Dan Oma Serta Upit Ikut Kampanye (Pemilu 1977)

Tempo 09 April 1977. OMA Irama berkopiah hitam, berdiri di atas panggung. Sorbannya dililitkannya ke leher. Kedua tangannya diangkatnya tinggi-tinggi. “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, teriaknya lantang.

Dan jawaban pun menggemuruh dari antero pojok lapangan Petojo VII, lepas lohor yang terik, 25 Maret lalu. “Kami berdiri di sini untuk mengingatkan saudara. Yang insya Allah, tanggal 2 Mei nanti, menusuk apa?” teriak Oma yang kini bernama lengkap Raden Haji Oma Irama. “Ka’baah”, kembali terdengar teriakan menggemuruh yang muncrat dari ribuan mulut kaum muslimin dan muslimat tua muda. Dan anak-anak.

Mereka berdatangan dari Jelambar, Grogol, Karang Anyar, Tanah Abang dan daerah-daerah perkampungan di seantero DKI Jakarta. Terutama Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Mereka datang berjalan kaki, menunggang truk, bis atau kolt. Mereka berduyun-duyun memadati lapangan yang lumayan luas itu, yang di ujungnya mendekam sebuah model bangunan Ka’bah.

Di waktu yang bersamaan, di tempat yang berlainan, Upit Sarimanah, berkain kebaya dan berkudung berdiri pula di panggung. Pesinden Sunda tersohor yang sudah haji ini bertingkah tak jauh berbeda dengan Oma Irama. Ia mengangkat tangan perlahan-lahan, lalu dengan cepat dijatuhkannya – bak penyanyi mengikuti irama musik pengiringnya. Dan dari mulutnya yang bergincu meluncur ucapan: “Assalamu alaikum ….”. Lalu pesinden itu pun dengan penuh gaya berpesan: “Jangan lihat kiri kanan, coblos yang tengah… assyooi”. Dan para jaka pun, yang berdesakan berpanas-panas sembari melirik gadis-gadis yang berdesakan tak jauh, terbawa ajakan Ibu Hajjah Upit Sarimanah itu. “Assyoooi”. Nyi Pesinden berkampanye buat tanda gambar yang di tengah, No.2, alias Golkar.

Suasana seperti itu sejak 24 Pebruari sampai 26 April mendatang, mudah kita jumpai. Kampanye ternyata memang sebagian dari show business Oma Irama memang tampil bukan buat mendendangkan lagu “Masya Allah” atau “Penasaran”. Upit bukan untuk menyanyikan “Tauco Cianjur” atau “Warung Pojok”. Tapi buat meneriakkan yel dan teriakan “Hidup Ka’bah”, “Tusuk No.1” atau “Menangkan No.2” “Hidup Golkar”. Kalau mereka menyanyi pun, bukan menyanyikan lagu-lagu yang merdu buat dinikmati. Tapi lagu yang sudah dirobah syairnya – sesuai tanda-gambar yan digembar-gemborkan. Upit misalnya menyunglap syair lagu “Naik-naik ke gunung” jadi: “Naik-naik pohon beringin, tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat saja, coblos yang nomor dua . . aa . . aa. Oma juga mengubah lirik lagu “Begadang”nya jadi: “Menusuk boleh menusuk Asal yang ada artinya Menusuk boleh menusuk Asal Ka’bah yang ditusuk.

Oma dan Upit memang masing-masing “top” di Partai Persatuan Pembangunan dan Golkar. Tapi mereka tak sendiri. Benjamin, Muchsin dan Titiek Sandhora menyusul. Tapi anehkah artis tampil dalam kampanye pemilu? Di Pemilu 1971, Golkar memperkenalkan Artis Safari. Tapi para artis itu lebih banyak menghibur ketimbang “berkampanye”. Yang mereka tampilkan memang kebolehan mereka, lengkap dengan peralatan pengiringnya. Kini mereka lebih “bicara”. Barangkali memang seharusnya begitu. “Kampanye oleh artis, sebenarnya tidak luar biasa”, kata Mus Mualim. Contohnya, menurut Mus, di Amerika juga begitu. Frank Sinatra mendukung dan aktif berkampanye buat Nixon, Warren Beaty mendukung Carter. “Hanya untuk Indonesia hal ini adalah hal yang baru”, kata Mus Mualim, anggota Bagian Sosial Budaya MP Golkar, pada TEMPO.

Dalam soal itu, Golkar memang penggagas pertamanya. Dan meskipun kini ternyata PPP berbuat serupa, toh Golkar tetap unggul. Bedanya, tahun ini Golkar tidak mensentralisasikan tim Artis Safari seperti dalam pemilu 1971. Cara yang kini dipakai: beberapa daerah mengaktifkan diri membentuk tim Artis Safari setempat. Di Bandung misalnya para artis safari bergabung dalam regu artis kampanye bernama “Bianglala”. Dipimpin Harry Rusli, musikus muda yang terkenal dalam opera rok, “Bianglala” berintikan Taty Saleh, Fenty Effendy, Betty Juhara. Mereka bergerak ke seluruh Jawa Barat dari 16 Maret sampai 4 April. Menurut Ading Affandi, ex pimpinan grup nyanyi Lingga Binangkit, para seniman itu bergabung dengan Golkar atas inisiatif mereka sendiri. Honorarium mereka, kata Ading kepada Sunarya Hamid dari TEMPO, “Sedikit sekali, hanya cukup buat beli tokok”.

Belum terdengar artis yang aktif berkampanye buat PPP atau PDI di Jawa Barat. Tapi Dadang Hermawan, wakil Ketua LPUI PPP Jabar, merencanakan mendatangkan Oma Irama. Di samping katanya: “Bimbo juga akan ikut serta kami”. Betul? “Ikut dalam kampanye PPP masih dalam pertanyaan”, kata Sam dari grup Trio Bimbo. Menurut Sam, Bimbo belum dapat undangan dari PPP. Tampaknya masih harus ditunggu. Sementara itu Golkar terus meningkatkan jumlah artisnya yang turun berkampanye. Antara lain, lewat koran Berita Yudha. Dengan macam-macam gaya mereka berpose mengangkat dua jari, menunjukkan angka No.2, tanda gambar Golkar. Di antara mereka ada yang sudah aktif di Artis Safari 1971. Ada juga muka-muka baru yang baru menanjak namanya. Antara lain penyanyi Hetty Koes Endang dan Enny Haryono. Siapa tahu dengan semua itu kampanye pemilu 1977 selain sesekali mengundang ketegangan, juga terasa sebagai “hiburan” yang lain. Memang buat apa kelewat serius?

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: