Dibalik Seragam Putih Merah

Tempo 28 Februari 1976. UNTUK pertama kali Kesebelasan Nasional Indonesia memakai kostum baju kaos putih, celana merah dan kaos kaki putih.
Biasanya merah putih atau lainnya itu terjadi pada pertandingan Pre Olimpik ketika mereka berhadapan dengan Kesebelasan Republik Demokrasi Rakyat Korea. Jumat tanggal 20 Pebruari. Warna baju kaos merah dipakai kesebelasan tamu. Seratus ribu lebih penonton yang berjejalan di Stadion Utama Senayan tak acuh akan kelainan ini. Tapi beberapa penonton yang berfirasat, tak dapat mengelak dari kejanggalan ini. “Ini tentu ada faktor X”, kata mereka. Dan siapa berani membantah, bahwa kesudahan pertandingan turut mendukung filsafat tersebut. Membuka pertandingan pertama lawan Singapura dengan permainan yang canggung 0-0, Indonesia kemudian mengantongi kemenangan lawan Papua Nugini dengan 8-2. Beranjak ke pertandingan berikut lawan RDR Korea, ternyata apa boleh buat — permainan Indonesia yang bermutu dan menyala-nyala, tak kuasa menahan Korea Utara 1-2. Yang membikin orang penasaran, adalah kedua gol yang dicetak lawan tidak seindah gol balasan Indonesia lewat kaki kiri Johannes Auri. Mengapa Lukman Santoso poros halang yang bermain cukup baik, tapi pada suatu saat justru membuat kontrol yang kurang cermat. Sehingga memberi peluang pada lawan untuk membuat gol? Dan mengapa hanya 12 menit menjelang bubar bisa terjadi momen yang memukau pertahanan Indonesia: mereka seolah menonton bola yang melambung dan membiarkan menyentuh tanah tanpa menghalangi lawan membobolkan gawang Ronny. Meskipun teorinya Ronny sendiri pada adegan tersebut seyogyanya mengambil inisiatif merebut bola, karena peristiwa itu terjadi di dalam daerahnya. Tapi itu sudah terjadi. Sesal kemudian hanya memalingkan suporter PSSI pada saat-saat menjelang mereka turun ke gelanggang. Persiapan teknis dan fisik yang selama ini dilakukan Coerver, Hendriks dan Ilyas Haddade nampaknya kurang ditopang oleh suasana psikologis yang memadai. Dan ini memang harus disesalkan. Misalnya pada upacara penyambutan para peserta di Balai Kota, suasana psikologis tidak menguntungkan Indonesia. Hadirin kaget melihat anggota team Pre Olimpik Indonesia tidak mengenakan seragam sama sekali. Sementara ke-empat team peserta lainnya memakai seragam lengkap dengan lambangnya. Kalau hal itu diterima oleh team Indonesia sebagai hal yang lain, tidak menjadi masalah. Tapi di balik pakaian yang beraneka ragam itu, ternyata terkandung rasa tidak puas terhadap pimpinan. “Soalnya bukan pimpinan tidak menyiapkan kami seragam”, kata Risdianto, “tapi bagaimana kalau ukurannya dibikin seenaknya”. Konon penjahit telah mengambil ukuran setiap pemain yang pada bagian tertentu dibuatkan menurut keinginan masing-masing. Tapi ternyata, “cutbrainya disegel”. Dan menurut selera pemain, “terlalu konyol untuk zaman sekarang”. Begitulah jadinya. Mereka menghadiri resepsi penyambutan dengan gaya masing-masing. Tapi hal itu cepat teratasi. Ketua Umum PSSI Bardosono bertindak cepat. Langsung seorang penjahit dibawa ke Ragunan dan sekali lagi dibuatkan seragam yang lebih sesuai dengan kehendak pemain. Semula seragam yang mubasir itu terdiri dari baju model safari warna krem dan celana abu-abu. Otoriter Peristiwa yang tidak kurang mengganjel di hati pemain adalah isyu bahwa mereka lantas mogok, tidak mau menghadiri upacara pengiha1an bendera di Hotel Kartika Chandra, tempat para peserta Pre Olimpik lainnya merginap. “Padahal”, kata Ilyas Haddade, “undangan untuk maksud tersebut pun tidak ada. Baru kami ketahui setelah orang menghebohkan”. Yang mewakili team Indonesia dalam upacara pengibaran bendera itu antara lain terlihat Asisten Team Manager, Dono Indarto, petugas protokol Rusman dan beberapa staf anggota Panitia Penyelenggara. Dan akhirnya tiba pada giliran tentang kostum di lapangan. Sebelum para pemain menerima warna putih-merah, bukan tidak mengalami perbincangan. “Tak pernah seingat saya kita memakai baju kaos putih”, kata Suaib, gelandang yang masih belum pulih dari operasi di telapak kakinya. Tapi ketika seorang pemain mengusulkan memalai baju kaos hijau saja, itu pun dianggap sial. Dan akhirnya mereka kembali pada baju putih, celana merah. Hal-hal yang sepele itu nampaknya masih dapat diperdebatkan bila dikaitkan dengan soal mental. Tapi yang jelas dalam turnamen ini kesebelasan Indonesia berhasil meningkatkan permainannya. Meskipun dari segi teknis nampaknya Coerver berhasil membuktikan bahwa dia sangat otoriter. Gagasan Ilyas Haddade yang didukung oleh beberapa pemain teras pun tidak mempan untuk menggantikan Suhatman dengan Nobon, misalnya. Tapi jerih-payah Coerver untuk meningkatkan permainan Auri dan memulihkan ketrampilan Anjas sangat mengagumkan. Usaha Coerver ini nampaknya merupakan jaminan mengapa seluruh kepercayaan untuk memenangkan Pre Olimpik dilimpahkan padanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: