Menyetel Selera Juara

Tempo 27 Januari 1973. Rauf, pegawai Rama Stores, telah 15 tahun menangani pemasangan raket. nama-nama tenar seperti Eddy Yusuf, Tan King Gwam, Rudy Hartono, Minarni berhutang budi padanya. ia tak dapat penghargaan dari PBSI.

13.000 pengunjung Istora bulan Nopember lalu berdegup menahan napas ketika Iie Sumirat mencoba dengan lenturan yang manis mengembalikan bulu angsa kedaerah permainan Sture Johnson, untuk mengambil alih ketinggalannya. Bola melintir lamban di atas net seolah tak sampai, sementara penonton hanya bisa menolong jagoannya dengan doa. Kecuali Iie, tak seorang pun tidak juga Sture Johnson — yang mengira kalau bola itu akan jatuh tegak lurus di balik net. Momen serupa itu bukan yang pertama di tangan Iie, karena kekuatan permainannya justru terletak di sana. Farida Syuman. Lain pula ceritanya dengan Rudy Hartono, meski geraknya kadangkala melas bagaikan Farida Sjuman, namun jalannya bola selalu terkendali dari raketnya. Kiranya tidak banyak orang yang tahu, dibalik kehebatan jago-jago ini ada tangan lain yang mengatur lajunya bulu angsa tersebut. Tangan ini .Idalah milik: Rauf. Pegawai Ranla Stores yang sudah 15 tahun menangani pemasangan tali raket dari nama-nama tenar: Eddy Jusuf, Tan King Gwan, Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Rudy Hartono, Iie Sumirat, Christian, Ade Chandra, Minarni, Retno Kustijall, Utami Dewi serta sejumlah nama pemain Thomas Cup dan Uber Cup Indonesia lainnya. Tentu saja dari sekian nama, masing-masing punya selera dan kebiasaan yang berbeda untuk pemasangan tali raket mereka. Rudy tidak suka pada tali yang terlalu kencang pasangnya. “Kalau terlalu kencang jalannya shuttle cock kurang terkontrol”, ujar jagoan yang diragu kan Svend Pri akan dapat mengalahkan Tang Hsien Hoe. 15 menit. Berbeda dengan Tan Joe Hok, Minarni dan Retno, mereka senang pada pemagangan yang sedikit keras dan tegang. Dalam keinginan pemain-pemain yang berlainan itu Rauf belum pernah mendapat kesulitan dari mereka: “Kalau pasangan bapak, pemain enggak ada yang rewel”, katanya pada Renville Almatsier, reporter T:Mro. Cocok rupa nya. Sehingga kini untuk setiap penyetelan para pemain cukup meninggalkan raketnya dan Rauf sudah tahu apa maunya. Dan dalam tempo 15 menit raket pun siap untuk dipakai. Imbalan apakah yang diperoleh Rauf untuk sumbangan tenaganya buat pemain-pemain PBSI itu? Selain foto-foto kumal dari team Thomas Cup Indonesia 1958 yang tertempel di ruang kerjanya, Padmo Sumasto SH pernah memberinya tiket gratis terusan untuk menonton Thomas Cup di Istora tahun 1967. Setelah itu tiada penghargaan apa-apa dari PBSI. Dan ia memang tidak butuh itu sebab ia sudah cukup senang dengan apa yang dapat disumbangkannya buat sang juara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: