Warna Agung, Warna UMS

Tempo 18 Oktober 1975 PADA tanggal 1 sampai dengan 8 Oktober yang lalu, team Warna Agung, juara antara klub perusahaan se-DKI Jaya mengadakan perlawatan ke Singapura.

Wartawan TEMP0, Lukman Setiawan yang ikutt menyertai perlawatan tersebut menurunkan laporan berikut: Cuma satu pertanyaan Benny Mulyono ajukan pada saya. “Perlawatan kita ke Singapura sukses atau tidak?” Ini terjadi di muka New Serangon Hotel, tempat menginapnya pemain-pemain Warna Agung, beberapa saat setelah mereka melakukan pertandingan terakhir melawan Jebson & Jesson. Seperti biasa, Benny, Team Manager Warna Agung sering ngobrol dengan para pemainnya seusai pertandingan. Sulit juga untuk mencari dalih negatif yang bisa mengurangi keberhasilan perlawatannya. Paling tidak jika dikaitkan dengan “Kondisi dan situasi” yang dihadapi mereka menjelang dan selama perlawatan itu berlangsung. Di Jakarta misalnya, Persija sedang sibuk menyusun team untuk menghadapi putaran final Kejuaraan PSSI. Sementara pada akhir bulan September itu penunjukan ke-30 calon pemain Persija untuk menghadapi Kejuaraan PSSI belum diputuskan. Sehingga cukup ber-alasan jika pimpinan Persija hanya memberi keleluasaan pada “Warna Agung (yang sebagian besar terdiri pemain-pemain UMS) untuk melakukan perlayatan dari tanggal 1 sampai dengan tangal 11 Oktober. Tanggal 12 Oktober sudah harus siap di Jakarta. Di Singapura keadaan pada waktu yang bersamaan tidak kurang sibuk pula. Konlpetisi sedang berlangsung. Football Assoiation of Singapore (FAS) atau Persatuan Sepakbola Singapura pun sedang menyusun team nasionalnya. Sehingga dikluarkan peraturan yang melarang klub-klub anggtanya untuk memakai calon pemain pemain Nasional, meskipun pemain-pemain itu boleh bermain terus dalam kompetisi. Lawan kesebelasan dari luar dilarang. Nama Indonesia Tapi Benny yang juga menjadi direktur perusahaan cat “Warna Agung” enggan melangkah mundur. Dia sudah terlanjur menjanjikan tur ke Singapura kepada teamnya yang telah berhasil keluar sebagai juara antar klub perusahaan se-DKI Jaya. Persiapan dilakukan dengan seksama. Antara lain pertandingan percobaan antara UMS lawan Persija di petak Sinkian dan Menteng. Hasilnya menang 2-0 dan seri 0-0. “Siapapun lawan kita di Singapura nanti, jangan kita pandang enteng”. ujarnya beberapa saat sebelum berangkat. “Dan bila ternyata kita tidak bertanding pun tidak apa-apa, asal selama perlawatan kita kompak dan berdisiplin. Dan jangan lupa selama kita di luar negeri, kita pun mewakili nama Indonesia”. Dalam suasana ini berangkatlah mereka ke kota Singa. Restriksi FAS ditembus dengan kompromi pertandingan tidak resmi”, meskipun sifatnya jaul lari sekedar “pertandingan persahabatan”. Lawan Toa Pajoh, kesebelasan Divisi I FAS yang pada akhir September menduduki tempat ketiga dari 10 kesebelasan. Warna Agung menang 2-0. Lawan kesebelasan Geylang International, anggota Divisi I lainnya yang menduduki tempat ke-6 (tapi baru 3 kali main dan menang terus), Warna Agung menang 2-1. Dalam pertandingan berikutnya, Warna Agung peroleh lawan terlemah Trevira dan menang menyolok 12-0. Pertandingan terakhir dan merupakan puncak perlawatan terjadi waktu lawan Jebson & Jesson, berakhir 0-0. Kesebelasan J & J ini praktis merupakan kesebelasan bayangan nasional Singapura. Mereka “dicarter” untuk membela nama perusahaan J & J. Dan harap dimaklumi bahwa dalam merintis ke arah sepakbola profesional di Singapura tampaknya perusahaan J & J ingin maju paling depan. Ia berhasil membuat kombinasi dari sebagian besar pemain Toa Payoh dan Geylang International menjadi satu kesebelasan yang mempunyai kerjasama yang rapi dan lagi fanatik. Pemain nasional itu terdiri dari Brian Rosario (kiper), Rajagopal (spil), Brian Bachelor, Dullah Kasim, M. Kumar dan Syamsuddin Rachman (penyerang). Berdasarkan data tersebut perlawatan “Warna Agung” sukses. Tapi di sini aya ingin menjawab pertanyaan Manager Benny–juga pertanyaan penggemar sepakbola lainnya dengan melihat pelbagai aspek dan perspektif yang diperankan “Warna Agung”. Dalam kompetisi Persija tahun ini UMS menduduki tempat ke-7 dari 16 peserta. Para pemain dan cadangan utamanya: Sutriono. Sunarya (kiper), Awaluddin, Udin, Muhedc (back) Widodo, Gotrie (spil) Edi. Risdianto Manap, Renny Salaki, Basri (gelandang) Sunardi, Martin, Budi Rifa Widarma, Paulus, Perreira (penyerang). Di antara 19 pemain itu Martin, Edi dan Firmansyah yang bukan karyawan Warna Agung”. Para pelatih terdiri dari Drg. Endang Witarsa dan asisten Andreas Komala. Dalam waktu dekat ini akan resmi menggabungkan diri Stanley Gouw yang akan bertindak sebagai ceoach fisik. Tapi laju pembinaan dan prestasi seperti yang dicapai UMS akhir-akhir ini harus diakui tak lepas dari campur tangan Benny Mulyono, Direktur Warna Agung. Terutama di bidang materil dan finansil. Bahkan dilihat dari akrabnya hubungan antara Benny sebagai atasan dan para karyawan pemain, kewibawaan Benny sangat dominan. Sejauh menyangkut team Warna Agung, tentu saja Benny berhak ikut bicara sekalipun menyerempet soal teknis. Ini bisa menyulitkan. Karena selain Endang historis sangat menentukan dalam UMS, ia mempunyai sifat yang tak mudah menyerah pada pandangan orang lain. Apalagi jika hal itu menyangkut persoalan teknis. Ini masalah klasik. Tapi kompromi teradi. “Selama menyangkut UMS jangan coba-coba mencampuri wewenang saya”, ujar Endang, “tapi jika menyangkut Warna Agung, ya boleh saja dia ikut campur”. Endang memang bukan karyawan perusahaan cat itu. Dalam hal membina Warna Agung ini nampaknya Andreas Komala lebih tepat diberi mandat penuh. Kehadiran seperti tokoh Benny Mulyono dalam sepakbola ibukota plus persoalan yang bisa timbul, nampak sudah merupakan gejala umum. Di satu fihak klub-klub perlu dukungan materil untuk berkembang, di lain fihak mereka ingin mempertahankan identitasnya. Satu hal yang patut difikirkan dalam perlawatan Warna Agung (UMS) itu adalah kehadiran Benny berhasil menciptakan suasana kompak dan disiplin di antara para anggota team. Tapi adakah suasana itu akan tetap terpelihara seandainya dia tidak langsung hadir’? Adakah para pemain akan tunduk pada Chandra atau Suharto dua tokoh Warna Agung lainnya yang hanya berstatu karyawan’? Soal pelembagaan tentunya. Di kala kita diberondong oleh berita yang penuh kekecewaan dari PSSI, ada baiknya jika kita berpaling kepada pembnaan klub-klub. Warna Agung/UMS seperti halnya dengan klub-klub lainnya dalam dunia sepakbola nasional agaknya condong ke fihak silent majority. Bungkem tapi tetap bergerak mengembangkan potensinya. Menjelang UMS genap berusia 70 tahun Desember yang akan datang, rencana segi-tiga antara Jayakarta-Assyabab-UMS sebagai puncak perayaan, tentu merupakan tontonan yang bermutu buat penggemar sepakbola.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: