Tradisi Malam Pembantaian (Jakarta Open 1972)

Tempo 3 Juni 1972. PBSI Jaya menyelenggarakan turnamen terbuka Jakarta, diikuti pemain asing kaliber dunia. pemain kawakan, Agus Susanto dan adik iparnya, Liem Swie King, memukau penonton. Cock lokal “garuda” jadi standar.

TIDAK terlalu pagi untuk menjatakan bahwa hasrat PBSI Djaya untuk membangun satu tradisi perbulutangkisan Ibukota telah berhasil. Tjita-bita jang dikandung sedjak ahun 1971 – tapi pelaksanaannja terhalang oleh padatnja atjara HUT Djakarta ke–445 — tahun ini bolehlah dibilang kesampaian, walau tidak 100 memuaskan.Pertama berhasilnja PBSI Djaya merangkul P.T. Coca Cola, P.T. Indomilk dan Perusahaan Shuttlecocks “Garuda” sebagai co-sponsors merupakan prestasi kerdjasama jang patut di contoh, disamping kesadaran ketiga perusahaan tersebut akan pentingnja olahraga sebagai sarana promosi. Tapi tanpa partisipasi pemain-pemain kaliber seperti Aik lluang, Aik Mong, Boon Bee (Malaysia), Honma, Togano, Akiyama (Djepang), Sangob, Jaiyen (Muangthai) dan Rudy Hartono dan pasangan Christian/Ade Chandra (Indonesia, masing-masing djuara All England untuk tunggal dan ganda, maka tiada akan lahir momentum seperti peristiwa jang terdjadi dimalam pertama misalnja.

Kedjut. Agus Susanto — bekas pasangan Muljadi dalam partai ganda di Turnamen Thomas Cup 1967–kembali di gelanggang Senajan dengan tekad dan semangat bertanding jang tiada duanja, meski staminanja tidak lebih tinggi dari tenggorokannja. Setelah menundukkan Herman (Djaya) 15-4, 15-8, pemain dari Djateng asuhan Team Rokok Djarum ini memperlihatkan daja kedjut jang menggemparkan 6.000 penonton Istora Senajan. Dengan sisa tenaga jang ada padanja, ia hadapi Junji Honma dari Djepang jang masih segar. Tiada seorang pun dapat meramalkan sebelumnja kalau pemuntjulan Honma jang pertama merupakan jang terachir pula. Pemain kidal Djepang ini dengan mudah mengendalikan Agus menurut kehendaknja. Tapi apa daja datam momen-momen kritis djustru dimanfaatkan Agus untuk mendahului lawannja mentjapai angka 15. Dropshot Honma jang tadjam lagi mengandung gerak tipu dihadapi Agus sambil djatuh bangun. Hanja pengalaman Agus untuk mentjuri waktu dengan mimik jang wadjar, menghindarkannja dari kekalahan W.O. dengan alasan kondisinja tidak mengidjinkan meneruskan pertandingan.

Sementara Honma jang semula meng anggap enteng lawan, mendjadi lebih panik dengan melontarkan protes-protes tidak simpatik pada Wasit Zakir. Kemenangan Agus terhadap Honma dengar skor 15- 11, 5-8 kemudian diikuti dengan kemenangan ketiga melawan Trijadji dari Djatim mengundang komentar Darmawansaputra – bekas rekannja di regu Thomas Cup 1967 – bahwa “perlu ditjarikan seorang partner jang tjotjok bagi Agus untuk dilatih mendjelang Thomas Cup 1973”. Darmawan tidak sendirian, beberapa penindjau lainnja melihat faktor semangat bertanding jang dimiliki Agus sebaiknja ditanamkan djuga dalam Team Thomas Cup Indonesia 1973 meskipun kemudian Stanley Gouw merasa ragu apakah usianja (30 tahun) tidak mendjadi penghalang bagi kebidjaksanaan pembinaan PBSI jang berusaha memadjukan pemain-pemain muda.

Bantai Pembinaan malam pertama jang ditandai dengan pembantaian pemain-pemain “tjabang atas” oleh pemain-pemain muda jang belum mempunjai reputasi internasional mendjadi tjiri-tjiri utama Tournamen Ini:

Kekalahan bekas pemain Thomas Cup Malaysia, Abdulrachman oleh Djaliteng dari Djaya dan muntjulnja Liem Swie King, adik ipar Agus Susanto jang baru berusia 16 tahun, dan pengunduran diri Aik Mong setelah dipaksa bermain dalam ruber-set oleh Johan Wahjudi, paling tidak memberi gambaran tentang potensi pemain tua disamping bangkitnja pemain-pemain muda.

Adakah Turnamen Terbuka Djakarta ini akan mendjadi tradisi PBSI Djaya dan negara-negara bulutangkis Asia lainnja? Ini tergantung pada kepentingan para peserta dan kemampuan OC untuk membikin Turnamen ini penting artinja bagi perkembangan bulutangkis internasional. Malaysia melalui Teh Gin Soei rela mengorbankan Aik Mong dari partai single untuk memusatkan perhatiannja dipartai double. Demikian pula Aik Huang diutamakan dipartai ganda bersama adiknja, Boon Bee dengan pasangan baru Soong Chok Soon mengesankan kurang menghargai arti Turnamen ini. Hal ini membikin orang ketjele untuk menjaksikan pertarungan jang seru jang lazimnja terdjadi di Turnamen besar.

Singapura sendiri “ingin beladjar dari Rudy dan pemain-pemain muda Indonesia lainnja jang berbakat”. Selain itu peserta seperti Muangthai dan Djepang nampaknja masih belum mejakinkan untuk menjatakan sebagai peserta tetap. Tidak datangnja Kojima dengan alasan sakit agaknja menandakan kurang minatnja mereka terhadap Turnamen Djakarta ini. Maka djika OC tidak menjediakan biaja untuk menanggung- kedatangan mereka, hampir dipastikan Turnamen akan bersifat “tidak terbuka”.

Garuda. Satu hal lain jang memegang peranan penting dalam menentukan sifat besarnja suatu Turnamen adalah shuttlecock jang dipakai dalam Turnamen itu. Tampilnja “Garuda” sebagi cock standar membesar hati, meski harus diingat bahwa enggannja Rudy dan pemain-pemain top Indonesia lainnja untuk mengikuti Turnamen internasional jang diselenggarakan oleh Muangthai atau India, banjak disebabkan oleh pemakaian cock buatan dalam negeri mereka. “Merusak pukulan”, kata Rudy. Sedjauh mana “Garuda” telah meningkatkan mutunja. Dalam pertandingan di Istora tanggal 24 sampai 27 Mei itu tidak djarang terlihat sebuah cock tidak tahan sampai selesainja satu rally. Ada pula jang setelah beberapa kali kena smash keras lalu kehilangan keseimbangannja. Komentar Malaysia terhadap cock buatan Indonesia ini tidak terlalu keras: “masih belum mentjapai standar. Sementara jang paling kedjam memvonnis “Garuda” datang dari Honma: “cock-nja brengsek”, meskipun orang tahu bahwa kekalahannja lawan Agus sesungguhnja jang membikin segala-gala mendjadi serba brensek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: