Si tahun 30-an kembali

Tempo 02 April 1977. PENTAS klab malam Tropicana di Senayan, Jakarta, Sabtu malam 19 Maret memunculkan pertunjukan serba tua.
Para artis film dan panggung yang sudah lanjut usia, tergabung dalam grup ‘Gaya Tangkiwood’, mempersembahkan ‘Kabaret 1930-an’. Tarian-tarian dibawakan oleh Hasnah Harun (48 tahun), Sukaesih (64), Rosali (67) dan Siti Rukmini (66). Lalu lagu-lagu zaman dulu, Tanjurlg Perak, Laki Cue Buaye dan Jali-jali, dibawakan penuh keaslian oleh Sainah (61), Rosali dan Siti Rukmini. Keplok pengunjung mengguyur. Apalagi kabaret yang zaman dulu mereka sebut juga My Golden Baby itu, yang pernah ditampilkan rombongan-rombongan sandiwara Dardanela (1934) Bolero (1935) dan Pagoda (1936), ditutup lawakan yang dibawakan Tan Tjeng Bok alias Pak Item (77), Emma Gangga (54), Salim (52) dan Tony Mulia. Yang lerakhir itu (26 tahun), adalah aktils muda simpatisan grup Tangkiwood. Temanya tentang dokter yang menolong bersalin isteri Tan Tjeng Bok (Emma Gangga). Hingga dialog bisa diraba pasti nyerempet bab ‘anu’, samar-samar. Cukup seronok. Termuda: 48 “Aplaus pengunjung tak dibuat-buat”, komentar Kris Biantoro. “Jerih payah orang yang amannya sudah lewat, ternyata masih dihargai orang”, kecapnya lagi. Dan memang. Permainan para artis gaek itu masih tetap meyakinkan, ditambah semangat bermain yang tinggi. Buktinya: sudah 2 kali Gaya Tangkiwood tampil di pentas Tropicana (sebeIumnya 26 Pebruari lalu). Grup ini berangggotakan sekitar 40-an orang. Termuda berusia 48 tahun, sedang paling tua, Ibu Haliyah, 87 tahun. Meski yang terakhir ini cukup lanjut, tapi menurut Tony, anak muda yang menjadi sekretaris, “masih cukup produktir’. Penampilan mereka di Tropicana, “dari segi bisnis menguntungkan”. Itu menurut ris dan untuk itu Kris menyerahkan kepada mereka Rp 40 ribu. Itu di luar ongkos kostum dan rias, yang harus didapat dari sponsor lain. Hidup mereka, sebagai seniman yang pernah jaya di masa penjajahan dulu, sudah tentu penuh nostalgia. Memang sepantasnya bila mereka kadang digoda dorongan kuat untuk kembali muncul di depan publik. Tapi siapa yang mau pakai? Ternyata ada. Tanggal 2 Januari tahun silam, Farida Arriany, bintang film yang kini jarang tampil di layar putih itu, mengumpulkan mereka dalam sebuah wadah. Bagi Farida, yang kemudian bertindak sebagai ketua grup, terasa “tak punya kira-kira” bila seorang produser film yang memakai tenaga mereka, memberi honor yang kurang layak. Misalnya, “syuting sehari penuh, hanya diberi honor Rp 1000”, kata Farida. Lain dari itu juga sangat disayangkan oleh Farida, bahwa peran orang tua dalam film biasanya diberikan kepada anak muda yang cukup dirias saja. Pada hal bintang tua yang berkemampuan lebih dari cukup, tersedia. Dan mereka ini bahkan hidup tanpa pensiun. Farida sendiri mengaku bukan membentuk organisasi. “Sekedar menyalurkan bakat dan memberi wadah kegiatan”. Maka muncullah grup Caya Tangkiwood itu tadi, dari para seniman angkatan Tan Tjeng Bok atau mendiang Fifi Young. Nanla Taugkiwood sendiri diperkenalkan oleh (bekas) Walikota Sudiro di tahun 1959. Diambil dari nama Tangkilio, tempat di dekat taman hiburan Lokasari, Jakarta Kota. Di sana mereka banyak tinggal sampai waktu itu. Rp 150.000 Selama 14 bulan usia grup tersebut kegiatan yang dilakukan kebanyakan hanya berupa pertunjukan amal. Misalnya di President Hotel (bekerja sama dengan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang), di Taman Anggrek, dan lainnya. Tanpa honor, atau dengan sekedar ongkos transpor. Tapi kabarnya mereka cukup senang. Bergairah, karena merasa berkreasi kembali. Dari Pemerintah DKI Jakarta sendiri, sudah sejak 1972 pada kesempatan HUT Jakarta – Ali Sadikin menyalurkan sebagian “dana gubernurnya” buat menyantuni para seniman/seniwati tua yang berekonomi lemah. Caranya: setiap tahun mencari seniman yang patut diberi sumbangan Rp 150.000. Yang berhak mendapat ialah mereka yang telah berusia 50 tahun berdomisili di Jakarta 10 tahun dan dipandang berjasa di bidang seni budaya selama 25 tahun berturut-turut. Sudah sekitar 10 orang Grup Tangkiwood yang mendapat piagam dan uang penghargaan Gubernur tadi. Lalu sejak 2 Pebruari lampau — dengan pertunjukan di kolam renang Cikini – Yayasan Rieka’s Atelier menampilkan grup itu secara tetap sebulan sekali dalam acara bazar polo air di setiap kolam renang DKI. 3 April mendatang misalnya mereka akan tampil di kolam renang Bulungan, Kebayoran Baru. Yayasan yang suka memberi kursus mengukir buahbuahan dan sayuran itu, bekerja sama dengan Persatuan Polo Air DKI memberi 25% dari seluruh pendapatan bersih bazar. Di samping itu mereka mendapat kesempatan membuka warung makanan dan minuman. Dan kini para warga Gaya Tangkiwood sedang siap-siap memenuhi permintaan satu sponsor buat tampil di Leeuw Aarden Fair, Negeri Belanda, awal bulan Mei nanti. Untuk selama 2 rninggu dengan jaminan uang saku, asuransi, dokter dan lainnya. Sibuk, jadinya. Meski begitu untuk tampil terus menerus mereka tak sanggup. Tawaran Kris Biantoro untuk muncul dua kali sebulan di Tropicana misalnya, tak dipenuhi. Mengingat usia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: