Seandainya Regu Indonesia-RRT …

Tempo 6 Januari 1973. Rudy Hartono merasa ditantang pemain-pemain bulu tangkis RRT yang telah mengalahkan Malaysia. Pertandingan dengan RRT dinilai sebagai perang saraf untuk mengalihkan dari persiapan mempertahankan piala Thomas Cup.

KETIKA sekali lagi pemain-pemain RRT menggemparkan dunia dengan menundukkan pemain-pemain Malaysia yang melawat ke sana, beberapa kenalan berpaling pada saya. “Bagaimana andaikata anda berhadapan dengan Hou Cia Cang dan Tang Hsien Hu?” Di tengah kesibukan mempersiapkan diri menghadapi Turnamen Thomas Cup 1973 jawab saya tegas: “Saya selalu siap!” meskipun di dalam hati saya menambahkan: “bukan saja siap, bahkan saya harus menang”. Sebab dari mana pun datangnya tantangan yang hendak menguji kadar kejuaraan saya — “All England” anggota Regu Thomas Cup Indonesia, Horld Invitation Championships dan lain-lain akan saya layani dengan segala kemampuan saya. Terlebih lagi gelar-gelar kejuaraan tersebut menyangkut pula kebanggaan dan kehormatan Bangsa dan Negara.

Tapi perlu diingat: kemenangan tak dapat dicapai hanya dengan tekad dan semangat. Kondisi pada saat kita bertanding amat menentukam Ketika berita mengenai kemungkinan Indonesia bertanding lawan RRT plus komentarnya tersebar luas, saya tidak ragu-ragu menyatakan kesiapan saya pada Pak Dirman. Apa pun pendapat Team Manager Malaysia yang memuji kehebatan pemain-pemain RRT dan apa pun kata orang yang mengurangi kemampuan Hou dan Tang dengan alasan usia mereka sudah di atas 3 tahun, satu hal selalu menjadi pedoman saya. Kemenangan dan kekalahan dalam suatu pertandingan tidak bisa dielakkan. Dan dalam menghadapi pemain-pemain seperti Hou dan Tang yang sebelumnya tidak pernah saya jumpai di gelanggang, keyakinan menang atau resiko kalah tentu saja ada. Saya kira semua pemain sependapat dengan saya: lebih mudah menundukkan pemain yang telah kita kenal ciri-ciri permainannya dari pada mereka yang asing sama sekali. Sadar atau tidak mungkin rekaman permainall saya sudah menjadi dokumentasi mereka, sementara gaya dan ketrampilan mereka baru berupa bisik-bisik saja. Berdasarkan pertimbangan ini – andaikata duel dengan pemain RRT terjadi saya sarankan paling sedikit berlangsung dalam dua kali pertandingan. Ini bukan berarti saya takut kalah dalam pertandingan yang pertama, melainkan berdasarkan keyakinan bahwa dalam pertandingan selanjutnya saya sudah bisa mengenal keistimewaan mereka. Namun demikian saya tidak lengah bahwa kemenangan yang dicapai dalam pertandingan yang pertama, paling tidak secara psikologis akan besar pengaruhnya terhadap pertandingan selanjutnya. Dan saya pun menanam tekad: saya harus menang dalam pertandingan yang pertama.

Sejauh mana persiapan pemain-pemain utama kita calon team Thomas Cup 1973 – untuk menghadapi pertandingan yang mendadak? Meskipun issue pertandingan dengan pemain RRT itu dinilai sementara orang sebagai “perang syaraf” untuk mengalihkan perhatian kita dan persiapan mempertahankan Thomas Cup bulan Mei yang akan datang, tidak salahnya jika kita justru memanfaatkannya untuk mengintensifkan persiapan kita. Yang jelas, setidak-tidaknya issue tersebut sedang menguji mental kita. Dan saya yakin pula issue tersebut merupakan rangsangan terhadap pimpinan PBSI untuk meningkatkan pembinaannya.

Sejak TC Persiapan Team Thomas Cup dimulai pada pertengahan September tahun lalu dan kemudian asramanya dipindah dari Jalan Polo Air ke Jalan Golf, jadwal pembinaan dan kebutuhan akan perlengkapannya harus diakui minimal terpenuhi dengan lancar. Meskipun masih ad soal pokok yang menjadi rnasalah: soal lapangan latihan. Maksud saya latihan fisik selama ini maksimal dapat dilakukan di Stadion Utama Senayan, sementara untuk latihan sparring dan strokes lapangan yang tersedia belum dapat dikatakan maksimai menguntungkan kita. Keluhan PBSI baru-baru ini akan kurangnya fasilitas lapangan yang memadai telah disambut spontan oleh Gubernur Ali Sadikin. Dan Sport-hall Bulungan di Kebayoran Baru ditunjuk Pak Ali sebagai tempat latihan khusus calon Team Thomas Cup PBSI. Kita patut berterima kasih pada Gubernur! Tapi Bulungan bukan Istora. Kalau boleh ingin saya sarankan: fasilitas berlatih di Istora supaya diusahakan terbuka setiap waktu. Permintaan yang nanlpaknya agak berlebihan ini tidak lain berdasarkan pertimbangan bahwa Turnamen Thomas Cup akan berlangsung di Istora Senayan. Ini saja sudah merupakan keuntungan yang seyogyanya digarap sejak sekarang. Bukankah lebih sering berlatih di lapangan tempat pertandingan berarti kita akan lebih menguasai kondisi dan situasi arena pertandingan? Dan mengapa kita tidak memanfaatkan kesempatan ini ?

Sesungguhnya, sampai tahap persiapan dewasa ini banyak segi yang masih dapat ditingkatkan. Tapi baiklah saya membatasi pada yang pokok-pokok saja. Terutama dalam mempersiapkan diri mempertahankan Piala Thomas, sambil memupuk kewaspadaan kita dalam menghadapi pertandingan-pertandingan insidentil lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: