Rudy, Anak Ajaib

Majalah Tempo. 06/I 10 April 1971. Rudy Hartono beberapa kali juara All England mendapat pujian Sudirman, ketua PBSI, Rudy & Tan Yoe Hok menurut Wong Peng Soon, eks juara all england th 50-an mempunyai kelebihan & kekuatan berbeda.

 

24 DJAM setelah tersiar berita kemenangan Rudy Hartono dalam All England, Ketua Persatuan Bulu tangkis Se-lndonesia (PBSI), memberikan komentarnja kepada Sjahrir Wahab, wartawan TEMPO. Doktorandus jang bernama Sudirman itu bilang: “Apa jang ditjapai Rudy Hartono merupakan penulisan dengan tinta emas dalam sedjarah perbulutangkisan Indonesia”. Sudirman jang terpilih lagi dalam Kongres PBSI d Jogja tersebut, setelah meneliti menambahkan bahwa sang djuara All England jang sesungguhnja baru berusia 21 tahun itu, telah melakukan sesuatu jang tidak pernah terdjadi sebelumnja dalam sedjarah olahraga Indonesia. Dalam komentar jang diberikannja lewat wawantjara chusus dikantornja tersebut, tersisip kejakinan, bahwa Hartono bisa mempertahankan gelarnja sampai enam kali.

 

Mojang. Sudirman bukan orang pertama jang berkejakinan demikian. Seorang kawakan bulu tangkis jang merupakan orang luar bagi kalangan badminton Indonesia sudah meramalkannja sedjak lama. Orang itu tiada lain adalah Wong Peng Soon, nenek mojang djuara All England jang populer ditahun 1950-an. Bekas radja bulu tangkis dari Malaysia ini terachir mendjabat coach Team Bulutangkis Muangthai untuk turnamen Asian Games ke-VI di Bangkok. Setelah menjaksikan bagaimana Rudy menghantjur leburkan Sunchai Arkapisuth, pemain harapan Muangthai, Wong terlibat dalam wawantjara dengan Lukman Setiawan, Redaktur TEMPO, di aula Kittikachorn Stadium, Bangkok. Agaknja pusing djuga bagi Wong untuk memisahkan Rudy Hartono dari veteran Tan Yoe Hok. “Susah untuk menentukan siapa jang djago diantara mereka karena masing-masing mempunjai zaman dan keistimewaan sendiri-sendiri”. Namun meskipun tak ada garis tebal jang memisahkan kedua djago tersebut Wong melihat adanja perbedaan. Ia bilang: “Rudy mengandalkan ketjepatan sedang Yoe Hok mengandalkan pada kekuatan dan pukulan-pukulannja”. Ketjepatan sadja memang bukan djaminan, karena Ippei Kojima dari Djepang djustru baru dapat dikalahkan bila lawannja bermain lambat dan mejakinkan. Tapi meskipun demikian Peng Soon tetap berpendirian bahwa Rudy selandjutnja masih bisa mempertahankan gelar djuara All England-nja, baik ditahun ini maupun jang akan datang.

 

Wong memang seorang periang jang selalu tertawa setiap selesai bitjara. Dan ia djuga tertawa ketika berkata: “Yoe Hok pada waktu mendjadi djuara All England ditahun 1959 permainannja sudah mentjapai puntjaknja”. Kalimat itu diteruskannja, djuga diiringi senjumnja, katanja: “Sedang Rudy belum mentjapai stabilitas seperti rekannja”. Wong tidak setjara langsung menjebutkan bahwa Rudy masih memiliki potensi jang besar sekali, jang belum tergarap setjara maksimal. Itu berarti bahwa Rudy masih bisa menaiki tangga prestasinja dengan mudah atau djatuh sama sekali dengan mudah pula. Disini Sudirman keberatan. Bantahnja: “Saja djustru melihat Hartono sudah mentjapai stabilitas penuh, sehingga dengan itu ia punja kesempatan madju terus”. Untuk menguatkan pendapatnja itu Ketua PBSI tersebut dengan tjepat mengingat utjapan orang Inggeris mengenai Rudy jang bunjinja demikian: “Wonder Boy”. Kata Sudirman: “Mereka (maksudnja orang-orang, Inggeris itu) menjebutnja Wonder Boy”. Predikat Wonder Boy ini tentu sadja diragukan oleh sementara penggemar bulutangkis Indonesia. Sebab, Anak Adjaib alias Wonder Boy itu tidak bisa hebat dalam permainan double seperti ketika ia mengalahkan Muljadi, rekan senegaranja. Untuk kesekian kalinja dengan tidak adjaib sama sekali ia menjerah dibawah raket pasangan Malaysia, Boon Bee/Gunalan. Adakah ini disebabkan oleh partnernja Indra Gunawan jang tidak mampu mengimbangi permainan pasangannja ataukah karena Rudy tjuma tergolong wonder boy untuk pemain single tok? Sudirman pun mendjelaskan: “Rudy disamping harus bermain single djuga harus menemani Indra dalam partai double. Dan pada waktu jang bersamaan dia harus menjelesaikan final single dan final double”. Kalau atjara single dan double tidak bersamaan waktunja Sudirman jakin bahwa Rudy bisa menang dalam keduanja. “Buktinja di Kualalumpur dulu”, katanja mejakinkan.

 

Himpit. Alasan sang Ketua tjuma 20% benarnja. Kekalahan Rudy sedjak Turnamen Thomas Cup di Kuala Lumpur dalam partai double lebih banjak dari kemenangannja terhadap Boon Bee/Gunalan, bahkan terdjadi pula disaat dimana Rudy tidak main single sama sekali. Dalam bab ini perlu pula didjelaskan bahwa sebelum Rudy, didunia ini ada seorang jang mampu menang dalam single dan djuga double pada waktu jang bersamaan bahkan berhimpitan. Dia adalah Erland Kops jang berkali-kali menang dalam partai single maupun double (lihat box).

 

Tapi bagaimanapun seperti kata Presiden Suharto dalam teleponnja sesaat setelah Team Indonesia menang di Kuala Lumpur, kemenangan Rudy dan Muljadi, pun prestasi jang bisa ditjapai Ii Sumirat dinegeri Sheele itu, tjukup menggembirakan. Kalau para supporters badminton inginkan keduanja dapat diraih dalam Turnamen Dunia tidak resmi di Wembley Stadium di London itu, sesungguhnja berdasarkan ingatan jang segar. Mereka telah melihat dan menjaksikan sendiri bagaimana Erland Kops berprestasi di All England tersebut. Suatu prestasi jang belum terpetjahkan hingga kini. Mungkin Hartono bisa menjaingi dalam kedjuaraan single. Tapi bisakah dalam waktu jang bersamaan ia djuga merebut gelar djuara double seperti jang pernah ditjapai Kops bersama Herning Borch? Ini adalah tantangan baru dan ini pula baru namanja tantangan. Alamat tantangan ini ditudjukan sudah barang tentu pada PBSI dan Rudy.

 

Emansipasi. Adalah kisah lain jang tersembunji dibalik selimut All England ini. Maka para ahli nudjumpun berkata bahwa sesungguhnja salah seorang pemain puteri Indonesia bisa dapat nama djuga disana. Djuara single All England tahun lalu, Etsuko Takenaka dalam turnamen tahun ini gugur karena tjidera. “Apalagi tjidera, tidak tjidera sadja ia bisa dikalahkan oleh Utami Dewi dalam turnamen Teijin Tetoron di Istora Senajan tahun lalu”, kata orang. Sudah barang tentu orang membajangkan kalau sadja Utami ikut pada waktu itu apa djadinja? Memang tidak dengan sendirinja ia bisa djadi djuara, karena disamping Takenaka, dari negeri Matahari Terbit itu, dikirim djuga Hiroe Yuki, kontjo seperguruan Etsuko jang tjidera itu. Tapi pemain jang kebagian redjeki Minarni dalam Turnamen Asian Games VI itu, terbukti bisa dikalahkan hanja oleh seorang badmintonwati dari Denmark. Disini ramalan ahli nudjum profesional maupun amatir kelihatan tanda-tanda kebenarannja. Maka pada jang pertjaja timbullah tanda tanja. Mengapa tidak seorang Utami-pun dikirimkan ke sana? Orang memang tidak menjarankan Minarni jang belum lama berselang menikah dengan adik pemain team puteri Indonesia, Retno Kustijah. Kalau mereka menjebut Utami Dewi karena jang disebut belakangan ini Djuara Indonesia 1971. Beberapa alasan lain dikemukakan dan disitu disebut-sebut lagi Minarni jang pernah mendjuarai double puteri All England ditahun 1968 dan sekaligus runner-up Njonja Twedberg, djuara pertama puteri tahun itu djuga.

 

Ketjerahan dunia badminton Indonesia memang baru melingkupi kaum Adam sadja, belum merata. Sinar terang itu belum menghormati emansipasi. Hingga keragu-raguan untuk Uber Cup tahun depan djuga masih timbul tenggelam seperti entjok dimusim pantjaroba. Hati jang dek-dek-an tentunja terdapat djuga pada Utami Dewi (adik Rudy Hartono), Megawati, Theresia Widiastuty, Poppy Tumengkol, Nurhaenah dan Retno Kustijah, atau pada segenap pemain badminton puteri Indonesia. Dan detak dek-dek-an itu semakin keras di saat mereka menjaksikan dari djauh tjalon-tjalon lawannja jang sama beraksi di Wembley Stadium, All England. Apa obat dek-dek-an itu? Barangkali Minarni Sudarjanto tahu djawabannja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: