Ramai-ramai keluar

Tempo 18 Oktober 1975. RUMAH di pojok jalan HOS Cokroaminoto itu tampak banyak dikunjungi orang hari Ahad kemarin. Buyung Nasution, tuan rumah yang masih gondrong berpeci itu, kelihatan sibuk menerima tamunya siang itu.
Ada apa nih? “Sekedar sukuran di antara keluarga dan sanak famili”, kata Ria isterinya. Bagi Buyung, pembebasannya mempunyai arti tersendiri. Bukan karena ia kembali bisa memimpin LBH. Tapi seperti katanya-pada TEMPO, doa saya terkabul agar bisa bermalam takbiran bersama keluarga, berziarah dan ber-lebaran sebagaimana orang bebas lainnya”. Demikian juga bagi ke- 11 mahasiswa yang dibebaskan oleh Jagung Ali Said, selepas “cuti” Lebaran bagi mereka selama 4 hari. Dan berikut ini adalah cuplikan wawancara yang dilakukan Harun Musawa bersama Slamet Djabarudi dengan pengacara terkenal dan beberapa mahasiswa itu. Buyung Nasution Penahanan terhadap dirinya sejak 17 Januari 1974 tengah malam dianggapnya sebagai risiko perjuangan. “Itu saya terima sebagai cobaan untuk menguji berapa kadar kegigihan saya dalam menegakkan kebenaran”, katanya. “Saya harus memberi contoh menjadi pemimpin yang relatif muda, berwatak, punya pendirian dan menanggung risiko dengan berani serta ikhlas”. Pengacara yang di antara teman dekatnya lebih suka dipanggil “abang” itu merasa lebih matang setelah menjalani hukuman yang nyaris dua tahun itu. “Kini saya jadi lekas iba terhadap orang yang ditahan. Sebabnya? “Coba bayangkan mereka yang ditahan 7 sampai 10 tahun tanpa proses, sedang belum tentu mereka bersalah”, jawabnya. Makanya dia beranggapan perlu ada suatu pendekatan baru bagi para tahanan. “Suatu pendekatan yang lebih luas, lebih mendalam dan lebih human”. Merasa lebih menghayati nasib kaum tahanan, kini ketua LBH itu masih akan merampungkan semacam memoir yang sudah selesai 3/4 bagian, berjudul: Pengalaman Ditahan Dilihat Dari Segi Hukum. Ia jadi kurus sampai susut 8 kilo. Buyung yang selama masa terkucilnya itu suka aerobics dan latihan yoga, merasa turun nafsu makannya selama dalam tahanan. “Sekalipun saya sering juga dikirimi makanan enak”, katanya. “Lagi pula saya harus membagi-bagi kepada sesama tahanan yang kurang atau tidak mendapat kiriman dari keluarganya”. Pernah selagi beryoga lehernya terkilir. Salah satu urat syarafnya jadi terganggu, hingga Buyung beberapa lama perlu dirawat di rumah sakit. Maka timbul desas-desus bahwa dia sakit syaraf dan suka teriak-teriak seperti orang gila. “Saya jengkel sekali mendengar ada yang meniupkan info begitu”, katanya. Namun yang lebih menjengkelkan Buyung adalah “penjagaan yang begitu ketat selama saya dirawat”, katanya. “Bukankah dengan cara begitu pemerintah telah memboroskan tenaga dan waktu hanya untuk menjaga seorang tahanan yang lagi sakit?” Ketatnya penjagaan juga membuat Buyung merasa kasihan kepada para petugas. “Uang saku mereka begitu kecil dan tidak disediakan tempat untuk tidur”. Selasa malam l4 Oktober ini Buyung akan mengadakan selamatan dan mengundang teman-teman dekatnya. “Nah, setelah itu baru saya akan cukur ini rambut seperti dulu”, katanya. Tapi sebelum upacara cukur rambut yang panjangnya 40 senti itu–simbol dari kebebasannya dalam penjara–Buyung ingin berpuasa dulu selama 3 hari. Yudil Herry Problim yang dihadapi bekas ketua DM-UI yang berumur 27 tahun ini adalah bagaimana mengatasi hambatan psikologis. Sebagai contoh adalah sikapnya yang tidak bisa menerima keadaan yang menurut Yudil, seolah-olah “dipaksakan”. Ditangkap 13 April 1974 tapi baru mendapat surat penahanan dari Kejagung 8 Januari lalu — berat badan Yudil malah tambah 5 kilo. Mungkin karena dia teringat pesan Mochtar Lubis yang pernah ditemuinya sebelum ditahan. Apa isi pesan itu? “Begitu ditahan anggaplah hukuman itu akan berlangsung lama”, katanya. “Kalau sebentar itu namanya menang lotre”. Nah, agaknya dia kini merasa dapat lotre. “Pembebasan saya sungguh merupakan surprise” katanya. “Sebab menurut perkiraan saya baru akan dikeluarkan akhir tahun ini”. Ada “kemenangan” lain lagi selama ditahan. Selain tekun mempelajari beberapa bahasa asing terutama Arab, kini calon dokter itu sudah pula jadi pengrajin. Dia pandai membuat koper dan lemari. Theo Sambuaga Pemuda asal Minahasa ini tak lupa mengenakan jaket kuning UI ketika dibebaskan dari tahanan. Dia juga merasa mendapat “surprise”. Sama halnya dengan Buyung? Theo juga merasa lebih menghayati orang tahanan. “Perlakuan terhadap diri saya cukup wajar, juga tak pernah dipukul seperti saya bayangkan semula”, katanya. “Tapi saya tidak bisa menutup telinga terhadap para tahanan yang sudah lama di situ”. Menurut Theo para tahanan itu mendapat perlakuan tidak baik, hingga tidak jarang dia menjadi tempat mengadu. “Saya mengajukan appeal agar tindakan kekerasan itu dihindari”. Mahasiswa FIS-UI tingkat akhir ini kini lebih menguasai bahasa Inggeris. Itu berkat kursus 7 bahasa yang dibentuk para tahanan: Jerman, Perancis, Belanda, Inggeris, Spanyol, Arab dan Jawa. Bambang Sulistomo Ditahan 21 bulan yang lalu, anak Bung Tomo ini pernah dianggap menggaduhkan sidang pengadilan Hariman Siregar, ketika ia tampil sebagai saksi berpakaian adat Jawa komplit dengan menyunting kembang melati. Rambut sedikit gondrong tapi teratur. Segar. “Saya dapat pelajaran menyabarkan diri”, katanya serius. Yang masih belum diketahuinya cuma, “untuk apa sebenarnya menahan saya begitu lama”, katanya. “Rupanya saya masuk hitungan juga”. Dia tidak habis pikir, karena kedudukannya sebelum ditahan hanya sebagai anggota MPM (legislatif), jadi bukan eksekutif seperti DM-UI. Juga ketika menyambut Menteri Pronk, “di situ saya cuma anak buah”, katanya. Tapi dia sendiri tidak merasa menyesal. “Itulah konsekwensi ikut dalam gerakan mahasiswa”. Sekalipun begitu, mahasiswa tingkat akhir FIS-UI itu berkesimpulan, “penahanan saya hanya diperlukan untuk memberikan kesaksian dalam perkara Hariman dan Syahrir. Masing-masing tak lebih dari 15 menit”. Tapi yang paling menyenangkan hatinya, “begitu keluar dari tahanan ternyata mendapat sambutan yang hangat dari teman-teman dan Rektor UI sendiri”. Berumur 25 tahun, kini Bambang ingin menumpahkan perhatian untuk selekas mungkin menggondol titel sarjana ilmu politik. Eko Djatmiko Seumur dengan Bambang, Eko juga ditahan 21 bulan lalu, sebulan sebelum ia ujian sarjana kedokteran gigi. Ia juga belajar sabar, sering merenung dan berkesimpulan: “Lain kali jangan bertindak serampangan”. Pokoknya, “sekarang harus belajar sabar, tenang, teliti dan jangan emosionil”, katanya. Dia jadi sadar bahwa gerakannya dulu itu berbahaya, “karena ada undang-undang anti subversi, yang bisa membuat siapa saja dapat tersangkut di dalamnya”. Selama dalam tahanan Eko juga hanya dua kali memberikan kesaksian dalam perkara Hariman dan Syahrir. “Selebihnya saya tidak tahu untuk apa saya ini diperlukan”, katanya. “Tapi saya yakin tidak terlibat gerakan subversi”. Sekalipun merasa tidak mendapat ‘sesuatu’ dari penguasa, stempel “tahanan Malari ternyata bukan cap yang tercela di tengah masyarakat. Buktinya ‘ “Begitu bebas saya diberi ucapan selamat di mana-mana: mulai dari Rektor, teman mahasiswa, bibi-bibi asrama Ul sampai tukang jual koran di Blok M. Yessy Moninca (27) Hari kebebasan dirasakannya mendebarkan hati. Karena ‘info’ itu selah muncul pada setiap hari besar. Namu setelah cuti lebaran 5 hari, hari pembebasannya kali ini benar-benar makbul. “Bagi saya surprise juga”, kata Yessy, “karena kami bebas tanpa syarat apa-apa”. Untuk bepergian ke luar kota, ada baiknya lapor dulu kepada Laksusda. Bukan apa-apa “agar sama-sama baik saja”. Cara pemerintah membebaskannya dianggapnya, “jalan keluar yang baik”. Tanpa peradilan? “Baiknya memang melalui pengadilan”, katanya, “tapi pertimbangan politis saya bisa mengerti”. Pemeriksaan selama dalam tahanan “baik-baik saja”, katanya. “Saya merasa ada usaha dari fihak pemeriksa untuk mencari faktor-faktor obyektif”. Seperti tuduhan semula yang melibatkan
kami sebagai pelaku pembakaran kota Jakarta, secara obyektif berubah jadi: karena gerakan itu mengakibatkan peristiwa pembakaran, tambahnya. Remi Leimena Selain pandai-main gitar, bekas ketua DM-UKI ini senang melukis selama di penjara. Jumlahnya sampai 15 buah. “Lukisan sederhana dengan tema manusia”, katanya. “Itu saya sukai karena toh pada akhirnya manusialah yang menentukan”. Sebuah lukisannya–Kasih dan Kebencian–sedang dalam penyelesaian. “Bukankah antara kasih dan kebencian itu mudah sekali berganti”, lanjut Remi yang juga sering diminta berkhotbah dalam tahanan. “Sekarang kasih, mungkin sebentar lagi benci”. Belajar bahasa Perancis, Spanyol dan Belanda, putera Dr Leimena yang gemar olahraga itu juga memberikan les gitar. Salah seorang muridnya adalah Prbf. Sarbini Sumawinata yang kini tahanan rumah .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: