Albar kesusu

Tempo 26 Juni 1976. AKHIRNYA grup musik jingkrak God Bless mengeluarkan juga rekamannya yang pertama. Dengan menampilkan wajah Ahmad Albar sebagai bungkus, serta mencantumkan judul lagu-lagu .Setan tertawa, Huma di atas bukit, Gadis binal, rupa-rupanya diharapkan kaset ini bakal dibeli juga oleh mereka yang tidak suka jingkrak.
Apalagi lagu pertama dalam muka A, Huma di Atas Bukit buah tangan Donny dan Syuman Jaya, tak lain sebuah lagu manis yang mempunyai nafas semesra lagu-lagu Iwan Abdul Rahman — serta dibawakan tak jauh bedanya dengan gaya Bimbo. Kita jadi teringat nasib almarhum grup AKA yang begitu panasnya di panggung, mendadak romantis dan santai dalam rekaman. Sebutlah ini taktik komersiil dari yang empunya uang, yang bermaksud menunjang musik keras sambil tak mau terlalu percaya bahwa orang akan suka membeli kaset musik keras meskipun suka sekali mendengarnya sekali waktu. Tetapi akibatnya adalah, God Bless yang pernah kita umbar sebagai penjaga gawang musik keras di panggung, tampangnya jadi tak jelas kecelakaan yang umum diderita rombongan musik pribumi, manakala mereka mendapatkan lorong untuk diangkat ke dalam rekaman. Gadis Binal Dengan formasi Donny pada bass dan vokal, Yan Antono pada gitar utama dan vokal, Teddy S pada drum, Yocky pada organ, moog dan piano serta Albar sebagai penyanyi utama, disabet pula 2 buah lagu berbahasa Inggeris bernama Eleanor Rigby (Lennon/McCartney) dan Friday On My Mind (Easy Beat). Anehnya lagu-lagu ini dibawakan jauh lebih mantap ketimbang lagu-lagu ciptaan mereka sendiri. Ada totalitas, intensitas serta juga berbagai variasi yang cukup kaya, sehingga memang seperti mengingatkan kita pada penampilan God Bless di panggung yang seringkali ditingkah berbagai ulah. Di antara lagu ciptaan mereka yang mungkin boleh dianggap memadai dan mempunyai temperamen yang jelas adalah Gadis Binal dari Yan. Kemudian She Passed Away buah tangan Donny yang sudah sering dapat keplok di panggung. Lagu-lagu lainnya, Rock Di Udara dan Setan Tertawa — keduanya bikinan Donny — meskipun cukup keras tetapi tidak memberi kesan. Mungkin perlu diingat: pertumbuhan musik rok dahsyat yang menggebu-gebu sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari faktor lingkungan yang mendorong terciptanya musik tersebut, faktor konsumen sebagai penunjang kehidupannya kemudian. Juga sangat penting berbagai kemajuan dalam tata suara, dalam dapur rekaman yang menimbulkan temperamen, warna maupun kecendrungan-kecendrungan baru dalam musik. Kedua faktor yang pertama saja belum bertemu dengan baik dalam masyarakat kita. Apalagi faktor ketiga, yang memang merupakan cacad utama dalam rekaman produksi Pramaqua yang dikerjakan di studio Tri Angkasa, dengan penata suara Stanley ini. Sungguh sayang Albar tidak berusaha sedikit cerewet, sehingga album ini harus kita sesali karena vokal jadi tenggelam. Sedang suara instrumen tidak begitu tajam, sehingga tidak tercipta getaran-getaran karakteristik rok keras. Misalnya seperti kata orang, para pendengar musik dari Mahavishnu — sebuah grup yang dikagumi Albar — bisa “kerasukan” karena pengaruh getaran bunyi yang keluar dari alat-alat. Nanggung “Saya sadar memang vokalnya kayak berat, jauh beda dengan hasil rekaman kami di studio Metropolitan untuk ilustrasi film. Rekaman kami ini terlalu dof”, ujar Albar. (Dua buah lagu: Huma Di Atas Bukit dan Sesat memang dicontek dari film Laela Majenun, sedang Setan Tertawa berasal dari film Semalam di Malaysia). Ia juga menyatakan akan segera mengulangi rekaman yang dijual dengan harga Rp 900 itu, di studio yang sama dengan kekuatan 16 track. Memang belum diketahui bagaimana hasil 10.000 kaset produksi pertama yang memakai pita merk Master – C 45 ini. Yang jelas Albar juga menyodorkan bahwa keburukan rekamannya disebabkan karena dibuat dengan terburu-buru pada saat ia akan keliling ke Jawa Timur. “Dan penangan rekaman kami, 4 operator yang berbeda-beda, saya rasa juga mempengaruhi hasil rekaman. Karena setiap operator punya selera sendiri-sendiri, nggak rata hasilnya”, kata Albar. Mengenai dimasukkannya lagu-lagu santai, Albar menyatakan disebabkan keinginannya untuk memikat hati. Akan kedua lagu Barat dimaksudkan untuk mengingatkan orang pada penampilannya yang kerap di panggung. Sementara dengan jujur diakuinya ada bebrapa pengaruh dari Rick Wakeman, Beatles dan Deep Purple yang mudah sekali dikenali dari intro lagu Rock di dara misalnya. Yang agak menyedihkan adalah lagu She Passed Away, yang seharusnya pantas dipakai sebagai lagu pertama, dengan berbagai pertimbangan komersiil dijadikan lagu penutup pada muka B. Mungkin dengan begini diharapkan orang terpaksa membeli kaset itu karena letaknya sulit. Padahal pertimbangan ini banyak merugikan pembeli yang belum pernan tahu ada lagu buah tangan pribumi bernama sekeren itu. Keinginan musik keras untuk merebut pasaran adalah wajar. Ini pasti tak mungkin dengan hasil-hasil yang nanggung. Seharusnya untuk rekaman-rekaman musik macam ini ada satu usaha yang spesial mengkhususkan dirinya. sehingga baik kwalitas hasil rekaman maupun komposisi urutan lagu dan sebagainya, diperhitungkan dengan cermat dan tepat . Sebagaimana halnya ada label Hidayat di Bandung, yang mencoba dan berhasil menjual jazz coklat di percaturan musik kini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: