Tati Sumirah, Medalinya Ada di Laci

PEMILIK tubuh tegap dengan rambut pendek itu berjalan kian ke mari di belakang rak kaca berisi obat-obatan. Dia akan berhenti sebentar di belakang mesin hitung, dan menjadi kasir. Dengan sedikit senyuman, dia akan memanggil pengunjung apotek yang menunggu racikan obatnya selesai dibuat.

PEREMPUAN bercelana panjang dengan blus model safari berwarna abu-abu itu tak beda dengan umumnya pramuniaga apotek lainnya. Padahal, lebih dari 20 tahun yang lalu, dia adalah salah satu sosok yang kerap mendapat teriakan-teriakan penonton. Para wartawan pun sering kali mengejarnya untuk mendapatkan komentarnya. Foto dirinya sedang beraksi di lapangan bulu tangkis juga kerap menghias media massa.

“Sudah lama sekali saya tak pernah pegang raket badminton. Sudah bertahun-tahun yang lalu, raket badminton pun saya tidak punya lagi. Saya dengar sekarang raket itu harganya mahal sekali ya, sekitar Rp 200.000 sampai Rp 300.000,” ucap Tati Sumirah (51), atlet bulu tangkis nasional yang populer mulai akhir tahun 1960-an sampai awal tahun 1980-an.

Sambil mempermainkan jari-jarinya, Tati bercerita, sekitar tahun 1982 dia meninggalkan dunia bulu tangkis karena seleksi alam. Pemain muda mulai tampil cemerlang, sementara prestasinya justru menurun. Sekitar dua tahun sebelum keputusan itu dibuatnya, seorang penggemar bulu tangkis yang juga pengusaha apotek telah memberinya “gaji buta”.

“Pemilik beberapa apotek di Jakarta itu suka bulu tangkis. Sekitar dua tahun sebelum saya memutuskan menggantung raket, saya sudah diberi gaji sebagai karyawan apotek. Makanya, begitu lepas dari bulu tangkis saya langsung bekerja di sini,” ucap karyawati Apotek Ratu Mustika di bilangan Kebon Baru, Jakarta Selatan ini.

Sejak itulah, setiap hari Tati mengendarai motor Vespanya menempuh jalur dari rumahnya di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, ke Kebon Baru.

“Tahun 1982, saya sempat menjadi pelatih bulu tangkis di daerah Kelapa Gading, tetapi hanya beberapa bulan. Saya berhenti melatih karena jumlah anak yang tertarik bulu tangkis makin berkurang, mereka lebih suka bermain tenis atau berenang,” cetus Tati yang masih melajang, dan kini tinggal bersama ibu dan seorang adiknya.

Setelah mundur dari dunia bulu tangkis, Tati bisa dikatakan tak lagi punya komunikasi dengan orang-orang bulu tangkis.

“Saya sampai tidak tahu kalau Mbak Min (Minarni, pemain bulu tangkis yang meninggal dunia tanggal 14 Mei lalu karena penyakit jantung dan radang paru-paru–Red) meninggal. Saya baru tahu setelah mendengar beritanya di televisi. Saya juga tidak tahu mesti melayat ke mana, atau menghubungi siapa untuk tahu alamat Mbak Min,” tutur Tati sambil memperlihatkan sebuah foto hitam-putih ketika dia berpasangan dengan Minarni dalam sebuah pertandingan bulu tangkis untuk nomor ganda.

KEINGINAN kembali ke dunia bulu tangkis menurut perempuan pendiam dan pemalu ini tak pernah terlintas dalam pikirannya. Dia juga tak ingin menghitung berapa banyak piala dan medali yang pernah dikumpulkannya selama sekitar 13 tahun malang-melintang di dunia bulu tangkis sampai ke Australia, Inggris, Denmark, Belanda, Jerman, India, dan Iran. “Medali saya simpan begitu saja di laci, kalau piala saya taruh di atas lemari,” kata Tati yang lahir di Jakarta, 9 Februari 1952 ini.

Sejak menggantungkan raketnya, Tati mengaku tak lagi tertarik pada bulu tangkis. Dia bahkan tak menonton pertandingan bulu tangkis di layar kaca. Padahal, selama kariernya sebagai pemain nasional, tak kurang dari empat kali Tati ikut memperkuat tim bulu tangkis Indonesia untuk merebut Piala Uber.

Dia juga menjadi peraih medali dalam pertandingan tingkat nasional maupun dunia. Beberapa di antaranya adalah pada Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 1973, Kejuaraan Nasional Bulu Tangkis 1974, Invitasi Bulu Tangkis Dunia 1974 dan 1975, Asian Games 1974, dan Piala Uber 1975.

Tati antara lain dikenal lewat lob dan drop-shotnya yang handal. Ketika bermain bulu tangkis, tak ada sisi feminin yang muncul dari dirinya. Dengan enteng, Tati yang kala itu berat badannya 54 kilogram-kini 62 kilogram-akan meloncat-loncat sambil melepaskan smes-smes mematikan. Dia juga dikenal sebagai pemain yang punya daya juang tinggi.

“Saya paling ingat pertandingan lawan Margaret Beck dalam Uber Cup 1975. Begitu penonton bersorak-sorak, saya merasa makin panas. Begitu menang, saya lari ke mana-mana seperti orang kesurupan. Saya paling senang ketika mengalahkan pemain Jepang, Etsuko Takenaka, pada Asian Games 1974. Dia pernah jadi juara All England, jadi saya tak berani bikin target apa pun. Eh, ketika pemain-pemain lain sudah menangis terharu, saya masih bengong, enggak percaya,” cerita Tati.

Sejak kecil Tati mengaku tomboi, dan sifatnya itu semakin menjadi karena ayahnya mengajarinya bermain sepak bola dan bertinju. Dia tertarik bulu tangkis setelah mendapat raket dari seseorang. “Ayah saya lalu membuatkan lapangan badminton,” cetus sulung dari enam bersaudara yang pada tahun 1965 menjadi juara bulu tangkis SD se-Jakarta.

Setelah itu berbagai kejuaraan bulu tangkis diikutinya, dan Tati mengantongi berbagai gelar juara, misalnya juara nasional 1974. Kegiatan bulu tangkisnya mengakibatkan sekolah Tati terganggu. “Saya harus memilih main badminton atau sekolah. Saya memilih main badminton karena senang mendengar sorakan penonton,” kata Tati yang tak tamat SLTP ini.

Dia tak pernah menyesal pada pilihan tersebut, meskipun uang hasil bermain bulu tangkis yang masih kelihatan bentuknya “hanya” rumah dan motor Vespa warna merah buatan tahun 1984.

“Setelah Uber Cup tahun 1975, saya beli motor Vespa baru, rasanya senang sekali bisa ngebut. Tahun 1982 saya sempat beli mobil, tetapi enggak lama kemudian saya jual lagi. Uangnya saya jadikan rumah dan Vespa yang saya pakai sampai sekarang,” tuturnya. (CP)

Muramnya Nasib Mantan Atlet

19 Juli 2007 – 16:55 WIB

Fathiyah Wardah Alatas

Selama 24 tahun menjadi “pahlawan”. Sekarang hidup melarat. Melihat medali dan pialanya pun ia tak sanggup lagi.

“Lho! Ibu bukannya mantan pebulutangkis yang dulu sering nongol di teve?” tanya seorang pembeli ketika menyerahkan secarik resep kepada kasir paruh baya. Sang kasir tersenyum dan mengiyakan.

Si kasir itu adalah Tati Sumirah, 55 tahun, mantan pebulutangkis nasional yang kesohor. Pada era 1970-an, pebulutangkis perempuan seangkatan Liem Swie King ini menjadi ratu. Ia bukan hanya ratu dalam negeri, tapi juga ratu bulutangkis kelas dunia.

Pada masa kejayaan dulu, Tati selalu merebut emas di arena Pekan Olahraga Nasional (PON). Ia juga meraih peringkat kedua kejuaraan dunia bulutangkis di Jakarta dan Kuala Lumpur, Malaysia. Prestasi tertingginya mengantarkan tim bulu tangkis single putri merebut Piala Uber pada 1975.

“Selama kerja 24 tahun 

menjadi pebulutangkis,

saya nggak punya apa-apa.”

Namun setelah menggantungkan raket pada 1981, kehidupannya berubah drastis. Tak ada lagi yang mengelu-elukannya. Ia seolah menghilang dari para penggemarnya. Bintang itu pelan-pelan pudar. Selama 24 tahun Tati Sumirah bekerja di Apotek Ratu Mustika di bilangan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Kasir, itulah profesi baru si ratu bulutangkis.

Si ratu itu berangkat dan pulang kerja dengan angkutan umum. Ia tinggal di rumah orang tuanya di Waru Doyong, Buaran, Jakarta Timur. “Saya nggak malu. Saya terima apa adanya,” kata Tati saat ditemui VHRmedia di rumahnya.

Profesi kasir apotek bukanlah pekerjaan yang ia bayangkan. Semua berawal saat ia bertemu Yusman, warga Gudang Peluru, Tebet, yang merupakan pengagumnya. Melihat Tati Sumirah tak punya pekerjaan, Yusman pun mempekerjakannya sebagai kasir di apotek miliknya. Yusman juga mengangkat pebulutangkis kesohor, Ivana Lie, sebagai anak angkat.

Sebagai kasir, Tati mulanya digaji Rp 75 ribu per bulan. Selama mengikuti Pelatnas pada 1979, Tati menerima “gaji buta” dari apotek itu, sebab dalam sebulan ia hanya bekerja selama sepekan. Setelah pensiun pada 1981, barulah ia bekerja penuh waktu di apotek itu.

Sebenarnya gaji Tati tak mencukupi. Apalagi sulung enam saudara ini harus menanggung hidup ibu dan dua adiknya. Akhirnya, pada Desember 2005 Tati berhenti kerja dari tempat itu. Gajinya waktu itu Rp 800 ribu per bulan. “Saya harus beli sembako, bayar listrik. Pokoknya semuanya saya,” ungkap perempuan yang masih melajang ini.

Ia sempat menganggur sekitar empat bulan. Akhirnya ada ajakan bermain di turnamen antarveteran pebulutangkis di Mangga Besar, Jakarta Barat. Acara ini dimotori Alan Budikusumah, mantan bintang bulutangkis yang kini menjadi pengusaha peralatan bulu tangkis.

Alan memberikan semua peralatan secara gratis: raket, kaos, celana pendek, sepatu, hingga tas raket. “Senang dapat pekerjaan lagi, karena saya bingung kalau belum dapat kerjaan,” keluh wanita bertinggi badan 170 sentimeter ini.

Karena ikut turnamen, Tati kembali memegang raket setelah 24 tahun ia tanggalkan. Untuk pertama kalinya pula ia kembali berkumpul dengan rekan-rekannya sesama pebulutangkis. Ia menang dan mendapatkan hadiah sepeda motor. “Selama kerja 24 tahun menjadi pebulutangkis, saya nggak punya apa-apa,” katanya.

Sejatinya Tati pernah merasakan memiliki sepeda motor dari jerih payahnya di lapangan bulutangkis. Ketika Indonesia menjuarai Piala Uber, Tati dan rekannya memperoleh bonus Rp 1 juta dari Presiden Soeharto. Dari hadiah itu ia membeli Vespa seharga Rp 464 ribu. Namun pada 1992 ia terpaksa menjual motor kesayangannya itu karena terdesak kebutuhan hidup.

Bersama dua rekannya, Tati menjadi pelatih bulutangkis di Pekayon, Bekasi, Jawa Barat. Ia bekerja dari Senin sampai Jumat. Namun hanya bertahan setahun. “Badan saya mulai sakit,” kata Tati.

Hingga akhirnya ia diangkat sebagai pegawai oleh Rudy Hartono, juara All England delapan kali, untuk bekerja di Top One. Di perusahaan minyak pelumas itu Tati bekerja di Bagian Umum. “Tugas saya mengontrol kantor dan lapangan,” ujarnya.

Meski keadaannya cukup memprihatinkan, Tati menerima semua itu. Namun ekonomi keluarganya masih morat-marit. Bahkan, telepon rumah atau telepon genggam pun Tati tak punya. “Kalau pasang telepon, dari mana uangnya?” katanya.

Walau miskin di usia tua, Tati tak pernah menyesal menjadi atlet. Apalagi ia berasal dari keluarga atlet. Ayahnya, MS Soetrisno, adalah seorang atlet, penjaga gawang dan petinju. Sang ayah pula yang mendorongnya menjadi atlet.

“Saya sudah tidak mau ingat lagi. Sedih saya!”

Kini, sederet medali dan piala yang pernah diraih Tati masih disimpan di rumah orang tuanya. Piala dan medali itu tak terawat, sebagian sudah karatan. Namun semua itu ia taruh di dalam kotak. Ia mengaku tidak mau mengingat kejayaannya di masa lalu. “Saya sudah tidak mau ingat lagi. Sedih saya! Sekarang hidup saya seadanya dan serba kekurangan,” ujarnya.

Raut wajahnya tiba-tiba menjadi muram. Kesedihan terpancar di wajahnya yang menua. “Semoga atlet-atlet lama dibantu pemerintah. Saya seneng bener kalau dapat rumah,” kata Tati diiringi tawa sumbang. (E2) Foto-foto: Fathiyah Wardah Alatas.

Keterangan Foto:

1. Tati Sumirah dan piala-pialanya (paling atas).

2. Tati Sumirah saat merebut Piala Uber 1975 (tengah)

3. Piala-piala dan medali Tati masih tersimpan di rumah ibunya, ada Piala Uber, berbagai piala dalam negeri, serta berbagai medali (paling bawah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: