Pre-Olimpik: Pertanyaan Dan … Licin Dan Sempit

Tempo 21 Februari 1976. KEHADIRAN Korea Utara menjadi kenyataan. Bersama Indonesia finalis “16 besar” Kejuaraan Dunia 1966 di Inggeris ini favorit untuk muncul di final.
Meskipun peluang untuk memenangkan turnamen Pre olimpik ini diintai terus oleh Malaysia, yang pernah tergolong dalam “16 besar” di Olimpiade Munchen 1972. Singapura dan Papua Nugini masih diharapkan bisa menimbulkan kejutan. Paling tidak begitulah topik pembicaraan dewasa ini. Coerver, pelatih Belanda yang dipercayakan mengasuh team Indonesia, malah mencurahkan perhatiannya khusus terhadap Korea Utara. Menjelang turnamen ia masih mengunyah informasi mengenai team dari negara komunis ini. “Lihatlah”, ujar Coerver pada wartawan TEMPO, “buku tentang latihan jasmani ini dikarang oleh ahli olahraga Jerman Timur. Betapa majunya mereka dalam pembinaan olahraga”. Ada semacam obsesi mencekam benak bekas pelatih Feyenoord ini. Informasi lain tentang Korea Utara dia peroleh dari pelatih Grasshopper. “Korea Utara dipersiapkan 2 tahun dan sistim mereka tak banyak bedanya dari sistim Eropa Timur. Dalam serangkaian pertandingan percobaan di Soviet Uni mereka tak terkalahkan”. Tidak hanya itu, Coerver memperlihatkan lagi sebuah buku tuligan Hennes Weisweiler: Der Fusball. “Bacalah ini”, katanya seraya menunjuk beberapa baris kalimat tentang ramalan pelatih Barcelona itu. “Hari depan sepakbola akan bergeser ke Afrika dan Asia. Dan Korea Utara tak diragukan lagi akan muncul sebagai kesebelasan kuat”. Sedikit tambahan lagi dari Aliandu, pelatih Jayakarta dan Persija. “Saya memperlihatkan pada Hendriks daftar pemain junior Korea Utara yang bertanding di Kuwait setahun yang lalu. Tapi ternyata tak seorangpun yang ikut serta ke sini”, kata Aliandu. “Padahal mereka, yang muncul sebagai juara ke-3 turnamen junior itu, kita nilai cukup hebat”. Coba Terus, Sampai Tua Dibesar-besarkan? Paling tidak spekulasi itu masih terasa, meski turnamen telah berlangsung. Ketika Hendriks, asisten Coerver, melihat dengan mata kepala sendiri latihan team Korea Utara, ia langsung menemui Coerver untuk membeberkan kesan pertama. “Tinggi badan mereka minimal 1,70 meter. Tubuh mereka sebesar saya. Dalam latihan mandekking (penjagaan satu-lawan-satu), mereka tampak mampu mengembangkan tempo tinggi dalam 90 menit penuh”. Coerver mengakui, dalam organisasi, disiplin dan semangat bertanding mereka prima. Tapi setelah berpikir sejenak, ia bertanya: “Apa pendapat anda tenang personaliti (kepribadian) mereka?” Hendriks tak menjawab langsung. Tapi ia meraba jalan keluar: “Kita bisa menang kalau saja pandai mematahkan tempo permainan mereka”. Coerver menambahkan: “Dalam personaliti saya yakin kita lebih unggul”. Maksud Coerver, kalau PSSI secara team tidak sekuat Korea Utara, paling tidak Iswadi, Kidianto, Junaedi, Waskito dan Andi Lala memiliki kelebilan variasi untuk mengembangkan inisiatif perorangan mereka ini dinilai “merupakan formasi yang dapat merobek-robek pertahanan lawan dan tidak di bawah barisan penyerang Eropa yang mana saja”. Harapan tertumpu pada garis depan. Lalu bagaimana dengan lini pertahanan? “Coba-coba terus, sampai tua”, ejek beberapa pemain PSSI terhadap keragu-raguan Coerver. Di posisi kiri kebimbangan nyaris abadi. Johannes Auri dinilai sering gugup. Cadangan Harry Muryanto nampak “kurang memenuhi selera”. Meskipun asisten Coerver lainnya. Ilyas Haddade, masih mempertahankan Auri. “Main back kok dipersulit. Pokoknya kan asal bola jauh dari gawang kita” kata Ilyas bekas back kiri PSSI. Tapi toh tersembul ide Coerver — untuk menarik Suhatman produk TC Salatiga — untuk mengatasi kelemahan di back kiri. Meskipun sekali lagi ditentang Ilyas. Sebab, seperti diakui mereka bersama, Suhatman masih lebih efektif dipasang di depan back kiri — Sutan Harhara, Lukman Santoso, Oyong Lia dan Auri (kalau dipertahankan di back kiri). Di gawang Ronny Pasla atau Taulik Lubis tidak menjadi problim. Seandainya Suhatman ditarik ke back, siapakah penggantinya di gelandang bersmla Iswadi dan Junaedi yang akan turun naik sebagai gelandang penyerang’? “Saya membutuhkan seorang tukang gebug yang kerjanya hanya menyapu serbuan lawan di garis pertahanan tengah, sebelum tembus ke garis belakang. Di belakang saya tugaskan Oyong sebagai ,palang pintu’ untuk menutup setiap kebocoran”, jelas Coerver. Untuk menempuh jalan keluar yang terbaik dari yang terburuk, ia lalu memanggil Andi lonte. Pemain Indonesia Muda yang muda usia ini exjunior PSSI Kuwait. Ia mempunyai perawakan bagus. Semangat tanding tinggi, punya inteligensi. Itu pendapat Coerver yang berbau spekulasi konsekwensinya Coerver menyisihkan Eddy Sabenan itu pemain poros dari Persipura yang semula diberi cap Paul Breitner. “Dia terlalu lambat, karena badannya gemuk. Mungkin akibat cederanya yang lama sehingga tak dapat cepat memulihkan kondisi”. kata Coerver. Tapi yang jelas “uang taruhan” 10 ribu gulden untuk Eddy yang dijanjikan Coever bila ia terpilih ke dalam team, nyaris keluar dari kantongnya. Mungkin juga belum dibayarnya gaji Coerver bulan terakhir ini oleh PSSI, menopang pula tersisihnya Eddy dari pemilihan. Menutup dan Membuka Yang menarik dari cara Coerver menghadapi pertandingan adalah caranya untuk tidak memberi petunjuk-petunjuk khusus dalam penyerangan ataupun pertahanan. Kecuali main-dekking buat barisan pertahanan dan tackling-tackling keras oleh setiap pemain untuk mematahkan kerjasama lawan. Dari sebelas pemain yang diturunkan ia paling prihatin terhadap Oyong Liza. Poros halang kedua ini memang dibebaskan dari penjagaan lawan tertentu. Tapi di samping tugas “menutup”, ia diharapkan dapat “membuka: mengorganisir rekan-rekannya mengembangkan permainan. Ia harus pandai membaca permainan dan banyak bicara untuk memberi petunjuk. Peran ini lebih kentara dijalankan Iswadi, meskipun posisinya di garis tengah kurang strategis untuk peran itu. Men-dekking kalau diserang dan melakukan aksi segencarnya waktu memang merupakan pola sederhana yang ditanamkan Coerver. Tapi adakah pengawalan perorangan yang ketat itu tidak sebaliknya bisa mematikan inisiatif “Saya tidak setuju kalau man-dekking Coever dianggap mematikan inisiatif”, kata Iswadi “Kita mau main bagus atau mau menang?” tanya pemain yang diraukan status amatirnya oleh Malaysia itu. ‘Coerver menghendaki, dalam bertahan pemain belakang harus menjaga lawan, seketat mungkin. Paling sedikit kita harus bertahan 7 orang. Saya pun harus turun”. Iswadi kemudian menambahkan: “Kebiasaan kita dulu bila diserang, kita mundur sampai jarak 20 meter di depan gawang, baru lawan kita sergap. Coerver lain. Dia tidak mau memberi kesempatan kepada lawan mengembangkan permainan. Alhasil permainan seorang back seperti Sutan misalnya, akan terus menempel pada lawan di sisi kanan, tak peduli kalau serangan datang dari sisi kiri. “Saya diinstruksikan menempel, kalau perlu ‘di kuping’ lawan”, kata Sutan. Tapi tentu dalam man-dekking orang tidak boleh meleng. “Sekali lengah kita bisa kecolongan”, tambah Oyong. Coerver sendiri tidak pernah goyah dan pengeterapan hasil latihan yang dia berikan selama 3 bulan ‘Minimal kita bisa masuk final”, keyakinanya. Dan untuk keluar sebagai pemenang dari turnamen yang sedang berlangsung dari tanggal 15-16 Pebruari ini Coerver mencatat kans PSSI sebesar 60 – 70 persen. Soalnya main di lapangan sendiri besar pengaruhnya. Disisipkan Di Kolor Bagaimana sikap team manger Bardosono? yang juga Ketua Umum PSSI? Dari beberapa kali kunjungannya ke Ragunan, ia mempunyai cara tersendiri untuk memberi “bekal” kepada para pemain. Untuk “keuntungan” pemain dan penyelenggara, telah disiapkan pawang hujan. Tapi untuk meraih kemenangan ia nampaknya punya “keahlian” khuusus. Pada Junaedi ditawarkan semacam tulisan “keramat” yang harus disisipkan di kolornya. Maksudnya azimat untuk “aman dan menang”. “Tapi buat saya yang beragama Islam, Tuhan itu tid

ak ada duanya. Kalau harus mati sekalipun, jadilah kehendakNya”, kata Junaedi yang siap hijrah ke Eropa selepas pre Olimpik. “Buat saya Tuhan menentukan, tapi kita berusahalah dulu”. Kalau pun ada sesuatu yang bersifat keramat, ia menyarankan supaya PSSI dalam tos pertandingan, memilih gawang di “pintu merah”, tempat yang biasa dilalui para pemain dalam latihan. “Para wartawan foto sendiri kebanyakan berkumpul di belakang sana. Sehingga terasa memberi semacam dukungan moril. Lain halnya kalau pertama kita mendapat gawang di utara, rasanya angker. Soalnya hanya kebiasaan saja. Dan kebiasaan itu sangat menolong memberi kemantapan menjelang pertandingan meningkat panas”. Bagi Indonesia, menjadi tuan rumah Pre Olimpik ada warnanya sendiri. Ia mengingatkan jalan yang panjang sejak tahun 1956, ketika team Indonesia di bawah pelatih Tony Pogacnik ke Olimpiade Melbourne. Dua puluh tahun yang silam, belum berlaku babak penyisihan seperti sekarang. Langsung ke gelanggang dengan hasil yang bersejarah: Menahan calon juara Soviet Uni 0-0 dalam pertandingan yang diperpanjang. Meski dalam ulangan kebobolan 0-4. Mitos team Olimpiade Melbourne ini hidup sampai sekarang. Dan menjadi kenangan manis yang tak pernah bosan ditulis wartawan. Bagi para pemain seperti Iswadi, Junaedi, Waskito, Andi Lala, Suaeb dan Ronny Pasla — ex team Pre Olimpik Rangoon, kenangan itu mempunyai rangsangan positif. “Seolah-olah sepakbola Indonesia ditandai oleh angkatan 56 itu”, kata Junaedi, “kita harus membuktikan kita pun bisa membuat sejarah, meski harus berjuang dalam babak kwalifikasi”. Bisa Lolos Bisa Kejepit Kalau berhasil, maka team Pre Olimpik 76 ini sekaligus berhasil merubah gambaran sepakbola Nasional sejak tahun 1960 (Olimpiade Roma). Pada waktu itu Indonesia tersisihkan oleh India: 0-2 di Ikada, 2-4 di New Dehi. Tahun 1964 zaman Orde Lama — absen karena sikap “persetan dengan IOC”. Tahun 1968 Sutjipto dkk gagal dalam kwalifikasi segi tiga dengan kompetisi penuh antara Thailand, Irak dan Indonesia: Irak – Thailand 4, Indonesia – Irak 2-I, Thailand – Indonesia 1-0, Thailand – Irak 2-1, Indonesia – Irak 1-1, Thailand – Indonesia 1-1. Hasilnya Thailand menuju Olimpiade Meksiko, Irak runner-up dan Indonesia “juru kunci”. Pada tahun 1972 Indonesia kandas di Ranglon. Meskipun Indonesia berhasil lolos dari penyisihan grup: Indonesia Thailand 4-0, Indonesia – India 4 Indonesia – Israel 0-1, tapi di semi-final dikalahkan Burma 0-3 Burma akhirnya keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan Muangthai di final 3-0. Tahun ini untuk kedua kalinya PSSI menyewa pelatih asing. Tapi keadaannya sangat berbeda dengan zaman Tony dulu. Suasana sepakbola profesionalisme telah merembes ke tulang-sumsum para pemain. Lebih-lebih Coerver dengan sadar ikut memupuknya. Sepakbola dan periuk-nasi tak terpisahkan. Patriolisme “kantong” menjadi universil, melunturkan sifat-sifat patriotisme yang menjadi slogan di setiap peristiwa olahraga besar. Adakah PSSI dalam kondisi ini dapat peluang ke Olimpiade Montreal bulan Juni ini? Nampaknya jalan itu licin dan sempit. Bisa lolos bisa kejepit.

BOKS Team Pre Olimpik Indonesia 1976
1.Ronny Pasla. Menado, 15 April 1948, Protestan. Tinggi 180 cm. Berat: 75 kg Karyawan PN Pertamina,1966: Dinamo, Medan. 1967: Bintang Utara dan PSMS. 1968: PSSI. 1972: Pre olimpik. 1973: Pre World Cup. 1974 Maesa dan Persija, Jakarta.
2. Taufik Lubis.Tanjung Balai, 12 Pebruari 1955. Islam. Tinggi: 172 cm. Berat: 66 kg. Karyawan Inspeksi Pajak,1972. TebingPutera, Tebing Tinggi 1975: Perisai, PSMS dan PSSI
3. Sutan Harhara Jakarta, 9 Agustus 195Z. Islam. Tinggi: 169 cm. Berat: 59 kg. Mahasiswa ASMI. 1969: UMS Tunas, Jakarta. 1971: Indonesia Muda dan Jayakarta.1972 PSSI Junior, Persija, dan PSSI Senior. 1973: Pre World Cup.
4. Johannes Auri. Manokwari, 30 Oktober 1954 Protestan. Tinggi. 170 cm. Berat. 63 kg. Tidak bekerja. 1969: Perseman, Manokwari. 1973:Vacation Training Centre dan Persipura, Jayapura 1975: PS Bea Cukai dan PSSI.
5. Eddy Sabenan. Merauke, 28 Desember 1953. Protestan. Tinggi: 169 cm. Berat: 64 kg. Tidak bekerja.1969: Persimer, Merauke. 19 74. PS Beacukai dan Persipura Jayapura 1975: PSSI.
6. Suhatman. Padang, 26 Pebruari 1956. Islam. Tinggi: 170 cm. Berat: 60 kg Tidak bekerja. 1972: PSP Junior, Padang. 1973 PSP 1975: Diklat Salatiga dan PSSI
7. Burhanuddin, Samarinda, 10 Desember 1955 Islam. Tinggi 171,5 cm. Berat: 62 kg. Tidak bekerja. 1974: PS Merpati dan Persisam Junior, Samarinda 19 75. Diklat Salatiga dan PSSI.
8. Harry Muryanto. Bandung, 24 Pebruari 1953. Islam. Tinggi: 165 cm. Berat: 59 kg. Karyawan PT Propelat. 1969: PS UNI Bandung.1971 Persib, 1973: PSSI Junior. 1974:PSSI.
9. Oyong Lisa.Padang, 10 Nopember 1947.1slam. Tinggi: 168 cm. Berat. 60 kg. Karyawan Bulog. 1963: PSP, Padang dan Pelatnas Salatiga. 1967:PSSI Junior dan PSSI Senior. 1968: Jakarta Putera dan Persija.
10. Lukman Santoso, Banyuwangi, 8 Juni 1946. Katolik. Tinggi: 172 cm. Berat: 69 kg Tidak bekerja. 1960: Perseba, Banyuwangi. 1963: Indonesia Muda dan PSIM. Yogyakarta. 1965: PSSl. 1969. SuryaNaga dan Persebaya, Surabaya
11. Nobon. Medan, 8 Maret 1951. Islam. Tinggi: 165 cm. Berat. 63 kg. Karyawan Inspeksi Pajak 1968: Medan Utara dan PSMS 1971: Perisai 1973: PSSI.
12. Suaeb Rizal. Bone, 10 Oktober 1947. Islam. Tinggi: 171 cm. Berat: 65 kg. Karyawan PN Pertamina 1965: Persis, Ujung Pandang 1967: PSM, Ujung Pandang dan PSSI. 1972: PSAD, Ujung Pandang dan Pre Olimpik. 1973: Pre World Cup. 1974: Indonesia Muda dan Persija, Jakarta.
13. Sofyan Hadi.Tabanan, 17 April 1954. Islam. Tinggi: 166 cm. Berat: 56 kg. Mahasiswa Akademi Bank Nasional 1967: PS Tabanan. 1970: Tunas Nusa Harapan, Yogyakarta 1971: Jayakarta dan PSSI Junior 19 72 Persija, dan PSSI. 14. Junaedi Abdillah. Ampenan, 21 Pebruari 1948. Islam. Tinggi: 171 cm. Berat: 63 kg. Karyawan PN Pertamina 1964 Pelatnas Salatiga. 1966: Benteng, Surabaya. 1967: Persebaya dan PSSI. 1972 PSAD dan Pre Olimpik. 1974: Indonesia Muda dan Persija. Jakarta.
15. Waskito.Ponorogo 29 Januari 1949 Islam. Tinggi. 166 cm. Berat: Berat: 61 kg. Karyawan Kotamadya Surabaya 1966:Pelatnas Salatiga 1967: PSSI. 1971: PT. Philip Morris, Malang. 1972:Pre Olimpik. 1973: Pre World Cup, Assyabab dan Persebaya, Surabaya.
16. Risdianto. Pasuruan, 3 Januari 1950. Islam. Tinggi: 170 cm. Berat: 65 kg. Karyawan PT Warna Agung. 1963:Persekap, Pasuruan. 1970: UMS Persija, dan PSSI. 1975. Mc Kinnon’s.Hongkong.
17. Iswadi Idris (Kapten Kesebelasan). Kotaraja 18 Maret 1948. lslam. Tinggi:161 cm. Berat: 62 kg. Tidak bekerja 1957: MBFA (Merdeka Boy,s Football Association, Jakarta 1963. Indonesia Muda. 1965: Persija. 1968: PSSI. 1972: Pre Olimpik. 1973: Pre World Gup. 1974: Western Suburbs Club, Sidney. 1975: Jayakarta.
18. Andi Lala. Bone, 17 Agustus 1950. Islam. Tinggi: 168 cm. Berat.5l kg. Mahasiswa Akademi Bank NasionaL 1966.Persibone. 1969.PSAD. Ujung Pandang. 1970 PSM 1971: Jayakarta dan 1972: PreOlimpik.
19. Anjas Asmara. Medan, 30 April 1952. Islam. Tinggi: 170 cm. Berat: 60 kg. Mahasiswa Fakultas Teknik UKl. 1969: Medan Putera. 1970: Jayakarta, Jakarta. 1972: PSSI Junior, Persija, dan PSSI Senior. 1973: Pre World Cup.
20. Robby Binur. Biak, 12 Januari 1953. Protestan. Tinggi: 165 cm. Berat: 63 kg. Karyawan Pemda Tingkat II, Biak. 1970: Porpemda Biak. 1971: PS Biak. 1975: PSSI.
21. Andi Bonte.ParePare, 16 Juni 1957. Islam. Tinggi: 175 cm. Berat. 66 kg. Karyawan PN Pertamina 1972: Persipare 1973: Porkam, UjungPandang 1974 PSM, Ujungandang dan Indonesia Muda, Jakarta 19 75: PSSI Junior. 1976: PSSI.
1. Wiel Coerver. Kerkrade, 3 Desember 1924. 1955. Rapid F.C. 1971: Pelatih N.E.C. Ny megen. 19 73: Pelatih Feyenoord. 1975: Pelatih PSSI.
2. Wiem Hendriks Aarle-Rixtel, 11 September 1929. 1948: V. V. Kerkrade Roda F.C 1966: Pelatih Mranda. 1969: Pelatih F.C. Antwerp, Belgia.1974 Pelatih Croningen. 1975 . Asisten Pelatih PSSI.
3. Ilyas Haddade. Pare-Pare, 25 PeBruari 1939. IsLam. Dosen STO, Ujung Pandang. 1957:PSSI. 1959. Putera Parahyangan, Bandung. 1962: Persib. 1963: PSAD, Bandung. 1964: Pelatih Persib 1967 Kursus Pelatih di Jerman Timur. 1968: Pelatih PSAD dan PSM, Ujung Pandang 1972:Pelatih PSSIB. 1975:Pelatih Diklat Salatiga dan Asisten Pelatih Team Pre Olimpik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: