Sekarang Bisa Diceritakan

Majalah Tempo 11/I 15 Mei 1971.Tan joe hok, eks pemain bulu tangkis indonesia yang telah jatuh namanya, sukses menjadi pelatih di mexico. ia pun lalu diminta melatih di hongkong. ada yang mengharapkan ia jadi penghubung indonesia-rrc.

 

MASIH ada oleh-oleh jang ketinggalan ditas Sekdjen PBSI P. Sumarsono, jang bertindak sebagai Team Manager PBSI ke All England 1971. Disamping berita tentang kemenangan Rudy Hartono jang keempat kalinja di Empire Pool and Sports Arena, Wembley, London, Sumarsono mengeluarkan setjarik fotocopy “Surat Pudjian Komite Olimpiade Meksiko”. “Tjoba batja ini. Joe Hok benar-benar sukses. Kini banjak berubah dan dewasa”, katanja kepada TEMPO sambil memperlihatkan surat penghargaan Komite Olimpiade Meksiko jang ditanda-tangani Ketuanja Josue Saenz. Sumarsono-pun bertjerita tentang permainan Diaz Gonzales, Djuara Meksiko, jang terdjun pula digelanggang All England. Anak muda ini jang sekaligus mendjadi anak asuhan Hendra Kartanegara alias Tan Joe Hok, berhasil mengalahkan K. Johnson dari Swedia (15-2, 15-5) dan veteran All England Erland Kops dari Denmark (15-6, 15-12), sebelum Gonzales disisihkan Muljadi di babak ketiga dengan 13-18, 4-15. Barangkali teknik permainan Gonzales ini jang memperkuat kesan Sumarsono mengenai prestasi coaching Joe Hok selama setengah tahun di Meksiko. Dan barangkali pula berdasarkan laporan Sekdjen PBSI ini Drs Sudirman berani menjatakan kepada TEMPO bahwa “hanja ada satu orang jang dapat disebut sebagai Coach Bulutangkis selebihnja adalah pembina-pembina sadja”. Dan orang jang dimaksud tidak lain adalah Tan Joe Hok.

 

Meteor. Anak asal Bandung jang kini berusia 35 tahun pernah membuat gempar dunia Bulutangkis. Menjebut namanja berarti mengingatkan orang akan raksasa Bulutangkis jang tiada taranja. Smash-smash tadjam dan membunuh kelintjahan gerak-kaki dan semangat-djuang jang tak kenal mundur. Djuara Indonesia ditahun 1956-1959 dan Djuara All England 1959 ini karirnja naik dan djatuh seperti sebuah meteor ketika ia langsung dari All England menudju Amerika Serikat, dimana ia melandjutkan peladjaran disana. Orang melupakan Joe Hok sebentar untuk kemudian menilainja kembali sewaktu PBSI mempertahankan Thomas Cup pada tahun 1961 di Djakarta (Indonesia-Thailand 6-3) dan pada tahun 1964 di Tokio (Indonesia-Denmark 5-4).

Pada tahun 1966 Joe Hok kembali menetap di Indonesia dan menggabungkan diri dalam TC Thomas Cup PBSI. Kini namanja lebih menjeramkan dari pada mutu permainannja. la tertindih oleh pemain-pemain muda jang mulai menondjol. Bahkan dalam penjusunan Team Thomas Cup Indonesia ia tersisihkan oleh Rudy, Sonneville dan Muljadi. Tetapi bukan Joe Hok tidak ingin membuat “come back” untuk memenuhi harapan pentjintanja melainkan kondisi fisiknja tidak tjukup kuat menopang hasratnja. Akibatnja ia frustrasi. Mental Breakdown adalah komplikasinja. Joe Hok memperlihatkan kelainan dalam sikap dan lakunja. Oleh wartawan ia dituduh tidak kooperatif. Oleh rekan pemain ia dianggap sombong. Di Fakultas Kedokteran UI ia berani menentang dosen. Dan achirnja ia didjadikan tauladan tentang terdjungkilnja seorang Djuara jang diakibatkan oleh sikapnja dari pada permainannja.

 

Setelah Indonesia gagal mempertahankan Thomas Cup ditahun 1967, Joe Hok berusaha lagi mentjapai bentuk permainannja jang semula, tetapi usahanja berachir dengan tragis. Pada pertengahan tahun 1969 Joe Hok terlibat dalam perkelahian dengan rekan-rekan se-TC nja. Indratno dan Darmadi masih ingat bagaimana baku-hantam dengan Joe Hok mendahului latihan mereka. Sedjak “Peristiwa Hall C” itu nama Joe Hok ditjoret sebagai tjalon pemain Thomas Cup Indonesia. Tetapi untuk memungkinkan tumbuhnja iklim jang sehat di TC Thomas Cup tidak semudah men-dubes-kan djenderal-djenderal keluar negeri. Namun jang paling menolong ketika itu adalah permintaan tenaga pelatih dari negara-negara Filipina, Burma, Pakistan, Sri langka, Selandia Baru dan Meksiko. Joe Hok jang ketika itu sudah menikah dengan Goei Kiok Nio ex-Djuara Puteri Semarang dan diberkati anak dua orang, melihat kesempatan jang baik. Dengan dukungan Pengurus PBSI berangkatlah Joe Hok sekeluarga ke Meksiko dengan gadji $ 600 (AS) setahun.

Dendam. Maka pada tanggal 14 Desember 1969, hanja 5,5 bulan mendjelang Turnamen Thomas Cup di Kuala Lumpur, Joe Hok meninggalkan Indonesia menudju Mexico City. Keberangkatannja dilepas dengan penuh prihatin. Ketjuali ajah-bundanja dan Pudjianto saudara iparnja, serta Ir Rio Tambunan dan seorang wartawan tidak nampak wakil-wakil dari PBSI dan Ditdjora. Rekan-rekannja seperti Indratno, Darmadi, Muljadi, dan Rudy jang kebetulan pada hari Minggu itu mempunjai atjara djuga tidak bisa hadir melepas Joe Hok. Tjuma sebuah pesan jang dititipkan melalui wartawan jang menghantarnja sampai di Airport, “Lupakan peristiwa jang lalu. Jang sudah ja sudahlah”. Ketika pesan itu sampai dikuping Joe Hok iapun sempat mengutjapkan kata perpisahan supaja disampaikan pula kepada rekan-rekannja di TC “Saja tidak dendam. Semoga mereka sukses”.

 

Banjak orang meragukan apakah Joe Hok akan kembali ke Indonesia. Sebaliknja keraguan jang serupa menghinggapi diri Joe Hok pula. Pada saat-saat mendjelang meninggalkan lobby International Airport Kemayoran ia sempat menjatakan keraguannja kepada penghantarnja. “Apakah saja masih bisa diterima di Indonesia?” Tetapi ia tjoba memperlihatkan setjarik memo jang ditandatangani oleh Gubernur Ali Sadikin. Isinja antara lain “Saja tidak dapat memberi sesuatu jang lebih berarti….. terimalah $ 200 untuk anak anak …..” Joe Hok amat terkesan dengan “sangu” pemberian Ali Sadikin itu. “Bagaimana saja bisa tidak kembali ke Indonesia?” tanja Joe Hok pula.

 

Sjahdan sukses Joe Hok di Meksiko menarik perhatian Ketua Persatuan Bulutangkis Hongkong Krishnan Lall. Jang belakangan ini pernah mewasiti pertandingan Indonesia-Thailand di Stadion Kittikachorn dalam rangka Asian Games Vl. Publik Muangthai menuduhnja pro Indonesia. Dan hampir sadja sebuah asbak mengenai kepalanja jang botak ketika ia mem-fault-kan permainan net Sangob Rattanusorn jang waktu itu berhadapan dengan Muljadi. Tugas jang dibebankan kepada Joe Hok tidak mudah. Dalam waktu 10 bulan ia harus meninggikan mutu permainan anak-anak koloni Inggeris jang sudah tua-tua (lihat box). Tetapi Lall tahu bagaimana tjaranja meningkatkan kegairahan penduduk Hongkong dalam permainan Bulutangkis. Joe Hok diminta menghubungi pemain-pemain ex-Hoakiauw seperti Tan Shien Hoe dan Hau Chia Chang jang kini bermukim di RRT. Untuk didjadikan lawan berlatih tentunja. Waktunja tepat sekali. Dibulan April itu musim semi tidak sadja bersemikan “Tjinta April” (April Love), melainkan melahirkan pula “Diplomasi Ping Pong”. Kalau Team Tenis Medja Amerika Serikat dan Inggeris dapat menembus tirai-besi melalui medja ping-pong, mengapa Team Indonesia Pemenang Thomas Cup dengan “anak adjaib” nja tidak bisa berhadap-hadapan dengan djago-djago RRT di Hongkong. Lagi-lagi Joe Hok didjadikan perantara.

 

Adam Malik. Berita jang terachir ini benar-benar mengedjutkan PBSI. Dwifungsi ini semula tak terpikirkan sama sekali. Adakah Joe Hok dapat merangkap tugas seorang diplomat disamping pekerdjaan seorang coach. “Saja tidak menjambut baik dan tidak pula menolak”, katanja kepada Reporter Yusril Djalinus. Untuk menegaskan sikapnja jang ragu-ragu Sudirman menambahkan: “Itu sudah politik saja tak ingin mentjampurinja”. Meskipun ia sendiri selaku Ketua PBSI tidak menutup kemungkinan adanja pertandingan antara pemain-pemain Indonesia melawan pemain-pemain RRT. Seperti katanja pula: “Andaikata Bulutangkis akan digunakan sebagai perintis hubungan antara Indonesia dan RRT seperti halnja dengan Ping Pong antara Amerika dan RRT saja hanja menjesuaikan diri dengan policy Pemerintah”. Tetapi dibalik kabar akan ikut sertanja pemain-pemain RRT dalam Kedjuaraan Hongkong jang baru lalu, rupanja sempat membuat Sudirman menahan Rudy turun kegelanggang. Dan apa pula alasan Ketua PBSI ini? “Disamping gengsi, Rudy adalah Djuara dari Dunia Bebas, dan apabila ia dikalahkan oleh pemain dari balik tirai besi, rakjat dari Dunia Bebas akan merasa ketjewa”. Sudah barang tentu ketentuan-ketentuan Federasi Bulutangkis Internasional mendjadi bahan pertimbangan pula.

Masih segar ingatan orang ketika olah raga diperalat kaum politisi dengan wadah Ganefo-nja. Adakah PBSI, Joe Hok dan pemain-pemain lainnja akan mendjadi tumbalnja. Agaknja Adam Malik lebih tahu djawabnja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: