Mencari Mukjizat Di Karangsetra (Uber Cup 1972)

Tempo 20 Mei 1972. Tim uber cup Indonesia yang dipersiapkan ke Tokyo, berlatih di Karangsetra, Bandung. lawan terberat Jepang. kini semua pemain berlatih maksimal untuk memboyong piala uber.

 

harapannya fifty-fifty. Dua minggu lagi, Team Uber Cup Indonesia jang kini sedqng mengalami latihan di Bandung, akan berangkat ke Tokio mengikuti babak-babak terachir Turnamen Uber Cup. Kegiatan dan keadaan para pemain berhasil direkam Reporter Herry Komar jang chusus mengundjungi mereka disana. Berikut ini laporannja: LANGIT memang sering mendung di atas Karangsetra. Tapi adakah itu pertanda gelapnja djalan ke Tokio bagi regu Uber Cup Indonesia? Tak seorangpun jang bisa meramalkan. Jang pasti untuk merenggut piala Njonja H.S. Uber terebut dari tangan puteri-puteri Djepang tidak akan terlalu mudah. Menurut ramalan non-komputer–djuga tanpa perhitungan zodiac oleh para astrolog hampir dapat dipastikan bahwa regu Uber Cup Indonesia akan bertemu muka dengan lawan bujutannja dibabak terachir. Walaupun mungkin berbau klenik. agak masuk akal djuga ramalan tersebut, mengingat lawan-lawan jang bakal di hadapi oleh Retno Kustijah cs dibabak penjisihan nanti adalah pendatang baru dari Kanada dan Selandia Baru, jang di atas kertas tingkat permainan mereka masih berada dibawah regu Indonesia. Dan dibabak jang sama, buat Djepang djuga tidak akan begitu sulit untuk menjingkirkan salah satu pemenang zone Eropa, baik Inggeris maupun Denmark. Hidjrah. Kini jang mendjadi masalah, adakah regu Indonesia akan mampu untuk beradu pandjang nafas dan bersilat raket dengan puteri-puteri Djepang jang saat ini meradjai dunia bulutangkis wanita? Djawabannja sedang digodok di Karangsetra. Karena sedjak 16 April jang lalu 7 diantara 8 pemain jang di persiapkan buat ke Tokio sudah hidjrah dari Djalan Polo Air kesana untuk di tempa selama 6 minggu. Mereka adalah: Tati Sumirah, Intan, Retno Kustijah Poppy Tumengkol, Regina Masli, Theodora dan Liana. Sementara Utami Dewi karena kesibukan kuliahnja terpaksa memisahkan diri. Latihan-latihannja kini di tangani langsung oleh kakaknja Rudy Hartono dan Ridwan. Ini sadja sudah merupakan langkah pemikiran jang n1adju dari PBSI. Sekembalinja dari All England 1972 tampaknja pemikiran-pemikiran para pembina dunia bulutangkis mendjadi lebih terbuka. Kalau dulu mereka tidak mau berbitjara tentang kelemahan-kelemahan anak-anaknja, kini djustru setjara terang-terangan mereka beberkan. Stanley Gouw mendjelang keberangkatan ke Tokio bulan depan untuk memperebutkan piala Uber, pernah mengatakan: “Kelemahan pemain kita 70 prosen terletak pada fisik” (TEMPO 15 April 1972). Agaknja pengalaman di Wembley telah membuat mereka sadar bahwa Djepang memang lawan jang berat. Lalu bagaimana? Untuk mengedjar ketinggalan jang terlalu djauh itu, mereka lantas mempertjajakan pembinaan team Uber Cup kali ini pada Drs (STO) Tahir Djide dan expemain Thomas Cup Olich Solichin. Dan kedua orang ini dalam waktu 6 minggu sudah harus menjiapkan suatu team jang betul-betul tangguh. 70%. Adakah mereka akan berhasil Setelah memasuki minggu ke–3 Tahir Djide jang mendapat tugas pembinaan fisik mengatakan: “Saat ini kwa fisik kita masih dibawah mereka”. Kemudian ia menambahkan: “Mungkin pada minggu terachir akan liwat dari angka 70 prosen”. Walaupun apa jang dikatakan Tahir itu agak sukar untuk diukur setjara eksak, namun keoptimisannja itu di dasarkan kepada semangat para TC-wati mengikuti latihan dan tiada seorangpun diantara mereka jang mengeluh. Untuk ini Retno Kustijah tampaknja perlu angkat bitjara: “Walau latihan-latihan disini lebih berat, karena variasinja banjak djadi tidak terasa membosankan”. Faktanja: 11 kali keliling stadion Siliwangi mereka liwati dengan anteng-anteng sadja Pada minggu ke 6 nanti targetnja 20 keliling. Djadi kalau dikatakan stamina pemain-pemain kita di Bandung lebih madju dari sebelumnja, barangkali ada benarnja. Meskipun perlu dibuktikan setjara ilmiah, misalnja test fisik melalui kedokteran olahraga. Kawin. Dibidang teknik team Uber Cup 1972 ini mendapat pembinaan langsung dari Olich Solichin, bekas pemain nasional tahun 50-an. Variasi latihannja boleh djuga. Seperti latihan kering – tanpa bulu angsa – dengan raket tenis untuk stroke, backhand drive, forehand drive, smash dan sebagainja: semua itu ditudjukan untuk memperkeras pukulan dan kelintjahan tangan. Tampaknja variasi baru itu berpengaruh langsung terhadap Tati jang kini semakin lintjah diatas lapangan, dan pukulannja djuga kian mantap. Demikian djuga Intan, Ketno, Poppy dan Regina dan lain-lain. Walaupun disana-sini masih terdapat kelemahan-kelemahan jang perlu pula mendapat perhatian jang serius. “Saja menjadari hal itu”, udjar Olich Solichin kepada TEMPO sehabis test-trial (pertandingan pertjobaan) dengan pemain-pemain Junior putera di Hall Pusat Latihan Kerdja, Selasa 9 April malam. Selain itu Olich bersama-sama Komisi Teknik dengan petundjuk-petundjuk PBSI Pusat, telah mengawinkan pasangan-pasangan ganda baru: Poppy Tumengkol dengan Retno Kustijah dan Regina Masli dengan Intan. Pertimbangannja sederhana: kalau Retno berpasangan dengan Intan, mereka tjukup ulet, tapi kurang penjelesaian-achir (finishing touch). Sementara pada pasangan Regina/Poppy, kekurangannja terletak pada lemahnja pertahanan mereka, meski keduanja tjukup gigih dalam penjerangan. Dan ternjata pasangan baru itu lebih kompak dan tangguh – mungkin bukan untuk melawan pasangan Aizawa/Takenaka djuara All England 1972–sehingga permainan mereka tampak hidup. Kemungkinan mereka akan dipisah lagi kelihatan ketjil sekali, sungguhpun PBSI belum memastikan susunan para pemain. Hal itu kelihatan dari utjapan Retno: “Dengan Poppy, saja merasa kekuatan kami hampir sama seperti ketika saja berpasangan dengan Minarni”. Demikian djuga untuk partai tunggal susunan team Uber Cup Indonesia tampak tidak akan berobah, seperti jang diturunkan sewaktu menghadapi Malaysia, urutannja: Utami, Tati dan Intan. Karena bagi Theodora dan Liana — keduanja pemain tjadangan – kelihatan agak sukar untuk menggantikan kedudukan ketiga pemain tersebut. Teknik. Apakah dengan utjapan Retno kemungkinan djuara di Tokio akan lebih besar? Sulit untuk menilainja. Karena teknik permainan sukar untuk di ukur dengan utjapan seseorang dan hanja pertandingan itu sendirilah jang akan menentukan. Meski begitu barangkali dapat dipakai hasil pertandingan para TC-wati melawan pemain junior putera Bandung. Dari 3 kali pertandingan untuk partai tunggal (tanggal 2, 4 dan 9 Mei) Tati Sumirah mentjatat: 1 kali kalah dengan Udjang Tarja (ranking I Junior), 1 kali menang dengan Adang (ranking II Junior) dan 1 kali seri melawan Oman (ketika terdjadi rubber-set pertandingan tidak dilandjutkan). Intan. keadaannjapun sama dengan Tati: 1 kali seri dengan Adang, 1 kali menang dengan jin Ho dan 1 kali kalah (rubber-set) dengan Udjang Tarja. Theodora mentjatat: 2 kali kalah masing-masing atas Sin Hock dan Affu dan 1 kali seri melawan Adang. Liana: 1 kali kalah dengan Tjin Ho, 1 kali seri engan Johnny dan 1 kali menang (rubberset) atas Asep. Dalam partai ganda pasangan Retno/Poppy mentjatat: 2 kali menang atas pasangan Sin Hock/Tjin Ho dan pasangan Asep/Adang, 1 kali kalah dengan Johnny/Uun (ranking I Junior) dan 2 kali seri atas pasangan Adang/Oman dan Udjang/Johnny. Pasangan Regina/Intan: 2 kali seri atas pasangan Adang/Oman dan pasangan Udjang/Johnny, 2 kali menang atas Johnny/Uun dan Sin Hock/Tjin Ho. 40–60. Melihat hasil test-trial itu di tambah dengan pengamatannja sewaktu turnamen Teijin Trophy dulu, Emon Soeparman, Komandan TC berkesimpulan: “Keadaannja sudah fifty-fifty” Tapi seorang pemain nasional putera (anak Bandung) jang sering melihat dari dekat perkembangan anak-anak puteri kita, masih memberikan angka lebih untuk Djepang: “Masih 40–60”, katanja kepada TEMPO. Paling tidak memasuki minggu ke-3 ini, memang begitulah keadaannja. Mungkin angka “fifty-fifty” itu akan terdjadi setelah minggu terachir nanti. Kendati disana-sini keadaan pemain berdjalan madju, bukan berarti tidak ada keluhan dari mereka. Fasilitas lapangan untuk mematangkan teknik jang kurang memenuhi persjaratan sering di sebut-sebut. Ka

rena lapangan jang terdapat di Hall Pusat Latihan Kerdja djelas kelihatan kurang memenuhi sjarat untuk mempersiapkan suatu team nasional. Selain terlalu litjin (para pemain sering mengeluhkan hal ini) djuga sistim penerangannja kurang baik, Di Gelora keadaannja sedikit lebih baik, hanja sadja lempatnja tidak memungkinkan untuk memainkan 2 partai sekaligus, sehingga akan banjak waktu jang terbuang tanpa latihan. Mungkinkah dengan fasilitas seperti itu kita bisa mengimbangi pemain-pemain Djepang dalam hal teknik — karena setjara fisik mereka djauh lebih baik dan membojong Uber Cup ketanah air? Djawabannja akan datang bulan depan dan itupun dari Tokio. Diatas semua itu dalam sedjarah TC Uber Cup akan tertjatat bahwa keadaan di Karangsetra, memang lebih memuaskan dari jang sudah-sudah. Ada atjara piknik (Minggu 7 April jang lalu keMaribaja), nonton 2 kali seminggu, ada kursus Bahasa Inggeris dan istimewa buat Liana (saat ini masih duduk di bangku SMA kelas II Pal) diberikan pula privat-les dalam mata peladjaran ilmu pasti, dengan maksud agar sekolahnja tidak begitu terganggu oleh tugas nasional jang dipikulnja. Usaha untuk membawa pulang piala Uber telah di lakukan semaksimal mungkin, seandainja gagal di Tokio (mudah-mudahan sadja tidak), barangkali Karangsetra belum membawa mukdjizat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: