Setelah Palapa Diluncurkan

Tempo 24 Juli 1976. SETELAH peluncuran satelit komunikasi Palapa di Tanjung Kennedy, AS, berlangsung 8 Juli lampau, acara TVRI bukan lagi merupakan impian bagi penduduk Sulawesi Utara.
Terutama penduduk Menado, Bitung, Tomohon dan Sonder, punya arti khusus. Sebab impian bisa menikmati siaran “radio bioskop?’ — begitu orang sana menyebut TV — sudah lama dipropagandakan. Dan tahun ini, para yang punya urusan dengan benda berbentuk kotak yang ajaib itu, sudah mengumbar janji pula bahwa pidato kenegaraan Presiden Suharto setiap HUT Proklamasi, sudah bisa diikuti secara langsung diSulut dalam waktu bersamaan. Kali ini janji itu boleh jadi tak kan meleset lagi. Sehingga penduduk Manado tak lagi cuma bisa memandangi TV sebagai pajangan di toko para agen perusahaan Philips, National dan Sharp. Atau di toko-toko yang dulunya cuma biasa memajang radio kaset. Sebagai barang baru, di tahun-tahun belakangan ini TV di Manado ramai jadi barang tontonan. Yang menurut Ernest Lirnbat, agen TV Philips di Manado, bukti “minat orang Manado pada TV memang cukup besar”. Dan tatkala diadakan demonstrasi pemutaran TV dengan video tape di beberapa kota di Sulut perhatian masyarakat melimpah ruah. Sampai-sampai tatkala suatu waktu demonstrasi itu diadakan di depan sebuah bioskop, orang-orang yang semula berniat menonton bioskop berobah ikut berdesak-desakan menonton TV. Tentu saja membikin yang punya bioskop geleng-geleng kepala. “Apakah ini merupakan gejala buruk buat kehidupan bioskop di daerah ini?”, begitu pemilik bioskop bertanya-tanya. Belum jelas. Yang pasti, angin yang membawa harapan baik sedang berhembus ke arah penjual TV di daerah kaya cengkeh dan kopra itu. Seperti diakui Limbat, “harapan pasaran baik memang ada . Belum Selesai Itu berarti TV ukuran 12 – 24 inchi dengan harga Rp 86.500 sampai Rp 213.000 tak cuma jadi barang pajangan. “Harga ini tentu dapat dijangkau daya beli masyarakat di daerah ini”, ucap Limbat lagi. Apalagi bisa dibeli dengan cara kredit. Persediaan percobaan sebuah agen di Manado sebanyak 150 buah menjelang peluncuran satelit Palapa sudah habis. Sehingga harus ditambah sebanyak 500 buah lagi. Bila keadaan serupa dialami agen-agen lainnya, berarti sekitar 2000 TV sudah terlempar ke pasaran. Belum terhitung mereka yang mendatangkannya langsung dari Jakarta atau Surabaya. Hiruk pikuk memiliki TV itu tampaknya tak akan sia-sia. Sebab 3 proyek yang akan menjamin acara-acara siaran TV itu berlangsung, sedang sibuk pula dikerjakan. Yaitu proyek stasion penerima di Dendengan Manado, stasion pemancar dan studio di Banjer Manado dan stasion relay di desa Marawas dekat makam Kiayi Mojo di sekitar Tondano. Proyek-proyek itu sebagian sudah selesai. Sebagian lagi ada yang direncanakan baru selesai Oktober mendatang. Sedang sebagian lainnya kurang jelas. Hingga belum jelas pula, apakah wajah Presiden Suharto sudah bisa ditatap tatkala berpidato 16 Agustus mendatang.
Tempo 24 Juli 1976

Tanya Jawab Awam Soal SKSD Palapa

MASIH banyak hal yang kabur tentang “lompatan teknologi” yang bernama satelit Palapa itu. Ada yang menganggapnya semacam “guci wasiat” atau lampu Aladin yang bisa memecahkan segala problim komunikasi. Ada yang sekedar bertanya, karena memang pengin tahu. Berikut ini TEMPO mencoba menjelaskan hal-hal yang masih kabur itu. T: Apakah satelit Palapa memperlancar komunikasi dari luar negeri ke Indonesia? J: Tidak, sebab komunikasi dari dan ke luar negeri tergantung pada satelit Intelsat yang dimiliki secara bersama oleh 91 negara (Indonesia salah satunya) yang direlai oleh stasiun bumi PT Indosat di Jatiluhur. Selanjutnya. kelancaran komunikasi dari luar negeri ke Indonesia tergantung tempat yang dituju di negeri ini. Komunikasi dari Montreal ke Jakarta, misalnya, sama saja. Tapi komunikasi dari Montreal ke Jayapura, tambah lancar dengan adanya satelit Palapa. Hanya saja, pesan itu harus 2 x naik-turun satelit. Dari Montreal ke Jatiluhur via Intelsat sekali naik turun satelit. Selanjutnya dari Jatiluhur pesan diteruskan ke stasiun bumi Palapa di Cibinong, untuk selanjutnya “ditembakkan” via Palapa ke Jayapura. Jadi komunikasi I arah (misalnya telegram,televisi) harus menempuh jarak 4 x 36 ribu km = 144 ribu km, yang lama perjalanannya l/’2 detik. Untuk komunikasi 2 arah (telepon, misalnya) bisa timbul penundaan dan gema. T: Apakah satelit Palapa memperlancar komunikasi dalam negeri? J: Tergantung tempat yang dituju. Komunikasi dari Jakarta ke Medan misalnya, yang sudah dihubungkan oleh microwave teoritis lebih cepat dengan microwave (“jalan darat”) daripada lewat satelit (“jalan antariksa”). Tapi untuk komunikasi dari Banda Aceh ke Jayapura — yang tidak dihubungkan oleh microwave maupun radio frekwensi tinggi — satelitlah yang paling ampuh. T: Setelah ada satelit, bisakah orang di Jakarta menghubungi sanak-saudara mereka di pelosok-pelosok yang terpencil di luar Jakarta? J: Tergantung apakah “pelosok” itu sudah ada hubungan telkom dengan stasiun bumi yang terdekat. Pare-pare misalnya, akan dibangunkan 1 KTO (kantor telepon otomat) yang punya hubungan dengan stasiun bumi dekat Ujungpandang via KTO Ujungpandang. Di pulau Jawa, Blitar dan Salatiga juga akan dirangkul dalam komunikasi satelit Palapa. Tapi orang Klaten, misalnya, meskipun sudah ada satelit belum bisa menelepon langsung ke Jakarta. T: Dengan berlakunya sistim telepon pijat tombol yang mahal di Jakarta nanti, apakah komunikasi di dalam kota Jakarta sendiri akan lebih lancar? J: Teoritis, ya. Sebab kabelnya baru pesawat teleponnya juga baru. Tapi prakteknya, keamanan dan “ketenangan” kabel-kabel telepon yang baru itu “masih akan terus diganggu oleh penggalian-penggalian jalan yang tidak sinkron antara PLN, PAM (Perusahaan Air Minum) dan Perumtel sendiri”, kata Menteri Perhubungan Emil Salim. Juga sewaktu-waktu bisa terganggu oleh pelebaran jalan, yang bisa membuat sang kabel bergeser ke tengah jalan (di bawah aspal dan kerakal, tentunya). Kalau lalu-lintas ramai, jalan bergetar, kabel pun ikut bergetar. Kalau banjir dan jalan tergenang air, ada risiko sang kabel ikut “masuk angin’ — kalau tidak “masuk air”. T: Antara Bali, Jawa dan Sumatera, apakah masih perlu komunikasi satelit padahal sudah ada microwave, radio VHF? J: Sebenarnya tidak terlalu mendesak. Microwave malah juga bisa dipakai untuk meneruskan siaran TV. Tapi bagaimana menghadapi kenaikan kebutuhan sarana telkom di masa mendatang? Kata Ema Salim, “sarana telkom harus selalu berpacu lebih cepat dari pada kenaikan permintaan”. Dan kenaikan permintaan di tiga pulau itu memang lebih cepat dari pada daerah-daerah lain. Juga kenaikan permintaan sarana telkom antara Jawa dan Kalimantan yang kaya kayu, minyak dan gas alam itu. Makanya di Banjarmasin juga dibangun stasiun bumi. Meskipun Banjarmasin sudah bisa berkomunikasi dengan Surabaya — dan seluruh jaringan microwave dari Medan s/d Denpasar — lewat troposcatter Banjarmasin-Surabaya. T: Apakah tidak ada bahaya “interferensi” (bercampurnya sinyal elektromaknetis) antara SKSD Palapa deran Microwave Nusantara? J: Ada, sebab frekwensi microwave sama dengan frekwensi sinyal yang turun dari satelit. Yakni 4 Giga Hertz (4 juta x juta cydes). Bahaya ini lebih terasa antara Surabaya & Banjarmasin sebab radius sinyal microwave yang dipantulkan dari troposfir (15 km di atas muka bumi) itu bisa mencapai 100-1000 km. Pemecahannya: naikkan frekwensi satelit menjadi 11 – 14 GHz atau 20 – 30 GHz, bangun stasiun bumi jauh dari jaringan microwave, atau.. tidak usah bangun stasiun bumi satelit dan manfaatkan jaringan microwave saja. T: Apakah dengan SKSD Palapa ini siaran TV nasional segera bisa merasuk sampai ke desa-desa? J: Belum karena tiga hal. Pertama. satelit ini bukan satelit siaran broadcast) melainkan satelit komunikasi (telepon, telex, transmisi data). Meskipun ada 1 transponder khusus untuk siaran TV sinyalnya terlalu lemah (hanya 33 deciBell Watt) sehingga tidak bisa ditangkap di desa-desa dengan antena stasiun bumi mini. Kedua, desa-desa memang belum dilengkapi dengan stasiun bumi mini yang murah (Rp 1 juta) dengan antena bergaris-tengah 1-21 meter. Ketiga, program yang mau dipancarkan ke desa-desa itu apa? Jadi pemecahannya pun harus serempak mengganti satelit yang lebih kuat, membangun stasiun bumi yang murah di desa-desa, dan menyiapkan program siaran TV pedesaan yang bermutu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: