebab selain pengungsi kulit putih. kuning dan hitam terus berjubel banyak tamu dari pusat meninjau keadaan di sini, kata Sang Bupati. Pendek kata dalam waktu singkat dia harus membangun sedikitnya 5 tempat penampungan di sekitar perbatasan. Biayanya mahal. Satu tempat yang sederhana saja sudah menelan biaya Rp 400 ribu. Belum lagi fasal pengadaan pangan sandang dan obat-obatan. “Semua kani usahakan dapat dipenuhi dari biaya propinsi karena kami tak punya anggaran khusus. Bayangkan saja. Bagi setiap jiwa sedikitnya perlu biaya Rp 300 sehari”. Bantuan dari Pusat bukannya tidak ada. Sejak mulai ada perembesan pengungsi. Departemen Sosial sudah mendrop 200 ton beras. Setelah peninjauannya akhir bulan lalu kembali Depsos merencanakan akan mengirimkan bantuan 150 ton beras dan uang kontan sebanyak Rp 1.5 juta. Masih dalam rangka pengadaan dan penyaluran pangan itu Bupati Belu pada tanggal 29 Agustus telah melantik Kepala Subdolog Belu. Semuanya itu ibarat bantuan Sinterklas. Sebab para pengungsi kebanyakan rakyat jelata yang membawa “kartu selamat” sekaligus (kartu anggota UDT. Fretilin dan Apodeti) menyeberang dalam keadaan miskin. Yang mereka bawa hanya baju yang melekat di badan dan sepasang baju persiapan untuk mati. Tentu saja mereka tidak dibiarkan menganggur. Di samping ada kursus kilat berbahasa Indonesia mereka juga diajari metode pertanian modern dan menyuntik ternak. Tempatnya konon di kedua pusat perkampungan pengungsi yang sudah berdiri sejak akhir tahun lalu. Yakni di Neno (5 Km dari Atambua ibukota Kabupaten Belu) dan Kefamenanu (ibukota kabupaten Timor Tengah Utara). Semula para pengurgsi yang trampil juga dikerahkan untuk membantu pembuatan jalan raya yang sedang giat dikerjakan oleh Zeni Kodam Udayana sepanjang 100 Km dari Kefamenanu ke tapal batas. Karya Sayangnya kegiatan yang produktif itu tiba-tiba terhenti karena sebab yang sepele saja. Sedang giat-giatnya tentara melatih pengungsi membuat jalan di luaran terdengar desas-desus yang makin santer: berapa sih tenaga tetangga ini akan dibayar? “Wah urusan kok jadi komersiil begini” kata seorang anggota tentara yang sedang ber-operasi bhakti itu. Sebenarnya begitu kata anggota Zeni yang lain: “kami sudah sediakan sekedar dana yang akan diberikan jika pekerjaan sudah selesai. Mudah-mudahan bisa jadi bekal jika negeri mereka sudah aman”. Namun untuk tidak memperpanjang sas-sus yang dapat merugikan kepentingan pengungsi dan nama baik tentara peng-karya-an pengungsi itu pun dihentikan. Dan entah apa rencana selanjutnya agar mereka tidak merasa sekedar menjadi beban saja atas kemurahan hati pemerintah Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: