Munculnya Sang Komandan

Tempo 30 September 1972. PBSI mempersiapkan pelatnas untuk menghadapi piala Thomas. menempati di jalan polo air, pelatnas ditekankan pada kedisiplinan pemain dan dilakukan serba tertutup. sebagai bendahara ditunjuk Sukada.

SEBUAH papan tulis cemong yang bersandar pada kaki dinding flat Jalan Polo Air 193, hari-hari ini menjadi perhatian orang. Di sini Ketua Umum PBSI, Drs Sudirman secara resmi memproklamirkan kesiapan Pengurus Besar mempertahankan Piala Thomas yang akan. dipertaruhkan pada bulan Mei tahun depan. Melalui keputusan tanggal 14 September, terbentuklah susunan Komando Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional) Persiapan Team Thomas Cup 1973 di bawah Komandan Sukada (Bendahara PBSI) yang sehari-harinya diwakili Ridwan (pelatih fisik).Di samping itu nama Stanley Gouw yang belakangan ini menyatakan mengundurkan diri dari kegiatan PBSI, kembali tercantum sebagai (supervisor Pengawas) kelompok pengasuh yang terdiri dari Drs Willy Budiman, Darmawan Saputra (keduanya pelatih teknik), Ridwan dan Taher Djiede (keduanya pelatih fisik). Sementara anak buah yang sudah terkumpul adalah Rudy Hartono, Christian, Ade Chandra, Iie Sumirat, Nara Sudjana, Tjuntjun, Yohan Wahjudi, Djaliteng dan Amril Nurman. Sedang Indra Gunawan dan Muljadi konon akan menggabungkan diri dalam waktu dekat.

Disiplin. “Saya tekankan pada disiplin”, ujar Sukada kepada TEMPO, ketika kepadanya ditanyakan mengenai berbagai larangan PBSI antara lain larangan untuk memberikan keterangan kepada pers sonder izin Pengurus PBSI di samping jadwal latihan yang cukup ketat. Persiapan yang,nampaknya serba tertutup di kompleks yang serba terbuka agaknya memancing berbagai tanda-tanya.

Mengapa justru Sukada yang mendapat kehormatan memangku jabatan Komandan? Adakah dengan wewenang yang ada Sukada cukup berwibawa mempertahankan disiplin seperti yang termaktub dalam keputusan Sudirman? Pertanyaan tersebut segera mengingatkan orang pada tokoh Kolonel Muljono dan Almarhum Mohamad Irsan yang masing-masing pernah bertindak sebagai Komandan TC team 1967 dan 1970. Meskipun Sukada kurang kena dibandingkan dengan kedua tokoh, tersebut, tapi pilihan PBSI agaknya cukup teliti. Sebab komandan yang merupakan pimpinan tertinggi dalam Pelatnas dibebankan pula kewajiban untuk menjamin kelancaran logistik para pemain dan pengasuh. Di sinilah letak penunjukan Bendahara PBSI untuk memikul beban tersebut. “Saya perkirakan dalam 3 babak persiapan dibutuhkan Rp 12 juta”, tambah Sukada kepada Tinaro. Ini berarti selama 9 bulan (September 1972 – Mei 1973) Pelatnas Thomas Cup membutuhkan biaya sekitar Rp 1,3 juts sebulannya suatu jumlah yang sudah barang tentu tidak terlalu besar, andaikata Piala Thomas dijanunkan akan bermukim untuk masa 3 tahun lagi.

Babakan persiapan itu sendiri dibagi dari September sampai Kejuaraan Dunia di Jakarta pada bulan Nopember 1972, lalu para pemain dipulangkan seminggu ke masing-masing tempat asalnya. Kemudian pada Desember dimulai lagi babak kedua sampai pada Kejuaraan All England bulan Maret 1973 dan selanjutnya babak ke-3 dari April sampai akhir MEi, pada waktu mana Turnamen Thomas Cup akan berlangsung di Jakarta.

Bagaimana PBSI bisa mengumpulkan dana sebanyak itu, padahal sampai sekarang induk-organisasi ini terbilang yang enggan minta-minta? Apalagi sumbangan Presiden Suharto dalam bentuk deposito hanya mencukupi tunjangan-tunjangan bagi para pemain tertentu. Tetapi jumlah tersebut bukan tidak ada paling tidak masih berupa janji dari KONI dan tjara yang masing-masing akan menyediakan Rp 5 juta. “Tapi jika janji itu tak terpenuhi, kita toh harus jalan juga”, kata Komandan Pelatnas ini “pokoknya uang harus ada”. Tekad Sukada ini agaknya yang merebut kepercayaan PBSI untuk menampilkan Bendaharanya selaku penguasa tertinggi di Jalan Polo Air.

Pelumas Untuk PBSI

PBSI akan mengirim sejumlah pemain mengikuti eksibisi di Amerika Serikat. keberangkatan tim bulu tangkis, ada hubungannya dengan pemberian gelar doktor Ibnu Sutowo, direktur Pertaminan di sana.
AWAL Oktober ini bukan saja awal kesibukan pengurus besar PBSI mempersiapkan Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional) team Thomas Cup Indonesia tapi merupakan awal kesibukan pula bagi beberapa pemain yang akan bertolak ke Amerika Serikat pada tanggal 8 Oktober. Rudy Hartono, Christian, Ade Chandra dan Tjuntjun serta kedua pemain puteri, Utami Dewi dan Retno Kustijah, memperoleh kehormatan melakukan pertandingan-pertandingan exhibisi di kota-kota New York, Detroit San Francisco dan terakhir di Houston, Texas. Di Houston ini puncak exhibisi akan berlangsung pada tanggal 27 Oktober pada hari mana Ibnu Sutowo Direktur Utama Pertamina akan dianugerahi gelar doctor kehormatan oleh Baylor Universiv atas jasa-jasanya di bidang perminyakan internasional.Minyak. Apa urusan PBSI dengan Baylor University — perguruan tinggi yang disponsori oleh raja-raja minyak AS dan dimana bekas Juara All England Hendra Kertanegara (Yoe Hok) pernah belajar — tidak sepenting pertanyaan hubungan apa gerangan antara PBSI dan Pertamina akhir-akhir ini. Orang hanya maklum bahwa seorang pengasuh PBSI, Drs. Willy Budiman telah mengakhiri masa penganggurannya ketika dia diterima menjadi karyawan Pertamina 6 bulan yang lalu. Mudah diduga keberangkatan Team PBSI ke Amerika Serikat untuk meriahkan upacara penggelaran doctor kehormatan bagi Ibnu Sutowo itu, akan dipimpin oleh Budiman pula.

Hubungan dengan Pertamina tentu saja membuka lembaran baru bagi PBSI yang belakangan ini mengalami kesulitan mencari “bapak angkat”. Tapi itupun tergantung pada peranan Pengurus Besar PBSI yang sangat berhati-hati untuk menerima uluran tangan plus amplopnya. Sebab orang seperti Budiman sangat peka sekali terhadap “harga diri” PBSI — satu-satunya induk-organisasi yang berhak menamakan dirinya Juara Dunia. Tapi dengan perantaraan Budiman, rasanya kesulitan mencari “bapakangkat” yang hak dan kewajibannya dapat diatur menurut ketentuan-ketentuan KONI, dapat diatasi.

Dewasa ini dalam mempersiapkan team Thomas Cup, disamping mencari material pemain baru dan meningkatkan yang ada, masalah keuangan PBSI bukan hal yang dengan sendirinya menjadi beres. Pengalaman masa lalu masih menghantui beberapa pemain yang pernah ditelan PBSI. Itulah sebabnya orang menyambut hangat perlawatan exhibisi PBSI ke Amerika Serikat yang menyangkut kehormatan Pertamina – sebagai permulaan kerjasama yang positif dalam usaha PBSI mempersiapkan teanm Thomas Cup nya.

Belajar Di Jakarta

Tim piala Thomas Singapura berada di Jakarta untuk mencari pengalaman. kekuatan mereka tak lebih baik dari kekuatan suatu klub di Indonesia. kalah dengan klub tangkas baru dari Jakarta.
AGAKNYA apa yang tersisa buat Singapore dalam dunia bulutangkis, hanya kenangan manis ketika jagonya bersama anak-anak semenanjung memboyong Piala Thomas untuk pertama kalinya ke daratan Asia. Setelah itu: nol. Kemudian negeri yang berpenduduk 2 juta jiwa ini hampir terlupakan dalam setiap peristiwa yang pernah dijuarainya bersama Malaysia (baca: Malaya), sesudah keduanya berpisah. Dan menjelang perebutan Piala Thomas 1973 yang akan datang, singapore kelihatan ingin bangkit kembali untuk berbicara atas nama sendiri. Tuas berat tersebut terpikul di pundak Omar Ibrahim bersamaan dari National Sports Promotion Board (Dewan Promosi Sukan Nasional untuk mengasuh: Ng Chor Yau. Wee Kin, Lee Ah Ngo, Yeo Ah Seng. Ahmad Bakar, Cheong Cheng Soei, Ronne Oon, dan Tan Poe Chye, pemain perorangan dan ganda yang akan membela panji-pnji Singapore.Adakah keinginan dan tekad anak-anak Lee Kuan Yew ini akan terkabul? Kalau tanpa ikut campur suatu keajaiban, jawabannya hampir dapat dipastikan: tidak. Minimal akan berlaku untuk sampai tahun depan. Apalagi dalam babak penyisihan zone Asia tanggal 21 Oktober nanti, Singapore sudah harus berhadapan di kandang sendiri dengan lawan yang sudah banyak makan asam garam: Muangthai. Kenyataan itu akan tiba kian pendek, meski mereka telah bertekad akan memukul lawan. Kecemasan kita terhadap omong besar Singapore ini bukan tidak berdasarkan Suatu analisa tentang regu mereka, yang kali ini muncul lagi di Jakarta sesudah bulan Mei yang lalu ikut ambil bagian dalam First Jakarta Badminton Oper Tournament.

Tangkas Baru Di Bulungan, Kamis 21 September malam sewaktu team Piala Thomas ini dipertemukan dengan klub Tangkas Baru yang tampak bukan suatu pertandingan yang bermutu untuk suatu regu nasional, tapi tak lebih dari suatu turnamen antar klub. Dari 7 partai yang dimainkan hanya kemenangan untuk partai perorangan yang mereka raih. Itupun dalam rubber set yang melelahkan. Baik Wee Kin maupun Ng Chor Yau, pemain yang menundukkan Budiman dan Hendra dengan tipe permainan yang sekarang kelihatan akan menemui kesulitan buat bisa memukul Bandid Jaiyen atau Sangob Rattanusom maupun jagojago Muangthai yang lain. Ng Chor Yau masih saja bermain ceroboh dan kurang kontrol. Wee Kin idem dito. Begitu juga yang lain. Semuanya tampak tidak punya pukulan yang boleh diandalkan untuk mematikan serangan lawan. Pada partai ganda masih ditambah lagi dengan kekurang-kompakan mereka.

Alhasil dari cari pengalamannya ke Indonesia buat mengukur sampai di mana kemampuan teknis dan stamina mereka sebagaimana Malaysia menurut info dari Ade Chandra konon akan melawat ke RRT untuk maksud yang sama tidak akan lebih menambah kepesimisan saja. Sebab terlihat ukuran kekuatan Singapore tidak lebih dari kekuatan suatu klub di Indonesia. Boleh jadi juga ketidak-bolehan anak asuhan Omar Ibrahim karena lawannya ada lah Indonesia. Tapi memang begitulah kemampuan mereka. Kalau tidak dengan Indonesia dengan siapa lagi mereka harus belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: