Mengobati Penyakit Iie Sumirat

Tempo 18 Nopember 1972. Iie Sumirat berhasil jadi juara di kejuaraan terbuka Singapura 1972. Iie prestasinya tidak stabil. Ia dapat berjaya dengan dukungan publik, tapi juga dapat hancur dengan ejekannya.
BETULKAH Iie Sumirat – calon serius pemain tunggal team Thomas Cup Indonesia – selalu dihinggdpi penyakit “angin-anginan”? Meskipun berbagai. Turnamen seperti Kejuaraan Terbuka Singapura, Turnamen Internasional di Bombay dart terakhir Kejuaraan Dunia di Jakarta di bulan Oktober dan Nopember ini, diperlakukan sebagai intemediate target (sasaran antara) menjelang babak final Turnamen Thomas Cup bulan Mei tahun depan, namun tampil nama Iie Sumirat sebagai Juara Singapura 1972 patut mendapat perhatian khusus. Dari Singapura, wartawan olahraga TEMPO, Lukman Setiawan, yang menyaksikan semifinal dan final Kejuaraan Terbuka Singapura itu menurunkan laporan:Iie Sumirat hari-hari ini memang kelihatan berubah. Warna-warini pakaiannya makin marong, rambutnya kiwi gondrong. Sementara ke sepuluh kuku jarinya diberi warna merah, hijau, kuning, coklat dan perak – dan terpelihara panjang seperti layaknya seorang hostess memanjakan jari-jemarinya, mengundang ejekan “Iie mirip benai seorang bencong”.

Straight set. Adakah satu-satunya sisa pemain tunggal Indonesia mampir mencapai final Kejuaraan Bulutangkis Terbuka Singapura? Paling tidak, tampang lahiriah jago Bandung ini kembali menggoda: sukar, dipegang, apalagi meramalkan apa yang akan terjadi di geIanggang.

28 Oktober pagi di Sea View Hotel tingkat 3, Tan Aik , Huang – calon mangsa Iie – cukup murah mengobral wakta dan kata-kata untuk bercengkerama dengan TEMPO. “Kans saya fifty-fifty”. Pernyataan itu agaknya, menunjukkan rekannya Ng Boon Bee yang kebetulan duduk di sampingnya. Meskipun Aik Huang dan Iie, sebelumnya tidak ernah saling bergebrak, tapi prestasi Iie di babak-babak pendahuluan agaknya membuat pemain utama Malaysia ini berhati-hati menyampaikan komentarnya. “Dia kaya dengan variasi pukulan dan cepat lagi”, tambah Aik Huang yang mengamati benar bagaimana Iie menyisihkan Lee Ah Ngo dari Singapura (15-7, 15-6) dan Bandid Jayen dari Thai (15-12, 15-13), kedua rekan senegaranya masing-masing Setia Hemianto (15-4, 15-3) dan Nunung (15-11, 15-1) – semua dalam straight set. “Tapi kan saya kelihatan lebih ramping”, kata Aik Huang yang memang kelihatan lebih kurus, tapi fit. Dan Aik Huang pun yakin dalam menghadapi Iie, setidaknya dapat meraih kemenangan dalam rubber-set, seperti ia menundukkan Darmawan malam, sebelumnya 11-15, 15-2.15-0.

Apa yang terjadi malamnya di SBA Hall memang di luar dugaan: Aik Huang yang lebih lincah gerak-geriknya dan terkenal mules pukulannya, diimbangi Iie dengan sambar-sambaran kilat yang sukar ditebak ke mana arahnya. Dan Iie yang dua tahun lebih muda dari Aik Huang (24 tahun) cukup ulet melayani rally-rally panjang sambil membuat kombinasi dropshot dan smash yang sama tajamnya dengan perhitungan yang amat cermat. Malam itu Iie nampaknya bertekad menanam pendapat umum bahwa “sebaik-baiknya kondisi pemain utama Malaysia ini adalah lebih baik kondisi pemain TC Indonesia”. Dan usahanya berhasil: skor 15-5, 15-3 boleh dijadikan bukti.

Singa lapar. Tiba di final malam berikutnya, “doakan saja agar saya menang” ujar Iie kepada TEMPO sesaat menjelang pertandingan dimulai. “Saya sudah mempunyai gambaran Pada permainan Aik Mong”. Dan gambaran apa yang dimiliki Iie terhadap gaya Aik Mong – adik Aik Huang yang menyingkirkan Amril Nurman 15-3, 11-15, 15-2 – tidak terlalu bertele-tele: dalam satu setengah menit sejak aba-aba play keluar dari mulut wasit, Iie bak singa lapar melalap Aik Mong 5-0. Dan tepat dalam 10 menit 10 detik set, pertama dibereskan Iie dengan 15-5. Di set kedua, berbeda dengan buat koprol untuk menyatakan kegembiraannya.

Nampaknya Iie membutuhkan suatu kondisi, di mana suasana otoriter tidak mengekang kebebasannya tanpa kehadiran Sudirman, Soemarsono dan Stanley Gouw – dan lebih penting lagi tanpa instruksi-instruksi khusus – Iie benar-benar raja gelanggang dari seniman sekaligus. Hanya dengan mengenal lebih dalam watak calon pemain Thomas Cup ini pembinaan di TC tidak sia-sia. Sebab, bukankah pemain, seperti Iie yang tehnik dan fisik serba, sempurna – cuma membutuhkan dukungan psikologis untuk mengembangkan bakatnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: