Masuk indonesia ? timor-tanpa jadi tumor

Tempo 20 September 1975. DR Santos agak bingung dan capek. Buat pengacara yang pernah selama 20 tahun menjalankan profesinya di Mozambique – di mana dia dikenal sebagai simpatisan Frelimo – 2 hari perundingan di Jakarta itu tampaknya melelahkan juga.
Kerumunan wartawan asing dan dalam negeri mengerubunginya setiap kali mau masuk dan ke luar ruang sidang di Pejambon. Perundingan toh kemudian tidak menghasilkan kata sepakat dengan tuan rumah yang merasa terganggu dengan “kebakaran” yang terus membara di Timur NTT. Pada wartawan TEMPO yang berusaha menemuinya di kamarnya di Hotel Indonesia, jawabannya hanya singkat dan mengelak: “Dalam keadaan sekarang, saya tidak bisa mengeluarkan pernyataan apa-apa. Bayangkan saja: saya harus membuat satu pemecahan bagi masalah Timor yang pelik ini, yang bisa diterima oleh semua fihak. Pemerintah Indonesia, pemerintah Australia, partai-partai di Timor Portugis, dan, pemerintah, saya sendiri di Lisabon. Pemecahannya harus sedemikian rupa, jangan , sampai Indonesia mengadakan invasi militer ….”. Begitu ucap bekas Menteri Daerah “seberang Lautan” Portugal di saat pemimpin Sosialis Dr Mario Soares masih memegang posisi Menlu dalam Kabinet Portugal yang sudah 5 x berganti sejak “revolusi bunga” tahun lulu: Dan pintu kamarpun ditutup, karena sang duta khusus Presiden Costa Gomez mau tidur. Dan mungkin pula bermimpi tentang invasi bala tentara Indonesia ke negeri jajahannya itu. Urat syaraf Tapi betulkah ketakutan akan invasi militer Indonesia itu? Sampai saat itu, yang ada hanya “invasi urat syaraf”. Meskipun minggu lalu dikabarkan partai Fretilin yang menang perang di Timor mengirim kawat ke PBB: pasukan Indonesia, katanya, sudah mendarat di antara Cailaco dan Atsabe. Tapi sementara itu, dari perbatasan kabupaten Belu (NTT) aengan Timor Dili hampir tiap hari tersiar kabar dan gambar para pengungsi, yang sudah siap untuk bergabung dengan Indonesia. Dan masih pada pagi hari Sabtu itu juga sebelum menjemput sang duta di Hotel Indonesia, kuasa usaha Kedubes Portugal, Dr Girao yang berkantor di gedung seberangnya kedatangan tamu mahasiswa Timor asal Belu yang tidak dapat dielakkan lagi. 7 orang mahasiswa Timor yang berkuliah di Solo dan Yogyakarta, itu mewakili Himpunan Mahasiswa Timor se Ja-Teng dan DIY. Mereka baru sehari tiba dari Semarang, khusus untuk menyampaikan petisi inereka pada Dubes Portugal di Jakarta (jabatan mana masih lowong) dan pemerintah Republik Indonesia. Sejak jam 9 pagi mereka sudah menunggu di ruang sekuriti Wisma Nusantara di lantai 12,B, sebelum Kuasa Usaha Portugal itu masuk kanfor di lantai 23 sejam kemudian. Tampaknya manajemen Wisma Nusantara begitu berjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya demonstrasi atau delegasi – baik wartawan ataupun bukan – ke kantor Kedubes Portugal yang mini itu. Sehingga papan “Embassy of Portugal” pagi-pagi sudah dicopot dari panel. Memang pada umumnya orang di luar negeri menduga bahwa akan ada invasi Indonesia. Itu bisa dibaca dari kepala kepala berita koran asing yang beredar di sini. Serta tumpleknya sejumlah-wartawan asing ke Jakarta ketika perang saudara di Timor sedang panas panasnya. Dugaan ini antara lain bertolak dari kehadiran beberapa kapal perusak TNI/ALRI hanya 4 mil dari pantai Timor Dili. Plus “lampu Hijau” yang dinyalakan oleh, sementara kalangan di dalam negeri sendiri. Antara lain koran bebas Sinar Harapan, yang lewat tajuk rencananya tanggal 25 Agustus yang lalu menyatakan bahwa “Saat-Saat Yang Menentukan Sudah Tiba”. Menurut-koran sore itu, ada 3 elemen pokok mengapa “di pundak RI dibebankan ‘tugas untuk mengadakan karantina terhadap situasi anarki di Timor Portugis”. Pertama, karena Portugal secara de facto telah bersikap lepas tangan terhadap jajahannya itu. Dengan demikian tercipta suatu situasi varkum kekuasaan. Kedua pertempuran itu sudah kehilangan makna politiknya dan menjurus ke situasi anarkhi di mana kawan dan lawan sudah tidak, jelas lagi. Ketiga, dari negara-negara yang berdekatan dan langsung berkepentingan atas stabilitas Timor Portugis yang mampu bertindak memulihkan situasi di sana adalah Republik Indonesia. Malah jika ada negara lain yang intervensi di sana, hal itu justru akan mengkhawatirkan kita. Ad interim Namun ternyata RI tidak mengambil langkah macam itu. Ketika perut dengan babak pertama dengan utusa Presiden Portugal berlangsung 29-3 Agustus yang lalu, Menlu ad Inetrm, Mochtar Kusumaatmadja masih mengusulkan pembentukan komisi bersama (joint authority) antara Indonesia. Portugal dan beberapa negara tetangga guna menghentikan: peperangan di Timor. Dr Santos kabarnya setuju. Begitu Pula Malaysia, yang dicalonkan oleh Indonesia untuk turut dalam “Komisi bersama” itu. Dengan catatan, Malaysia sendiri tidak akan menyumbang pasukan. Maka Santos pun dilepas untuk menghubungi Australia – yang dicalonkan Portugal untuk duduk dalam komisi itu. Ia juga berusaha menghubungi Gubernur Lemos Pires di pulau Atauro, dan mencoba melerai kedua, partai yang berperang, UDT dan Fretilin. Namun ternyata Canberra bukan hanya keberatan untuk kirim pasukan, duduk dalam Komisi Bersama yang tidak mendapat mandat PBB pun tampaknya mereka sungkan. Dan hasil lain Pula: gara-gara bolak-balik terbang ke Canberra-Darwin -Atauro-Darwin pulang pergi, fihak yang bertempur mendapat kesempatan bermain lebih lama lagi. Dan Fretilin pun menang. Janji Santos untuk melerai kedua fihak itu pun jadi omongkosong belaka, karena UDT sejak perundingan Santos-Mochtar di Jakarta sudah siap-sip angkat kaki dari Dili ke Batugade. Di situ mereka kemudian bergabung dengan Apodeti (lihat box: Kup Atau Kontra Kup?). Prof Mochtar kemudian jadi tidak enak sekali. Terutama ketika Fretilin mengumumkan niatnya menyawakan kemerdekaannya secara sefihak tanggal 20 September ini. Atau, setidak-tidaknya, mengadakan pembicaraan tentang penyerahan kemerdekaan dari Portugis di Canberra, satu tempat yang disenangi Ramos Horta karena banyak pendukung-pendukung Fretilin dari kelompok radikal, mahasiswa, partai-partai oposisi dan serikat buruh Australia disana. Niat ini kemudian dimentahkan lagi oleh Dr Santos, yang kepingin kembali. ke konsensus Macao Juni 1975, dengan program dekolonisasi Timor Dili yang selambat-lambatnya berakhir tahun 1978. Tapi sesungguhnya, Indonesia bukannya tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Sebab tanpa mengadakan intervensi militer di bawah bendera apapun, pertempuran di Timor pun diharapkan berakhir menjelang habisnya suplai amunisi dan logistik pasukan-pasukan yang bertempur. Asal saja tidak ada bantuan dari luar. Kebetulan, Kebetulan Untuk mencegah masuknya bantuan asing, Indonesia dan Australia telah bekerjasama secara rapi sekah dengan membuat “pagar betis” di perairan sekitar Timor. Menurut seorang pengamat Timor, 2 kapal perusak Australia yang kemudian hanya bersandar di pelabuhan Darwin fungsi pokoknya bukan untuk menjemput pengungsi. Melainkan berjaga jaga apakah ada kapal asing yang mencurigakan memasuki perairan separo pulau yang sedang gawat itu. Droping senjata, amunisi dan sandang-pangan memang tidak perlu menggunakan kapal perang. Sebab bisa juga melalui kapal-kapal nelayan atau trawler asing. Kebetulan Pula, sejak Maret yang lalu sampai Desember yang akan datang AL dan AU Australia sedang melakukan, patroli bersama di” Laut Timor yang berbatasan dengan pantai Utara dan Barat Daya Australia. Maksudnya untuk menertibkan penangkapan ikan secara liar oleh nelayan-nelayan Indonesia dan Taiwan yang nte-lalitgar kedaulatan wilayah itu. Tapi siapa tahu ada juga fungsi gandanya? Atau penertiban nelayan asing itu kini sekaligus ditumpangi fungsi “pagar betis” untuk cepat meredakan pertempuran di Timor?” Kebetulan Pula, ada 3 kapal Perusak Indonesia yang selalu siap di depan pelabuhan Dili ketika pertempuran sedang seru-serunya. Salah satin nya, KRI Monginsidi memang ditugas. untuk menjemput Konsul RI serta keluarga konsulat dan orang-orang Indonesia yang mengungs
i di Konsulat. Tapi ada dua kapal perusak lainnya. Sementara itu, Komandan Kapal AL Halong, Ambon sejak beberapa bulan berselang sudah juga menutup perairan Maluku yang berbatasan dengan Nusa Tenggara, Timor Dili, Australia dan Irian Jaya, bagi kapal-kapal asing yang tidak mendapat izin menangkap, ikan di sana. Nah, itu semua tentu tidak kecil jasanya dalam mencegah berlarut-larutnya pertempuran di Timor itu. Sebab pertempuran itu mernang membikin Indonesia & Australia kecipratan getah: pengungsi-pengungsi yang mengalir ke Timor Indonesia dan Darwin. Lebih dari 1000 orang kepingin menetap di Australia secara permanen. Bagi Portugal sendiri, yang sudah kenyang dan muak menghadapi perang-perang kolonial di Afrika, Timor bagaikan usus buntu yang sudah meradang dan siap untuk dipotong kapan saja dari tubuhnya yang sudah compang-camping. Komunis, Separatis Sekarang ini, keadaannya agak merepotkan. Sebagian besar wilayah oleh Fretilin diklaim sudah dikuasainya. Kecuali daerah perbatasan di mana Apodeti banyak pengikutnya. Juga UDT yang kini sudah berbalik mendukung Indonesia. Memang, di beberapa kantong pedalaman dikabarkan masih terjadi pertempuran antara Fretilin dan sisa-sisa UDT/Apodeti. Tapi berapa lama kedua belah fihak bisa terus bertempur kalau memang betul-betul tidak ada suplai amunisi dan logistik dari luar? Meski begitu Indonesia bisa dibuat kewalahan oleh suatu proklamasi kemerdekaan secara unilateral oleh Fretilin. Sebab ini konon bisa, mengundang rivalitas Cina-Rusia ke pojok Tenggara kepulauan ini yang pantulannya bisa menggema sampai ke jantung kedua negeri tetangga itu. Nah, dalam keadaan begitu bisakah Indonesia tetap bersabar? Sebab keceruasan terhadap bahaya Komunis di Timor Portugis, bergandengan erat dengan kecemasan bahwa, kekuatan itu akan memberi angin pada gerakan-gerakan separatis RMS dan OPM. Namun menanggapi setumpuk kecemasan itu, dengan politik bersahabat yang lebih lunak sebagai abang yang besar dan kuat Indonesia jugs tidak perlu terlalu risau terhadap perkembangan dalam negeri Timor Portugis. Sebab sekali batu sudah digelindingkan, berupa invasi militer guna menertibkan koloni itu, pantulan yang tidak disenangi di daerah-daerah tetangga sulit untuk dicegah. Sehingga operasi bisul yang semula kecil, salah tingkah: sedikit bisa merembet jadi tumor yang menahun. Maka pilihan tampaknya tetap: biarlah Timor yang sebelah sana itu masuk Indonesia, tapi dengan cara yang tenang, tertib, tertib. Barangkali itu pula sebabnya Menlu Adam Malik memperingati pemerintah Portugal untuk cepat bertindak mengakhiri perang saudara di Timor Portugis. Sepulang dari PBB Sabtu pagi lulu, kepada pers di Halim Perdanakusumah, menjawab pertanyaan apakah Indonesia akan mengambil tindakan macam India masuk ke Goa – sebagaimana disangka pers Barat akhir-akhir ini Malik tegas menjawab: “Indonesia bukan India, jadi mengapa kita harus memasuki rumah tangga orang lain”. Sekalipun begitu, Menlu Malik ada juga mengemukakan harapan agar Portugal menentukan sikap tegasnya. “Kita sedang menunggu agar Portugal mengumumkan dan mengakui bahwa mereka tidak lagi punya kekuasaan di Timor”, katanya. “Dengan begitu kita baru akan masuk untuk menolong menyelesaikan sengketa di sana”. Barangkali minggu ini, atau sebentar lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: