Nyuwun pangestu, pak … (transmigrasi)

Tempo 11 Desember 1976. INILAH peristiwa terbesar dalam sejarah transmigrasi di Indonesia. Awal Desember ini di sepanjang tepi jalan sejak pelabuhan Telukbayur sampai desa Sitiung (Sumatera Barat), penduduk setempat berjejal menyambut.
Dengan beberapa bus, rombongan bergerak lewat Solok dan Padang dengan iringan bunyi-bunyian Telepong dan Reog Pororogo. Trip pertama gelombang awal ini terdiri dari 100 kepala keluarga (448 jiwa). Sampai Maret nanti akan menjadi 2.000 kk (65 517 jiwa) yang akan ditempatkan di 4 desa baru kabupaten Sawahlunto Sijunjung: Sitiung, Tiuamang, Silalang (aung dan Koto Salak. Mereka adalah transmigran sukarela ‘bedol desa’ asal 41 desa (6 kecamatan) daerah Wonogiri, Jawa Tengah, yang terkena proyek waduk serba guna Gajah Mungkur. Waduk itu sendiri akan berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik, pengairan dan menanggulangi banjir rutin Bengawan Sala. Sambutan masyarakat ‘urang awak’ cukup ramah. Upacara ‘sekapur sirih’ menurut adat Minang pun dilakukan oleh Zohar sebagai wakil Ninik-mamak, diterima oleh Prawiro Diyono, bayan dukuh Karanglo, dilanjutkan dengan sambutan ketua adat setempat, Datuk Mendaro Kuning. Hari Rabu jam 6 pagi-pagi mereka berangkat ke arah timur menempuh jarak 217 kilometer dan sampai di Sitiung jam 3 sore. Sitiung seluas 108 kilometer persegi dan berpenduduk asli 3.471 jiwa itu, dikenal sebagai subur. Di desa yang terletak 4 kilometer dari Trans Sumatra Highway itu sudah tersedia ladang yang akan dibagikan. Juga areal persawahan yang kini sebagian besar masih menunggu selesainya proyek irigasi dataran Batanghari. Dengan tambahan 100 kk itu, dipastikan Sitiung akan menjadi 2 desa. Dan sesuai dengan ketentuan semula, desa baru itu akan memperoleh kepala desa sendiri, yaitu Pardi Padmosumarto yang memang telah ditunjuk oleh Bupati Wonogiri. Pembabatan hutan yang dalam waktu singkat disulap menjadi 4 desa baru itu, secara bertahap akan dilengkapi pula dengan beberapa prasarana: 4 SD, 2 SLTP, 1 SLTA, Pasar, balai pengobatan, mess, rumah ibadat, gedung KUD, kantor pos dan bank. Selain rumah, sawah dan ladang, para transmigran pun dibekali dengan perlengkapan-perlengkapan kecil: pakaian kerja, peralatan kerja, perabot rumah tangga sederhana. Mereka juga mendapat ganti rugi untuk tanah, rumah, pekarangan, ternak dan tanaman dari tempat tinggal semula yang telah ‘terbedol’. Pola Sitiung ini, menurut Menteri Nakertranskop akan diterapkan di 14 propinsi seluruh Indonesia. Penanganan yang selama ini hanya dilakukan oleh Departemen Subroto itu, selanjutnya akan digarap secara gotong-royong secara fungsionil oleh departemen-departemen yang bersangkutan. Pembabatan hutan, pembangunan jalan dan irigasi oleh PUTL, pemerintahan oleh Departemen Dalam Negeri, Puskesmas oleh Departemen Kesehatan sekolah-sekolah oleh Departemen P & K dan seterusnya. Semuanya dikoordinir oleh Badan Pengembangan Pembangunan Daerah Transmigrasi yang diketuai oleh Menteri Nakertranskop. Di tingkat propinsi oleh gubernur, di tingkat kabupaten oleh bupati. Badan ini, untuk tahun mendatang akan memberangkatkan 22.500 kk ke luar Jawa–biayanya sudah tersedia, sedang tempatnya akan ditentukan kemudian. Biaya untuk tahap pertama, di Sitiung saja, sebanyak Rp 2 milyar untuk 2.000 kk, belum termasuk ganti-rugi. ‘Untuk perumahan meliputi Rp 280.000 sebuah, terdiri dari rumah papan meranti, ukuran 7 x 6 meter berlantai tanah dengan 2 kamar tidur, 1 kamar tamu, kamar makan, dapur dan kamar kecil sederhana. Dalam jangka waktu 10 tahun mereka tidak diijinkan memindah-tangankan tanah dan perumahan. Bagi para pelanggar, akan dikenakan pencabutan hak milik. Dan Sitiung, menurut beberapa transmigran, memang lebih indah dan hijau dari Wonogiri. Beberapa kelpala keluarga, dengan rasa haru memasuki rumah-rumah mereka yang sore itu masih gelap belum berlampu. Di luar tampak asap dapur umum mengepul selama 24 jam, dilayani oleh 20 orang. Seorang lelaki tampak keluar-masuk rumah barunya. Setelah mengamatinya dari depan, ia melambaikan tangan kepada beberapa pejabat dan para pengantar yang malam itu satu-persatu mulai meninggalkan Sitiung. Nyuwun tambah berkah pengestu, pak, kulo lan sak anak bojo” (mohon tambah doa restu, pak, saya dan anak bini), ucap Pak Atmosuwito asal Karanglo kepada seorang wartawan, sembari mengusap kedua matanya yang tampak sembab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: