Komedi Seleksi

Majalah Tempo. 09/I 01 Mei 1971. PBSI mengadakan seleksi pemain untuk menghadapi kejuaraan Asia. Pertarungan dalam single putra, antara Darmawan lawan Yuniarto berlangsung dramatis. tapi berbeda dengan partai double yang sudah diatur.

 

MENJELENGGARAKAN Kedjuaraan Asia tidak semudah mengedja ABC, singkatan Asian Badminton Championship jang belakangan ini mendjadi populer dibibir penggemar Bulutangkis Indonesia. Sebagai tjalon Tuan Rumah ABC III, induk organisasi jang bernama PBSI, pagi-pagi mempersiapkan diri ke arah itu. Sedjumlah 25 pemain-pemain putera-puteri dari Djakarta, Djawa Barat, Djawa Tengah, Djawa Timur dan Kalimantan Selatan selama 4 malam berturut-turut mengadu kekuatan di pertengahan bulan April. Sementara itu Team Peneliti PBSI, dibawah coach Stanley Gouw, mengamat-amati kondisi pemain-pemain utamanja menurut ranking Kedjuaraan Nasional di Jogja beberapa bulan jang lalu, sambil mengetjek pemain-pemain harapan jang dimadjukan daerah dalam Seleksi ABC ini.

 

Maka pada malam terachir tanggal 17 April di Hall “C” Senajan, Drs Sudirman menutup seleksi ini dengan kata-kata singkat jang mengesankan. “Seleksi dimaksudkan untuk Kedjuaraan Asia, bukan untuk Uber Cup, bukan pula untuk menentukan djuara, melainkan mentjari pemain-pemain terbaik. Sesungguhnja PBSI ingin men-TC-kan lebih banjak pemain-pemain, namun kesulitan akomodasi di Senajan tidak mengizinkan”. 7 pemain putera masing-masing Darmawan, Juniarto, Nara, Cristian, Atik, Tatat, Tjuntjun ditambah Rudy, Muljadi, Iie Sumirat dan Indra Gunawan dan 8 pemain puteri masing-masing Utami Dewi, Intan, Megawati, Retno Kustijah, Regina, Eliza, Poppy Tumengkol dan Nurhaena akan mendjadi penghuni TC Senajan mulai permulaan Mei ini sampai seleksi berikutnja jang direntjanakan pada bulan Djuli jang akan datang.

Gaja Rudy. Stock-opname-pun usai. Tetapi adakah terlihat sesuatu jang baru dari muka-muka lama jang tampil sebagai hasil seleksi ini? Disinilah persoalannja. Darmawan untuk kesekian kalinja berhasil menundukkan Juniarto setelah pertarungan rubber-set jang mejakinkan 6-15, 18-17, 15-6. Selisih satu angka dalam set kedua memperlihatkan betapa Darmawan, adik Darmadi, mentjoba memperpandjang pertandingan dan dia berhasil. Dua matjam pola permainan dipertundjukkan kedua pemain muda ini. Juniarto, jang perawakannja lebih djangkung, seperti biasa menggunakan sendjata smash dan dropshotnja jang tadjam. Pemain Djakarta jang pernah mendapat djulukan “duplikat Rudy” tersebut mendasarkan permainannja seperti gaja Djuara “All England”. Main pendek dan tjepat. Serang terus dan mempersingkat rally-rally pandjang dengan dengan smash setadjam paku, kalau tidak dengan drop dimuka net.

 

Pada set pertama Darmawan lebih banjak menggeleng-gelengkan kepalanja. Tetapi bukan dia tidak tahu bagaimana tjara menghadapi pola permainan Juniarto. Tekad bertahan seraja melajani setiap serangan lawan dengan rally pandjang merupakan sendjatanja. “Andaikata serangan Juniarto terbendung dan andaikata tempo permainannja menurun, kalah dia”, kata Indratno, ex-pemain Thomas Cup Indonesia kepada TEMPO. Dan “andaikata” itu mendjadi kenjataan ketika diudjung set kedua, ketika kedudukan “4 sama” dalam deuce 13-13, Juniarto tidak dapat memelihara kestabilannja. Beberapa kali terdjadi pindah bola (service over) dan sebanjak itu pula kedua pemain melakukan kesalahan. Perebutan satu angka inilah jang mendjadi klimaks selama pertandingan-pertandingan seleksi berlangsung. Dan dalam menghadapi puntjak ketegangan ini Juniarto menjerah kepada Darmawan. Rubber-set mutlak dikuasai si anak Solo. Juniarto masih tetap pada polanja semula, tetapi temponja menurun. Smashnja mulai mengambang, dropnja lebih banjak tersangkut. Adjakannja untuk bermain dimuka net ditolak Darmawan dengan lob-lob tinggi kepodjok-podjok baseline. “Untuk apa dia kerandjingan dengan gaja Rudy, sedang Rudy sendiri akan kewalahan kalau serangannja terbendung”, komentar Indratno pula. “Sebaiknja anak muda ini mengembangkan bentuk permainannja sendiri”. Dan apabila Juniarto jakin bahwa “Gaja Rudy” bukan monopolinja inilah nasihat Indratno pula: “Dia harus berlatih satu lawan dua, seperti Rudy berlatih mendjelang Turnamen Thomas Cup jang lalu”. Tetapi apa jang sesungguhnja mendjadi kelemahan Juniarto adalah soal mental, seperti kata beberapa penindjau. Dalam bidang mental inilah orang menaruh harapan pada bimbingan ajahnja, Suharso ex-Bendahara PBSI jang lalu.

 

Tunangan. Kalau dalam final single ini mempersembahkan pada 1.000 penontonnja pertundjukan jang dramatis, maka dalam partai double antara Christian/Atik, lawan Tatat/Tjuntjun – keduanja dari Djabar, orang melihatnja sebagai komedi, setidaknja bagi pasangan Ade Chandra/Budiman T dari Djakarta. Seperti kata kedua pasangan jang disebut belakangan ini bahwa kemenangan Christian/Atik terhadap Tatat/Tjuntjun dimalam terachir dengan 15-11, 15-4, tidak lutju dan siapapun tahu itu sudah diatur terlebih dulu. Sudah barang tentu dengan tudjuan menjisihkan pasangan double Djakarta dari kesempatan masuk TC.

 

Sjahdan, problem dibagian putera tidak segawat dibagian puteri. Setelah Minarni mengalami tjedera di Asian Games VI dan berkeluarga, orang turut prihatin mentjari penggantinja. Siapa jang akan mengisi Team Uber Cup Indonesia, meskipun ditegaskan Sudirman bahwa seleksi ini bukan untuk Team Uber Cup. Tantangan ini didjawab oleh pemain kawakan Intan ex-pemain Uber Cup tahun 1965-1966, atau jang belakangan ini terkenal sebagai tunangan Djuara Amerika Serikat 1971, Muljadi, Intan membuat “come-back” jang mejakinkan. Meskipun dalam final ia dikalahkan Utami Dewi dengan 11-7, 11-3. Kondisi fisiknja tidak sebaik Muljadi dan harus ditingkatkan untuk mengimbangi teknik dan sistim kontrolnja jang matang. Kelentukan tubuhnja menghambat daja antisipasinja dalam menjambut drop-shot Utami jang tadjam. Namun Intan jang berpasangan dengan Regina dalam partai double berhasil menundukkan Poppy/Nurhaena dalam straight-set 15-10, 15-13. Pasangan jang terachir ini adalah double Indonesia nomor 2 setelah pasangan Minarni/Retno. Muntjulnja Intan dan Regina dari Djakarta benar-benar memantulkan sepertjik harapan dalam menjongsong Turnamen Uber Cup jang akan dimulai tahun ini djuga. Mengapa pimpinan PBSI seolah buta akan potensi ini, sehingga pemain seperti Utami dan Intan tidak diikutsertakan dalam turnamen-turnamen diluar negeri seperti “All England” atau “Kedjuaraan Terbuka Hongkong” misalnja? Apapun kejakinan orang tentang kemungkinan Utami djadi Djuara “All England”, ketjemerlangan permainannja seperti jang diperlihatkan di Hall “C” hanja menambah keraguan orang tentang kebidjaksanaan Pimpinan PBSI.

Vitamin. Sementara kondisi Retno memperlihatkan gedjala-gedjala jang tak tertolong lagi, muntjullah pendatang-pendatang baru. Wang Eng/Julianawati dan Grace/Holly sedikitnja memberi hiburan. Terutama pasangan “djuru kuntji” Grace/Holly, tidak mustahil dibawah bimbingan Coach Surono dari Bogor akan menandjak terus mendjadi “pemain-pemain kuntji” dimasa jang akan datang. Kedua pemain jang masih tergolong junior itu kentara sekali kekurangan satu vitamin: pengalaman.

 

Arkian, pertandingan seleksi dibulan April tersebut akan lebih berkesan apabila petugas-petugas pertandingan seperti Wasir, Service Judge dan Linesmen lebih terlatih. Terutama Service Judge seolah belum menguasai peraturan servis baru. Sehingga Sudirman mendahului Ramli Rikin untuk mendemonstrasikan bagaimana seorang pemain harus melakukan service berdasarkan peraturan IBF jang baru (lihat box).

 

***

BOKS

PADA Rapat Tahunan IBF (Federasi Bulutangkis Internasional) tahun 1970, Peraturan permainan pasal 14 (a) mengalami perubahan. Peraturan jang lama berbunji:

Seorang pemain dinjatakan salah: Djika dalam melakukan service, posisi shuttlecock pada saat dipukul berada diatas pinggang pemain jang bersangkutan. Atau djika bagian manapun dari kepala raket, pada saat dipukulnja shuttlecock, lebih tinggi letaknja dari pada tangan pemain jang memegang tangkai raket.

 

Peraturan jang baru:

 

Seorang pemain dinjatakan salah: Djika dalam melakukan service, (i) Posisi shuttlecock pada saat dipukul berada diatas batas pinggang jang bersangkutan. Atau (ii) djika pada saat shuttlecock dipukul tangkai raket tidak menukik demikian rupa, sehingga seluruh kepala raket djelas berada dibawah tangan pemain jang memegang tangkai raket.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: