Eksperimen guruh

Tempo 02 April 1977. MUHAMMAD Guruh Irianto Sukarno Putra, yang mendadak terkenal karenla lagu Renjana, memang tak berhasil membawa kemenangan dari Tokyo.
Tapi mahasiswa tahun ke-3 Universitas Amsterdam jurusan arkeologi ini terus bergulat dengan musik. Sebelum menulis lagu-lagu pop, dia memang getol nongkrong di belakang gamelan. Mula- mula orang mencemoohkannya karena dianggap sebagai keisengan seorang anak orang ternama, yang tak tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi kini jelas, itu tidak semata mata pelarian. Sebuah kaset berikut sebuah buku dengan disain yang mirip dengan disain opera rock Jesus Christ Super Star muncul sebagaibukti. Kaset tersebut berikut bukunya dilempar dengan harga Rp 1.500 dengan PT Dela Rohita sebagai dalangnya. Kaset memuat 6 buah lagu: Indonesia Maharddikha, Chopin Larung, Barong Gunda, Janger 1887 Saka, Geger Gelgel, Smaradhana. Digarap oleh Guruh sendiri dengan band “Gipsy” (Oding, Chrisye. Abadi. Roni. Kinan) dibantu juga oleh sejumlah para penabuh seperti Wayan Dibya Kompyang Roda, Sadra dan beberapa wanita dari grup Saraswati. Berlaras-laras Rekaman yang digodog di studio rekaman Tri Angkasa ini kwalitas teknisnya belum begitu bagus. Barangkali karena keterbatasan studio. Suara vokal misalnya tidak begitu muncul. Tapi warna lokalnya, terutama kibasan gamelan Bali, begitu mencuat, sehingga rekaman ini tetap menarik. Serta-merta kita jadi teringat pada Titik Api Hary Rusly yang berbau gamelan Sunda itu. Bedanya: Harry Rusly lebih condong ke arah musik keras Barat, sedangkan Guruh tampaknya mau nya lebih banyak berlaras-laras dengan dunia pribumi. Di samping itu Guruh juga lebih suka meresapi, menekuni lingkungannya, seakan mau mengingatkan orang pada rasa cinta pada tanah air. Sementara itu Harry Rusly tampak bekerja untuk menjawab tatapan jaman, tantangan masa kini dengan segala protes dan sudut pandangan hidupnya yang berdarah muda. Namun demikian, keduanya sama-sama serius dan bekerja dengan tekun. Buku penopang kaset, setebal 32 halaman, memuat catatan terciptanya lagu serta juga proses perekaman. Ini mungkin sudah berlebihan bagi mereka yang hanya ingin mendengarkan musik tanpa repot membaca-baca. Tetapi inilah memang rekaman yang paling serius untuk pasaran kaset sampai saat ini: ia mengajak para pembelinya tidak hanya duduk ongkang-ongkangan nguping, tetapi ikut masuk ke studio. Ikut berjalan sejak mula ide lagu itu muncul, sampai pada kesulitan-kesulitan dalam perjalanan selanjutnya. Ini semacam film Let It Be dari kelompok The Beatles yang menceritakan proses perekaman album Let It Be. Sasarannya adalah semacam pembeberan untuk tidak menyembunyikan apa-apa sehingga timbul kesan akrab. Lalu proses itu sendiri menjadi lakon dengan sendirinya, sehingga bila lagu kemudian didengarkan, kita seakan-akan merasakan kisah pergulatan manusia. Terutama sekali karena kaset “Guru Gipsy” ini adalah eksperimen, perkawinan antara unsur gamelan (Bali khususnya) dengan musik Barat. Elektronik Sering eksperimen nilainya hanya sebagai eksperimen. Yakni percobaan terhadap kemungkinan-kemungkinan. Tak heranlah ada seorang musikus yang sebelum mendengar kontan menolak “gending-gending komputer”, karena menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak manusiawi lagi. Kita tidak usah memperdebatkan soal itu. Kita masih percaya sampai saat ini, musik kita seberapa jauh pun melejitnya, tidak akan sampai begitu kering, gersang karena terlalu formil dan rasionil. Ini menjelaskan bahwa musik bagi kita masih tetap merupakan makanan rohani, serta juga bagian dari kehidupan nyata sehari-hari. Muka A kaset Guruh berisi lagu Indonesia Maharddhika lagu terakhir yang mereka kerjakan, menurut buku penjelasan. Setelah itu Chopin Larung yang diilhami oleh ciptaan Chopin Fantasie Impromptue. Disusul oleh lagu Barong Gundah — lagu pertama yang dikarang untuk kaset ini. Muka ini terasa banyak kena angin musik Barat, yang langsung mengingatkan kita bahwa hasrat untuk komunikatip itu diam-diam ada. Sebab kenapa misalnya Guruh tidak menabuh gamelan saja atau menyuguhkan ciptaan baru gending-gending Bali. Ia jelas mempunyai bakat untuk itu. Begitu pula di muka B yang dimulai dengan suasana sabungan ayam, lalu diikuti oleh suasana tontonan Janger ternyata tidak kejeblos untuk hanya akrab pada telinga orang-orang Bali saja, Anak-anak muda ini ternyata mencoha hadir dengan jujur dengan separuh kakinya yang terbenam pada lumpur nenek moyang, sementara ia tak hendak mengingkari bahwa kepalanya juga telah basah karena diamuk oleh musik-musik elektronik. Perkawinan yang diselenggarakau oleh Guruh dan Gypsi pada kaset ini memang bukan untuk dipuji secara berlebihan. Tetapi bahwa ia telah dibina dengan tekun oleh sejumlah anak muda, dengan hasil yang tidak mengecewakan, menjadi tanda kreativitas musik kita sedang bergolak lagi. Putu Wijaya
02 April 1977

“membiasakan dengan gamelan”

 

 

GURUH – putera almarhum Presiden Sukarno yang bungsu – lahir di Jakarta 13 Januari 1953, sekolah taman kanak-kanak di dalam kompleks Istana, dan sekolah dasar sampai selesai di Perguruan Cikini. Tahun 1972 sampai 1974 di Negeri Belanda, belajar Arkeologi di Universitas Amsterdam. Katanya kepada Adi Putera Taher dari TEMPO: “Masa kecil yang mungkin juga mendorong saya kini sangat terikat kepada musik, yaitu seringnya saya melihat dan mendengar para pegawai Istana bermain gamelan. Teman-teman bermain saya waktu kecil itu adalah para pegawai Istana dan keluarganya, tukang kebun dan sopirsopir. Bapak juga mengharuskan kami semua, anak-anaknya, belajar menabuh gamelan, belajar tari Jawa, Bali, Sumatera . . .”. Mengenai pendidikan musiknya, ia mengatakan: “Saya tidak pernah belajar musik klasik. Main piano, baca not balok dan gitar saya dapat dari temanteman dan belajar sendiri. Begitu pula dalam gamelan Jawa tidak pernah saya belajar kepada seseorang, sedangkan gamelan Bali saya pernah berRuru kepada I Made Grindem dari desa Teges Kanginan yaitu pada tahun 1971 “Sekolahnya belum selesai. “Mungkin bulan Jlmi ini saya akan kembali ke Belanda untuk sekolah, tapi saya ingin mengambil bidang lain, mungkin sosial politik, tapi belum pasti, karena saya sendiri juga tidak tahu apa wadah yang tepat untuk diri saya . . . “. Mengenali cita-citanya dia berkata: “Saya ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari pada menjadi seorang arkeolog atau musikus saja. . . saya ingin aktif mengurusi masyarakat dan berguna di masyarakat . . .”. Di bawah ini wawancaranya dengan Eddy Herwanto: Tanya: Apa musik anda punya dasar ide? Guruh:Ya. Bukan khayalan semata. Tapi suatu cita-cita buat Indonesia. Supaya generasi muda yang tadinya nggak pernah mikir-mikir dan kayaknya sudah nggak ada kerjaan, tenggelam dalam rock Barat, mulai kembalilah ke kepribadian nasional. Tapi saya nggak mau ini disebut proyek nasional. T: Tapi agaimana kalau anak-anak muda itu memang sukanya rock keras? G: Musik itu memang bagus untuk orang Eropa. Buat orang sini sebetulnya sih bagus kalau bisa memakainya. Musik yang dihasilkan dari dunia ke-I masuk ke dunia ke-III, ndilalah masuk bersamaan dengan pengaruh hippies, ganja, free sex dan sebagainya. Musik itu bikin malas orang mikir. Untuk sementara waktu belum cocok. Di sini banyak orang yang belum mengenal kota dengan baik. Banyak orang snob. Sesungguhnyalah secara nggak langsung musiknya itu sebagai stimulator untuk berbuat mat-matan sambil nyuntik morphin atau heroin. Saya sendiri misalnya ketika mengisap ganja pernah pasang PH Led Zeppellin, supaya lebih stoned. T: Apakah acla wajah musik pribu mi? G: Keroncong asli, seperti O.K. Tugu, itu wajah Indonesia. Juga gamelan Jawa, Bali, ataupun Sunda. Danglut saya kira juga wajah musik Indonesia. T: Mengapa anda mencampurkan musik Barat dengan gamelan? G: Tujuan saya adalah membiasakan orang Indonesia mendengarkan gamelan. Sebab membiasakan diri itu ti dak dapat langsung sekaligus, melainkan berdikit-dikit. Mana mau orang Indonesia “modern” mendengarkan atau memperhatikan, kalau hanya suara gamelan tok? Mereka kebanyakan buta tentang gamelan atau musik tradisionil lainnya. Sedang orang Jawa saja zaman sekarang tambah banyak yang tidak menggubris gamelan, terutama angkatan mudanya yang “berada” dan tinggal di kota besar seperti Jakarta, apalagi dengan orang luar Jawa-Bali! Musik Indonesia asli seperti garmelan harus digalakkan. Saya tidak bermaksud merusak yang asli. Sedang dari aslipun kesenian perlu berkembang, sebab kesenian bukan barang mati. Ia harus tumbuh bersama masyarakatnya dalam garis sejarah suatu bangsa. T: Bagaimana pendapat anda tentang musik Harry Rusli? G: Harry Rusli oke, tapi saya harap kita lebih memperdalam musik gamelan dan sejarah lagi. T: Bisakah eksperimen anda dimainkan di panggung? C: Kalau misalnya ada yang menyediakan Rp 10 juta, mungkin baru bisa. Sebab para pemainnya, banyak yang berasal dari Bali, banyak juga yang sudah kawin. Paling sedikit dibutuhkan 50 pemain naik panggung. Belum ongkos penginapan, dekorasi dan sebagainya. Cuma musik kami ini meninggalkan sifat komersiil. Bukan seperti lagu kacang goreng. Untuk naik panggung kami membutuhkan setidaknya 2 bulan latihan dengan pemain lengkap. Musik kami, memang lebih bisa dihayati bila dipertunjukkan langsung. Lewat rekaman susah diungkapkan, karena ini memang bukan tipe rekaman. Seperti misalnya suasana ramai yang dikehendaki dalam lagu Janger, karena track terbatas, akhirnya bunyi yang kedengaran tampil dengan melankolis. T: Apa rencana anda selanjutnya G: Tunggu kondisi. Kalau suasana agak santai, saya ingin rekaman lagu pop. Saya ingin merekam lagu saya, seperti Januari Kelabu, akon Manusia, dan banyak lagi. Mungkin saya akan turun dengan Gipsy, dengan sedikit gamelan. Bezettingnya sederhana, sehingga tidak memerlukan banyak track.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: