Segalak Namanya? (PSSI Harimau)

Tempo  03 Juli 1976

Hidup harimau !

RASA kecewa yang merundung pengunjung setia stadion utama Senayan atas kemerosotan mutu team nasional, kelihatan mulai terobati setelah PSSI Harimau memancang awal kebolehan dengan menahan kesebelasan Stoke City, Inggeris (1-1), Sabtu 26 Juni malam lalu. Team yang diproyeksikan dari sisa-sisa pemain Pre Olimpik, meski dipersiapkan dengan luang waktu yang pendek, bukanlah merupakan suatu kesebelasan asal jadi. Sekalipun kerjasama yang terjalin di semua lini tidak sekokoh team Pre Olimpik yang utuh, namun kelemahan itu masih tertopang oleh ketrampilan perorangan yang lumayan. Penopangan tingkat perorangan itu pulalah yang menunjang kehadiran pemain depan, Tumsila dalam keutuhan team dan komunikasi yang klop. Terutama ketika Andi Lala berhasil melepaskan diri dari sergapan back kiri Stoke City, Danny Bowers dan memberikan umpan jitu yang tinggal menunggu penyelesaian dari Tumsila. Di situ terungkap kebesaran dirinya pada saat yang kritis. Tumsila yang seolah minta diuji, menyundul operan Andi Lala pada waktu yang tepat di sela-sela pertahanan musuh yang rapat. Gol balasan itu bersarang keras di jala tanpa teraih oleh kiper P. Jennings. Lupa Pada Auri Kerja sama yang rapi itu, juga diperlihatkan oleh Wahyu Hidayat yang menempati posisi back kiri. Meski geraknya sedikit lambat, antisipasinya cukup kuat. Ia tidak mengalami kesulitan dalam mencegat interpass yang pendek-pendek. Juga dalam mengendalikan tipuan-tipuan penyerang lawan. Kelebihan lainnya, ia tidak terlalu membutuhkan ruang gerak yang luas dalam bertindak. Melihat permainan Wahyu malam itu, publik tak lagi memperbincangkan ketimpangan yang ditinggalkan Johannes Auri pada team PSSI Harimau. Tapi sebaliknya untuk rusuk pertahanan sebelah kanan. Ketidak-hadiran Sutan Harhara — cedera ketika melakukan pertandingan percobaan di Bandung — ternyata cukup merepotkan bagi gelandang kanan, Suaeb Rizal maupun poros halang, Oyong Lisa dalam membendung serangan lawan. Sebagai muka baru di barisan pemain nasional, Dananjaya tidak terlalu mengecewakan, menang. Tapi juga tidak dapat diharap bauyak mematahkan gebrakan musuh dengan taktis. Ia sering kelihatan tercecer di belakang lawan yang seharusnya dihadangnya. Atau merapat ke dalam. Hingga memberi peluang untuk melepaskan tembakan yang lebih besar pada lawan. Dalam melakukan penetrasi ke daerah musuh, ia pun tak begitu banyak membantu. Kondisi permainan yang sama, juga dilihatkan oleh penggantinya, Matui. Hanya saja Matui lebih banyak bergerak ketimbang Dananjaya. Di lapangan tengah, bentuk permainan yang belum pulih itu tampak pada diri Junaidi Abdillah. Kelincahannya dalam menyodorkan biji longkong pada pemain depan seperti selama ini, hampir tak kelihatan sama sekali. Tak jarang Iswadi harus bergerak naik turun untuk menutupi kelemahan itu. Sehingga untuk merobek pertahanan lawan, ia seolah kehabisan nafas. Akan Anjas Asmara dan Sofyan Hadi, mereka pun kelihatan tidak memperlihatkan bentuk permainan yang prima. Sebetulnya pola serangan PSSI Harimau itu akan tampak lebih hidup andaikata Junaidi tidak dirongrong oleh kondisinya yang belum pulih itu. Di mana kehadiran Iswadi dalam tugas penghubung tidak akan banyak dituntut. Cukup diserah pada trio Anjas-Junaidi-Sofyan. Ditariknya Iswadi ke tengah, tentu saja menumpul kerjasama di lini penyerangan. Meski Andi Lala dan Tumsila telah berusaha menutupi kelemahan itu dengan kerja keras. Tanpa bantuan Iswadi dari sayap kanan, usaha mereka kelihatan sering gagal menemui bentuk. Hingga tak ayal beberapa peluang yang menuntut penyelesaian gagal akibat ketimpangan itu. Dalam keadaan demikian orang pun berpaling pada kisdianto. Tapi harapan itu ternyata sia-sia. Iarena Risdianto masih dalam keadaan cedera pula. Turun tanpa 2 pemain inti yang cedera — Sutan Harhara dan Risdianto-serta Junaidi yang belum pula pulih keadaannya, PSSI Harimau cukup berhasil memulihkan gengsi kesebelasan nasional di mata masyarakat. Tapi faktor keberhasilan itu sudah barang tentu tidak terlepas dari usaha dan wibawa team manager Hutasoit dan pelatih Sinyo Aliandu.

One thought on “Segalak Namanya? (PSSI Harimau)

  1. maman kusmana January 4, 2011 at 9:31 am Reply

    Masih ada lagi nama-nama besar tahun 70-an yang belum disebut: Abdul Kadir, Anwar Ujang, Sutan Harharah, Simson Rumah Pasal. Saya teringat lawan-lawan mereka, dari Malaysia ada Mochtar Dahari, ada Penjaga Gawang Arumugam, dari Birma ada Maung Tin, Tan Aung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: