Lain Tamtama. Lain Utama Lain Tamtama, Lain Utama

Tempo 06 September 1975. JALINAN kerjasama di lini belakang PSSI Tamtama memang terasa agak hidup dengan kehadiran Rusdi Bahalwan di rusuk kiri. Dan Sutan Harhara di sisi kanan.
Ketimpangan dalam membendung serangan lawan, kembali terkendali. Berhadapan dengan kesebelasan Dnepr (Uni Soviet) dan Rosario Central (Argentina) permainan yang mereka suguhkan tidak terlalu buruk. Meski juga tidak terlalu memukau. Menahan Dnepr 2-2 (1-1), dua pekan lalu, kebolehan yang mereka perlihatkan cukup sepadan. Tapi kekompakan di semua lini itu menjadi rapuh lagi sewaktu mereka berhadapan dengan kesebelasan Rosario Centra Di barisan depan, irama permainan trio Waskito-Risdianto-Andi Lala menjadi tumpul di kaki poros halang Burgos J. Ramon cs. Ketumpulan ujung tombak PSSI Tamtama itu, bukan tak punya fasal. Tidak turunnya Junaedi Abdillah di lapangan tengah menyebabhan mereka kehilangan umpan-umpan yang tinggal menunggu penyelesaian. Sementara tugas yang ditinggalkan Junaedi tidak sepenuhnya dapat diambil alih oleh Anjas Asmara. Menghibur Publik Dalam kondisi perubahan pemain iu, yang tersisa dari PSSI Tamtama tak lebih dari pengendalian apa adanya. Ditariknya gelandang kanan Suaeb Rizal untuk menutup kekosongan tenaga penghubung itu, usaha itu ternyata masih belum menolong banyak. Adakalanya, ia malah merepotkan lantaran oper-operan bolanya yang ngawur. Bukan aneh dalam situasi kerja sama PSSI Tamtama yang begitu, Rosario Central yang menduduki tempat ke-12 pada kompetisi Metropolitan First Division di Argentina meraja-lela mengacau barisan pertahanan lawan. Dua gol bersarang tanpa balas di jaring kiper Sudarno. Agaknya untuk memancing maaf dari publik atas kelemahan mereka itu, perandingan mereka bumbui dengan perkelahian massal. Hal mana sebetulnya tak perlu terjadi seandainya mereka bisa menahan emosi. Digantikan oleh PSSI Utama — nama kesebelasan Diklat Salatiga — dalam menghadapi Benfica, Portugal, team asuhan Will Coerver ini memang menampilkan semangat lain dari kakak-kakaknya. Baik dalam mengatur maupun mengendalikan serangan, pola mereka lebih banyak didasari oleh fanatisme ketimbang permainan cantik seperti PSSI Tamtama. Dasar itu tampak cukup merepotkan Benfica. Hingga pemain-pemain kaliber internasional seperti Nelinho atau Nene hampir tak berdaya menembus sistim yang diterapkan Coerver itu. Tapi kebolehan PSSI Utama tersebut mungkin akan jadi lain bila nama seperti Junaedi Abdillah, Risdianto, Harry Muryanto atau Sofyan Hadi tidak turun dalam regu. Lepas dari apa yang diterapkan PSSI Utama, permainan team gabungan ini jelas lebih menghibur publik setelah akhir-akhir ini selalu disuguhi dengan berita kekalahan PSSI Tamtama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: