Ke Tokyo Via All England 1972

Tempo 4 Maret 1972. Enam pemain putri telah dipersiapkan untuk perebutan piala uber di Tokyo juni mendatang. para pemain juga akan dikirim ke All England pada bulan maret. tujuannya untuk memperoleh pengalaman bertanding.

SEKALI lagi Regu Uber Cup lndonesia mendapat kemenangan W.O. Kali ini dari Thailand setelah pada babak pendahuluan mendapat W.O. dari Hongkong. Lapang sudah djalan menudju Tokyo dibulan Djuni jang akan datang meski didapur PBSI pengolahan untuk menampil regu jang paling tangguh masih berlangsung terus.Siapa sadja jang akan mendapat kepertjajaan membela nama Indonesia nanti? Tidak sukar ditebak: Intan, Taty Sumirah, Utami Dewi, Regina Masli, Poppy Tumengkol dan Retno Kustijah hampir dipastikan merupakan ke-6 pemain Indonesia jang akan mengisi Regu Uber Cup Indonesia. Konon dua tjalon jang kuat seperti Widiastuty dan Theodora, masing-masing dari Jogjakarta dan Surabaja kemungkinan besar akan diikutsertakan sebagai pemain-pemain tjadangan .

Stock. Mendjadjagi kembali persiapan PBSI mendjelang berhadapan dengan Hongkong (Oktober 1971), Malaysia (Desember 1971) dan Muangthai (Pebruari 1972) tertjatat beberapa kali pentc-an plus adegan “seleksi”nja. Pertama, 10 pemain dipersiapkan: 6 pemain inti tersebut ditambah Theresia Widiastuty (Jogja), Megawati (Surabaja), Elia (Surabaja) dan Thio Wan Eng (Solo). Hasilnja ke-4 pemain jang disebut terachir boeh bergembira dengan status tjadangan. Kedua, dalam menghadapi Malaysia disamping ke-6 pemain Regu Uber Cup jang ada, kembali diikut sertakan Widiastuty dan Megawati sebagai tjadangan tetap ditambah Eem (Bandung) dan Liana (Bogor). Hasilnja tidak berubah: Regu berintikan pada ke-6 pemain semula dan Widiastuty tjalon kuat untuk tunggal dan ganda terpaksa meninggalkan TC, “memenuhi panggilan sang ajah untuk melandjutkan sekolahnja”, seperti dikatakan pimpinan PBSI. Sementara Eem dan Liana pulang kandang.

Mendjelang persiapan ke Tokyo dibulan Djuni, kembali ke-6 pemain diTC-kan. Kali ini ditambah dengan Theodora (Surabaja) ex-pemain Uber Cup Indonesia ke Selandia Baru 1969 dan dua pemain lagi dari Surabaja masing-masing Enny Handajani dan Erna untuk ganda. Dua pemain jang belakangan ini dengan alasan sakit tidak dapat mengikuti TC selandjutnja.

Maka stock pemain PBSI untuk Uber Cup tinggal ke-6 pemain inti tersebut ditambah Theodora. Barangkali itu sebabnja PBSI terkenang pada Widiastuty dan kini sedang diusahakan pemain muda itu dapat sekali lagi meninggalkan bangku sekolah, mendjadjal nasibnja untuk bisa masuk ke Regu Uber Cup – meski sesungguhnja pintu Regu Uber Cup praktis sudah tertutup.

Serep. Olah punja olah, siapa jang akan disingkirkan dari 6 pemain itu, djika PBSI masih mengharapkan tjalon anggota Regu dapat diperkuat dengan TC dan seleksi? Untuk mengeluarkan Retno Kustijah begitu sadja sudah barang tentu tidak semudah pimpinan PBSI melepaskan Widiastuty misalnja. Sebab, pengalaman dan sedjarah Retro di Uber Cup hampir abadi. Dan disamping djasa-djasanja dimasa lalu ikut berbitjara, pimpinan PBSI belum ada njali memisahkannja dari Intan dipartai ganda, meskipun sementara penindjau beranggapan tidak ada salahnja djika Widiastuty lebih sering ditjoba bersama Intan. Tetapi berita terachir dari dapur Polo Air tertjium bahwa baik Theodora dan Widiastuty akan diikutsertakan ke Tokyo untuk “ban serep”.

Ini bukan “djandji pengurus” seperti jang diberikan kepada “Ade dan Christian” (TEMPO, 12 Pebruari 1972), tapi berdasarkan akal sehat bahwa turnamen di Tokyo tjukup berat lihat skema) dan Widiastuty perlu diberi pengalaman untuk mengisi tempat Retno jang saat ini telah tiba dimasa sendja.

Tetapi agaknja dalam waktu persiapan tiga bulan ini masalah stock pemain dan tjadangannja tidak lebih penting dari pertanjaan: bagaimana meningkatkan mutu permainan dan pengalaman bertanding ke-6 pemain inti ini? Sebab merubah komposisi jang ada sekarang agaknja lebih merepotkan daripada mentjari dana untuk memberangkatkan mereka ke “All England” dibulan Maret jang akan datang. Di London dan dibeberapa kota Eropa lainnja kesempatan bertanding dengan pemain-pemain dari berbagai negara terbuka lebar. Masalah menang-kalah patut diimbangi dengan manfaat jang diperolehnja. Dan jang paling utama sudah barang tentu kedewasaan dan kekompakan tjalon Regu Uber Cup itu. Begitulah kira-kira djalan menudju Tokyo via London.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: