Surat Dari Tan Joe Hok

Majalah Tempo. 11/I 15 Mei 1971.Surat tan joe hok kepada redaktur tempo. ia menceritakan pengalamannya sebagai pelatih di mexico city & hong kong. ia merasa senang di mexico city, tapi agak kecewa di hong kong karena pemain-pemainnya sudah tua.

 

Dari Hongkong Tan Joe Hok mendjawab surat redaktur olahraga TEMPO. Berikut ini kisah pengalamannja selama satu setengah tahun mendjadi coach bulutangkis di Mexico City dan Hongkong. Termuat dalam suratnja tertanggal 12 April 1971. Setelah mengalami perubahan redaksionil sekedarnja tanpa mengurangi intisari surat tersebut demikian isinja:

 

RINDU sekali pada Tanah Air. Tapi bila mengenangkan kembali pengalaman pahit setelah berhenti bermain Badminton, saja mendjadi takut menulis surat kepada Saudara. Karena hal itu hanja membangkitkan kesedihan sadja.

 

Kedatangan kami mendapat sambutan hangat dari Ketua Persatuan Bulutangkis Meksiko Ir. Victor Jaramillo dan djuga dari pihak Komite Olimpiade Meksiko. Setelah diberi pendjelasan mengenai target Persatuan Bulutangkis Meksiko saja segera menjusun program djangka pendek (enam bulan). Rentjana pembinaan djangka pendek ini sebenarnja terlalu darurat sifatnja karena pemain-pemain Meksiko pada umumnja masih membutuhkan pembinaan dasar baik fisik maupun tehnik.

 

Bulan pertama latihan conditioning (penjesuaian). Lari pelan-pelan sekuatnja. Malam hari latihan pukulan-dasar (basic strokes). Setjara bertahap ditingkatkan intensitasnja. Pada bulan kedua mereka sudah melawat ke Amerika Serikat dan melakukan pertandingan dengan Team Nasional disana. Hasilnja kurang menggembirakan. Mereka kalah. Tapi mereka memperlihatkan perlawanan jang baik. Ini merupakan harapan untuk pembinaan selandjutnja.

 

Saja sadar sebagai seorang coach saja harus memberi tauladan. Langkah pertama ialah menjusutkan berat badan saja dari 84 kg mendjadi sekitar 70 kg. Ini saja tjapai dengan latihan power (tenaga) agility (kelintjahan) endurance (ketahanan) speed (ketjepatan) dan stamina (napas). Lontjat tali, angkat besi dan lari djarak djauh dan pendek dan lain sebagainja memberikan hasil jang lumajan. Saja merasa fit lagi dan timbul pikiran untuk turut All England 1971. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, saja mengalami tjedera lagi pada lutut kanan saja. Rentjana ke All England terpaksa dibatalkan. Selandjutnja saja tetap aktif berlatih disamping mengasuh pemain-pemain Meksiko. Berdasarkan pengalaman saja, teori dan praktek pembinaan dibidang olahraga Bulutangkis akan saja bukukan untuk didjadikan sematjam “thesis”.

Di Hongkong saja merasa sedikit ketjewa. Pemain-pemain disini pada umumnja sudah tua. Usianja diatas 30 tahun. Memang ada beberapa pemain junior tapi bakatnja nampak tidak menopang hasratnja. Program latihan saja sesuaikan dengan target Persatuan Bulutangkis Hongkong: ikut serta dalam Turnamen Kedjuaraan Bulutangkis Asia III di Djakarta pada bulan Agustus mendatang. Disamping itu pendidikan untuk guru-guru dan pelatih-pelatih Bulutangkis saja lakukan setjara massal. Maksudnja agar disekolah-sekolah Bulutangkis dapat merangsang setiap murid untuk melakukan olahraga jang tidak makan ruang jang luas. Murid-murid sekolah disini pada umumnja adalah very good students, but poor athles (peladjar jang baik, tapi atlit jang buruk). Kehidupan dikoloni Inggeris ini mendorong mereka beladjar mati-matian untuk memperoleh gelar dokter, insinjur dan lain-lain. Sehingga waktu untuk berolahraga kurang disamping fasilitas berolahraga sangat terbatas. Maka saja sangat memudji tindakan Bang Aii Sadikin jang berusaha membangun Youth Centre, Swimming Pool (Kolam renang) dll untuk warga kotanja. Bukankah olahraga disamping membuat seseorang segar djasmaninja menumbuhkan pula djiwa sportif?

 

Menurut pengamatan saja popularitas olahraga Bulutangkis mulai menurun dewasa ini. Terutama di Amerika Serikat. Sebabnja sederhana sadja. Permainan ini mahal. Tjoba bajangkan satu buah Shuttlecock RSL $ 1 atau Rp 380. Belum lagi harga raket dan kebutuhan lainnja. Untung sekali diluar negeri keachlian seseorang diperhatikan sekali. Misalnja kalau kita mengadjar disekolah, hidup kita sudah didjamin setjukupnja. Mudah-mudahan demikian djuga di Tanah Air.

Hormat saja Joe Hok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: