Harimau Ompong?

Tempo 12 Juni 1976.   DUA kali team – Anni Cup PSSI kalah lawan Middlesex Wanderer dari Inggeris. Pertama 0-2 di Cirebon, kedua 1-2 di stadion Utama Senayan. Team Anni PSSI yang semula diproyeksikan terdiri dari mayoritas pemain Persipura, pada pertandingan 1 Juni lalu itu lebih menyerupai team asal jadi.

Ia adalah contoh gamblang dari suatu persiapan yang tergesa-gesa. Menghadapi Middlesex yang bermodalkan semangat, team asuhan Ilyas itu ibarat pasukan yang baru mengalami demoralisasi. Kerjasama rapuh, permainan individuil lesu. Padahal mereka pekan ini dipercayakan untuk merebut Piala Anni. Satu-satunya harapan yang masih menyala tak lebih dari optimisrne Ilyas, bahwa ia yakin asuhannya dapat mencatat prestasi. Dalam suasana persiapan mengembangkan sepakbola profesional di Indonesia, pertandingan tersebut tidak memberi efek yang positif. Bahkan sebaliknya. Adam Malik menyandang kameranya tak ayal lagi meninggalkan kursinya pada waktu istirahat. Sementara di antara beberapa ribu penonton terdengar rasa kurang puas. Keluhan itu terutama dikaitkan dengan harga karcis pertandingan. VIP Barat Rp 5.000, VIP Timur Rp 3.000, Kelas I Rp 2.000, II Rp 1.000, III Rp 500 dan IV Rp 200. Sukar memang untuk membuat suatu standard harga. Tapi jelas untuk Middlesex dan team PSSI yang masih dalam persiapan harga karcis masih boleh ditekan lebih rendah. Sebab bagaimanapun keuntungan yang non-materiil dalam pembinaan harus diperhitungkan pula. Lapuk Rupanya sadar akan kemampuan team Anni yang masih kepalang, pimpinan PSSI mengambil langkah seperlunya. Eks Team Pre Olimpik Indonesia yang nyaris lapuk ditelan waktu, buru-buru dibenahi lagi. Barddsono, Ketua Umum PSSI mengumumkan terbentuk dua kesebelasan PSSI. Eks Pre Olimpik ditangani Hutasoit dibantu Aliandu, Team Anni Cup di bawah Pardede dibantu Ilyas Haddade. Yang pertama disebut Harimau yang kedua disebut Garuda. “Mulai Senin tanggal 7 Juni Eks Olimpik mulai berlatih”, kata Hutasoit. Jadi sementara Turnamen HUT Ibukota berlangsung mereka menjalankan gemblengan untuk siap melawan Stoke City dan Slask, juara Polandia akhir Juni.Hanya perlu dicatat bahwa sang Harimau telah kehilangan beberapa “kuku”nya. Lukman Santoso, Yohannes Auri dan Suhatman tetap tinggal di Garuda. Dan ini meninggalkan beberapa titik lemah. Terutama di back kiri. “Coba siapa lagi yang harus saya panggil kalau bukan Tinus Heipon”, ujar Hutasoit pada TEMPO, “di tengah ada Suaib dan Oyong, di kanan ada Sutan, tapi di kiri siapa lagi?” Kembalinya Hutasoit ke dalam PSSI akan mendapat sorotan keras. Dialah orangnya yang dinilai mampu meladeni team eks Pre Olimpik sekarang. Kalau bukan dia, mungkin mereka sudah bubar dengan sendirinya. Begitu kata orang. Tapi apakah Hutasoit mamlu memulihkan kondisi mereka seperti pada waktu Team Pre Olimpik di bawah Wiel Coerver? Mudah-mudahan bukan Harimau ompong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: