Invitasi “Serba Salah” Nasional Bulutangkis 1972

Tempo 9 September 1972. Invitasi nasional bulu tangkis di Solo, berakhir. dari sini muncul juara-juara baru. tapi menurut PBSI, ini belum jaminan terbaik. invitasi tersebut belum memenuhi target yang ditetapkan.

BERAKHIRNYA Invitasi Nasional Bulutangkis di Solo (26-28 Agustus) minggu lalu, meski memunculkan muka yang tidak baru, juga tidak memberikan jaminan bahwa sang juara adalah yang terbaik diantara yang ada. Tapi paling tidak hasilnya memang dapat dipergunakan untuk mengintip calon-calon yang akan dipersiapkan untuk TC Turnamen Piala Thomas 1973 yang akan datang – disamping Rudy Hartono dan pasangan ganda Christian/Ade Chandra. Karena sejak mundurnya Darmadi sehabis perebutan Piala Thomas di Kuala Lumpur 197O, ditambah dengan cideranya Muljadi dalam Turnamen ABC 1971 yang kemudian terulang lagi di All England 1972, membuat PBSI semakin prihatin. Dan untuk menjawab tantangan itulah, maka PBSI perlu juga rapat sebentar untuk mengadakan inventarisasi pemain-pemain harapan dari seluruh Indonesia.Target. Adakah hasil kejuaraan tersebut memenuhi target yang telah ditetapkan’? Secara gampang memang sudah. Namun dengan gugurnya beberapa pemain berbakat yang diharapkan–diantaranya Iie Sumirat, Juara Nasional 1971 segera pula mengundang kita untuk sampai pada keraguan. Kekalahannya dibabak perempat final dalam suatu rubber-set 15–7, 7–15, 15–11 dengan Djaliteng (Jaya) membuat bisik-bisik di luar yang akan mengecamnya bila ia termasuk dalam daftar pemain TC. Meskipun Sumarsono dalam hal ini punya pandangan lain. Dihadapan 3 orang anggota SIWO di Hotel Sapta ia mengatakan: “Bagaimanapun kita harus memperhitungkan faktor juara nasionalnya”. Dengan kata lain pintu flat di Jalan Polo Air masih terbuka bagi Iie, asalkan pemain yang tergolong ber-“mental lemah” ini nau memperbaiki dirinya.

Lantas mengenai sang juara baru. Kendati Djaliteng, anggota regu Piala Thomas Indonesia 1970 yang menduduki tempat tersebut setelah menang WO atas Amril Nurman, kemajuannya tidak banyak berbeda dengan yang dulu. Modalnya cuma keuletan, teknis masih saja belum meyakinkan. Demikian juga Amril Nurman. Agaknya untuk bisa menampilkan dirinya sebagai pemain perorangan dalam perebutan Piala Thomas nanti. Latihan melepaskan pukulan yang mematikan perlu diperdalamnya.

Tjuntjun. Pada partai ganda, dengan munculnya pasangan Tjuntjun/Johan Wahjudi yang membuat pasangan Nara/Indra Gunawan tak banyak berkutik dalam rubber-set 15–9, 16–18 dan 15–3. semakin meyakinkan kita bahwa pasangan Nara/Indra hanya tinggal nama. Kebiasaannya untuk saling melempar kesalahan belum juga bisa ditinggalkan sehingga dalam ketidak keserasian tersebut dengan mudah lawan memadamkannya. Seandainya PBSI masih saja ingin mengharapkan mereka berdasarkan jasa-jasa lama, dalam hal ini adalah suatu pilihan keliru. Sekalipun harus kita akui juga pasangan Tjuntjun/Johan Wahjudi belum bisa bermain mantap, sebagai pasangan yang mungkin diharapkan untuk mempertahankan Piala Thomas. Tapi mengingat faktor Tjuntjun yang selama invitasi baik untuk partai perorangan ia menempati tempat ke-3 maupun dalam partai ganda bermain baik sekali, maka ada baiknya pemain ini diperhatikan Ridwan, anggaota Komisi Teknik PBSI pun mengakui kemampuan Tjuntjun: “Dalam jangka waktu berlatih yang sama Tjuntjun akan lebih maju daripada Amril”, katanya kepada TEMPO. Hal ini mengingat postur Tjuntjun yang cukup baik sebagai pemain bulutangkis ditambah dengan rasa disiplinnya terhadap peraturan memungkinkannya untuk lebih maju lagi.

Palembang. Sekiranya Tjuntjun terus berpasangan dengan Rudy untuk partai ganda seperti yang telah mereka perlihatkan di Palembang, dimana mereka menundukkan pasangan Christian/Ade Chandra, besar kemungkinan kelemahan partai ganda bisa tertolong juga.

Kini soalnya apakah PBSI akan mampu menerima kenyataan-kenyataan hasil invitasi (yang mungkin diluar dugaan mereka)? Meskipun berat, kalau tidak dimulai sekarang kapan lagi. Sebab semua itu adalah risiko daripada invitasi yang sulit untuk dikategorikan nasional secara teknis, selain fasilitas lapangan Gelora Manahan yang tak memenuhi syarat. Juga shuttlecock Garuda yang dipakai mutunya tidak lebih baik dari apa dimainkan dalam Turnamen Jakarta yang lalu. Sehingga untuk menjatuhkan vonis hahwa pemain yang berhasil itu betul-betul meningkat kemampuannya, sementara yang kalah juga karena prestasinya sudah mundur, agaknya masih diperlukan suatu kejuaraan yang lain lagi, yang bisa diberi predikat nasional baik teknis maupun penyelenggaraannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: