Garuda Diterkam Harimau

Tempo 10 Juli 1976. “SAYA telah mempelajari kekuatan dan kelemahan PSSI Harimau. Dan saya sudah tahu bagaimana cara menjinakkan permainan mereka”, lagk team manager PSSI Garuda, T.D. Pardede menyulut sumbu perang urat syarat, 2 hari menjelang pertandingan antara 2 kesebelasan nasional.
Dan tambahnya: “saya tidak hanya ahli bola. Tapi juga ahli perang. Karena itu akan saya kombinasikan permainan sepakbola dan strategi perang”. Apa yang diturunkan Pardede di stadion utama Senayan, Kamis 1 Juli malam memang merupakan kesebelasan yang siap dengan sangkur terhunus. Di lini depan, ia memasang trio penyerang Persipura: Henky leipon, Jacobus Mobilala dan Timo Kapisa. Dalam final Piala Soeharto, kebolehan 3 muka ini dalam merobek pertahanan Persija team PSSI Harimau yang nota bene merupakan wajah lain dari kesebelasan Jakarta — tak perlu diragukan, memang. Di garis pertahanan, Pardede tak ayal menurunkan pula Johanes Auri dan Martin Jopari, dua back asal Irian Jaya untuk menopang pola pertahanan Lukman Santoso dan Suhatman dalam menyapu serangan PSSI Harimau. Suatu kombinasi yang tak merisaukan untuk bentuk permainan keras dan sapu bersih. Sementara untuk lapangan tengah dan permainan sayap, tugas itu dibebankan pada Nobon serta Waskito dan Hadi Ismanto. Dan pilihan Pardede bersama 3 pelatih Iljas Haddademo Suratmo-Januar Pribadi semula memang tampak memberikan bentuk yang memadai pada jiwa permainan PSSI Garuda. Nyaris tak ada serangan Iswadi Tumsila-Andi Lala yang boleh dikatakan merobek kwartet back PSSI Garuda dengan terobosan yang berarti. Semuanya selalu kandas dalam permainan Johannes Auri-Suhatman-Lukman antoso-Martin Jopari yang lugas. Di barisan depan, permainan lugas serupa juga diperlihatkan oleh Timo Kapisa-Henky Heipon-Jacobus Mobilala-Hadi Ismanto. Dan bentuk kerjasama itu membuah ketika Timo Kapisa yang bergerak dari rusuk kanan berhasil menyodorkan umpan ke mulut gawang PSSI Harimau, dan langsung disabet oleh Hadi Isnnanto. Tanpa memberi ruang dan waktu berfikir pada kiper Sudarno untuk menyelamatkan gawang dari kebobolan. Tapi bentuk permainan PSSI Garuda dengan cepat pula terpedaya oleh keunggulan itu. Kelugasan semula mulai dibumbui dengan permainan kasar. Korban pertama dirasakan oleh gelandang kanan PSSI Harimau, Sofyan Hadi yang digasak oleh Henky Heipon. Kejadian memang tampak seperti disengaja untuk memancing PSSI Harimau bermain kasar — barangkali inilah taktik perang yang dimaksud Pardede. Tapi PSSI Harimau ternyata tidak sebodoh yang diduga PSSI Garuda. Begitu Sofyan Hadi — pemain ini terkenal bertemperamen panas dan selalu ingin membalas — diperlakukan tidak wajar, pelatih Sinyo Aliandu langsung menariknya ke luar arena permainan. Ia diganti dengan Sumirta. “Kalau hal itu tidak dilakukan, bukan tak mungkin PSSI Harimau akan terpancing oleh permainan mereka”, ujar team manager PSSI Harimau, F.H. Hutasoit seusai pertandingan. Tanpa balas (2) sebelum jedah, memulai permainan lanjutan PSSI Harimau segera menambal lubang kelemahan dengan menempatkan Risdianto dan Ronny Pasla — masing-masing menggantikan penyerang tengah Tumsila dan kiper Sudarno. Masuknya 2 pemain inti ini terpaksa memberikan suasana segar dalam kerjasama team. Lebih-lebih ketika Risdianto berhasil membobolkan gawang Didiek Nurhadi dengan menyundul operan tend angan bebas Iswadi dari luar daerah penalti. Kwartet back PSSI Harimau, Dananjaya-Oyong Lisa Suaeb Rizal-Wahyu Hidayat yang tadinya seolah sudah berputus asa menyetop serangan PSSI Garuda yang menggebu-gebu, kembali memperoleh kepercayaan diri. 50 Ribu Sebaliknya buat PSSI Garuda. Back kanan, Martin Jopari mulai berangasan mengendalikan Andi Lala. Tapi kiri luar PSSI Harimau ini bukan tak lihay memperdayakan lawan yang berlaku demikian. Dengan gerak tipu yang manis, Andi Lala berhasil mengecoh Martin Jopari, untuk kemudian melakukan trekbl yang cantik pada Junaidi Abdillah yang berdiri bebas di antara pemain belakang PSSI Garuda. Umpan dengan cepat bersarang di jala lawan. Dalam keadaan sama kuat itu, apa yang tersisa di kaki pemain Garuda tak lain kehendak itu menyap lawan dengan permainan kasar. Terutama hal itu diperlihatkan oleh pemain-pemain comotan Persipura. Setelah Martin Jopari mendapat peringatan kartu kuning dari wasit Alan Altiide, perlakuan yang sama juga menimpa Timo Kapisa tak lama kemudian. Bermain dalam kondisi peringatan, Martin Jopari dan Timo Kapisa tak mungkin lagi diharapkan berbuat banyak untuk menggertak lawan dengan permainan keras mereka. Dan Iswadi dan kawan-kawan bukan tak arif membaca situasi demikian. Bersama Andi Lala dan Risdianto, ia tampak kian menjadi-jadi merobek pertahanan musuh. Melihat gebrakan itu, Lukman Santoso yang bertindak sebagai pengatur otak pertahanan PSSI Garuda ikut panik. Apalagi setelah tendangan bebas yang dilakukan Iswadi pada menit ke-28 babak kedua berhasil menentukan angka kemenangan buat PSSI Harimau. Bermain dalam situasi panik, PSSI Garuda tak ubah ibarat pasukan kalah perang yang tengah mengalami demoralisasi. Imingan hadiah Rp 50.000 dari Pardede untuk setiap goal yang diciptakan ternyata tak mampu lagi menaikkan moral mereka untuk bermain baik dan bersemangat. Dan ini memberi bukti bahwa faktor uang tak selalu menunjang keberhasilan suatu team, jika kesebelasan itu memang tidak mampu menjalin suatu komunikasi yang klop antar pemain seperti yang diperlihatkan PSSI Garuda terutama di babak kedua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: